Jodoh yang Ditolak
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
“Kita hanya
bersenang-senang kan?”
“Yah..!”
Embun jatuh di daun cempedak. Kawanan
tupai sedang berpesta di ranting-ranting yang menjinjing buah hampir ranun.
Buah itu habis setengah. Seokor tupai jantan sengaja menyisakannya. Ia
membutuhkan tenaga untuk sebuah pesta yang sebenarnya. Brak! Sofia terbangun.
Ia menjulurkan pandangan ke daun jendela. Di sebelah gubuk di pinggir sawah
itu, ia menemukan suara ranting patah. Seekor tupai jantan terjatuh ketika
mengejar betinanya.
***
“Kurang ajar! Kau nodai anakku!”
teriak ayah membelalakkan matanya. Lelaki yang baru saja pensiun dari pekerjaan
sebagai pegawai rendahan di kantor keluruhan itu masih kuat mengangkat kepal
tangannya. Ia hendak melayangkan kepalan tangan itu ke arah Rian. Tapi, Sofia
mencegahnya.
“Sudah, sudah, Ayah! Tak perlu
marah-marah,” sergah Sofia melindungi Rian dengan tubuhnya. Sofia bukannya iba
ketika Rian yang menjadi pelampiasan amarah ayahnya. Ia hanya khawatir dengan
penyakit darah tinggi yang diderita sang ayah. Kalau darah tingginya naik, itu
bisa menjalar ke jantung. Kalau jantungnya berdetak kencang, stroke ringan lelaki itu bisa kambung
lagi. Sofia tak bisa melihat lelaki yang berwibawa di masa mudanya itu
tiba-tiba seperti anak kecil karena serangan stroke.
“Kau harus bertanggung jawab!” teriak
ayah lagi dengan menurunkan volume suaranya.
Rian duduk membeku. Wajah lelaki itu
seperti kehabisan darah. Jari-jarinya digerakkan ke arah yang tak beraturan.
Sesekali, jari-jari menyeka keringat dingin yang bercucuran di keningnya. “Ba,
baiklah...Tapi, saya harus bilang ayah-ibu dulu,” balas Rian kikuk.
Sofia menatap serius. Ia mendekat ke
arah Rian. “Hm...Kamu yakin?”
Rian mengangguk. Anggukkan itu
berhasil mengubah tatapan lelaki paruh baya di hadapannya. Sofia memegang
pundak ayahnya. Pegangan itu memberikan isyarat agar sang ayah meninggalkannya
berbicara berdua saja dengan Rian. Sofia terus menatap ayahnya hingga hilang di
ruang belakang. Padagannya kemudian dialihkan ke arah Rian. Lelaki itu berubah
gemetaran.
“Kok, jadinya seperti ini, Sof?” ujar
Rian dengan wajah kecut.
Sofia kaget dengan perubahan air muka
Rian. Namun, ia mencoba menyembunyikan keterkejutannya. “Keyakinanmu hilang
lagi...” balas Sofia datar.
Rian bangkit. Ia berjalan ke ujung
kursi, kemudian kembali lagi. Tiga kali dilakukannya, hingga ia terduduk dengan
keras. Nafasnya ditarik dalam-dalam. Rian kembali bertanya setelah padangannya
lepas dari langit-langit ruang depan. “Kita kan melakukannya suka sama suka.
Mengapa kini kamu memintaku bertanggung jawab?”
Sofia menatap laki-laki gelisah di
hadapannya dengan mengernyitkan kening. “Aku tak pernah memintamu bertanggung
jawab,” balas Sofia.
“Tapi, ayahmu!”
“Tentang ayahku, itu urusan ayahku.
Kamu bisa menolaknya.”
“Hah, gila! Bagaimana aku bisa
menolaknya. Kamu lihat sendiri kan. Ayahmu hampir saja membunuhku.”
“Tidak ada yang akan membunuhmu. Asal
kamu tahu, jangankan membunuh orang, membunuh kecoa saja ayahku tak tega.”
Rian terdiam. Ia menatap Sofia
dalam-dalam. Lewat tatapan itu, ia hendak menyampaikan rasa penyesalan.
“Seharusnya kita tak melakukannya...” ujar Rian dengan nada bersalah.
Sofia malah membelalakkan matanya.
“Saya tidak menyesal!” balas perempuan itu singkat.
Rian tersentak. Ia merasa
kelaki-lakiannya ditampar dengan telak. Lelaki itu mencoba menyelamatkan
sisa-sisa wibawa yang ada pada dirinya. “Begini saja...Kita akan menikah...”
ujar Rian tiba-tiba memotong ucapannya. “Tapi, tunggulah sampai kita tamat
kuliah.”
Sofia membalasnya dengan senyum
dingin. Perempuan itu sibuk memperhatikan jemarinya memainkan gelang perak yang
bergelantung di pergelangan tangan kirinya.
“Hei...! Aku masih kuliah. Aku belum
punya pekerjaan...” ujar Rian meyakinkan dirinya. Sofia malah menatap
langit-langit rumahnya. Rian terus mencoba meyakinkan dirinya. “Oke. Kita akan
menikah. Secepatnya!”
“Well...Kamu
tinggal memintaku kepada ayahku,” ujar Sofia membalas.
Rian terdiam. Muka lelaki itu langsung
berubah. Tiba-tiba suasana bisu menyelimuti ruangan itu. Tak ada suara. Hanya
desiran angin di luar. Lambat-laun, desirannya semakin kencang. Prak, prak,
prak! Atap seng di ruang belakang yang lupa dirapikan tadi siang bergocang
karena terpaan desiran angin. Sepertinya hujan mau turun.
***
BULAN keempat. Perut
Sofia yang membesar mulai kelihatan. Rian berjanji akan memintanya kepada
ayahnya. Namun, lelaki itu tak kunjung datang. Ia meninggalkan jejak, jejak
yang tak tahu harus dicari kemana rimbanya.
“Jusuf akan datang. Kamu pakailah baju
yang agak longgar,” ujar ayah kepada Sofia di ujung sore.
Sofia manggut saja dengan perintah
ayah. Ia mencari bajunya yang paling ketat. Entah siapa lelaki yang akan
dijodohkan kepadanya, Sofia ingin lelaki itu menerimanya apa adanya.
“Kalian kan sudah lama dipertunangkan.
Alangkah baiknya, kita percepat saja,” ujar ayah membuka pembicaraan.
Jusuf bukanlah lelaki asing bagi
Sofia. Walau tak sering berjumpa, namun Sofia mengenal lama lelaki itu sebagai
tunangannya. Sejak tamat SMA, mereka dijodohkan. Sofia bahkan masih memakai
cincin emas yang dipasangkan Jusuf dalam sebuah acara kecil yang dilaksanakan
di rumahnya. “Hei, cicin itu masih muat ya. Ternyata, kamu tak banyak berubah
Sofi,” ujar Jusuf menatap ke jari manis Sofia.
Sofia tersenyum hambar. Perkataan
Jusuf seperti sindiran baginya. Jusuf tentulah bukan laki-laki bodoh. Ia sudah
sarjana, tamatan fakultas kedokteran pula. Dokter mana yang tak bisa membedakan
wanita hamil dengan yang bukan. “Sekarang lebih gemuk,” balas Sofia
berbasa-basi.
“Ehem...!” Ayah tiba-tiba terbatuk.
Lelaki itu hendak mengambil perhatian Jusuf. “Kau kan sudah sarjana, sebentar
lagi Sofia juga akan tamat. Aku dan ayah-ibumu sudah setuju mempercepat
pernikahanmu,” ujar ayah menyambung ucapannya.
Perhatian Jusuf berhasil teralihkan.
Lelaki itu mengarahkan pandangan ke arah lelaki paruh baya yang duduk di
sebelah Sofia. Jusuf mencoba melontarkan senyum terbaiknya. “Oya. Saya sudah
mendengar tentang perjodohan itu dari ayah dan ibu,” ujar Jusuf. Ia
menghentikan ucapannya untuk memilih kata-kata yang paling tepat. Lelaki itu
tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah Sofia. “Sofia, kapan wisudanya?”
“Bulan depan! Sekarang lagi ujian
skripsi,” balas Sofia mencairkan suasana. Perempuan itu sangat antusias ketika
Jusuf membicarakan tentang kuliahnya.
“Bagus itu! Saya juga lagi ujian,”
timpal Jusuf.
“Wah, calon dokter muda nih!”
“Ha ha ha... Mudah-mudahan...” balas
Jusuf sambil tertawa kecil. Sofia membalasnya dengan senyum lebar. Sementara,
ayah menatap keduanya tak sabaran.
“Bagaimana Suf?” cegat ayah singkat
untuk kembali menarik perhatian Jusuf.
“Sebaiknya Sofia wisuda dulu,” jawab
Jusuf. Lelaki itu kemudian menyambung ucapannya. “Ayah dan ibu ingin memastikan
cucunya nanti memang terlahir dari anaknya.”
Ayah terdiam. Bibir lelaki itu
bergetar. Ia menahan amarah yang sangat besar. “Kalau kau ingin memutuskan
pertunangan itu, putuslah! Tapi, jangan kau hina anakku,” teriak ayah sambil
tegak dari duduknya.
Jusuf kaget. Pemuda itu merasa sangat
bersalah. Ternyata, kata-kata terbaik yang dipilihnya tak mampu menyenangkan
hati laki-laki di hadapannya.
“Tak apa...Biarkan saja...” ujar Sofia
kepada Jusuf. Perempuan itu berdiri dan memberi aba-aba agar Jusuf tetap duduk.
Sofia mendekat ke arah ayahnya yang beranjak ke ruang tengah.
Jusuf termenung ketika tak seorang pun
bersamanya di ruang depan. Sayup-sayup, ia mendengar suara gaduh dari ruang
tengah. Ada laki-laki memaki. Makian itu dibalas dengan tangisan perempuan.
“Dasar anak tak tahu diri! Kau telah
membuat malu aku!” teriak ayah.
“Ampun, ampunkan Sofi, ayah...” ujar
Sofia menahan isak.
***
“Silahkan, Bu...! Sudah ditunggu Bapak di dalam...” suara
perempuan muda membuyarkan lamunan Sofia. Perempuan itu mendekat, menyapanya
dengan ramah. “Mari, saya bantu.”
Sofia hendak bangkit. Namun, tenaganya tak kuat untuk
mengangkat beban tubuhnya. “Terima kasih...” balas Sofia sambil memenang uluran
tangan perempuan muda di hadapannya.
Perempuan berkerudung hijau itu membimbing Sofia menuju
sebuah ruangan. Pintu dibukakan, Sofia melihat seorang laki-laki berpakaian
rapi bangkit dari kursinya. “Hei, Sofi! Jadi, kamu menerimanya?” ujar lelaki
itu menjawab rasa penasarannya.
Sofia membalas dengan penuh semangat. “Yah, tentu! Aku
butuh pekerjaan ini. Setidaknya, aku bisa membelikan pakaian untuk anakku
nanti,” ujar Sofia dengan air muka berseri-seri.
Lelaki di hadapan Sofia membalas dengan dingin. Ia tak
langsung berkata-kata, wajahnya berubah muram. “Maksudku, apakah kamu menerima
pinangangku yang kemarin itu?” ujar lelaki itu dengan memasang wajah serius.
Sofia tertegun. Ia sudah menjanjikan jawaban tiga hari
lalu kepada Ikbal. Lelaki itu meminta Sofia untuk menjadi istrinya. Seharusnya,
Sofia langsung menjawab, ya. Ikbal adalah lelaki yang tepat untuknya, juga
untuk anak yang akan dilahirkannya. Apalagi, Sofia sudah sangat mengenal Ikbal.
Sedari kecil, Ikbal adalah teman sepermainan Sofia.
Lelaki itu dikenalnya sebagai sosok yang pemalu. “Cieh, cieh...!” celutuk
teman-teman Sofia setiap kali melihat Ikbal. Teman-teman Sofia bermaksud
menjodohkan mereka bedua. Tapi, entahlah. Ketika itu, mana mengerti Sofia
dengan perjodohan.
“Aku tak mau dijodoh-jodohkan. Nanti kita dikira
pacaran,” ujar Ikbal kepada Sofia ketika mereka sudah beranjak remaja.
“Ah, kuper!” celutuk Sofia kepada Ikbal. Teman-teman
Sofia semuanya punya pacar. Sofia pun heran, apakah ketika itu ia berpacaran
dengan Ikbal. Padahal, lelaki itu lebih sering menjauh darinya. Ikbal hanya
dekat dengan teman-teman lelakinya yang sering melakukan berbagai kegiatan di
masjid sekolah.
“Anak Rohis tak boleh pacaran. Kalau mau dekat-dekat,
langsung nikah saja,” ujar Ikbal suatu kali berbicara kepada teman-teman Sofia
di sekolah. Sofia geli mendengar perkataan Ikbal itu. Ia seperti guru-gurunya
yang sering memberikan nasehat di dalam kelas.
“Aku mau jadi guru!” ujar Ikbal terakhir kali bertemu dengan Sofia.
“Ha ha ha...aku akan kuliah ekonomi lho,” balas Sofia menyindir. Lepas sekolah, mereka memilih kampus
yang berbeda. Sejak saat itu, Sofia tak pernah lagi berjumpa dengan Ikbal.
Ternyata, laki-laki itu membuktikan perkataannya.
Ikbal menjadi guru. Kini, ia bahkan menjadi kepala di
sebuah sekolah agama yang sangat terkenal. Sehari lepas wisuda, Sofia
memasukkan lamaran pekerjaan untuk mengajar di sekolah itu. Ikbal memastikan,
ia akan diterima. Namun, lelaki itu hendak menambahkan persyaratan agar Sofia
mau menjadi istrinya.
***
“Kamu terima saja pinangannya...” ujar ayah meyakinkan
Sofia.
Sofia sudah mendengar sepuluh kali
ayahnya menyampaikan kata-kata yang sama. Namun, ia selalu menjawabnya dengan
diam.
“Dia itu laki-laki yang baik.
Berpendidikan, punya pekerjaan...Yang penting lagi, ia mau menerimamu,” ujar
ayah lagi meyakinkan Sofia.
Sofia belum merespon perkataan
ayahnya. Hal itu membuat ayahnya hilang kesabaran. “Apa lagi yang kamu tunggu?
Apa kamu menunggu anakmu itu lahir tanpa seorang ayah?” ujar ayah dengan suara
meninggi.
Sofia tak membalas. Ia sudah hafal
betul dengan tabiat kemarahan ayahnya. Ia meninggalkan lelaki itu dengan
bergumpal amarah menyesak di dadanya. Sofia harus bergegas pergi. Hari itu,
pertama kali ia mengajar. Sofia sudah mempersiapkan semua perlengkapan
mengajarnya. Perlengkapan itu dibawa dengan sebuah tas ransel berukuran sedang.
Di dalam tas, ia menyelipkan sepucuk surat. Surat yang akan diberikannya kepada
Ikbal. “Aku akan membesarkannya sendiri, menjadikannya anak yang baik...” ujar
Sofia dalam hati mengeja pembuka isi suratnya.
“Mungkin, nanti ia akan menjadi
laki-laki sebaik kamu...” ujar Sofia lagi. Namun, kata-kata terakhir itu tak pernah
dituliskan dalam suratnya untuk Ikbal.*
Padang, Desember
2014



Komentar
Posting Komentar