Dilarikan Orang Bunian

Cerpen A.R. Rizal



TAK ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba saja cerita tentang orang bunian menghondoh di kampung kaki bukit.  Ada asap, pastilah karena bara. Galok pertanda gerimis datang. Suarman, salah seorang laki-laki yang bergelar sarjana di kampung termasuk yang tak percaya dengang orang bunian. Ia berpikir memakai logika. Menurut logikanya, Wali Jorong hilang bersebab kejadian yang menimpa Angku Kari, guru mengaji di surau tepi bandar.
          
“Angku Kari mendatangi Wali Korong kemarin siang. Setelah itu, ia menghilang.”
          
Ah, terlalu rumit memahami logika Suarman. Logikanya itu membuka banyak prasangka. Orang-orang kampung tak suka berprasangka. Mereka lebih senang membaca peristiwa seperti apa adanya. Angku Kari menceritakan kepada orang-orang tentang sebenar peristiwa yang menimpanya.
          
Bermula di suatu petang. Ia sedang mengajar murid-muridnya mengaji. Kalau petang, ia mengajarkan irama. Murid-murid yang belajar irama mestilah berusia remaja, antara kelas enam SD sampai SMA. Mereka sudah paham membaca perisitiwa. Karena itulah, Angku Kari tak senang ketika Kutar, si peminum tuak mendatanginya.
          
“Kau guru sesat! Ilmu apa yang kau berikan kepada anakku? Berani pula ia menyumpahiku masuk neraka.” Kutar tiba-tiba memaki-maki dengan mulut dipenuhi tuak oplosan.
          
Angku Kari hendak membantah perkataan Kutar. Tapi, diurungkan niatnya. Tak ada guna berdebat dengan peminum tuak. Otaknya tak lebih waras dari tuak yang diminumnya. Angku Kari bisa memaklumi perkataan tak lurus dari orang yang sedang mabuk. Tapi yang tak bisa diterimanya, Kutar memaki-maki di depan murid-murid mengajinya. Angku Kari tak memikirkan dirinya sendiri. Ia memikirkan harga diri guru mengaji yang diinjak-injak. Kalau ia diam, jemaah surau akan marah. Kemarahan massal itu bisa tak terkendali.
          
Angku Kari mengadukan ulah Kutar kepada Wali Jorong. “Maksudku baik. Kalau Kutar tak meminta maaf dan diproses sesuai adat yang berlaku di kampung kita, aku takut ia akan dihakimi.”
          
Wali Jorong menyanggupi permintaan Angku Kari. Ia memang wali terbaik yang pernah dipilih orang-orang kampung. Ketika kabar Angku Kari dimaki baru saja tersebar, Wali Jorong langsung mendatangi guru mengaji itu di rumahnya. “Aku akan urus secepatnya,” janji Wali Jorong.
          
Tiga hari setelah berjanji, Angku Kari tidak menemukan kebenaran dari ucapan Wali Jorong. Ketika ia hendak mendatangi Wali Jorong di rumahnya untuk menagih janji, laki-laki itu tak ada di rumah. Wali Jorong pergi ke ibukota kabupaten. Sudah dua hari. Itu takkan selesai sepekan. Urusannya tak main-main. Wali Jorong sedang mengurus pemekaran kampung di kaki bukit untuk menjadi nagari. Kalau sudah menjadi nagari, kampung di kaki bukit akan mendapatkan dana desa yang bermiliar-miliar jumlahnya.
          
Angku Kari tak enak hati. Kekhawatirannya terbukti. Murid-murid mengaji bersama jemaah surau mendatangi Wali Jorong beramai-ramai. Sejak saat itulah Wali Jorong tiba-tiba hilang.
***
SEJAK hilangnya Wali Jorong, isu menyebar secara liar di kampung kaki bukit. Ada yang berprasangka, Wali Jorong sengaja menghilang untuk menghindar dari tanggung jawab. Ia takkan benar-benar memaksa Kutar meminta maaf dan diproses sesuai aturan adat. Ia sengaja melindungi Kutar, kawan karibnya ketika mengadu untung di kota.
          
Orang-orang kampung juga menuding segelintir orang sebagai kaki tangan Wali Jorong. Sekretaris Jorong termasuk yang ditunjuk hidungnya. Untuk menyelamatkan diri, Sekretaris Jorong kemudian menyebarkan kabar tentang sebab-musabab hilangnya Wali Jorong. “Dia dibawa lari orang bunian!”
          
“Kemana ia dibawa lari?”
          
“Ke puncak bukit.”
          
Sekretaris Jorong menjawab asal saja. Kini, ia bisa membuat hilangnya Wali Jorong sebagai sesuatu yang sangat dramatis. Untuk memperkuat prasangkanya, Sekretaris Jorong mengumpulkan sejumlah pemuda kampung. Mereka yang biasa berburu di hutan menjadi prioritas. Perburuan Wali Jorong yang dibawa lari orang bunian di puncak bukit dimulai. Rombongan pencari yang dipimpin Sekretaris Jorong sudah bersiap-siap dengan segala perlengkapan. Mereka tampak gagah sekali. Seperti tentara yang hendak berjuang di medan perang.
***
TIGA hari pencarian Wali Jorong di puncak bukit. Hasilnya, dua ekor babi, lima ekor burung murai, seekor landak, Sekretaris Jorong memilih membawa dua ikat rotan. Rotan itu akan digunakan sebagai penyangga kaki meja di kantor wali jorong yang sudah rapuh. Rotan lebih kuat dan efisien ketimbang memotong dahan pohon surian.
          
“Jejaknya ditemukan di puncak bukit. Bermulanya di kaki bukit.” Sekretaris Jorong mengabarkan hasil pencariannya kepada orang-orang kampung. Entah jejak siapa yang dimaksud. Kalau jejak orang bunian, pastilah tidak. Mana pula orang bunian meninggalkan jejak. Kakinya saja tak menginjak bumi. Kalau itu jejak Wali Jorong, pastilah. Laki-laki itu, setelah menyelesaikan tugas kecil di kantornya akan berburu di puncak bukit. Itulah aktivitas rutinnya agar dilihat selalu sibuk bekerja.
          
Sekarang bagaimana? Tentu saja Sekretaris Jorong sudah tahu jawaban atas pertanyaan itu. Ia mengumpulkan pemuda kampung lebih banyak. Mereka disebar untuk mencari jejak-jejak Wali Jorong di seluruh sudut kampung. Tak boleh satu sudut pun terlewatkan. Kalau Wali Jorong dibawa lari orang bunian di dalam kampung, itu jadi pekerjaan yang berat untuk mencarinya.
          
“Wali Jorong itu hilir-mudik saja di kampung kita. Sepanjang orang bunian tak menginginkan ia ditemukan, maka selamanya ia hilang. Tapi, kalau ia ditinggalkan begitu saja di puncak bukit, pastilah kita temukan.” Begitu Sekretaris Jorong meyakinkan orang-orang kampung.
          
Segala tenaga orang kampung dikerahkan untuk mencari Wali Jorong yang dibawa lari orang bunian. Angku Kari yang mulai merasa bersalah dan menjadi penyebab hilangnya Wali Jorong mengumpulkan murid-murid mengajinya dan jemaah surau. Ia menggelar doa dan salawat agar Wali Jorong segera ditemukan.
          
“Kita orang beragama. Tunduk kepada umarah itu adalah hal yang utama,” ujar Angku Kari meyakinkan jemaah di surau.
***
SEPEKAN setelah hilangnya Wali Jorong. Hari kedelapan, di subuh buta, seorang laki-laki berjalan di tengah kampung kaki bukit. Laki-laki itu menuju ujung bandar. Ada sebuah rumah kayu di sana. Laki-laki itu masuk ke rumah kayu. Tiba di teras rumah, tak ada yang menyambutnya. Ia membuka pintu. Pintu itu seperti telah akrab dengan dirinya. Sebentar kemudian, bayangan laki-laki di subuh buta hilang di balik pintu. Bersamaan dengan itu, lampu pijar di teras rumah dimatikan dari dalam.
          
Matahari pagi pelahan naik. Dari dalam rumah kayu di ujung bandar, seorang perempuan keluar membawa rantang. Perempuan itu Sutinah, istri Wali Korong. Ketika sampai di ujung jalan, Sunun yang sedang mengumpulkan sayur kangkung yang baru saja dipetik dari kebunnya menyapa. “Kesiangan kau membawa rantang Tinah?”
          
“Iya, aku terlambat memasak. Kayu bakar habis. Biasanya Uda Wali yang mencarikannya di hutan.”
          
Setiap hari, Sutinah mengantarkan rantang ke kantor wali jorong. Sepekan, suaminya itu tak lagi tampak di sana, Sutina tetap saja mengantarkan rantang. Tentu saja Sekretaris Jorong yang senang hati. Rantang yang dibawa Sutinah selalu kosong ketika ditinggalkannya.
          
Sutinah punya perasaan yang kuat. Ia merasa Wali Jorong datang ke kantor pagi itu. Biasa, seperti pagi-pagi sebelumnya. Bahkan, subuh buta tadi, Sutinah merasa suaminya itu pulang ke rumah. Pintu rumahnya terbuka dalam senyap. Ia paham betul, begitulah cara suaminya itu pulang.
          
Perasaan orang-orang kampung tak sekuat Sutinah. Mereka tak pernah merasa, bahkan melihat Wali Jorong ada di kampung. “Aku tak salah kan. Sebenarnyalah Wali Jorong dibawa orang bunian.” Sekretaris Jorong membenarkan prasangkanya di hadapan orang-orang kampung.
          
“Ia ada, tapi seperti tak ada.” Angku Kari mencoba memahami peristiwa luar biasa dengan logika agama yang dipelajarinya.
          
“Sudah kukatakan, ia kawan karibku. Orang sakti dia. Aku tak mungkin salah.” Kutar ikut membenarkan ucapannya di hadapan orang-orang kampung. Dan orang-orang kampung mulai lupa ucapan peminum tuak itu kepada Angku Kari.*
Padang, November 2016

Komentar

Postingan Populer