Jemputan
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
DUA lampion menari-nari
di atas gapura. Terang-benderang, karena warna merah yang membalutnya sempurna
meneparkan lentera di dalamnya. Dahulu, lampion di sana hanya bercahaya
beberapa jam saja, karena lilin di dalamnya tak mampu bertahan lama. Sesekali
tersapu angin, maka reduplah ia. Namun, lampion itu kini bersinar sepanjang
malam. Lampu-lampu bereneka ukuran dipajang di sana. Kalau listrik tak mati,
maka kelenteng itu akan kilau-kemilau hingga fajar menjelang. Di depan
kelenteng itu, Siti hendak berjumpa Sutan, lelaki yang diguratkan menjadi
pendamping hidupnya.
“ Kenapa tak besok saja,” ujar Sutan
menyapa Siti ketika ia baru saja tiba dari angkot yang membawanya.
“ Siti sudah menunggu setengah jam…”
Siti berbicara dalam hati. Sebagai perempuan, ia harus bisa menyembunyikan
kekesalan hatinya.
“ Kita ke Jembatan Siti Nurbaya
saja. Sudah lama tak makan jagung bakar di sana.” Sutan tak banyak melihat
banyak prasangka tentang sikap Siti yang hanya diam. Sebagai lelaki, sudah
paham saja ia akan membawa gadis pujaannya itu ke tempat yang menyenangkan. Setiap
kali bertemu, mereka memang acap berjanji di Jembatan Siti Nurbaya. Jembatan
yang membelah Muaro itu memang tempat yang paling romantis di Kota Padang. Muda-mudi
selalu menghabiskan senja hingga malam di sana.
Dari kelenteng yang terletak di
Kampung Pondok, hanya seratusan meter jaraknya. Siti dan Sutan berjalan
berdampingan tak bersuara. Di ujung trotoar, seorang nona Tionghoa keluar dari
bangunan tua yang dijadikan toko keluarganya. Kampung Pondok memang kampungnya
orang Tionghoa. Namun, di sana juga banyak orang keling. Kalau musimnya tiba,
mereka ganti-berganti menggelar karnaval di sana. Kalau tiba tahun baru China,
di depan kelenteng biasanya digelar karnaval barongsai dan sipasan. Orang
keling di Kampung Pondok menebar gula. Ribuan orang akan tumpah di sana. Kalau
hari biasa, Kampung Pondok sepi, sesepi perjalanan Siti dan Sutan malam itu.
Siti
berjalan dengan sedikit jarak. Ia memikul letih alang-kepalang di tubuhnya. Siti
baru sampai dengan mobil travel dari Sijunjung. Seragam jaksa muda masih
melekat di tubuhnya. Bukan perjalanan itu yang membuatnya lelah, namun beban
yang menggayut di isi kepalanya. Ia ingin berbagi beban itu kepada Sutan.
Namun, si lelaki pujaan seperti tak siap berbagi lelah. Ia baru sampai pula dari
Solok. Seharian, ia mendapatkan tugas pengawalan pejabat yang berkunjung ke
kabupaten. Belum hilang penatnya hilir-mudik ke sana-kemari.
“Saya pesan teh botol saja,” ujar
Sutan kepada pedagang di Jembatan Siti Nurbaya. Di pinggir jembatan ini memang
ramai orang bedagang. Ada bangku-bangku yang disiapkan. Sambil duduk-duduk,
berbagai menu ditawarkan.
“Saya minta jagung bakar, Bang,” giliran
Siti yang memesan. Ia melihat si abang sudah mengupas beberapa biji jagung
untuk dijejar di pembakaran. Gundah Siti melihat si abang tersurut hatinya
karena jagung bakarnya tak dipesan orang. Di Jembatan Siti Nurbaya itu orang
datang untuk mecicip jagung bakar.
Lama, Sutan belum membuka
pembicaraan. Ia sibuk melihat bangunan tua diterpa gulita di sepanjang Kampung
Pondok. Sesekali pandagannya jatuh ke bawah jembatan. Di atas Muaro kapal-kapal
nelayan bergerak meninggalkan dermaga. Sesampai di bibir Pantai Padang,
kapal-kapal itu bercahaya seperti kunang-kunang.
"Siti tak senang soal uang jemputan
itu…” Siti akhirnya memulai perbincangan. Suaranya tersendat, agak berat.
Sutan tak berekspresi. Baginya,
semua sudah jelas, tak ada masalah. “ Abang kan orang Padang, adatnya memang begitu.
Abang tak suka pula dibeli-beli begitu. Tapi, apalah…Uang jemputan itu kan tak
seberapa jumlahnya.”
“Bukan soal jumlahnya. Siti tak
suka saja pakai uang segala.”
“Sudahlah…uang jemputan itu
permintaan mamak-mamak Abang. Susah kita kalau tak menurutkan permintaan
mereka. Bisa-bisa perkawinan kita terhalang.”
Pembicaraan keduanya tak berlangsung
lama. Angin dari Muaro yang mulai menusuk tulang membuat keduanya semakin beku.
Padahal, Siti berharap ada jalan keluar dari Sutan. Minimal, Sutan menentang
keinginan mamaknya soal uang jemputan. Itulah pertanda lelaki jantan, yang tak
menurut seperti kerbau dicocok hidungnya.
Siti sudah paham uang jemputan itu
adat orang Padang. Sejak berjodoh dengan Sutan, ia sudah sadar kalau ada uang
jemputan sebagai persyaratan perkawinan mereka kelak. Lelaki Padang itu harus
dijemput dengan uang oleh pihak perempuan. Jumlahnya tak seberapa, hanya Rp5
juta. Siti bisa membayar dengan uangnya sendiri. Bagi keluarganyapun tak
masalah. Lebih berpuluh juta, mereka tetap sanggup membayarnya. Tapi, Siti tak
enak hati mendengar cerita orang soal uang jemputan itu.
***
“Jadi baralek-nya lepas Lebaran Haji
nanti Siti? ” Etek Siar bertanya ketika singgah ke rumah kontrakan Siti.
“Iya Etek. Nanti Siti kirim
undangan, datang ya ke Padang,” ujar Siti sumringah.
“Baguslah…” Etek Siar seolah ikut
merasakan senang. Namun, sebentar ia bertanya, membuat Siti tak senang hati. “
Kalau orang Padang dijemput ndak…” ujar Etek Siar lagi dengan nada bertanya.
Tak bisa Siti menyelanya. Ia
menjujuih saja masuk ke kamar kontrakannya. Kecil hatinya ketika ditanya soal
uang jemputan itu.
Etek Siar terbelanga melihat laku si
Siti. Ia terus berpikir soal tanyanya yang tak terjawabkan. Perempuan itu pun
berkicau kepada Uni Rahma yang kebetulan lewat di depannya. “ Si Siti, ditanya
uang jemputan, berang dia,” ujar Etek Siar ketus.
“Benar begitu Etek?” ujar Uni Rahma
balik bertanya. “ Malu si Siti itu uang jemputannya tak seberapa,” celutuk Uni
Rahma lagi.
“Ah, tidak. Lima juta! Itu kan
banyak,” ujar Etek Siar.
“Banyak tu Etek. Si Siti itu kan
sarjana. Calon lakinya itu Cuma polisi biasa, hanya tamat SMA,” ujar Uni Rahma.
“ Iya. Mengapa mau pula si Siti itu
pakai uang jemputan segala.”
“ Adat orang Padang Etek…”
Gendang telinga Siti pekak
dibuatnya. Dari dalam kamar kontrakannya, ia mendengar Etek Siar dan Uni Rahma
mempergunjingkan dirinya. Sebagai perempuan terpelajar, Siti paham betul tabiat
ibu-ibu rumahan yang suka mempergunjingkan orang. Namun, ia tetaplah perempuan
biasa yang sakit tergores hatinya.
***
“
Abakmu pergi ke ladang,” ujar Mandeh dari arah dapur.
Belum sempurna pagi menjelang, Siti
sudah mencari-cari Abaknya. Sebenarnya ia hendak berbicara kepada sang ayah
tadi malam. Namun, tubuhnya terlanjur letih. Sesampai di pembaringan,
pandangannya langsung nanar. Terlelap panjang ia dalam mimpi yang tak sempat diingatnya.
“ Lama Abak tu pulang Mandeh?” tanya Siti menghampiri Mandeh di dapur.
“ Entahlah…Abakmu itu kan tak tahu
hari,” timpal Mandeh.
Abak Siti pensiunan PNS guru. Sempat
pula sebentar jadi kepala sekolah. Sebelum pensiun, ia membeli sebidang tanah
di Lubuk Minturun. Di sana kini ia berladang. Entah apa yang ditanam si Abak.
Setiap akhir pekan ia selalu pulang membawa sesuatu dari ladangnya. Ada
jengkol, ada paku, kadang ikan
mujair. Padahal, di ladang itu tak ada kolam. “ Diberi orang,” ujar Abak setiap
kali membawa seekor-dua ikan mujair.
Kalau sudah membawa buah tangan,
hilanglah capek si Abak. Padahal, jarak ladang dengan rumahnya di tepian Batang
Kuranji tidaklah dekat. Dari Kuranji ke perbukitan Lubuk Minturun, lebih lima
kilometer. Dan Abak berkunjung ke ladangnya hanya dengan mengayuh sepeda unto-nya. Memang capek bisa hilang di
jalan. Apalagi, sepanjang jalan Abak bisa bernostalgia dengan rimbunnya
pepohonan. Ada perbukitan dengan tebingnya yang curam, ada pula hamparan sawah
bergelombang di kaki perbukitan. Mengayuh sepeda berlama-lama, malah menjadi
hiburan yang menyenangkan.
“Soal apa kamu bertanya tentang
Abak?” ujar Mandeh menyapa Siti yang membantunya menyiang bawang.
“Tentang uang jemputan itu Mandeh,”
ujar Siti berterus-terang.
“Alah…apa lagi yang jadi masalah.
Kan sudah diputuskan. Mamak si Sutan sudah menentukan, Abakmu juga sudah
setuju. Apalagi yang kau hiraukan,” ujar Mandeh.
“ Siti tak setuju ada uang jemputan
Mandeh.”
“ Oi Siti, adat pula yang kamu tantang. Sudahlah…. Alek-mu sudah dekat, jangan lagi
cari-cari masalah,” suara Mandeh agak meninggi.
Siti kecut hatinya. Tak kuat ia
berdebat pula dengan Madeh-nya. “ Besok Siti balik ke Sijunjung…” timpal Siti
lesu.
“ Hm… mulai tak betah kamu di rumah
ini…” Mandeh malah makin ketus.
***
BUS baru sampai di
gerbang Terminal Bareh Solok. Siti tak lekas beranjak dari bangku, matanya
masih nanar. Tiga jam perjalanan dari Padang, ia tak enak badan. Terlalu sumpek
orang di atas bus itu. Bermacam bau menghampiri hidungnya. Keringat bercampur
bau ayam yang dibawa penumpang yang duduk di sebelahnya. Di jalan lurus di
Gunung Talang, Siti nyaris muntah. Mujur, seorang perempuan berseragam kuning
tua yang duduk di seberangnya berbaik hati meminjamkan minyak angin.
“Baru dinas ya, Dik?” sapa si perempuan berseragam kuning tua. Ia PNS di Kota
Solok. Setiap hari ia naik bus dari Padang menuju tempat kerjanya. Kalau hujan
lebat di Sitanjau Lauik, si perempuan berseragam kuning tua itu bisa tersenyum
lebar. Ia punya alasan tak bisa bekerja hari itu. Kalau hujan lebat, biasanya
longsor di Sitinjau Lauik, putuslah jalan dari Padang ke Kota Solok.
“Ndak Uni. Lagi ndak enak badan,” ujar Siti. Ia sudah terbiasa naik bus dari
Padang ke Sijunjung. Setiap akhir pekan, ia sering se-bus dengan banyak PNS
yang berdinas antar kota. Dari Padang, Siti singgah sebentar di Terminal Bareh
Solok. Selepas itu, ia menumpang bus Tanjung Raya yang ukurannya lebih kecil.
Tak lama ia berhenti di terminal, Siti lekas naik bus. Kalau sudah penuh, bus
itu biasanya lekas berangkat.
“
Panuah, panuah…!” teriak kernet bus.
Itu artinya bus segera berangkat.
Siti
bersandar saja di bangku belakang. Belum hilang mabuk yang dibawanya dari
Padang. Bus mulai menyacah sepanjang jalan Silungkang. Biasanya, Siti selalu
melongokan kepalanya ke jendela. Di sepanjang jalan ia bisa melihat orang
berjualan barang kerajinan di sana. Silungkang memang terkenal dengan kerajinan
tangannya. Ada tenunan, perkakas rumah, lengkap dijejar di pinggiran jalan.
Bagi Siti, itu pemandangan yang bisa mencuci mata.
Kring…kring…kring…!
Siti terbangun dari lelap sebentar. Telpon genggamnya tak berhenti berdering.
“
Siti, besok kamu harus pulang. Alek-mu,
Nak!” teriak Mandeh dari balik telpon.
Siti
tak tersentak. Kepalanya makin disandarkan ke bangku bus yang berjalan tak
seimbang.
***
SITI baru saja
keluar dari rumah kontrakannya. Dengan seragam jaksa mudanya, ia makin
bersemangat bagi itu. Di seberang jalan, Etek Siar dan Uni Rahmah sudah
mencuri-curi pandang. “ Bila tibanya Siti?” ujar Etek Siar dengan nada
bertanya.
“
Tadi malam, Etek,” jawab Siti bersahabat.
Etek
Siar bingung alang-kepalang. Mana ada perempuan sekuat baja. Hati perempuan itu
rapuh, serapuh kerupuak baguk yang
sering dikunyah orang menemani santap lontong paginya. Baru saja Siti batal
kawin. Kabar itu sudah sampai ke telinga Etek Siar dan Uni Rahma.
Siti
berlalu meninggalkan dua perempuan itu. Di ujung jalan, tentu saja ia
selentingan mendengar keduanya mempergunjingkannya. “ Itu lah kalau perempuan
sudah gila kerja, tak penting lagi bersuami baginya,” celutuk Etek Siar kepada
Uni Rahma.
“
Benar Etek. Apa pula kurangnya si Sutan itu. Sudah polisi ia, hebat masa
depannya,” timpal Uni Rahma.
“
Sudah berapa ya umur si Siti itu. Betah dia melajang,” celutuk Etek Siar lagi.
“
Entah Etek, jadi perawan tua dia,” timpal Uni Rahma tak kalah sengitnya.
Siti
mendengar jelas gunjingan dua perempuan itu. Namun, ia sudah paham. Dua hari
yang lalu, Siti sudah menerima kata-kata yang lebih pedas.
***
“
Mandeh, Siti jadi kawin besok,” ujar Siti kepada Mandeh. Di sebelahnya, Abak
mendengar geleng-geleng kepala.
“
Kawin katamu. Dengan siapa kamu kawin. Kau kira kawin itu sama seperti kucing,”
teriak Mandeh menahan amarahnya.
“
Dengan orang Nias, Mandeh…” jawab Siti.
“
Apaaa…? Dengan orang Nieh katamu!
Orang itu tak ada adatnya,” ujar Mandeh makin tinggi marahnya.
Padang, Oktober 2013



Komentar
Posting Komentar