Tukang dan Seekor Gagak

Cerpen A.R. Rizal



SUDAH tiga hari tukang itu bekerja memperbaiki surau. Ia satu-satunya orang di kampung yang terkenal dengan keahliannya memperbaiki bangunan yang tak biasa. Ya, surau itu tak biasa. Terletak di ujung kampung, dipagari hamparan sawah yang luas. Kesemua bangunannya terbuat dari kayu surian. Lantai, dinding hingga langit-langitnya beralaskan kayu yang sudah bertahan puluhan tahun lamanya. Namun, cuaca akhir-akhir ini yang cepat berubah membuat kayu-kayu di surau itu mudah dimakan rayap. Si tukang paling tahu dengan keahliannya memperbaiki surau itu. 

Pertama-tama, tukang memperbaiki lantai kayu. Mengganti kayu yang keropos dengan kayu yang lebih segar. Pekerjaan itu diselesaikannya sehari penuh. Esoknya, ia memperbaiki dinding hingga mengganti daun jendela yang tak lagi tertutup sempurna di konsen. Pekerjaan itu begitu menyita waktu. Butuh satu setengah hari bagi tukang menyelesaikannya. Ia tak berhenti di hari ketiga. Setengah hari yang bersisa digunakannya untuk memperbaiki atap.

Atap surau terbuat dari rumbia. Karena sering tertimpa panas dan hujan, atap itu memang menjadi bagian yang sering diperbaiki. Tukang akan mengganti rumbia yang sudah kering dengan daun-daun yang lebih muda. Sebelumnya, ia mengganti kayu-kayu kecil penyangga atap, menukar terpal dengan yang baru agar air tak merembab ke dalam. Tukang harus menyelesaikan pekerjaan itu sekejap mata, agar tak terlanjur dikerjar hujan yang bisa turun kapan saja. “Kasihan jemaah yang beribadah di surau, bisa basah kuyup terkena hujan,” ujarnya dalam hati.

Menjelang Ashar, tukang masih berada di atap surau, menyelesaikan setengah lagi pekerjaannya. Biasanya, dari atas sana ia akan melihat orang-orang bergerombol dari persawahan. Jelang Ashar adalah waktu bagi orang-orang di sawah menyelesaikan pekerjaannya. Mereka sebelum menuju ke rumah selalu mampir ke surau. Di antaranya ada yang sengaja untuk beribadah, namun rata-rata untuk membersihkan diri di tepian. Surau itu terletak di pinggir sungai. Di pinggir sungai ada tepian mandi yang biasa dimanfaatkan orang-orang di sawah. Jelang sore, mereka berbersih-bersih. Selesainya, ada yang menuju surau untuk salat Ashar. Ada pula yang langsung pulang ke kampung.

Kalau orang-orang kampung, biasanya pergi ke surau ketika magrib tiba. Surau itu memang agak jauh dari kampung. Orang-orang kampung harus melewati jembatan kayu kecil untuk menyeberangi sungai agar sampai ke surau. Banyak orang yang terpeleset di jembatan kecil itu. Karenanya, ada yang berinisiatif menerangi jembatan itu dengan lampu-lampu togok.

Tak banyak orang yang datang ke surau jalang Ashar itu, si tukang tak pernah menghitungnya. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Namun, kali ini ia didatangi teman yang tak biasa, seekor gagak. Di sekitar surau itu memang banyak gagak bersarang. Maklum, di hamparan sawah yang luas, di sana gagak-gagak mendapatkan makanan yang berlimpah. Ketika sedang serius memperbaiki atap surau, gagak itu mendekati si tukang. Semula ia ragu-ragu, tapi akhirnya gagak itu memberanikan diri menyapa. “Hai Tuan, sudah tiga hari ini aku melihat engkau di surau ini,” ujar si gagak.

“Aku tukang, aku bekerja memperbaiki surau ini. Itu keahlianku,” ujar tukang membalas sapaan burung gagak.

“Tak aku lihat orang lain bekerja. Engkau sendirian?” tanya gagak.

“Ya!”

“Apakah itu tak membuat engkau merasa sepi?” tanya gagak lagi.

“Ini pekerjaanku. Aku senang melakukannya. Lihatlah betapa berartinya pekerjaanku ini bagi orang-orang. Aku perbaiki lantai surau, dindingnya, jendelanya, atapnya, sehingga orang-orang bisa dengan nyaman beribadah di sana,” ujar si tukang.

“Beribadah? Apa itu beribadah?” gagak bertanya agak kebingungan.

“Beribadah itu menyembah Tuhan. Tuhan itu yang menciptakan alam, memberikan kehidupan untuk manusia, termasuk untukmu gagak,” balas tukang.

“Ooo..iya. Kami, gagak pun beribadah dengan cara kami.” Gagak tersenyum seraya memukul-mukul keningnya dengan ujung sayapnya. Ia kemudian bertanya lagi: “Seperti apa manusia itu beribadah?”

Si tukang memperbaiki posisi duduknya di atap surau. Ia membalikan badannya dan menunjuk ke arah orang-orang dari sawah yang mulai berdatangan ke surau. “Engkau lihat orang-orang itu, mereka akan beribadah di surau ini,” ujar tukang kepada si gagak.

Haiya ‘alashola haiya ‘alal falah!” Dari dalam surau terdengar seseorang berkumandang. Gagak mendengarnya sangat keras, karena tempat ia bertengger persis di cerobong pengeras suara yang tergantung di atap surau. “Suara apa itu?” tanya gagak kepada si tukang.

“Itu azan. Artinya panggilan untuk orang-orang agar beribadah,” jawab si tukang.

“Oo kami, para gagak kalau mau beribadah cukup membaca tanda-tanda alam saja. Kalau manusia, ternyata harus dipanggil pula...”

“Hahahahaha.” si tukang tertawa lebar, seperti menertawakan orang-orang yang bergegas menuju surau.

Gagak malah heran dengan gelagat tawa si tukang. Ia jadi penasaran dan lagi bertanya: “Mengapa engkau tak seperti orang-orang, memenuhi panggilan azan itu?” tanya gagak.

“Lihatlah, aku sudah tiga hari di surau ini. Tanpa suara azan, aku selalu mendatanginya,” ujar tukang enteng.

“Maksudku, apakah engkau tidak beribadah?” tanya gagak lagi semakin heran.

Si tukang sesaat terdiam. Keningnya berkerinyut. “Hm, beginilah aku beribadah,” ujar tukang seraya memperlihatkan seutas tali dari kulit kayu di ujung tangannya. Tali itu kemudian dililitkan ke tumpukan rumbia. Dengan sigap, si tukang selesai memperbaiki satu ruas atap surau yang rusak. Air hujan tak akan bisa lagi jatuh ke sana, si tukang merasa puas karena telah membuat orang-orang di surau bisa beribadah dengan nyaman dan tenang.

Gagak memperhatikan tingkah si tukang dengan seksama. “Wah, ternyata kita sama,” ujar gagak bersemangat. 

***

ASHAR sudah usai sejak dari tadi. Sore sudah berada di penghujungnya. Orang-orang tak nampak lagi di surau. Hanya si tukang dan seekor gagak yang dari tadi asyik bermain-main di atap surau. “Hei, gagak! Lihatlah, pekerjaanku sudah selesai. Sekarang engkau tahu kan bagaimana keahlianku dengan pekerjaanku ini,” ujar tukang kepada si gagak.

“Engkau memang tukang yang hebat! Hasil pekerjaanmu begitu indah. Hmm, rajutan rumbia ini begitu rapi dan menghangatkan. Aha...aku bisa bersarang di sini,” ujar gagak seraya mengibas-ngibaskan sayapnya.

“Hah, jangan! Tempatmu bukan di sini. Nanti engkau malah mengotori hasil pekerjaanku. Pulanglah ke tempatmu. Jangan engkau bermain-main lagi di atap surau ini,” ujar si tukang seraya melarang.

“Baiklah, aku pun akan pulang. Tapi, aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dulu,” ujar gagak.

“Pekerjaan? Dari tadi aku melihat engkau bermain-main saja. Apa pula pekerjaanmu,” balas si tukang menyindir.

“Pekerjaanku memberi kabar,” ujar gagak singkat.

“Kabar apa?” ujar tukang pula bertanya singkat.

“Kabar kematian!”

“Oo iya! Engkau gagak memang pekerjaanmu memberi kabar kematian,” ujar tukang enteng. Ia sibuk berkemas. Perkakas tukangnya yang berserakan di atap surau dikumpulkan satu persatu. Perkakas itu dimasukan ke dalam kotak kayu. Ia turun dengan tangga sambil membawa kotak kayu tersebut.

“Hei, gagak! Aku mau pulang,” ujar si tukang sambil menengadah ke arah gagak yang masih bertengger di atap surau. “Oya, kepada siapa engkau akan menyampaikan kabar kematian itu. Lihatlah, di surau tak ada lagi orang-orang,” ujar si tukang setelah melongokan wajahnya ke dalam surau yang dari tadi sudah kosong.

“Aku memberi kabar untukmu, wahai tukang,” balas si gagak sambil terbang-terbang kecil di atap surau.

Si tukang terdiam. Tangannya terasa lemas, hingga tak kuat lagi memegang kotak kayu yang selalu dibawanya untuk menyelesaikan setiap pekerjaannya. Keringat dingin mengguyur dari ubun rambut ke wajahnya. Matanya berkunang-kunang. Ia ingin memaksakan diri masuk ke surau. Ada sisa waktu selepas azan Ashar tadi. Ia berharap sisa waktu itu masih bisa dimilikinya. Sekuat tenaga ia melangkah, namun kakinya terasa berat. Kaki itu seperti tertanam di tanah.* 
Padang, Maret 2014

Komentar

Postingan Populer