Tuba
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
PAGI-pagi buta, Farida pergi
ke tepi danau. Selalu bergegas. Seperti alarm, perut tuanya selalu memberi
tanda-tanda di saat yang tepat. Perempuan itu mesti buang hajat. Tak ada jamban
di rumahnya. Untuk apa? Dengan tempat mencongkong yang maha luas di tepi danau,
urusan membuang hajat terselesaikan.
Persis di pekarangan belakang rumah, Farida membuat tempat mencongkong
dengan dua bilah kayu. Agar aktivitasnya tak dilihat orang banyak, tempat
mencongkong itu ditutupi terpal berwarna hitam. Terpal disingkap, Farida
bersiap-siap melepas hajat. Tak langsung keluar, perempuan itu perlu bemenung
barang sebentar. Dalam bermenung, tiba-tiba Farida mencium bau yang tak sedap.
Bau busuk yang menusuk hidung. Perempuan itu merasa bingung. Padahal, belum
sebongkah pun hajat dikeluarkannya.
Bau bangkai. Bau yang sudah lama tak tercium oleh perempuan itu.
"Uda, uda!" Farida berteriak ke arah rumah. Menghambur ke tepi danau.
Sampai tak sadar perempuan itu dengan kain sarung yang masih tersingkap.
"Apa? Kau merayuku di tepi danau?" Sulaiman mendatangi
istrinya dengan mata terbelalak.
Farida buru-buru menutup kain sarungnya yang tersingkap. Perempuan itu
tak perlu merasa malu di hadapan Sulaiman. "Tubo, tubo, Uda.
Habislah karamba kita."
Sulaiman menjulurkan wajahnya ke arah danau. Di sela-sela eceng gondok,
bangkai-bangkai ikan mengapung. Ikan-ikan seukuran setapak tangan, sangat cocok
sebagai menu di rumah makan. "Habislah." Sulaiman terduduk. Pegelangan
kakinya terasa lemas, persendiannya hendak copot.
Sudah setahun lebih, musim itu tak datang lagi. Orang-orang tepi danau
menyambut dengan suka-cita. Tanah air mereka terbekati. Tapi, bala
datang secara tiba-tiba. Musim tuba kembali membunuh jutaan ekor ikan yang
dipelihara di keramba-keramba di sepanjang tepian danau. Kematian ikan-ikan itu
adalah bencana. Orang-orang tepi danau menggantungkan hidupnya dari keramba.
Sulaiman baru saja membuat keramba. Belum
sekali pun ia menuai hasil. Selama ini, ia tak tertarik memelihara ikan. Takdirnya
sebagai petani, bukan peternak. Laki-laki itu terus berkutat dengan sepiring
sawah di dekat rumahnya. Selama bersawah, nasibnya begitu-begitu saja. Melihat
orang-orang di kampungnya sudah berumah bagus dan bermobil, maka tergoda juga
Sulaiman beternak ikan.
Semula, Sulaiman tak mempunyai modal. Itu bukan masalah. Ada toke-toke
yang mau meminjamkan uang. Tanpa syarat, tanpa bunga. Cukup menjual ikan-ikan
yang dipanen kepada toke. Tapi. tetap saja itu tak membuat Sulaiman merasa
tenang. Ia tak biasa berutang. Berutang itu adalah aib.
"Naga air itu murka." Munir membuka prasangka dalam sebuah
bincang-bincang tak berketentuan di lepau Mak Piah.
Orang-orang tepi danau percaya dengan adanya naga besar yang menjadi
penunggu di dasar danau. Ikan-ikan mati disebabkan oleh naga itu. Ketika
bersendawa, naga mengeluarkan gelembung besar di tengah danau. Gelembung itu
adalah napasnya yang bercampur belerang.
"Bagaimana bisa kau menduga tentang naga itu? Kau melihat sendiri
gelembung besar di tengah danau?" Sulaiman bertanya bertubi-tubi kepada
Munir. Hatinya terlalu gelisah untuk ditambah prasangka buruk dari Munir.
Munir menggeleng. Sulaiman melihatnya dengan bola mata terbelalak. Munir
tak kehilangan akal untuk membela diri. "Lebih setahun, tak ada yang mati
tenggelam di danau. Bukankah itu menjadi alasan yang kuat bagi naga air
murka?"
Benar juga apa yang dikatakan Munir. Sambil mengangguk-angguk, Sulaiman
menatap orang-orang di lepau Mak Piah secara bergantian. Satu persatu,
orang-orang itu terpengaruh. Pikiran mereka sama dengan Sulaiman.
***
ORANG-orang tepi danau
berpikir mencari tumbal. Di masa lalu, mereka tak perlu memikirkan hal itu.
Ketika belum banyak keramba di danau, orang-orang datang dari seluruh penjuru
mata angin. Terutama di musim libur sekolah. Orang-orang datang dengan bus-bus
berukuran kecil dan besar.
Menunggu nasib buruk saja, pasti ada yang mati tenggelam. Anak-anak
sekolah yang terlampau senang kerap membuat kelalaian. Berenang sampai ke air
dalam, matilah karena tak pandai berenang. Kalau tak ada yang mati tenggelam,
orang-orang tepi danau kadang membuat siasat. Mereka menyewakan sampan yang
ditiriskan sebesar ujung paku. Setelah mengayuh sampai ke tengah danau, penyewa
tak sadar sampannya telah digenangi air. Tak ada jalan untuk selamat, selain
berenang ke tepi danau. Yang kehabisan
tenaga sebelum sampai ke tepian, jadilah ia tumbal.
Orang-orang tepi danau sudah menyiapkan sampan tiris. Tapi, tak seorang
pun yang bisa dijadikan tumbal. Sudah lama, tak ada lagi yang berkunjung ke
danau.
"Terpaksa kita bernapas keluar badan. Tak ada kayu, jenjang
dikaping." Sulaiman menyampaokan idenya kepada orang-orang di lepau Mak
Piah.
"Jelaskan maksudmu sebenarnya." Munir tak paham dengan
perkataan Sulaiman.
"Kalaulah ada orang-orang tepi danau yang jadi tumbal, sepatutnya
dia mumbang yang tak masuk hitungan."
Munir bertopang dagu. Maksud perkataan Sulaiman mulai terang baginya.
Dalam menung, Munir pun menimang-nimang. "Rasanya, tak ada yang pantas
dijadikan tumbal." Munir menyerah dengan pikirannya.
"Pergilah kau ke balai. Di sepanjang jalan, banyak orang tak waras berlalu-lalang. Takkan ada yang mengakui
mereka sebagai sanak-kerabatnya."
Betul sekali apa yang dikatakan Sulaiman. Munir membuang pandangan
kepada orang-orang di lepau Mak Piah. Orang-orang di sana saling membuang muka.
Tak ada yang punya nyali untuk melaksanakan rencana Sulaiman. Terpaksalah
laki-laki itu menjalankan siasatnya sendiri.
***
SULAIMAN menjulurkan perahu tiris ke tepi danau. Di atas
perahu sudah ada Kampai, laki-laki tak waras yang biasa hilir-mudik di balai. Tak
susah bagi Sulaiman membawa laki-laki gila itu. Cukup mengiming-imingi dengan
nasi bungkus dan sebatang rokok.
Perahu sampai di
tengah, Kampai tampak asyik dengan rokok sebatang. Ia mengusap-usap puntung,
tapi api sama sekali tak dinyalakan. Sulaiman sibuk mengayuh. Sama sekali ia
tak memperhatikan Kampai. Sengaja ia tak memperhatikan. Takut, rasa ibanya
muncul tiba-tiba. Rencana harus dilaksanakan. Itu tak hanya baik buat Sulaiman.
Laki-laki itu sekaligus telah berbuat baik untuk orang-orang tepi danau.
Berputar-putar di
tengah danau. Sulaiman menunggu air yang masuk ke perahu mencapai mata kakinya.
Sebentar lagi, Sulaiman mulai mengambil ancang-ancang untuk mencebur ke air
danau. Tiba juga akhirnya. Sulaiman berenang ke tepian. Laki-laki itu sama
sekali tak menoleh ke belakang. Entah bagaimana nasib Kampai dengan perahu yang
siap tenggelam.
Di waktu muda,
Sulaiman terbiasa berenang di danau. Ia bahkan bisa merenangi danau itu dari
ujung ke ujung. Berenang beberapa kali putaran, ia pun kuat. Laki-laki itu
berhasil mematahkan rekor Munir yang nekad berenang di danau pada subuh-subuh
buta. Saat embun membawa hawa dingin dari puncak bukit, berenang di danau
menjadi sebuah tantangan besar. Boleh dikatakan, orang tak waras yang mau
melakukannya.
Sulaiman hampir
sampai ke tepian. Tapi sayang, laki-laki itu lupa kalau dirinya sekarang
bukanlah Sulaiman di waktu muda. Hawa dingin menusuk dada, membekukan
paru-parunya. Sampai di tepian, Sulaiman kehilangan tenaga. Tubuhnya tersungkur
di air setinggi lutut. Wajahnya terjerembab di permukaan.
Pagi-pagi buta,
ketika Farida membuang hajat di tempat mencongkok di tepi danau, ia menemukan
sesosok tubuh mengapung. Perempuan itu terperanjat. “Uda, Uda, Uda!” Berteriak
perempuan itu sejadi-jadinya. Orang-orang tepi danau pun berkumpul untuk
mencari tahu apa gerangan yang terjadi.
“Laki-laki hebat.
Ia menumbalkan dirinya sendiri.” Munir membuat pujian di depan sesosok tubuh
terbujur kaku. Orang-orang tepi danau yang mendengar perkataan Munir serempak
mengiyakan.
***
BEBERAPA hari kemudian, orang-orang melihat Kampai
hilir-mudik di tengah balai. Orang-orang tak peduli bagaimana laki-laki gila
itu selamat dari sampan tiris yang tenggelam. Orang-orang sudah melupakan
peristiwa itu, seperti melupakan kematian Sulaiman. Bahkan Farida, perempuan
itu sendiri sudah lupa. Ia tak punya waktu lagi untuk mengenang kematian. Kehidupan
sedang menunggu di hadapannya. Toke datang menawarkan perjanjian baru kepada
perempuan itu. Tak hanya modal, mereka memberi bibit ikan, hingga pakan,
seberapa pun yang diinginkan Farida.
“Bukankah pakan itu
yang menjadi tuba selama ini? Pakan yang tak termakan ikan mengendap di dasar
danau. Seperti tumpukan sampah yang membunuh ganggang untuk menghasilkan
oksigen. Hal itu yang membuat ikan-ikan tak bisa bernapas.” Farida bertanya
kepada toke. Selama ini, perempuan itu percaya ikan-ikan hidup begitu saja
dengan mengambil makanan yang ada di danau.
Toke laki-laki
bertubuh tambun dan bermata sipit itu tersenyum mendengar pertanyaan Farida.
“Itu cuma mitos.” Jawab toke itu sambil berlalu meninggalkan Farida.
Farida
mengangguk-angguk. Perempuan itu percaya kepada toke. Kepercayaannya sangat
besar, sebesar harapan cerah yang menunggunya di hadapan. Setelah tepian danau
dibersihkan dari bangkai ikan, musim keramba pun dimulai.*
Padang,
Februari 2020



Komentar
Posting Komentar