Tamu dari Kampung Pondok

Cerpen A.R. Rizal


SUDAH lama orang-orang di kampung tengah sawah itu tidak bergunjing. Tak ada alasan mereka bergunjing. Kehidupan berjalan di antara mereka saja. Sekali alasan itu tiba, hebohlah orang-orang di kampung itu seperti hebohnya ruak-ruak di musim kawin.

Ada seseorang yang akan datang dari kampung sebelah. Perempuan muda dari Kampung Pondok. Perempuan muda tak pernah menjadi bahaya selama laki-laki pandai menjaga birahinya. Yang jadi masalah pada kedatangan perempuan muda itu adalah, tempat asalnya.

Orang-orang di kampung tengah sawah tak pernah senang dengan Kampung Pondok. Tak senang pada orang-orangnya, pada tanahnya, pada pekerjaannya, hingga pada tinja yang dialirkan dari sebuah bandar kecil yang membelah perbatasan.

"Perempuan itu penyakit!" Kutuk Sukri sambil menyerumput kopi jantan di lepau Mak Piah.

"Penyakit apa yang dibawanya?" Murai masih meragukan ucapan Sukri. Ia berprasangka, laki-laki lewat 40 tahun itu hanya menumpahkan rasa sakit hati karena ditolak perempuan. Penilaiannya terhadap perempuan tak objektif.

Sukri tak langsung menjawab tanya. Ia tampak gagap. "Banyak." Sukri hening sejeda. "Seperti virus." Laki-laki itu melanjutkan kata.

Murai menyandarkan tulang rusuk belakang ke sadaran kursi kayu. "Bahaya itu." Dingin telapak kaki Murai mendengar perkataan Sukri.

Dari lepau Mak Piah, ucapan Sukri menyebar sebagai kabar burung. Secepat kilat, ia mempengaruhi orang-orang. Orang-orang di kampung yang tak seberapa luas itu kemudian menyusun siasat membatalkan kedatangan perempuan muda dari Kampung Pondok.
***
SIASAT pertama adalah mendatangi rumah Sutan. Perempuan muda dari Kampung Pondok adalah tamu dari anak perempuan laki-laki itu yang baru pulang dari perantauan. Sukri membawa orang-orang. Murai sebagai juru bicara. Mereka tak sekadar datang. Mereka telah menyusun protes kepada Sutan.

"Pokoknya, perempuan muda itu tak boleh datang." Murai menyampaikan pernyataan bersama.

"Kalau sampai dia datang, akan kuusir beramai-ramai." Sukri tak bisa untuk tak ikut bicara.

"Ya, usir!"

"Seret!"

"Gorok dengan kanso!" Orang-orang sangat gampang terpengaruh dengan ucapan Sukri.

"Apa alasanku menolak tamu yang datang?" Sutan mencoba bersikap tenang menghadapi orang-orang yang berang.

"Dia membawa penyakit." Sukri langsung menyela. Yakin sekali laki-laki itu dengan tuduhannya.

"Gadis itu tak berpenyakit. Dia itu perempuan terpelajar, dari keluarga terpandang. Lebih tahu dia merawat diri dari istri dan anak-anak gadis kalian. Mandinya saja tiga kali sehari. Sekali sepekan, dia mandi dengan air susu."

Glek! Sukri menelan air ludah. Tak sanggup ia membayangkan seorang gadis muda dari Kampung Pondok yang mandi di dalam kolam susu. "Dia akan membawa pengaruh buruk." Sukri memikirkan alasan yang lain.

Sutan termenung. Kata-kata Sukri menusuk ulu hatinya. Tak mungkin ia menyanggah kebenaran. Selama ini, segala sesuatu yang datang dari Kampung Pondok adalah pengaruh buruk. Mereka mengajarkan bagaimana membuat barang palsu, memanipulasi, dan terutama berlaku ciluih dalam berdagang. Lebih parah lagi, orang-orang Kampung Pondok menyontohkan bagaimana caranya memasak segala macam masakan. Memasak babi, biawak, anjing, kucing, hingga tikus. Walau Sutan bisa mendapatkan uang dengan menjual tikus sawah kepada orang-orang Kampung Pondok, namun batinnya berontak. Laki-laki itu kini dicekam dilema.
***
TAK ada siasat kedua. Kedatangan perempuan muda dari Kampung Pondok tak bisa dicegah. Seperti takdir, yang terjadi, terjadilah.

“Aku melihat gadis itu memboncengi motor matic.” Seorang pemuda membuat laporan kepada orang-orang yang sedang berjaga-jaga di gerbang kampung.

“Di mana?” Murai berada di antara orang-orang itu.

“Di rumah Sutan.”

“Celaka!” Sukri bangkit dari duduknya. Laki-laki itu berdiri, kemudian duduk lagi. Berdiri lagi sambil melangkah maju dan mundur. “Laki-laki itu menipu kita.” Sukri memaki Sutan.

“Apa yang harus kita lakukan.” Pemuda yang membuat laporan bertanya kepada Sukri.

“Tak ada. Sutan itu orang kampung kita juga.” Murai yang menjawab. Laki-laki itu salah menjawab pertanyaan.

“Kita harus mengambil tindakan tegas.” Sukri menyela.

“Ya.” Orang-orang di gerbang kampung bertepuk tangan. Mereka memuji Sukri yang selalu bisa menemukan solusi untuk segala macam persoalan.

“Ayo, ikut aku.” Sukri mengomandoi orang-orang kampung.

Sejumlah laki-laki menyusuri jalan kampung. Melewati jalan kecil di persawahan. Melompati pematang, sampailah mereka di persimpangan. Rumah Sutan tak jauh dari persimpangan itu. Orang-orang menunggu. Tak ada jalan keluar dari rumah Sutan selain melewati persimpangan.
Di sela-sela rumpun betung, asap dari sebuah sepeda motor mengepul di jalanan tanah. Sepeda motor dikendarai oleh bocah laki-laki. Di belakangnya, seorang gadis muda berboncengan.

“Berhenti!” Seorang laki-laki muda berteriak. Ia membuat pagar hidup di simpang jalan.

“Kau turun!” Sukri berteriak kepada gadis muda. Kepada bocah laki-laki, Sukri memasang wajah sangar dengan mata terbelalak. “Kau, pergilah. Pacu motormu itu kencang-kencang. Jangan menoleh ke belakang.”

“Ada apa ini?” Perempuan muda heran dengan penghadangan.

“Bawa dia.” Sukri membuat perintah kepada orang-orang.

“Tak bisa begini. Ini pelecehan.” Perempuan muda berontak.

“Tak ada kompromi. Seret dia.” Sukri membuat perintah yang lain.

“Dia melawan.”

“Matikan saja.”

Bruk! Suara tumbukan. Cukup sebelah lengan laki-laki, perempuan muda itu pun tumbang. Jatuh, tersungkur ke tanah.

“Apakah dia sudah mati?”

“Aku masih mencium embusan napas di mulutnya.”

“Kurang ajar! Jangan mencari-cari kesempatan.” Sukri marah kepada seorang laki-laki muda yang menjulurkan wajahnya kepada perempuan muda yang terbaring di tanah.

“Kau akan memulangkannya ke Kampung Pondok?” Murai bertanya tentang rencana Sukri selanjutnya.

“Tidak. Di mana saja, perempuan ini akan menjadi penyakit.”

“Lalu, bagaimana?” Seorang laki-laki muda meminta petunjuk.

“Bawa ke gerbang kampung.”

Orang-orang menggotong tubuh perempuan muda ke gerbang kampung. Titik di mana orang-orang semula berkumpul. Sukri sudah mempersiapkan sesuatu di sana. Setiba di gerbang kampung, Sukri mengambil sesuatu. Sebuah lempengan logam tipis. Lebih tebal dari seng. Lempengan logam itu berasal dari kaleng biskuit yang tak lagi terpakai. Dipenuhi karat, ujung-ujungnya bergerigi tak beraturan.

Sukri berdiri di depan tubuh perempuan muda yang tergeletak sambil memegang lempengan logam di kedua belah tangannya.

“Apa yang akan kau lakukan?” Murai mulai khawatir dengan apa yang hendak diperbuat Sukri.

“Tegakan kepalanya.” Sukri membuat perintah.

Dua laki-laki muda mengambil peran. Keduanya menegakan kepala perempuan muda di hadapan Sukri. Laki-laki itu menganyunkan ujung lepengan logam. Sebuah tebatasan, membuat lempengan logam menancap di leher perempuan muda.

“Sadis!” Murai berteriak dalam hati. Tapi, laki-laki itu tak bisa berbuat apa-apa.

“Gantung di gerbang kampung.” Sukri membuat perintah kepada sejumlah laki-laki muda.

Tubuh perempuan muda dengan leher yang nyaris putus digantung di gerbang kampung dengan menggunakan lempengan logam. “Kita membasmi penyakit seperti yang dilakukan nenek-moyang kita dahulu.” Sukri menyampaikan ultimatum di hadapan orang-orang yang begitu percaya kepada dirinya.

“Kejam.”

“Sayang sekali.” Seorang laki-laki muda berbisik kepada yang lain. Ia jadi lupa bermimpi untuk meminang gadis manis, berlesung pipit, berkulit kuning langsat, dan bermata sipit. Ambyar seketika mimpi-mimpinya.
***
SUTAN sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Laki-laki itu menunggu seorang bocah laki-laki dengan sepeda motor matic. Bocah laki-laki itu baru saja membawa anak perempuannya. Anaknya itu hendak ke Kampung Pondok untuk berjumpa dengan kawan perempuannya. Di tengah jalan, sejumlah laki-laki menghadang. Mereka menyeret, menggorok lehernya, dan menggantung di gerbang kampung untuk dijadikan tontonan. Sutan tak marah, sama sekali tak bersedih.

Bocah laki-laki akhirnya datang juga. Ia memboncengi seorang perempuan muda. Perempuan dari Kampung Pondok. “Masuklah. Kau anggap saja seperti di rumah sendiri.” Sutan menyambut perempuan muda dengan penuh suka cita.

Anak perempuannya baru saja mati digorok orang. Lalu, datang perempuan muda dari Kampung Pondok. Bagi Sutan, sama saja. Di mana-mana, anak perempuan itu sama. Memiliki anak perempuan itu rasanya sama.*
Pariaman, Februari 2020    

Komentar

Postingan Populer