Tamu dari Kampung Pondok
SUDAH lama orang-orang di
kampung tengah sawah itu tidak bergunjing. Tak ada alasan mereka bergunjing.
Kehidupan berjalan di antara mereka saja. Sekali alasan itu tiba, hebohlah
orang-orang di kampung itu seperti hebohnya ruak-ruak di musim kawin.
Ada seseorang yang akan datang dari kampung sebelah. Perempuan muda
dari Kampung Pondok. Perempuan muda tak pernah
menjadi bahaya selama laki-laki pandai menjaga birahinya. Yang jadi masalah
pada kedatangan perempuan muda itu adalah, tempat asalnya.
Orang-orang di kampung
tengah sawah tak pernah senang dengan Kampung Pondok. Tak senang pada
orang-orangnya, pada tanahnya, pada pekerjaannya, hingga pada tinja yang
dialirkan dari sebuah bandar kecil yang membelah perbatasan.
"Perempuan itu
penyakit!" Kutuk Sukri sambil menyerumput kopi jantan di lepau Mak Piah.
"Penyakit apa yang
dibawanya?" Murai masih meragukan ucapan Sukri. Ia
berprasangka, laki-laki lewat 40 tahun itu hanya menumpahkan rasa sakit hati karena ditolak perempuan. Penilaiannya terhadap perempuan tak
objektif.
Sukri tak langsung
menjawab tanya. Ia tampak gagap. "Banyak." Sukri hening sejeda.
"Seperti virus." Laki-laki itu melanjutkan kata.
Murai menyandarkan tulang
rusuk belakang ke sadaran kursi kayu. "Bahaya itu." Dingin telapak
kaki Murai mendengar perkataan Sukri.
Dari lepau Mak Piah,
ucapan Sukri menyebar sebagai kabar burung. Secepat kilat, ia mempengaruhi
orang-orang. Orang-orang di kampung yang tak seberapa luas itu kemudian
menyusun siasat membatalkan kedatangan perempuan muda dari Kampung Pondok.
***
SIASAT pertama adalah
mendatangi rumah Sutan. Perempuan muda dari Kampung Pondok adalah tamu dari
anak perempuan laki-laki itu yang baru pulang dari perantauan. Sukri membawa
orang-orang. Murai sebagai juru bicara. Mereka tak sekadar datang. Mereka telah
menyusun protes kepada Sutan.
"Pokoknya, perempuan
muda itu tak boleh datang." Murai menyampaikan pernyataan bersama.
"Kalau sampai dia
datang, akan kuusir beramai-ramai." Sukri tak bisa untuk tak ikut bicara.
"Ya, usir!"
"Seret!"
"Gorok dengan kanso!"
Orang-orang sangat gampang terpengaruh dengan ucapan Sukri.
"Apa alasanku
menolak tamu yang datang?" Sutan mencoba bersikap tenang
menghadapi orang-orang yang berang.
"Dia membawa
penyakit." Sukri langsung menyela. Yakin sekali laki-laki itu dengan
tuduhannya.
"Gadis itu tak
berpenyakit. Dia itu perempuan terpelajar, dari keluarga terpandang. Lebih tahu
dia merawat diri dari istri dan anak-anak gadis kalian. Mandinya saja tiga kali
sehari. Sekali sepekan, dia mandi dengan air susu."
Glek! Sukri menelan air
ludah. Tak sanggup ia membayangkan seorang gadis muda dari Kampung Pondok yang
mandi di dalam kolam susu. "Dia akan membawa pengaruh buruk." Sukri
memikirkan alasan yang lain.
Sutan termenung.
Kata-kata Sukri menusuk ulu hatinya. Tak mungkin ia menyanggah kebenaran.
Selama ini, segala sesuatu yang datang dari Kampung Pondok adalah pengaruh
buruk. Mereka mengajarkan bagaimana membuat barang palsu, memanipulasi, dan
terutama berlaku ciluih dalam berdagang. Lebih parah lagi, orang-orang
Kampung Pondok menyontohkan bagaimana caranya memasak segala macam masakan.
Memasak babi, biawak, anjing, kucing, hingga tikus. Walau Sutan bisa
mendapatkan uang dengan menjual tikus sawah kepada orang-orang Kampung Pondok,
namun batinnya berontak. Laki-laki itu kini dicekam dilema.
***
TAK ada siasat kedua. Kedatangan perempuan muda dari
Kampung Pondok tak bisa dicegah. Seperti takdir, yang terjadi, terjadilah.
“Aku melihat gadis itu memboncengi motor matic.”
Seorang pemuda membuat laporan kepada orang-orang yang sedang berjaga-jaga di
gerbang kampung.
“Di mana?” Murai berada di antara orang-orang
itu.
“Di rumah Sutan.”
“Celaka!” Sukri bangkit dari duduknya. Laki-laki
itu berdiri, kemudian duduk lagi. Berdiri lagi sambil melangkah maju dan
mundur. “Laki-laki itu menipu kita.” Sukri memaki Sutan.
“Apa yang harus kita lakukan.” Pemuda yang
membuat laporan bertanya kepada Sukri.
“Tak ada. Sutan itu orang kampung kita juga.”
Murai yang menjawab. Laki-laki itu salah menjawab pertanyaan.
“Kita harus mengambil tindakan tegas.” Sukri
menyela.
“Ya.” Orang-orang di gerbang kampung bertepuk
tangan. Mereka memuji Sukri yang selalu bisa menemukan solusi untuk segala
macam persoalan.
“Ayo, ikut aku.” Sukri mengomandoi orang-orang
kampung.
Sejumlah laki-laki menyusuri jalan kampung.
Melewati jalan kecil di persawahan. Melompati pematang, sampailah mereka di
persimpangan. Rumah Sutan tak jauh dari persimpangan itu. Orang-orang menunggu.
Tak ada jalan keluar dari rumah Sutan selain melewati persimpangan.
Di sela-sela rumpun betung, asap dari sebuah
sepeda motor mengepul di jalanan tanah. Sepeda motor dikendarai oleh bocah
laki-laki. Di belakangnya, seorang gadis muda berboncengan.
“Berhenti!” Seorang laki-laki muda berteriak. Ia
membuat pagar hidup di simpang jalan.
“Kau turun!” Sukri berteriak kepada gadis muda.
Kepada bocah laki-laki, Sukri memasang wajah sangar dengan mata terbelalak.
“Kau, pergilah. Pacu motormu itu kencang-kencang. Jangan menoleh ke belakang.”
“Ada apa ini?” Perempuan muda heran dengan
penghadangan.
“Bawa dia.” Sukri membuat perintah kepada
orang-orang.
“Tak bisa begini. Ini pelecehan.” Perempuan muda
berontak.
“Tak ada kompromi. Seret dia.” Sukri membuat
perintah yang lain.
“Dia melawan.”
“Matikan saja.”
Bruk! Suara tumbukan. Cukup sebelah lengan
laki-laki, perempuan muda itu pun tumbang. Jatuh, tersungkur ke tanah.
“Apakah dia sudah mati?”
“Aku masih mencium embusan napas di mulutnya.”
“Kurang ajar! Jangan mencari-cari kesempatan.”
Sukri marah kepada seorang laki-laki muda yang menjulurkan wajahnya kepada
perempuan muda yang terbaring di tanah.
“Kau akan memulangkannya ke Kampung Pondok?”
Murai bertanya tentang rencana Sukri selanjutnya.
“Tidak. Di mana saja, perempuan ini akan menjadi
penyakit.”
“Lalu, bagaimana?” Seorang laki-laki muda meminta
petunjuk.
“Bawa ke gerbang kampung.”
Orang-orang menggotong tubuh perempuan muda ke
gerbang kampung. Titik di mana orang-orang semula berkumpul. Sukri sudah
mempersiapkan sesuatu di sana. Setiba di gerbang kampung, Sukri mengambil
sesuatu. Sebuah lempengan logam tipis. Lebih tebal dari seng. Lempengan logam
itu berasal dari kaleng biskuit yang tak lagi terpakai. Dipenuhi karat,
ujung-ujungnya bergerigi tak beraturan.
Sukri berdiri di depan tubuh perempuan muda yang
tergeletak sambil memegang lempengan logam di kedua belah tangannya.
“Apa yang akan kau lakukan?” Murai mulai khawatir
dengan apa yang hendak diperbuat Sukri.
“Tegakan kepalanya.” Sukri membuat perintah.
Dua laki-laki muda mengambil peran. Keduanya
menegakan kepala perempuan muda di hadapan Sukri. Laki-laki itu menganyunkan
ujung lepengan logam. Sebuah tebatasan, membuat lempengan logam menancap di
leher perempuan muda.
“Sadis!” Murai berteriak dalam hati. Tapi,
laki-laki itu tak bisa berbuat apa-apa.
“Gantung di gerbang kampung.” Sukri membuat
perintah kepada sejumlah laki-laki muda.
Tubuh perempuan muda dengan leher yang nyaris
putus digantung di gerbang kampung dengan menggunakan lempengan logam. “Kita
membasmi penyakit seperti yang dilakukan nenek-moyang kita dahulu.” Sukri
menyampaikan ultimatum di hadapan orang-orang yang begitu percaya kepada
dirinya.
“Kejam.”
“Sayang sekali.” Seorang laki-laki muda berbisik
kepada yang lain. Ia jadi lupa bermimpi untuk meminang gadis manis, berlesung
pipit, berkulit kuning langsat, dan bermata sipit. Ambyar seketika
mimpi-mimpinya.
***
SUTAN sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Laki-laki
itu menunggu seorang bocah laki-laki dengan sepeda motor matic. Bocah laki-laki
itu baru saja membawa anak perempuannya. Anaknya itu hendak ke Kampung Pondok
untuk berjumpa dengan kawan perempuannya. Di tengah jalan, sejumlah laki-laki
menghadang. Mereka menyeret, menggorok lehernya, dan menggantung di gerbang
kampung untuk dijadikan tontonan. Sutan tak marah, sama sekali tak bersedih.
Bocah laki-laki akhirnya datang juga. Ia
memboncengi seorang perempuan muda. Perempuan dari Kampung Pondok. “Masuklah.
Kau anggap saja seperti di rumah sendiri.” Sutan menyambut perempuan muda
dengan penuh suka cita.
Anak perempuannya baru saja mati digorok orang.
Lalu, datang perempuan muda dari Kampung Pondok. Bagi Sutan, sama saja. Di
mana-mana, anak perempuan itu sama. Memiliki anak perempuan itu rasanya sama.*
Pariaman, Februari 2020



Komentar
Posting Komentar