Suami-suami Marni
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
HENING. Cicak pun tak berani untuk berdesir. Di serambi depan,
para lelaki menanti dengan dada berdebar. Beberapa laki-laki mencoba meneguk
kopi pahit untuk mengusir kantuk. Sebagian membiarkan angin malam membelai
matanya hingga terlelap. Di ruang tengah, para wanita merebahkan kepala dalam
balutan kain sarung. Sebagian berada di dalam kamar membantu Mak Dahlia, dukun
beranak paling hebat dari kampung sebelah.
“Mak, Mak,
alamak!”
Tiba-tiba,
seorang laki-laki muda menjerit dari dalam kamar. Ia menghamburkan tubuh ke
balik pintu hingga jatuh ke lantai yang terbuat dari kayu Surian. Brak! Suara
keras terdengar. Perempuan-perempuan di ruang tengah terkejut. Laki-laki di
serambi depan bergegas ke ruang tengah. Laki-laki muda yang terjatuh terpaku
melihat wajah-wajah yang menatapnya. Tangannya menyeka muka pucat yang terkena
percikkan darah.
“Alhamdulillah...” teriak orang-orang di
ruang tengah.
Seorang
perempuan tua keluar dari kamar sambil menggendong bayi yang masih merah. “Laki-laki!”
Bayi yang
masih berlumuran darah dibawa ke arah si laki-laki muda. Namun, ia langsung
pingsan. Seorang laki-laki tua berkopiah hitam kemudian maju ke depan. Ia
melantunkan azan. “Allahuakbar,
allahualbar!”
Laki-laki
tua berkopiah itu Burhan, ayahnya Marni. Ia sudah terbiasa mengazankan bayi.
Ada sepuluh anak laki-lakinya. Semuanya adalah kakak-kakaknya Marni. Seharusnya,
laki-laki muda yang melakukan. Tapi, ia takut darah. Ketika di malam pertama
Marni, laki-laki muda pun menjerit ke luar kamar. Burhan hanya tersenyum kecil
melihat ulah menantunya itu. Laki-laki muda itu Tampai, suami pertama Marni.
Tampai
seumuran dengan Marni. Bedanya cuma enam bulan. Dahulu mereka kawan bermain.
Suatu hari, ketika sedang bermain-main di lapangan, teman-teman Marni
meneriakan nama Tampai. “Marni dan Tampai. Cie, cie!” Teriakan teman-teman
Marni sampai ke telinga Burhan. Marni dan Tampai akhirnya dinikahkan.
Pernikahan
Marni dan Tampai tak berumur panjang. Tiga hari setelah melahirkan, Tampai
meninggalkan Marni. Ia pulang ke rumah orang tuanya. Oleh orang tuanya, Tampai
disekolahkan ke kota. Ia tak pandai mencari uang dengan berladang. Orang tua
Tampai iba melihat nasib anaknya. Mereka ingin anaknya itu kelak bekerja di
belakang meja.
Marni
menjadi janda muda dengan seorang anak balita. Itu tak masalah. Marni sudah
lihai merawat bayi. Kepandaian itu didapat dari ibunya yang punya banyak anak.
Jadi janda muda pun tak jadi aib. Marni malah dilirik banyak laki-laki sebagai
janda kembang. Terbukti, sehari selepas masa iddah-nya, Marni langsung dilamar orang.
Laki-laki
yang melamar itu, Karman. Karman sudah beristi. Ada tiga istrinya, dua sudah
diceraikan karena tak kunjung memberikannya keturunan. Istri ketiganya tak
beranak juga. Karman akhirnya melamar Marni sebagai umpan. Kalau menikahi
perempuan yang sudah beranak, maka Karman bisa membuktikan diri sebagai
laki-laki sejati.
Setahun
menikah, Marni tak hamil lagi. Karman begitu gelisah. Di tahun kedua, Karman
menyerah. Ternyata, ia tak mampu membuktikan diri sebagai laki-laki sejati.
Karman meninggalkan Marni dengan membawa malu di hati.
***
ANAK Marni sudah berusia dua setengah tahun. Anak itu sedang
kuat-kuatnya makan. Kata ibu Marni, anak seumuran itu cukup diberi air susu ibu
saja. Tapi, air susu Marni terkuras habis karena kerakusan anaknya. Terpaksalah
Marni membeli susu sapi. Biasanya, susu sapi cukup sebotol sehari. Namun, sekarang
bisa lima botol. Marni tak kuat. Penghasilan Burhan, ayahnya tak cukup untuk
membantu membelikan susu. Karena itu, lima bulan menjadi janda, Marni menikah
lagi untuk ketiga kalinya.
Sutan Duano, itu nama suami Marni. Dari
namanya, jelaslah ia orang terpandang. Karena punya tanah di mana-mana, itulah
alasan Marni menikah dengan Sutan Duano. Padahal, laki-laki itu sudah seumuran
Burhan, ayahnya.
Setahun
menikah, lahirlah anak perempuan Marni. Itu bagus. Berarti, Marni bisa mewarisi
salah satu rumah gadang milik Sutan Duano melalui anak perempuanya itu. Tak
cukup setahun kemudian, Marni melahirkan lagi. Tak ada alasan bagi Marni untuk
menolak anak dari Sutan Duano. Hartanya tak kan habis-habis untuk
dibagi-bagikan. Hingga Marni melahirkan anak yang keempat, Sutan Duano tak kuat
lagi. Umurnya tak bisa didutakan. Sehari sempat melihat anaknya yang ketiga
dari Marni, Sutan Duano meninggal dunia karena penyakit tua. Marni kembali
menjadi janda.
***
JADI janda kaya, banyaklah laki-laki yang menggoda. Seorang
laki-laki gagah datang kepada Marni dan langsung mengungkapkan isi hatinya. Bujuk
rayu laki-laki itu membuat Marni bergairah. Tapi sayang, ia pengangguran. Marni
hanya akan menikah lagi dengan laki-laki yang sepadan. Sepadan kakayaannya,
sepadan status sosialnya. Kalau bisa, sedikit lebih terpanang dari mantan
suaminya Sutan Duano.
Datanglah
seorang datuk kepada Marni. Namanya Datuk Kali. Ia masih muda. Datuk Kali
sukses hidup di rantau. Karena kesuksesannya itu, orang-orang kampung
memberikannya gelar datuk.
Marni tak
mungkin menolak pinangan Datuk Kali. Perempuan-perempuan di kampung pasti ingin
menjadi istrinya. Para gadis rela menjadi istri yang kedua, ketiga atau yang
kesepuluh sekalipun. Perempuan yang sudah bersuami rela dicerai untuk
dipersunting Datuk Kali. Tapi, kalau menjadi istri Datuk Kali, Marni harus rela
ditinggal pergi. Datuk Kali tinggal di rantau. Hanya sekali-dua ia pulang
kampung. Marni tak mungkin menetap di rantau. Sawah-ladangnya tak mungkin
ditinggalkan begitu saja
Pernikahan
Marni dan Datuk Kali pun terjadi. Pernikahan itu menjadi yang termegah di
kampung. Pesta nagari dihelat. Ada sepuluh kerbau disembelih. Datuk Kali yang
dekat dengan keturunan raja di Pagaruyung memberikan gelar Puti kepada Marni.
Derajat Marni naik drastis. Sudahlah istri seorang datuk terpandang, ia
bergelar putri bangsawan pula.
Tiga hari
setelah pesta besar, Datuk Kali kembali ke rantau. Kepada Marni ia berpesan
agar menjaga sikap dan perilakunya. “Ingat, kau istri seorang datuk!” ujar
Datuk Kali berpesan.
Marni
manggut-manggut saja. Beberapa langkah Datuk Kali keluar dari rumah, perempuan
itu memasang wajah hambar. Selama ini, Marni selalu bisa menjadi perempuan
baik-baik. Di kampung, mana pula ia bisa berbuat macam-macam. Berbeda dengan
orang-orang di rantau. Marni sering mendengar cerita buruk tentang orang-orang
di rantau. Kalau di kampung ia seorang datuk, di rantau bisa saja menjadi orang
terkutuk. Apa saja ada di rantau, apa saja bisa dilakukan laki-laki yang
sendirian di rantau. Marni tak ingin berprasangka buruk kepada Datuk Kali.
Laki-laki itu suaminya sekarang. Apa pun yang dilakukan Datuk Kali,
terserahlah. Marni hanya tak ingin laki-laki itu membawa penyakit kapada
dirinya dan anak-anaknya.
Setelah
pergi enam bulan, Datuk Kali kembali ke kampung. Marni nyaris tak mengenali
suaminya itu. Dua hari di kampung, Datuk Kali pergi lagi ke rantau. Enam bulan
kemudian, balik lagi. Begitu seterusnya hingga tahun berbilang.
Tiba-tiba
Marni direndung rasa kesepian. Usianya masih muda. Hasrat keperempuanannya
masih menggebu-gebu. Satu hal lagi, Marni merasa seperti mesin yang dipakai
sekali enam bulan. Setelah berembuk dengan anak-anaknya, Marni memutuskan
bercerai dengan Datuk Kali. Laki-laki itu sangat marah. Setelah bercerai dengan
Marni, Datuk Kali tak pernah lagi datang ke kampung.
Tak
menunggu lama, Marni memutuskan kembali menerima pinangan. Sebenarnya bukan
dipinang, malah Marni yang meminta laki-laki itu. “Kalau kamu mau menikah
denganku, semua kesenanganmu akan kuberikan.”
Ada
beberapa laki-laki muda yang diminta Marni. Namun, tak ada yang menerima.
Laki-laki itu suka bersenang-senang, tapi enggan dengan pernikahan. “Hah,
kumpul kebo! Aku masih punya iman,” maki Marni kepada laki-laki yang
dimintanya.
Seorang laki-laki muda menerima tawaran Marni.
Namanya, Sjamsul. Marni pernah menolaknya karena laki-laki itu tak punya
pekerjaan. Tapi kali ini, Marni hanya menginginkan kegagahannya.
Pernikahan
Marni dan Sjamsul tak bertahan lama. Marni mulai bosan dengan kegagahan
laki-laki itu. Ketika berjalan-jalan di ujung kampung, Marni menemukan
laki-laki yang lebih gagah. Ternyata banyak laki-laki gagah di kampung. Marni
merasa hidupnya tak kan pernah sepi. Bercerai dengan Sjamsul, Marni jatuh ke
pelukkan Darman. Laki-laki itu lebih gagah dari Sjamsul. Tubuhnya atletis
karena sering berolah raga. Tapi, Darman tak bisa memberikan Marni anak.
Sebentar saja, Marni menikah lagi dengan laki-laki yang lebih gagah. Begitulah,
Marni berpindah hati dari satu laki-laki gagah ke laki-laki gagah lainnya.
Sampai akhirnya, Marni tak tahu lagi rasanya kesepian.
***
MARNI kini berumur 25 tahun. Di usianya yang seperempat abad
itu, ia sudah sepuluh kali menjada. Suami Marni yang terakhir adalah Tampai.
Yah, laki-laki itu balik ke janda lama.
Setelah
menyelesaikan sekolah di kota, Tampai kini menjadi laki-laki yang sukses. Ia
bekerja di perusahaan asing. Ketika pulang ke kampung, Marni melihat Tampai
turun dari mobil dengan mengenakan jas dan kemeja berdasi. Marni terkesima.
Tampai sudah berubah menjadi laki-laki dewasa.
“Hei,
Marni! Kamu masih seperti dulu.”
“Masih
seperti perempuan kampung?”
“Oho bukan.
Masih manis, semanis tebu.”
Marni
tersipu malu. Tampai sudah pandai menggodanya. Kebetulan ketika itu Marni
sedang menjanda. Tak ada halangan baginya untuk menerima Tampai mendekatinya.
Tak butuh lama, Tampai menyampaikan hasrat hatinya mempersunting Marni.
Pinangan Tampai disambut gembira oleh Randu, anak tertua Marni. Anak
laki-lakinya itu sangat senang bisa berkumpul dengan ayah kandungnya. Marni
menerima pinangan Tampai. “Ini demi anak laki-laki kita,” ujar Marni kepada
Tampai.
Pernikahan
Marni dan Tampai penuh bunga. Tampai mengajak Marni berbulan madu ke Singapura.
Randu tak keberatan ayah dan ibunya menghabiskan waktu berdua saja. Ia malah
mengusulkan agar Marni dan Tampai tak lupa pergi ke Bali. Kata orang-orang,
Bali adalah pulau yang paling romantis sedunia. Tampai dan Marni setuju dengan
saran anak laki-lakinya. Selepas dari Bali, mereka menyeberang ke Lombok. Dari
Lombok, terbang ke Jakarta. Di Jakarta, terpikir oleh Tampai untuk pergi ke
Tanah Suci. Tampai dan Marni menutup bulan madunya dengan umroh ke Tanah Suci.
Tampai
benar-benar menjadi laki-laki sejati untuk Marni. Ia membayar tunai semua
kesepian Marni selama ini yang dilampiaskan kepada banyak laki-laki. Kini bagi
Marni, cukup Tampai, laki-laki untuknya. Tapi sayang, Tampai tak bisa selamanya
menjadi suami untuk Marni.
Sepulang
dari Tanah Suci, Tampai jatuh sakit. Ternyata, Tampai sudah merencanakan
jauh-jauh hari. Sebelum ajal menjemput, ia ingin melihat Tanah Suci.
Kebahagiannya akan berlimpah-ruah ketika melihatnya bersama Marni.
Tak cukup
tiga hari terbaring, Tampai menghembuskan nafas terakhir. Marni sangat berduka
hati. Ia kehilangan suami, kehilangan laki-laki yang menghapus rasa sepi, Marni
kehilangan cinta sejatinya.
Tampai
adalah suami Marni yang kesepuluh. Sudah enam bulan ia meninggal, Marni ingin
mencari pengganti Tampai. Tapi, Marni kehilangan alasan untuk menikah lagi.
Marni
sudah menikahi Sutan Duano karena harta. Ia pun dinikahi Datuk Kali karena
terpandang. Karman menikahinya karena hasrat. Sjamsul menjadi suaminya untuk
mengubur sepi. Marni menikahi Tampai karena perjodohan. Laki-laki itu sekaligus
menjadi cinta sejatinya Marni. Sudah habis semua alasan, Marni akhirnya tak
memerlukan alasan untuk menikah lagi.
“Aku akan
menikah lagi,” ujar Marni kepada Burhan, ayahnya. Laki-laki itu mengangukkan
kepala. Marni masih muda, banyak laki-laki yang mau meminangnya. Tapi, kalau
Burhan tahu Marni menikah dengan siapa, ia pasti melarangnya. Marni menikah
dengan kuburan Tampai! *
Padang, Februari 2015



Seru. Hehe.
BalasHapus