Rumpun Pandan

Cerpen A.R. Rizal



SEBUAH suara pecah di gendang telinganya. Pak Uwo tersentak. Ia membuka matanya sedikit, terasa agak berat. Baru sebentar lelaki itu terlelap. Sesosok berkelebat di depannya. Sosok itu seperti bayangan. Mata tuanya tak bisa lagi melihat jelas. "Ambillah." Pak Uwo menganggukkan kepalanya sekali, bayangan itu pun lenyap dari hadapannya.
          
Pagi menjelang tengah hari. Seperti biasa, Pak Uwo menghabiskan waktu duduk-duduk di beranda rumahnya yang sederhana. Rumah tipe 21, dibangun Perumnas, perusahaan negara yang menyediakan rumah massal murah. Di beranda rumah yang lebarnya tak lebih enam meter itu terdapat sebuah bangku kayu. Di bangku itu Pak Uwo biasa duduk. Angin lalu yang  menerpa wajahnya akan langsung membuat berat mata pensiunan guru itu. Namun, menjelang siang, tidur kecilnya kerap terganggu suara yang datang.
          
"Pak Uwo." begitu selalu orang mengejutkannya. Nama lelaki itu sebenarnya Burhan. Namun, orang-orang memanggilnya Pak Uwo. Pak Uwo itu panggilan untuk orang yang dituakan. Di komplek itu, Burhan lah yang paling tua. Di usia tuanya itu, Burhan tak ingin disibukkan dengan orang-orang yang punya urusan.
          
Ketika pensiun lima tahun lalu, Burhan sudah menyiapkan segalanya agar hidupnya berjalan tanpa gangguan. Satu-satunya kesibukan yang ingin dinikmatinya adalah merawat ikan mujair yang sudah dipeliharanya setahun lalu. Ia punya sebuah kolam ikan di halaman depan rumahnya. Ukurannya hanya dua kali tiga meter dengan dalam setinggi lutut. Kolam ikan itu dibuat oleh anak lelaki tertuanya yang kini merantau ke negeri orang. Di kolam itu ia menanam beberapa pasang ikan mujair. Namun, sekarang tinggal sepasang saja. Sepasang mujair itu sudah besar-besar, tiga telapak tangan orang dewasa ukurannya. Burhan tak perlu lagi memberikan makan pakan, mujair itu biasa memakan daun pandan yang menjulur ke dalam kolam. Ya, di pinggir kolam itu, Rudiah, istrinya menanam rumpun pandan.
          
Orang-orang suka meminta daun pandan. Burhan kadang tak ingat kalau yang datang meminta itu tetangganya. Kadang, orang-orang yang entah dari mana datang meminta daun pandannya. Itu membuatnya tak senang. Mereka datang tanpa mengenal waktu. Pagi, siang, sore, menjelang malam, ia sering dikejutkan suara-suara yang datang. "Minta daun pandan, Pak Uwo!" Kadang ada yang sampai mengetuk pintu, kenyamanannya terusik.
          
Burhan tidak pernah benar-benar berang dengan orang-orang yang datang meminta daun pandan. Ia selalu menyembunyikan kesalnya di hadapan orang. Kalau sudah begitu, Rudiah istrinya menjadi pelampiasan. "Diah...tu ada orang minta daun pandan," ujar Burhan kepada istrinya setiap kali ada orang datang.
          
Rudiah yang selalu menyapa setiap orang yang datang meminta daun pandan. Ia tak akan melewatkan kesempatan bertegur sapa sebentar dengan orang-orang itu. Setiap orang datang meminta daun pandan, maka ia selalu bertanya. "Mau buat apa?" tanya Rudiah.
          
Macam-macam saja dibuat orang dengan daun pandan. "Buat bubur kacang padi Uni," ujar si Nap suatu ketika. Kalaulah perempuan itu yang menjawab, Rudiah tak akan berkomentar. Perempuan itu yang paling sering meminta daun pandan. Rudiah tahu betul untuk apa daun pandan itu. "Si Tia, teragak bubur kacang padi," begitu si Nap bercerita tentang anak gadis kesayangannya.
          
Pernah pula Etek Incin meminta daun pandan, Rudiah berbicara lama dengannya. "Masak silamak," ujar Etek Incin menjawab tanya Rudiah.
          
"Silamak untuk apa tu Etek?" Rudiah bertanya lagi.
          
"Mencari hari. Si Iwan sudah diminta orang pula. Besok calonnya itu mau datang," jelas Etek Incin.
          
Etek Incin bercerita panjang tentang anak gadis yang akan menjadi pendamping putranya. Calon menantunya itu tinggal di seberang. "Tapi, orang kita juga," Sela Etek Incin di tengah cerita. Rencananya pesta pernikahan akan dilakukan di rumah Etek Incin saja, alek subalah istilahnya. Si menantu juga akan tinggal bersama Etek Incin, jadi teman di hari-hari tuanya.
          
Rudiah terkesima dengan cerita Etek Incin. Suatu kesempatan duduk-duduk dengan Burhan, Rudiah menceritakan kabar pernikahan anak Etek Incin itu. "Uda tanyalah si Radmad, kapan pula dia menikah," ujar Rudiah kepada Burhan.
          
Burhan sedang asyik dengan lamunannya. Ia sedikit terusik juga dengan permintaan istrinya itu.  "Si Rahmad kan sudah besar. Untuk apa pula kita tanya-tanya soal jodohnya," jawab Burhan sekadarnya.
          
"Ondeh Uda! Si Rahmad tu sudah lewat umurnya tiga puluh. Sudah patut dia menikah. Apalagi yang dicarinya di rantau itu, kerja saja yang dipikirkannya." Rudiah sedikit kesal dengan sikap acuh Burhan. Perempuan itu pun terus memberondong Burhan dengan permintaannya. "Uda telpon lah si Rahmad itu. Kapan dia mau nikah. Apa sudah ada calon dia. Uda carikanlah anak gadis di sini."
          
"Nanti sajalah. Sibuk dia tu kini."
          
"Sibuk apa pula dia. Cepatlah Uda telpon!" Suara Rudiah mulai meninggi. Burhan tersurut nyalinya melihat raut wajah istrinya yang sudah berubah. Dengan tergopoh-gopoh, Burhan berjalan menuju ganggang telpon. "Daun pandan ini bikin ulah pula." kutuk Burhan dalam hati.

***
 “Pak Uwo, Pak Uwo!”
          
Suara kecil memanggil dari luar. Pemiliknya belumlah dewasa. Itu suara si Ranti, anak bungsu Uni Marnis. Burhan keluar membuka pintu, Si Ranti menjulur-julurkan kepalanya dari balik pagar. “Ada apa?” tanya Burhan.
          
“Ibu Ranti nyuruh Ranti minta daun pandan. Boleh Ranti minta daun pandan Pak Uwo?” jawab Ranti lugu.
          
“Ya, ambillah,” ujar Burhan.
          
Ranti lekas beringsut ke balik pagar. Rumpun daun pandan ditemukannya di ujung pagar. Ia menjulurkan tangan kecilnya dari sela-sela pagar. Sekali, dua kali, tiga kali, tanganya tak sampai ke daun pandan. Ranti mengulang lagi menggapai-gapai. Kali, ini kembali gagal. Wajahnya sudah berkeringat. Debu-debu yang menempel di pagar sudah pula mampir ke wajahnya. Ranti pun menyerah. “Pak Owo, Ranti tak bisa,” ujar Ranti memelas.
          
Tak tega Burhan melihat anak kecil itu bersusah-payah. Ia pun bangkit ke seberang kolam, mengambil daun pandan. “Berapa buah?” tanya Burhan kepada Ranti yang menunggunya di balik pagar.
          
“Kata ibu Ranti, dua saja.” jawab Ranti.
          
Burhan pun memetik dua pucuk daun pandan. Ia pun menjulurkan daun itu di sela-sela pagar agar bisa diraih si Ranti. Dari balik pintu, tiba-tiba Rudiah datang menyela. “Untuk apa daun pandannya tu Ranti?” Rudiah bertanya di sela-sela daun pintu.
          
Ranti memperlihatkan wajahnya di sela-sela pagar kepada suara yang bertanya kepadanya. “Kata ibu Ranti untuk buat kue.”
          
“Buat kue apa pula ibumu itu?” Rudiah kembali bertanya.
          
“Kata ibu Ranti, buat kue ulang tahun abang Ranti,” balas si Ranti.
          
“Oo ulang tahun abangmu itu.” Rudiah mengambil nafas dalam-dalam. Kepada Burhan yang masih berada di pinggir kolam, ia bekata. “Tak cukup dua helai tu Uda. Ambilkanlah agak lima helai,” ujar Rudiah kepada Burhan.
          
Burhan memelas. Terpaksa ia beringsut lagi ke ujung pagar. Selesai memetikkan daun pandan, Burhan sudah ditunggu istrinya. Rudiah masih berdiri di depan pintu, menunggu untuk mengatakan sesuatu. “Hebat si Marnis tu. Anaknya pakai ulang tahun segala,” ujar Rudiah kepada Burhan.
          
Burhan tak menyela. Ia sudah cukup lelah beringsut ke ujung kolam untuk mengambil daun pandan. Daun pandan itu tak sekali-dua membuatnya bersusah-payah. Kalau yang meminta anak-anak, terpaksa ia yang harus turun tangan mengambilkan. Salah-salah, ada anak yang terjatuh ke dalam kolam karena mengambil daun pandan, alamat ia pula yang dicibir orang. “Pak Uwo tu seperti tak ikhlas memberi daun pandan. Apalah artinya daun pandan itu. Diletakan di lapau tak akan dibeli orang,” begitu si Marnis pernah berbicara kepada orang-orang di komplek.
          
Ucapan tak sedap si Marnis itu bermula ketika anak lelakinya yang nomor dua disuruhnya meminta daun pandan. Anaknya yang baru berumur lima tahun itu terpeleset ke dalam kolam. Pulang ke rumah, meraung-raung ia. Bukan daun pandan yang dibawa, luka lembam yang tinggal di wajahnya. Ketika itu, si Marnis marah alang-kepalang.
          
Burhan tak pernah menanggapi kurenah ibu-ibu di kompleknya. Rudiah, istrinya kemudian yang bersitegang dengan Marnis. Sempat beberapa hari keduanya tak bertegur sapa. Namun, itulah lagak ibu-ibu, sebentar keduanya lupa pula pertikaiannya. Si Marnis tetap saja meminta daun pandan. Kadang, ia menyuruh anak-anaknya yang ada empat orang. 
          
“Uda, telpon lah si Amin. Suruh dia pulang. Kita buatkan pesta ulang tahunnya di sini.” Rudiah kembali menyela ke arah Burhan.
          
“Ulang tahun apa? Lama si Amin tu ulang tahun lagi,” ujar Burhan.
          
“Bulan besok. Mana lama tu! Uda kira mempersiapkan pesta ulang tahun itu serampangan. Banyak yang harus disiapkan Uda!” timpal Rudiah.
          
Sadarlah Burhan, istrinya sedang ada mau. Kalau sudah ada keinginan, tak kuat lagi ia berbantahan. Tak biasa istrinya itu berpikir membuatkan pesta ulang tahun untuk putra bungsunya. Sejak setahun umur, tak pernah ulang tahun anaknya dirayakan. Jangankan merayakan, memberikan hadiah ulang tahun saja tak pernah. Apalagi sekarang, putra bungsunya itu sudah bermur 25 tahun. “Untuk apa pula pesta ulang tahun itu,” sanggah Burhan pula.
          
“Tak pernah anak-anak Uda itu dirayakan ulang tahunnya. Kini, sudah besar keduanya, tak ada pula perhatian Uda itu lagi,” sergah Rudiah. “Cepatlah Uda telpon si Amin tu,” ujar Rudiah dengan suara mulai meninggi.
          
Burhan mengurut dada. Tergopoh-gopoh pula lelaki tua itu berjalan menuju ganggang telpon. “Daun pandan lagi bikin bala,” ujarnya menggerutu.

***
         
SELEPAS Ashar, Burhan pulang dari masjid. Masjid terletak di ujung komplek. Persis di seberang tanah lapang yang digunakan anak-anak untuk bermain bola. Burhan berjalan terseok-seok. Kaki tuanya tak kuat lagi berjalan agak panjang. Di tengah lelah ia berjalan, Burhan sudah menyimpan akal di kepalanya. Ia akan melakukan sesuatu terhadap rumpun daun pandan yang tumbuh di perkarangan rumahnya.
          
Sesampai di rumah, Burhan berujar kepada Rudiah. “Rumpun pandan akan Uda pangkas.”
          
Rudiah terperanjat. “Untuk apa pula Uda merambah rumpun pandan itu. Kan bisa untuk makan ikan,” sergah Rudiah.
          
Burhan sudah menyiapkan berbagai alasan. Tak senang dia dengan rumpun pandan itu. Ada saja pangkal masalah yang dibuatnya. Gara-gara daun pandan, sempat pula ia dicibir orang. Ditambah lagi, susah-payahnya ia harus mengambilkan daun pandan untuk setiap orang yang datang. “Rumpun pandan itu kan sudah menyemak. Kalau tak dipangkas, ular dan kalajengking bisa bersarang di sana.”
          
Burhan berjalan ke dalam rumah menjemput parang. Parang besar sudah di tangannya. Di depan pintu, Rudiah menghadang. “Jangan Udah habiskan akar-akarnya,” teriak Rudiah.
          
Burhan membabat habis rumpun pandan. Puas hatinya masih setengah sebab rumpun pandan itu masih tersisa akar-akarnya. Lambat-laun akar itu akan menjadi tunas, tunas itu akan menumbuhkan daun yang rindang. Namun, beberapa hari, cukuplah bagi Burhan berhati senang. Ia tak diganggu lagi oleh orang-orang yang datang.
          
Tadi siang, si Marnis lewat di depan rumah. Ia memandang Burhan tak senang. Cerita yang didengar Burhan dari orang-orang, si Marnis mepergunjingkan dirinya. “Pak Uwo merambas rumpun pandan. Tak senang dia setiap ada orang yang meminta kepadanya,” tukuk si Marnis ketika bercerita kepada si Nap.

***

SUDAH berbilang pekan, tak ada orang-orang yang datang ke rumah Burhan. Rumpun pandan di perkarangan rumahnya terlambat tumbuh. Seharusnya, daunya sudah berkecambah, namun saat ini baru kelihatan tunas kecil. Sejak daun pandan itu belum berkembang, rumah Burhan kelihatan tenang.
          
“Pak Uwo, Pak Uwo!” Si Nap sesekali lewat akan memanggil dari balik perkarangan. Kalau tak ada sahutan, ia akan berganti memanggil Rudiah. “Uni Diah, Uni Diah!” teriaknya lagi.

Si Nap lewat lagi suatu ketika. Seperti biasa, ia terus memanggil-manggil dari luar. “Pak Uwo, Pak Uwo! Uni Diah, Uni Diah!” Kali ini benar-benar tak ada sahutan dari dalam. Burhan sudah lama tenang dengan kesunyian di rumahnya. Rudiah, istrinya setia menemani kelengangan mereka. Si Nap lupa, Burhan dan Rudiah sudah berpulang beberapa hari yang lalu.

***
         
HARI ketujuh kematian Burhan dan Rudiah. Sepasang kekasih sampai di ujung usia, mati dalam tenang. Kedua putranya, Rahmad dan Amin sudah menyelesaikan acara takziah orang-orang komplek. Keduanya pun sudah kembali ke perantauan melanjutkan hidup dengan pekerjaan masing-masing. Rumah kecil di tengah komplek itu kini ditinggalkan. Sesekali si Nap akan datang. Ia memang dititipkan kunci untuk menjaga rumah itu. Kalau sore menjelang, ia akan menghidupkan lampu di beranda. Dengan begitu, ketika malam tiba, perkarangan rumah tetap terang-benderang.

Sekali sebulan, si Amin akan datang membersihkan isi rumah agar tak tertimbun debu dan sarang laba-laba. Ia tak membersihkan perkarangan, karena biasanya si Nap yang mengawasi perkarangan. Si Nap juga yang memberikan makan sepasang mujair di dalam kolam. Makanannya gampang, cukup menjulurkan daun pandan di pinggir kolam. Oya, kini rumpun pandan itu telah rimbun. Daunya julur-menjulur ke ujung pagar. Daun-daun itu kemudian akan jatuh karena tak ada orang yang mengambilnya. Sebelum terurai tanah, daun-daun pandan itu mengeluarkan wangi yang menebar. Kata orang-orang, bau wangi itu karena Burhan dan Rudiah bersemayam di sana. 
          
“Burhan dan Rudiah tinggal di rumpun pandan,” kata orang-orang.
          
Si Nap tak percaya dengan cerita takhayul. Namun, ia tak pernah membatah tentang rumpun pandan yang wangi itu. Sesekali, ia tetap mengambil daun pandan. Hanya dia yang berani. “Pak Uwo, Pak Uwo, Uni Diah, Uni Diah.” begitu ia memanggil setiap kali mengambil daun pandan. Daun pandan itu akan dibawa pulang. Di rumah, si Nap memasak bubur kacang padi. Anak-anaknya suka bubur kacang padi. Sekarang, anak tertuanya sudah jadi orang. “Tu si Nanda, otaknya pintar karena makan bubur kacang padi,” ujar si Nap selalu bercerita membanggakan putranya.

Setiap kali akan memasak bubur kacang padi, maka si Nap akan datang ke rumah Burhan dan Rudiah. “Pak Uwo, Uni Diah, minta daun pandan!” teriak si Nap. Dan seketika itu ada sahutan dari dalam rumah. “Ambillah!”*

Padang, November 2013

Komentar

Postingan Populer