Rumah Tengah Sawah
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
KALAU Tuan datang ke kampungku, mungkin tak akan menemukan
jejak kampung lagi di sana. Ada gedung kampus agama di sebelah utara, dahulu
itu bekas tanah lapang. Anak-anak kampung biasa bermain layang-layang di tanah
lapang itu. Di sebelah selatan, ada dinding bata tinggi menjulang. Di balik
dinding itu ada bangunan sekolah. Beberapa tahun lalu, orang-orang kampung
masih bertanam sayur kangkung di sana. Sayur kangkung dari kampungku sangat
terkenal. Daunnya berkecambah ke mana-mana, batangnya hijau menyala. Kata
orang-orang, kangkung dari kampungku enak digulai, rasanya manis-manis hambar.
Ke arah barat, sejauh mata memandang
hanya ada tumpukan kompleks perumahan. Jangan heran, itu rumah-rumah orang
pembesar. Tak sembarang orang bisa ke sana, ada penjaganya 1x24 jam. Kata orang
kampung yang pernah bertukang di sana, rumah-rumah di komplek itu cogah-cogah.
“Ada yang pakai bunker, ada yang pakai CCTV. Jadi, kalau melarikan
sesendok semen saja, pasti ketahuan,” kata Karmin, lelaki di kampungku yang
terkenal pandai bertukang.
Oh ya, aku sampai lupa menceritakan ada
apa di sebelah timur kampungku. Di sana tak ada apa-apa. Hanya hamparan tanah
kosong dengan rerumputan liar di atasnya. Dahulunya, itu bekas sawah. Kalau
musimnya tiba, sawah itu menjadi hamparan kuning dengan padi-padi boneh
menari-nari diterpa angin. Usai musim menyabit, di sana anak-anak kampungku
bermain perang-perangan dengan anak-anak kampung seberang. Mereka menggunakan
tanah liat sebagai peluru. Tempat perlindungan, dibuatlah pondok kecil dari
jerami. Kalau anak-anak kampungku merasa akan menang, mereka terus menyerang
hingga ke tengah sawah. Sesampai di sana, mereka bersembunyi di belakang rumah
Datuk Kali.
“Kurang ajar! Pergi kalian!” teriak Datuk
Kali setiap kali menemukan anak-anak bermain di belakang rumahnya.
Datuk Kali itu orang yang paling aneh di
kampungku. Orang-orang kampung jarang melihatnya. Kalau sempat mengenalnya, itu
pasti menjadi prestasi yang pantas dirayakan. Datuk Kali lelaki yang paling
menyendiri. Ia memilih membangun rumah jauh di tengah sawah. Hanya ada rumah
Datuk Kali di tengah sawah itu.
“Datuk Kali, Datuk Kali, Datuk Kali!”
Teriak Sinun memanggil tiga kali. Tak ada jawaban dari dalam. Lelaki yang punya
sawah di sebelah rumah Datuk Kali itu biasa duduk sebentar di pematang yang
melingkari rumah Datuk Kali.
“Hoi, Sinun! Sudah selesai kau membajak?”
Sapa Sikar dari seberang pematang. Lelaki yang bekerja menjual kain dari
kampung ke kampung itu masih ragu untuk mendekat. Ia seperti menunggu aba-aba
dari Sinun.
“Heh kau, Kar. Kemarilah!” Balas Sinun
sambil melambaikan tangannya.
Sikar mendekat. Dengan begitu, ia tak
perlu membungkuk-bungkuk untuk bisa lewat di pematang dekat rumah Datuk Kali.
Pernah sekali Sikar lewat sambil menjinjing kain jualannya dengan tas besar.
Tak sadar, Datuk Kali melihatnya lewat. Lelaki itu marah besar. Sebuah balok
kayu melayang, untung tak mengenai kepala Sikar.
“Dasar lelaki gila!” Maki Sikar dalam
hati.
Siapa yang berani melawan Datuk Kali.
Tak seorang pun dari orang-orang kampung pernah mencoba. Sikar sudah pasti tak
berani menantang Datuk Kali. Ia tak pernah belajar silat. Waktu kecil, Sikar
malas pergi ke surau. Dahulu, anak-anak di kampungku mengaji di surau. Di sana
mereka juga belajar silat. Sikar lebih senang berada di pasar. Ia pernah
berjualan kangkung, mentimun, hingga terasi. Karena untungnya kecil, kini ia
memilih menjual kain dari kampung ke kampung. Kainnya bisa dibeli tunai. Sikar
pun menyediakan jasa pembelian secara angsuran. Karena pekerjaannya menjajakan
kain itu, Sikar selalu lewat di pematang dekat rumah Datuk Kali. Ia berpandai-pandai
saja agar tak terkena lemparan Datuk Kali. Kemarin balok kayu, besok-besok bisa
batu, atau bahkan batang besi yang melayang.
“Hei, Sinun. Apa kau tak melihat Datuk
Kali?” Sikar bertanya.
“Tidak, Kar. Aku sudah di sini sejak
pagi. Sepanjang hari hanya kulihat rumah itu sunyi. Pintunya terkunci rapat.
Daun pintunya saja tak satu pun yang terbuka,” jawab Sinun.
“Ke mana lelaki pemarah itu?” Tanya
Sikar lagi.
“Entahlah, Kar. Aku bertaruh, tak
seorang pun di kampung yang akan tahu keberadaannya,” jawab Sinun pula sambil
tersenyum kecil.
Sikar ikut tersenyum. Lelaki itu
akhirnya tak sanggup menahan tawa. Sinun dan Sikar tertawa-tawa kecil di
pematang sawah. Keduanya seperti puas telah menertawakan Datuk Kali.
***
SUDAH beberapa hari orang-orang kampung melihat rumah
Datuk Kali sepi. Kemarin, anak-anak kampungku puas bermain perang-perangan di
sana. Kalau dilihat dari dekat, dinding rumah Datuk Kali yang terbuat dari
papan itu kini dipenuhi tanah liat.
Dua hari yang lalu, giliran Uni Ramilah
yang puas mengambil daun pucuk ubi yang tumbuh di pematang dekat pekarangan
rumah Datuk Kali. Uni Ramilah memang dikenal suka memungut pucuk daun. Segala
pucuk diambilnya, mulai dari pucuk pepaya, pucuk singkong, pucuk keladi, hingga
pucuk daun jambak. Entah buat apa pucuk daun jambak olehnya. Tapi, kalau di
tangan Uni Ramilah, pucuk apa saja bisa menjadi makanan yang enak.
“Pucuk daun jambak ini bisa dibuat palai.
Rasanya, asam-asam pahit,” ujar Uni Ramilah kalau menceritakan hasil racikannya.
Orang-orang kampungku memuji kepandaian
Uni Ramilah yang unik itu. Ia pun diberi gelar 'perempuan pucuk'.
Sinun yang punya sawah di sebelah rumah
Datuk Kali puas duduk-duduk di pematang dekat rumah Datuk Kali. Ia bahkan
membawa serta Angku Darman yang punya sawah di sebelah sawah Sinun untuk
beristirahat pula di sana. Dua lelaki yang kuat ke sawah itu menggelar tikar
kecil di atas pematang. Keduanya kemudian memakan nasi berbungkus daun pisang
yang telah dibawa sebagai bekal dari rumah.
“Makan ayam, Angku,” goda Sinun ketika
melihat Angku Darman membuka bekal nasinya.
“Walah, Sinun. Ini kuberi kau sepotong,”
balas Angku Darman berbasa-basi.
“Hehehe! Istriku hanya memasak ikan sapek,
Angku,” ujar Sinun merendah sambil memperlihatkan isi bungkusan daun pisangnya.
“Hahaha! Tenang saja Sinun, sapek
buatan istrimu tak akan membuatku terpikat,” balas Angku Darman pula.
Kedua lelaki itu akhirnya saling
bertukar sambal. Sinun memakan nasinya dengan lahap. Angku Darman sampai makan
kekenyangan. Sebentar, ia tersandar di bawah batang seri yang tumbuh rimbun di
ujung pekarangan rumah Datuk Kali.
“Sungguh nikmat berangin-angin di sini,”
ujar Angku Darman kepada Sinun.
“Hei, Angku Darman! Jangan sampai tertidur
di sana!” Teriak Sinun mengingatkan.
Angku Darman terperanjat. Ia langsung
beranjak membawa paculnya untuk meneruskan pekerjaan mencangkulnya. “Untung
Datuk Kali tak ada,” ujar Angku Darman membatin.
***
UNI Mariam, tetangga di belakang rumahku besok akan
mengakikahkan cucu lelakinya. Cucunya itu anak si Eni, anak perempuan Uni
Mariam yang paling besar. Suami si Eni itu seorang pelaut. Ia bekerja di kapal
pesiar. Kalau pulang sekali tiga bulan, suaminya itu membawa uang banyak.
“Ini cuma akikah cucu pertama,” ujar Uni
Mariam ketika mengundang orang-orang kampung di akikahan cucunya itu. Padahal,
orang-orang kampung sudah paham dengan tabiat perempuan itu. Ia hanya hendak
membanggakan kekayaan menantunya saja.
Karena pesta besar akan dilaksanakan di
rumahnya, Uni Mariam mengumpulkan banyak kayu bakar. Sore tadi, ia membawa
seikat kayu yang diangkat di atas kepalanya.
“Dari mana kau dapat kayu, Mariam?”
Tanya Etek Binun ketika Uni Mariam lewat di depan rumahnya.
“Dari parak, Etek!” Jawab Uni Mariam
singkat.
Etek Binun tak begitu saja percaya. Parak
terletak di sebelah utara kampung, sementara Uni Mariam datang dari arah timur.
Sandal tangkelek yang dipakainya dipenuhi lumpur. Ia pasti datang dari
sawah.
“Baguslah Mariam. Bisa puas kau memasak
nanti,” timpal Etek Binun. Suara perempuan itu datar. Ia berjalan ke arah
pekarangan belakang rumahnya. Di sana, ia melihat pagar pekarangannya yang
terbuat dari kayu banio masih utuh. Beberapa hari lalu, kayu pagar itu ada yang
hilang seruas. Rupanya, Uni Mariam yang mengambilnya. Etek Binun marah. Namun,
Uni Mariam tak kalah bagak, ia menantang untuk berkelahi. Etek Binun
memilih mengalah.
“Malu, Mak! Gara-gara kayu sebatang
sampai berkelahi segala,” ujar Wati, anak perempuan Etek Binun menenangkan
hatinya.
Entah dari mana Uni Mariam mendapatkan
kayu. Kalau ia datang dari arah sawah, hanya ada rumah Datuk Kali ditemukan di
sana. “Biarlah. Paling ia mengambil kayu di pekarangan rumah Datuk Kali,” ujar Etek
Binun dalam hati.
Pekarangan rumah Datuk Kali berpagar
tinggi. Pagar itu terbuat dari kayu surian. Beberapa hari ini, pagar itu sudah
banyak yang sompeng. Kayunya sudah hilang satu-satu. Kata orang-orang
kampung, mungkin kayu pagar itu hilang karena diseruduk babi. Setidaknya,
begitu pembenaran Uni Mariam. “Saya hanya mengambil kayu-kayu yang patah di
sana,” ujarnya.
Tak hanya Uni Mariam yang mengambil kayu
di rumah Datuk Kali. Buyung Butar mengambil kayu untuk membangun rumahnya.
Selain kayu surian, ada pula kayu meranti di rumah itu. Kayu-kayu itu sangat
bagus untuk membuat konsen, dinding, bahkan untuk membuat daun pintu. Ada pula
batu-batu seukuran kepala anak kerbau berserakan di pekarangan rumah Datuk
Kali.
“Batu-batu ini bagus untuk pondasi rumah,”
ujar Buyung Butar. Ia juga mengambil batu-batu di rumah Datuk Kali. Bahkan,
kalau ia tak segan memanjat, ia ingin mengambil genteng rumah yang terbuat dari
tanah liat. Kalau pakai genteng, atap rumah lebih tenang kalau tertimpa hujan.
Tapi, kalau memakai seng, ketika hujan datang, rumah seperti kapal pecah.
Berisik di mana-mana.
***
RUMAH Datuk Kali masih terlihat lengang. Namun,
orang-orang di kampung sudah buncah mendengar kabar terakhir tentang rumah itu.
Tadi malam, ada segerombolan lelaki bercadar mengendap-endap di rumah itu.
Mereka datang dari arah kampung sebelah. Seorang membawa linggis besar, seorang
lagi menyandang karung di pundaknya. “Mereka garong!” Teriak Ramadi kepada
orang-orang yang duduk-duduk di ujung jalan kampung.
“Apa benar rumah Datuk Kali didatangi
garong?” Tanya Suar dengan nada tidak percaya. Mana mungkin orang berani
mencuri di rumah Datuk Kali. Kalau ia ada di rumah, mendekat saja orang takut.
Jangankan garong, penjahat berdarah dingin pun sekalian akan di-sasau-nya.
“Benar, Suar! Aku melihatnya dari jauh
di tengah keremangan malam,” jawab Ramadi serius.
“Hah! Mengapa kau tak bersorak, Ramadi?
Kau biarkan saja rumah Datuk Kali dimaling orang,” ujar Suar terheran-heran.
“Tak berani aku, Suar. Garongnya ada
lima orang,” ujar Ramadi kecut.
“Pasti Datuk Kali rugi besar. Banyak isi
rumahnya yang hilang diambil garong,” timpal Suar dengan nada sedikit prihatin.
“Bagaimana pula kau tahu banyak barang
Datuk Kali yang hilang? Apakah kau tahu isi rumah Datuk Kali itu?” Giliran Ramadi
yang bertanya kepada Suar.
“Mana aku tahu, hei Ramadi! Kalau ada
orang-orang di kampung ini yang tahu apa isi rumah Datuk Kali, potong kupingku!”
Balas Suar seperti hendak menantang.
“Hahaha! Sekalian kau bertarung dipotong
dua kali hei, Suar. Biar habis 'punya'-mu itu,” ujar Ramadi sambil mengarahkan
telunjuknya ke pinggang Suar. Suar membalas dengan tawa. Orang-orang yang duduk
di ujung jalan kampung ikut tertawa.
***
KEJADIANNYA duapuluh tahun yang lalu. Kalau Tuan masih
berkenan datang ke kampungku, rumah Datuk Kali masih ada di sana. Kampungku
bernama Sarangruakruak. Diberi nama oleh orang-orang dahulu begitu saja. Kata
orang-orang kampungku, nama Sarangruakruak karena banyak burung ruak-ruak
bersarang di sana.
Dahulu sekali, kampungku dikelilingi sawah.
Di utara, selatan, timur, dan barat, yang ada hanya hamparan sawah. Burung
ruak-ruak suka mencari makan di sawah. Ruak-ruak itu burung kecil, seperti
bangau, ia suka di air dangkal. Makanannya biji padi di sisa-sisa jerami yang
banyak berserak di sawah. Ruak-ruak paling senang dengan ikan puyu yang akan
mudah ditemukan ketika padi mulai disiangi. Burung ruak-ruak tak pandai terbang
tinggi. Ia lebih senang meloncat-loncat di sawah. Orang-orang di kampungku
kadang-kadang memasang jerat di pematang sawah. Kalau ruak-ruak tertangkap,
dagingnya enak untuk digulai atau dibuat goreng ruak-ruak sambal cabai hijau.
Di kampungku ada laki-laki bernama si Ruak Tengkak. Ia diberi nama itu karena
pandai menangkap ruak-ruak.
“Hoi, Ruak! Berapa ekor ruak-ruak kau
dapat hari ini?” Tanya Uni Sarti setiap kali bertemu si Ruak Tengkak.
“Ada tiga ekor!”
“Bawa ke sinilah. Biar aku pulangkan
ruak-ruakmu itu,” ujar Uni Sarti lagi.
Keduanya berhitung. Tentu saja
hitungannya sesuai selera Uni Sarti saja. Si Ruak Tengkak tak tahu dengan
angka-angka. Kadang, ia tak senang kalau ruak-ruak hasil buruannya diganti
dengan uang. Kalau ia butuh nasi, maka ia minta diganti dengan beras saja. Kalau
butuh rokok, maka ia minta diganti dengan tembakau kering.
“Ada seekor yang patah kakinya,” ujar
Uni Sarti lagi sambil memperlihatkan seekor ruak-ruak kepada si Ruak Tengkak.
“Oh, yang seekor ini aku tangkap ketika
kakinya tersangkut di pagar pekarangan rumah Datuk Kali,” ujar Ruak Tengkak
berterus terang.
“Hah? Buanglah yang seekor itu! Aku
ambil yang dua ekor ini saja,” balas Uni Sarti sambil berubah air mukanya.
Perempuan itu seperti menyembunyikan ketakutannya.
Beberapa hari ini, orang-orang kampung
menyaksikan sesuatu yang tak lazim di rumah Datuk Kali. Tiba-tiba saja rumah
Datuk Kali bercahaya di tengah malam buta. Padahal, listrik tak pernah masuk ke
rumah itu. Kadang, orang-orang melihat bayang-bayang dari kejauhan. Seperti ada
sejumlah orang yang sedang berkegiatan. Ada seorang lelaki bertubuh besar
berdiri di belakang meja. Di sebelahnya, seorang perempuan berambut panjang
duduk di atas bangku. Dua anak kecil, seorang laki-laki, seorang perempuan
duduk di lantai. Mereka saling berbicara. Suara-suara mereka tak terdengar dari
kejauhan, kalah dengan nyanyian jangkrik dan katak yang hendak kawin. Sebentar
kemudian, lelaki bertubuh besar seperti berteriak. Mulutnya menyemburkan air
ludah. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Di tangan itu digenggamnya sebuah
kapak. Dan tiba-tiba cahaya di rumah Datuk Kali hilang. Begitu selalu
kejadiannya setiap jam dua belas sampai jam satu.
Siapa yang tak merinding bulu kuduknya
mendengar cerita itu. Namun, itu belumlah seberapa. Setiap sore, menjelang Magrib
tiba, orang-orang kampung melihat seorang laki-laki berlalu-lalang. Tak peduli galok,
tak peduli hujan, lelaki itu tetap berjalan. Menurut Uni Mariam yang kini sudah
tua renta, lelaki itu mirip Datuk Kali. Tapi, orang-orang kampungku menyebut
Uni Mariam mengada-ngada karena ketakutannya.
“Si Mariam itu kan punya banyak utang.
Di mana-mana utangnya ada. Sampai mati pun ia akan dikejar-kejar utang,” ujar
Etek Binun pernah berkata ketika ia masih hidup.
Orang-orang kampung memang suka berutang
kepada Datuk Kali. Kalau ada seorang yang tak berutang, pastilah ia sudah hebat
hidupnya. Uni Mariam berutang untuk menghelat pesta pernikahan anak gadisnya.
Karmin berutang karena bosan bertukang dan ingin mengadu nasib di rantau orang.
Sinun dan Angku Darman berutang untuk menebus sawahnya yang tergadai sama
rentenir. Sikar berutang untuk berdagang tikar permadani keliling kampung.
Ramadi berutang untuk menyekolahkan anaknya. Suar lain lagi, ia berutang untuk
membeli sepeda motor. Buyung Butar berutang karena rumah yang dibangunnya
nyaris selesai. Uni Ramilah berutang untuk membuka rumah makan. Etek Binun
sendiri berutang untuk modal warung kecil di depan rumahnya yang selalu rugi
besar. Uni Sarti berutang untuk membayar utang suaminya yang sudah meninggal.
Bahkan, si Ruak Tengkak berutang pula. Tapi, entah untuk apa pula ia berutang.
Padahal, dengan uang saja ia tak tahu menggunakannya untuk apa. Kata
orang-orang, si Ruak Tengkak berutang budi kepada Datuk Kali. Si Ruak Tengkak
bingung setengah mati, bagaimana membayar utangnya. Dengan apa pula membayar
utang budi. Sementara, orang-orang kampung takut kepada Datuk Kali karena utang-utangnya.
Begitulah,
perihal laki-laki yang berjalan-jalan di sore hari menjelang Magrib itu
hanyalah cerita ketakutan Uni Mariam. Kini, Uni Mariam sudah mati, membawa
serta ketakutannya. Etek Binun lebih dahulu dari Uni Mariam. Sebelumnya lagi
Uni Ramilah. Disusul Sinun, Sikar, Ramadi, Angku Darman, Suar, Buyung Butar, si
Ruak Tengkak, dan terakhir Karmin yang dikuburkan di rantau orang. Kalau Datuk
Kali, kabarnya ia juga sudah mati. Mati sendiri di rumahnya di tengah sawah.
Orang-orang tak berani melihatnya mati. Jangankan melihatnya mati, melihatnya
hidup saja orang-orang kampung tak berani.
Rumah Datuk Kali itu kini berdiri
sendiri, ditinggal Datuk Kali. Pekarangan rumah itu sudah dipenuhi ilalang,
sampai setinggi lemari. Sawah-sawah di sekelilingnya lama tak terairi, jadilah
tanah lapang yang kering. Rumput liar suka hinggap di sana. Rumput itu kadang
dimakan kambing atau sapi yang lupa dipautkan oleh pemiliknya.*
Padang,
Desember 2014



Komentar
Posting Komentar