Rama-rama di Rumah Nenek
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
“Hus, hus, hus!” Teriak Nenek sambil mengayunkan tangkai
sapu. “Naik kamu ke atas kursi. Usir rama-rama itu!”
Nenek berteriak kepada cucunya, Norel.
Bocah enam tahun itu sangat bersemangat. Digesernya kursi rotan ke arah
jendela. Kursi disandarkan ke dinding, Norel meloncat-loncat kecil untuk
menggapai rama-rama yang hinggap di daun jendela. Kupu-kupu besar itu kelihatan
tak terusik.
“Dapat, Nek!” Teriak Norel. Ia memegang
dua sisi sayap rama-rama. Sayap itu dibentangkan di wajahnya, seolah-olah ia
hendak terbang dengan sayap itu.
“Buang sana! Jangan kamu bermain-main
dengan rama-rama itu,” suruh Nenek.
Norel memelas. Ia beranjak ke pinggir
teras. Kaki kecilnya memanjat teras itu. Berdiri sambil memegang tiang, Norel
bersiap-siap melempar tubuh rama-rama ke udara. Ia berharap rama-rama itu
terbang tinggi, sama seperti ketika ia menaikkan layang-layang. Prak! Tubuh
rama-rama itu jatuh ke tanah.
Norel turun ke pekarangan rumah. Ia
menatap kasihan. Mungkin rama-rama itu kelelahan atau sayapnya sedang terluka. “Rama-rama
itu tak lihai terbang. Kamu buang saja ke semak-semak,” ujar Nenek yang masih
berdiri di teras rumah.
Norel mengambil tubuh rama-rama yang
terjerembab ke tanah. Ia melangkah menuju semak-semak di sebelah pekarangan
rumah. Ia meletakkan tubuh rama-rama di atas batang kelapa agar bisa bertengger
di sana. Kalau tubuhnya sudah kuat, Norel bisa beruntung melihat rama-rama itu
terbang membelah langit dengan sayapnya yang indah.
Norel suka dengan kupu-kupu. Di
semak-semak dekat pekarangan rumah banyak bunga-bunga liar mekar di sana. Norel
sering menangkap kupu-kupu yang sedang memetik sari bunga. Kadang ia menunggu
di teras rumah saja. Kupu-kupu juga sering hinggap di teras itu. Tapi, setiap
akan menangkap kupu-kupu, Nenek selalu melarangnya.
“Biarkan saja kupu-kupu itu di sana.
Nanti kamu bisa mengusir tamu yang hendak datang,” ujar Nenek setiap kali
melarang.
Entah apa hubungan kupu-kupu dengan
tamu. Menurut Nenek, kupu-kupu yang singgah ke rumah, apalagi yang warnanya
indah bercahaya, itu pertanda baik. Berarti akan datang tamu yang memberikan
kabar menyenangkan. Norel belum bisa mencerna semua perkataan Nenek. Kadang, Nenek
menyuruhnya mengusir kupu-kupu, kadang pula menyuruh membiarkannya hinggap di
rumah.
“Kalau rama-rama, lain lagi. Kupu-kupu
besar itu pertanda buruk,” ujar Nenek menjelaskan.
Orang-orang kampung menyebut rama-rama
sebagai kupu-kupu kuburan. Entah kenapa disebut demikian. Rama-rama memang
sering hinggap di kuburan. Mereka biasanya hinggap di pohon kamboja yang sedang
mekar. Sari bunga kamboja itu takkan habis dihisap rama-rama yang bertubuh
besar.
“Kalau rama-rama hinggap di rumah, maka
akan datang musibah. Kalau rama-rama itu mati terbunuh, maka akan ada yang
meninggal di rumah itu,” jelas Nenek lagi.
Mendengar penjelasan Nenek, Norel
langsung merinding ketakutan. Setiap melihat rama-rama, ia selalu membayangkan
orang meninggal seperti ketika mamaknya, Sutan Pamenan meninggal dunia. Nenek
menyebut, kematian adik laki-lakinya itu karena ada rama-rama yang terbunuh di
teras rumah. “Ini pasti ulah Teboh!” Tuduh Nenek menahan amarah.
Heran, mengapa pula Nenek menyalahkan
Teboh. Padahal, Norel selalu melihat lelaki 60-an tahun itu di rumah Nenek.
Kadang, ia hanya duduk-duduk di teras rumah. Kadang pula berbicara dengan Sutan
Pamenan dan Nenek. “Sawah di seberang mau disabit,” ujar Teboh suatu ketika.
“Yah, Apak cari saja tukang yang bisa
mengerjakan,” balas Sutan Pamenan.
“Padinya jangan langsung kau jual. Bawa
dulu ke rumah. Kalau harga sudah bagus, baru kau jual,” ujar Nenek menyela.
Teboh adalah orang kepercayaan Uwak.
Norel memanggil Uwak, perempuan yang merupakan ibu kandung Nenek. Teboh sudah
bekerja sebagai pembantu ketika Uwak masih hidup. Karena Uwak tak memiliki
saudara laki-laki, maka ia menyerahkan kepada Teboh untuk mengurus seluruh
tanah kaumnya. Uwak memiliki tanah yang luas di kampung. Bahkan, sebagian besar
tanah di kampung adalah miliknya. Orang-orang yang kini menetap di kampung
dahulunya adalah bekas pembantu Uwak. Kalau pembantunya bekerja dengan baik,
maka Uwak akan mempersilakannya mengambil sebagian tanahnya untuk dibangunkan
rumah. Termasuk Teboh, ia mendapatkan sebidang tanah di ujung kampung. Sejak Uwak
meninggal, tanah Teboh semakin luas saja. Itulah yang membuat Nenek tak senang.
“Rama-rama itu pasti kiriman Teboh.
Kalau saudara laki-lakiku sudah meninggal, ia bisa leluasa menguasai tanah
kaumku,” ujar Nenek membenarkan kecurigaannya kepada Teboh.
***
NOREL tak pernah melihat
wajah Uwak. Ia hanya mendengar cerita Nenek yang menggambarkan perempuan itu
sebagai ratu di kampung. Tanahnya di mana-mana, ia menjadi perempuan
terpandang. Karena itu, kalau berdandan, Uwak selalu berbeda dengan perempuan
kampung lainnya. Tubuhnya berhiaskan emas, sementara perempuan-perempuan
kampung hanya memakai loyang. Ke mana-mana, Uwak selalu memakai kerudung yang
kainnya berasal dari India, sementara perempuan-perempuan kampung memakai baju
dari kain yang ditenun di kampung sebelah.
“Uwakmu
itu kembang kampung. Siapa pun laki-laki akan terpikat olehnya,” ujar Nenek
bercerita.
Uwak
memang pandai menaklukkan laki-laki. Dari zaman Belanda, Jepang, hingga
kemerdekaan, sudah banyak laki-laki yang menjadi suaminya. Nenek terlahir dari
suaminya yang terakhir.
“Suami
Uwak yang pertama itu seorang demang. Tapi, ia tak bisa memberikan keturunan
kepadanya. Suaminya itu diusir begitu saja,” cerita Nenek lagi.
Suami
Uwak terakhir hanyalah seorang petani. Nenek memuji suami terakhir Uwak itu.
Dengan suami terakhirnya itu, Uwak mendapatkan empat orang anak. Tiga
perempuan, dan yang paling bungsu laki-laki. Tapi, Nenek selalu mengeluh,
mengapa begitu sedikit laki-laki di keluarganya. “Kalau di keluarga ini banyak
laki-laki, tanah di kaum ini takkan hilang diambil orang,” ujar Nenek menahan
geram.
Nenek
tinggal di rumah panggung. Rumah panggung itu hanya lima ruang. Sebuah
pekarangan di depannya, tak seberapa luas. Itulah sisa kekayaan Uwak yang
didapatkan Nenek. Tak ada lagi sawah yang tersisa. Sutan Pamenan, adik Nenek
memilih menjadi pedagang. Sementara, suami Nenek harus bertani di sawah orang.
Nenek semakin geram ketika Teboh, bekas pembantu ibunya dahulu malah mendirikan
rumah panggung sembilan ruang.
“Sekarang,
laki-laki tak tahu diri itu hendak mengambil rumahku pula,” ujar Nenek mengutuk
dalam hati.
Beberapa
hari lalu, datang surat dari pengadilan. Nenek tak bisa membaca. Ia menyerahkan
surat itu kepada Januar, anak tertuanya. Januar menanggapi isi surat itu
dingin. Ia enggan memenuhi panggilan pengadilan. Ratusan orang kampung mendapatkan
panggilan yang sama.
“Kalau
semua datang, bisa penuh pengadilan. Biarkan saja, mana berani orang pengadilan
itu dengan ratusan orang,” ujar Januar kepada Nenek ketika memberitahu isi
surat dari pengadilan.
“Kurang
ajar si Teboh itu. Habislah uangnya membayar orang di pengadilan!” Teriak Nenek
emosi.
Januar
mencoba menenangkan hati Nenek. Lelaki itu lebih sabar menyikapi gugatan Teboh.
Teboh tak berani kepadanya. Bahkan, ketika Teboh mendatanginya untuk memperlihatkan
surat kemenangan gugatannya, lelaki itu berbicara dengan penuh berbasa-basi.
“Maaf,
Januar. Aku menerima surat dari pengadilan,” ujar Teboh datar sambil
memperlihatkan sepucuk surat kepada Januar.
“Oh,
di sini ditulis, kau menang di pengadilan.” Januar membaca isi surat itu. Ia
menatap Teboh sambil menaikkan alis matanya.
“Itulah,
aku bingung. Padahal, aku tak pernah menuntut. Entahlah, mungkin itu pekerjaan
anak-anakku,” keluh Teboh seperti merasa tak bersalah.
“Hm,
lalu bagaimana? Kau tahu kan, kalau kau laksanakan isi surat ini, kita akan
bunuh-bunuhan. Anak-cucumu tak akan tenang di sepanjang hidupnya. Aku pastikan
itu!” Balas Januar dengan nada mengancam.
Teboh
menelan ludah. Wajahnya pucat pasi, mulutnya bergetar. “Begini saja, biarkan
aku memiliki sebidang tanah. Sebidang saja.”
***
ANGIN sepoi-sepoi di teras
rumah panggung. Nenek duduk berleha-leha di kursi depan. Norel sedang bermain
undur-undur di dalam kolong di bawah teras. Seekor rama-rama terbang di
pekarangan. Nenek bangkit dari kursi rotan dan berteriak ke arah Norel. “Hei,
Norel! Kau tanggkap rama-rama itu!”
Perintah Nenek.
“Malas,
Nek! Aku sedang main-main,” balas Norel dari bawah kolong.
“Huh,
tak bisa disuruh kau ini,” ujar Nenek mengomel. Perempuan itu bergegas ke
pekarangan. Diambilnya tangkai sapu. Tangkai sapu itu dicolokkan ke atas batang
jambu. Di sana, rama-rama sedang bertengger. Tangkai sapu Nenek mengenai
sebelah sayap rama-rama. Keseimbangan kupu-kupu besar itu goyang. Tubuhnya
jatuh ke tanah. Nenek memungutnya.
“Wah,
Nenek menangkap rama-rama!” Teriak Norel. Bocah itu berlari mendekat. “Sini aku
buang ke semak-semak,” ujar Norel menawarkan diri.
“Tidak,
tidak!” Nenek mengambil rama-rama yang patah sayapnya itu dari pegangan Norel. “Aku
akan membuangnya sendiri,” ujar Nenek singkat.
Norel
tertegun. Ia hanya bisa menatap Nenek berjalan membawa rama-rama yang patah
sayapnya ke sebuah arah. Tubuh perempuan tua itu kemudian hilang di ujung
kampung. Sebentar kemudian, Norel melihat Nenek datang dari arah semak-semak di
tepi pekarangan rumah.
“Hei,
Norel! Berikan pucuk keladi ini kepada ibumu. Suruh dia membuat gulai pucuk
keladi,” ujar Nenek kepada Norel.
Norel
bergegas menuruti suruhan neneknya itu. Ia berlari ke arah belakang rumah
membawa pucuk keladi yang berkecambah daunnya. Di dapur, Mariana, ibunya Norel
sedang menyaring santan kelapa. Ketika akan memasukkan santan kelapa ke dalam
belanga, Mariana tak menemukan daun ruku-ruku. Tanpa daun ruku-ruku, gulai
keladinya tak akan terasa enaknya. Mariana menyuruh Norel membeli daun
ruku-ruku di warung.
“Kau
ambil saja daun ruku-ruku di pekarangan rumah. Etek Marni sudah menutup
warungnya sejak siang tadi,” ujar Uni Sulastri kepada Norel. Perempuan itu
tinggal bersebelahan dengan warung Etek Marni.
Norel
menuruti saja perintah Uni Sulatri. Bocah itu menjulurkan tangannya di sela-sela
pagar bambu di pekarangan rumah Etek Marni yang ada warung kecil di depannya.
Uni Sulastri menunjukkan kepada Norel mana yang daun ruku-ruku. Daun itu
sebenarnya dijual oleh Etek Marni di warungnya. Namun, perempuan itu lebih
cepat menutup warungnya. Ia pergi melayat ke ujung kampung. Menjelang zuhur
tadi, ada yang meninggal di ujung kampung.
“Pak
Teboh meninggal. Etek Marni melayat ke sana. Kau ambil saja daun ruku-ruku di
pekarangan rumahnya itu, nanti akan kukabarkan kepadanya,” ujar Uni Sulatri lagi
kepada Norel.
***
“Bu, ada rama-rama di teras
depan!” Teriak Norel kepada ibunya, Mariana. Perempuan itu bergegas ke teras
depan.
“Mana,
mana?” ujar Mariana bertanya sambil mencari-cari ke segala sudut di teras
depan. “Itu bukan rama-rama. Itu kupu-kupu,” balas Mariana kepada Norel.
Norel
kecewa, padahal bocah yang sudah beranjak remaja itu sudah siap-siap menangkap
rama-rama itu dan membuangnya ke semak-semak. Ia mengira, kupu-kupu besar itu rama-rama.
Warnanya kuning mengilat, memang berbeda dari rama-rama yang pernah ditangkap
neneknya. Rama-rama itu berwarna coklat muda. Ada motif tergerut di sayapnya. Motif
itu sepintas seperti tumpukan tanah liat.
“Mana
ada lagi rama-rama di zaman sekarang,” ujar Mariana sambil mengelus-elus kepala
Norel.
Sejak
beberapa tahun ini, Norel tak lagi melihat rama-rama di sekitar rumah. Menurut
ibunya, kalaupun rama-rama masih ada, ia takkan hinggap di rumah. Rama-rama
hanya mau hinggap di rumah yang berdinding kayu, sementara rumah panggungnya
kini sudah berubah menjadi rumah batu. Kalau ada juga rama-rama yang mau
hinggap di rumah batu itu, Norel akan bergegas menangkapnya. Ia teringat setiap
kali Nenek menyuruhnya menangkap rama-rama.
“Hei,
Norel! Cepat kau tangkap rama-rama itu!” Teriak Nenek menyuruh.
Norel
bergegas menangkap rama-rama itu dan membuangnya ke semak-semak di dekat
pekarangan rumah. “Jangan kau bunuh rama-rama itu. Kalau ada rama-rama mati,
maka akan ada yang meninggal,” ujar Nenek menambahkan.
Perempuan
itu pernah bercerita kepada Norel, dahulu ia pernah menangkap rama-rama dan
membunuhnya. Keesokan hari, Nenek kehilangan Uwak, ibundanya tercinta. Karena
itu, Norel selalu menangkapkan rama-rama untuk menyenangkan hati Nenek. Setelah
ia membuang rama-rama ke semak-semak, ia akan melihat neneknya dengan air muka
yang berubah cerah.
“Rama-rama
itu pertanda buruk!” ujar Nenek. Kadang Nenek menambahkan, pertanda buruk itu
dikirimkan oleh Teboh yang ingin merampas tanah kaumnya.
“Awas,
itu si Teboh datang!” Teriak Nenek setiap kali ada rama-rama hinggap di teras.
Padahal, laki-laki itu sudah lama meninggal. Ia dikuburkan di sebidang tanah di
ujung kampung. Nenek pernah membawa rama-rama yang patah sayapnya ke sana.*
Padang,
Desember 2014



Komentar
Posting Komentar