Pohon Durian di Belakang Rumah
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
KRAK!
Suara keras muncul dari belakang rumah. Pian bergegas keluar dari kamar mandi.
Dengan tubuh yang masih berlumuran air, ia mencoba membuka pintu dapur yang
langsung mengarah ke perkarangan belakang. "Ehem!" Sebuah bayangan
datang dari kegelapan. Bayangan itu mengangkat lampu minyak yang berada di
sebelah kiri tangannya. Wajah kakek terlihat samar-samar. Lelaki itu baru saja
menginjak ranting kering di belakang rumah.
Pian
mengira pohon durian di belakang rumah tumbang. Tadi sore ada angin kencang.
Angin itu bisa saja membuat pohon durian hilang kekuatan. Usianya sudah puluhan
tahun, sudah saatnya digantikan oleh pohon yang lebih muda. Namun, di belakang
rumah hanya ada sebatang pohon durian. Pohon yang lain tak bisa tumbuh di sana.
Pian tak khawatir pohon tua itu rubuh. Yang membuatnya risau, jangan-jangan
kakek tertimpa pohon durian itu. Kakek selalu berada di belakang rumah. Setiap
pukul tiga malam, ia pergi ke sana. Kakek akan kembali ketika subuh menjelang.
Kata nenek, kakek ke belakang rumah untuk berbicara dengan pohon durian.
"Kalau pulang sekolah, kau jangan menyeberang sungai," ujar kakek
ketika mendapati Pian berada di balik pintu.
"Kenapa,
Tuk?" balas Pian bertanya.
Kakek
tidak menjawab. Lelaki itu berlalu ke dalam rumah setelah meletakkan parang
yang dibawanya dekat tungku. Di depan tungku itu, nenek sedang menanak nasi
untuk sarapan pagi. "Sudah, kau lakukan saja perintah Datuk-mu itu,"
ujar nenek menyela.
Pian tak lagi bertanya. Ia bergegas mengambil
handuk untuk mengeringkan tubuhnya yang mulai kedinginan. Setelah tubuhnya
kering, Pian mengenakan seragamnya, putih-merah. Ia masih duduk di kelas lima
SD. Hari ini, perjalanannya ke sekolah agak berat. Ia harus mengambil jalan
memutar untuk sampai ke jembatan kecil di ujung jalan. Sebenarnya, ia bisa saja
memotong dengan melewati sungai. Namun, Pian tak pernah melanggar perintah
kakeknya. Perkataan lelaki tua yang dipanggilnya Datuk itu sama seperti
perintah ayahnya sendiri.
Sejak
lahir, Pian sudah tinggal bersama kakek dan neneknya. Ia tak pernah mengenal
ayahnya. Lelaki itu hanya dilihatnya sebagai foto kusam yang terpanjang di
ruang tengah. Foto itu masih hitam-putih. Entah kapan foto itu diambil. Pian
melihat lelaki di dalam foto itu sangat muda. "Itu foto ayahmu ketika ia
pergi dari rumah ini," ujar nenek suatu ketika bercerita tentang foto di
ruang tengah itu.
Pian
pernah bertanya, kenapa ayahnya pergi. Tapi, nenek tak pernah pula memberikan
jawabannya pasti. "Ayahmu itu keras kepala. Ia tak mau mendengarkan
perkataan Datuk-mu," jawab nenek.
Pian
sebenarnya tak puas dengan jawaban nenek. Tapi, kalau ia terus bertanya tentang
ayahnya kepada nenek, perempuan tua itu langsung berubah air mukanya. Pian
merasa bersalah kalau membuat neneknya bermuram hati. "Ayahmu itu tak
pernah pulang-pulang. Tiba-tiba, seorang perempuan muda datang membawa bayi
yang masih merah. Perempuan muda itu marah kepada ayahmu. Datuk mengutuk ayahmu
jadi anak durhaka!" ujar nenek setiap kali bercerita tentang anak
laki-lakinya itu.
Pian
ketakutan setiap kali mendengar cerita itu. Ia akan merapatkan kepala ke
pangkuan nenek. Hal itu selalu berhasil meredakan amarah nenek. Perempuan tua
itu kemudian mengusap-usap kepala Pian, seperti sedang meninabobokkan anak
laki-lakinya yang lama hilang. "Memangnya Datuk mengutuk ayah jadi apa,
Nek?" tanya Pian.
Nenek
membalas dengan senyum hambar. Pian tak pernah mempedulikan jawaban nenek atas
pertanyaannya. Ia punya pikiran sendiri tentang kutukkan kakek. Mungkin ayahnya
dikutuk jadi batu. Tapi, bisa juga jadi tanah, bukit, atau jadi pohon durian.
Kakek pasti bisa melakukan apa pun. Lelaki tua itu saja bisa berbicara dengan
pohon durian.
***
DI ujung
sore, nenek sibuk memasak air untuk menyeduk kopi. Di ruang depan, banyak
laki-laki datang. Mereka mengerumuni kakek yang sedang mengisap tembakau
menggunakan daun nipah. Orang-orang itu sangat serius memperhatikan kakek.
Padahal, kakek hanya bercerita tentang pohon durian di belakang rumah.
"Buah
durianku habis dimakan harimau," ujar kakek memulai cerita.
"Celaka!
Harimau sudah merarah ke kampung kita," sela seorang lelaki tanpa bisa
menyembunyikan kerisauannya.
"Biasanya,
harimau hanya memakan satu-dua buah durian. Kalau menghabiskan semuanya, pasti
harimau-harimau itu kelaparan," ujar kakek lagi.
Laki-laki
di ruang depan saling berpandangan. "Jadi, bagaimana, Tuk?" tanya
seorang di antara laki-laki itu.
Kakek
terdiam sebentar. Lelaki itu tampak serius menghabiskan sisa daun tembakaunya.
"Hm... aku kan sudah bilang, harimau-harimau itu kehabisan makanan. Tak
ada lagi rusa, babi, bahkan ayam liar di hutan. Kayu-kayu sudah dirambas habis.
Aku sudah menduga, kejadian ini pasti terjadi," ujar kakek sambil
memandang dalam ke langit-langit ruangan tengah.
Orang-orang
di ruang tengah menganguk-anggukkan kepala. Mereka berbisik untuk saling
menguatkan. Ada raut letih di wajah mereka. Orang-orang itu berkumpul di ruang
tengah setelah melakukan pencarian terhadap anak yang hanyut di sungai tadi
siang. Ada tiga anak dibawa air besar yang tiba-tiba datang dari hutan ketika
mereka sedang menyeberang. Dua anak sudah ditemukan meninggal dunia. Hingga
sore, satu anak lagi belum ditemukan. Pencarian akan dilanjutkan esok hari.
Kakek akan memimpin pencarian itu. Kakek pasti tahu di mana anak hanyut itu
tersangkut. Apa yang tak diketahui
kakek. Ia bisa bertanya kepada pohon durian di belakang rumah.
***
JENAZAH
Bani ditemukan pagi-pagi sekali. Tubuhnya tersangkut akar pohon kelapa dekat
sekolah. Bani adalah teman sekolah Pian. Anak itu memang tak bisa berenang.
Badannya terlalu besar. Ia hanya bisa mengambang di air kalau tergelincir
ketika menyeberangi sungai. Pian selalu memegangi tubuh Bani ketika mereka
menyeberang. "Nek, kata orang-orang kampung, kakek berhasil menemukan anak
yang hilang di sungai," ujar Pian kepada nenek yang sedang menanak nasi di
tungku.
Nenek
membalas dengan menatap awas ke arah Pian. "Kamu jangan pergi ke sungai.
Tak usah melihat anak hanyut yang ditemukan itu. Nanti kau bisa celaka!"
ujar nenek serius.
Pian
mengangguk. "Tidak, Nek! Pian di rumah saja," balas Pian. Hari itu,
ia tak sekolah. Karena ada tiga anak yang hanyut, sekolah diliburkan. "Hebat
Datuk ya, Nek! Ia bisa menemukan anak yang hanyut," ujar Pian menyambung
ucapannya kepada nenek.
Nenek
hanya tersenyum. Pian makin penasaran. "Pasti Datuk bertanya kepada pohon
durian tentang keberadaan anak yang hanyut itu," ujar Pian lagi. Kali ini,
nenek malah tertawa geli.
"Nek,
apa Datuk bisa bertanya kepada pohon durian itu tentang dimana ayah?"
tanya Pian sekenanya.
Nenek
tercekik menelan ludahnya sendiri. Air muka perempuan tua itu langsung berubah.
"Kau tanyakanlah sendiri!" balas nenek meninggikan suaranya.
Pian
langsung kecut mendengarkan jawaban nenek. Bocah itu merasa bersalah melihat
nenek berlalu begitu saja meninggalkan tungku yang kehabiskan kayu bakar. Pian
bergegas ke perkarangan belakang mencari kayu bakar agar nasi yang ditanak
nenek tidak lembek. Tak banyak kayu yang ditemukan di perkarangan belakang. Di
sisa pagi yang masih remang-remang, Pian mendengar ranting jatuh. Suaranya
berasal dari pohon durian.
Pian
berjalan ke arah pohon durian untuk mengambil ranting yang patah sebagai kayu
bakar. Langkahnya terhenti, persis di bawah batang durian yang menjulang
memecah kelam. Pian tertegun. Daun pohon durian menggericik, seolah-olah hendak
berbicara kepadanya. Tapi, Pian tak tahu bagaimana caranya bertanya kepada
pohon durian.
Lama Pian
terdiam. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang pernah dilakukan kakek.
"Wahai pohon durian..! Bolehkah aku bertanya?" ujar Pian mengeja
setiap kata yang diucapkannya. Pian mengulangi pertanyaannya. "Wahai pohon
durian..! Bolehkah aku bertanya. Dimanakah ayahku kini berada?"
Tak ada
jawaban. Hanya sunyi. Sesekali terdengar suara ranting saling berdesir. Pian
mencoba mengulangi pertanyaannya dengan nada suara yang lebih tinggi.
"Ehem...! Wahai..." Belum sempat Pian menyelesaikan pertanyaannya,
sebuah bayangan mengejutkannya. Bayangan itu muncul dari balik batang durian.
Bayangan itu mendekat dengan dua bola mata yang bersinar karena terpantul
sisa-sisa cahaya bulan. Bayangan itu membuka mulutnya dengan dua taring yang
menyembur keluar. Ia hendak berbicara kepada Pian.
"Pergi!"
Tiba-tiba, teriakkan muncul dari arah belakang. Bersamaan dengan itu, sebuah
parang melayang menuju ke arah bayangan di depan Pian. Bayangan itu berkelit,
parang akhirnya tertancap di pohon durian. "Kau sudah kularang berada di
sini!" ujar teriakkan itu. Kakek datang tergesa-tegas sambil merangkul
tubuh Pian.
Pian
tersentak. Ia tak bisa beranjak dari tempat berdirinya. "Pian hanya
bertanya kepada pohon durian, Tuk..." ujar bocah itu kecut.
"Harimau
itu hampir saja menerkammu!" balas kakek dengan suara penuh khawatir.
Pian
terdiam. Ia tak tahu kalau bayangan di depannya itu adalah harimau. Padahal, ia
berpikir bayangan itu hendak berbicara kepadanya. Mungkin bayangan itu mewakili
pohon durian. Pohon durian kan tidak punya mulut. "Mungkin harimau itu
bisa menjawab pertanyaan," ujar Pian tak terlalu yakin dengan ucapannya.
Kakek
hanya menatap dingin. "Dia tak akan menjawab pertanyaanmu," balas
kakek.
"Kenapa,
Tuk?" tanya Pian penasaran.
"Karena
dia, ayahmu!" jawab kakek singkat.
Pian
tertegun. Bocah itu tak sanggup lagi untuk bertanya. Ia tak berani melihat
kakek yang sudah berubah air mukanya. Lelaki tua itu telah mengutuk ayahnya
menjadi harimau. Pian takut, kakek akan mengutuknya pula. Mungkin jadi anak
harimau. Entahlah, lelaki itu bisa mengutuk apa saja. Ia kan bisa berbicara
dengan pohon durian.*
Padang, Januari 2015



Komentar
Posting Komentar