Perempuan yang Membawa Pergi Kelakilakian


Cerpen A. R. RIzal


INI ketiga kalinya Farida datang. Dalam sehari. Perempuan itu datang sambil menjinjing anak laki-lakinya yang baru berusia empat tahun. Anak laki-laki itu adalah kemenakan bagi Sulaiman.
            
"Uda belum pulang." Marini menyambut Farida di teras rumah. Tadi pagi, perempuan itu menyampaikan bahwa Farida datang terlampau pagi. Ketika Farida kembali datang siang hari, Marini menyebutnya terlambat. Sulaiman sudah lebih dahulu keluar rumah.
            
"Sudah kau sampaikan pesanku itu?"
            
"Pesan yang mana?" Sepanjang hari, bermacam pesan dititipkan Farida. Inti dari semua pesan itu adalah meminta uang.
            
"Anak bungsuku mau masuk TK. Ia butuh seragam dan iuran."
            
Itu permintaan yang baru. Sebelumnya, Farida meminta uang untuk biaya sekolah anak perempuannya yang duduk di bangku SMP. Sebelumnya lagi, perempuan itu meminta uang pembeli beras. Marini tak memberi uang. Perempuan itu memberikan sebagian beras tersisa di karung goni yang terletak di dalam rumahnya.
            
Marini tahu, Farida itu perempuan meranda. Untuk hidup sederhana, sudah cukup dengan apa yang dimilikinya di rumah gadang. Sulaiman tak pernah lupa memberikan semua kewajibannya kepada perempuan itu. Uang selalu dikirim. Anak-anak Farida dibimbing. Sulaiman tahu betul bagaimana menjadi mamak yang baik. Namun, permintaan Farida sudah tak terkendali. Perempuan itu ingin hidup persis seperti Marini.
            
"Kalau ada rezeki berlebih, aku akan mengantarkan langsung kepada Uni." Marini berkata sekadar penjawab tanya.
            
"Tak usah. Nanti aku datang lagi." Farida turun dari teras rumah. Di pekarangan, perempuan itu melihat anak perempuan Marini yang berumur lima tahun sedang asyik mengunyah gula saka. "Beri adikmu ini agak sebuah." Tanpa segan, Farida meminta kepada anak perempuan Marini. Anak itu terpaksa menyerahkan gula saka yang sudah dikunyahnya sebagian.
            
Marini menyaksikan pemandangan di pekarangan rumah sambil menahan gerumuk di dalam dada. Tabiat Farida sudah keterlaluan. Perempuan itu semacam parasit. Ia menggerogoti kehidupan Sulaiman dan keluarga kecilnya.
***
SELAMA ini, Marini memilih bersabar. Ia tak punya hak dengan kehidupan Sulaiman dengan saudara perempuannya. Setiap perempuan punya biliknya sendiri-sendiri. Bilik sebagai istri bukanlah bilik yang tertinggi.
            
"Uang belanja habis. Aku memasak apa yang ada saja." Marini menumpahkan keluh-kesahnya di suatu petang.
            
Suasana hati Sulaiman langsung berubah. Ia seperti pulang ke neraka. "Bagaimana bisa? Padahal, aku baru saja memberimu dua hari yang lalu." Sulaiman kesal.
            
"Sejak kemarin, saudara perempuan Uda itu datang meminta sampai sembilan kali. Apa lagi yang tersisa untukku?" Marini tak kalah kesal.
            
Sebaik-baik istri, menghadapi saudara perempuan yang suka meminta, pastilah membuat gerah. Jangankan Marini, Sulaiman sendiri sudah kesal dengan saudara perempuannya itu. Selama ini, Sulaiman selalu membela Farida. Semua permintaannya dipenuhi. Sekarang, pikiran laki-laki itu sudah berubah.
            
"Aku akan datang kepadanya. Aku akan katakan agar dia jangan datang lagi kepadaku." Sulaiman kini berada bersama Marini.
***
FARIDA datang malam-malam sekali. Ia membawa serta kedua anaknya. Masing-masing anak memikul bundel yang terbuat dari kain sarung.
            
"Uda tak ada di rumah. Ia pergi minum di lapau." Belum sampai di teras rumah, Marini langsung mencegat Farida. Perempuan itu kesal kepada Sulaiman. Lakinya itu sama sekali tak bisa dipegang ucapannya. Katanya melarang Farida datang, itu omong kosong Sulaiman saja.
            
"Aku tak hendak bertemu Uda. Aku ingin berjumpa denganmu."
            
Entah untuk apa Farida bertemu dengan Marini. Marini sama sekali tak ada urusan dengan Farida. Urusan kedua perempuan itu hanyalah terkait Sulaiman.
           
"Ada apa? Nanti akan aku sampaikan pesan Uni kepada Uda Sulaiman."
            
"Pesanku untukmu." Farida menyodorkan kedua anaknya kepada Marini. "Kutitipkan anak-anakku kepadamu." Farida juga menitipkan sebuah kunci yang diambil dari gulungan kain sarung yang dikenakannya. Kunci itu adalah kunci rumah gadang.
            
"Ayo, masuklah ke rumah." Marini menyuruh anak-anak Farida masuk ke dalam rumah. Seharusnya Farida tak bersikap berlebihan. Anak-anak perempuan itu sudah terbiasa bermain-main di rumah Marini.
            
"Aku pergi dulu." Farida pamit.
            
Marini menganggukkan kepala. Ia sama sekali tak berprasangka dengan kepergian Farida. Barangkali, perempuan itu pergi sebentar ke kampung sebelah.
***
SUDAH dua pekan, Farida tak datang-datang. Marini tak menyangka, Farida menghilang begitu saja. Perempuan itu merasa sangat bersalah kepada Sulaiman.
            
"Kalau tahu dia akan menghilang, aku pasti mencegahnya."
            
Sulaiman tak terpengaruh dengan penyesalan Marini. Laki-laki itu menghadapi perasaan yang lebih hebat. Sulaiman benar-benar terpukul dengan kepergian Farida.
            
"Salahku terpengaruh olehmu." Sulaiman mengutuk Farida. "Kau membuat diriku tak lagi berharga sebagai laki-laki."
            
Laki-laki tanpa saudara perempuan itu seperti kuda yang patah kaki. Sulaiman benar-benar lumpuh. Farida tak sekadar saudara perempuan. Adiknya itu sekaligus mewakili ibunya yang sudah lama mati.
            
"Uda harus mencari, membawanya pulang ke rumah gadang." Marini memohon kepada Sulaiman.
            
Sudah lelah Sulaiman mencari. Sudah lenyah tapak kakinya. Tak mungkin Sulaiman menemukan Farida. Adiknya itu pergi mencari Badrun. Laki-laki yang dinikahkan Sulaiman untuk saudara perempuannya itu tak jelas kemana rimbanya.
***
TERDENGAR suara laki-laki mendehem. Namun, tak ada yang muncul membaca tanda-tanda. "Farida, Farida!" Sulaiman memanggil-manggil di pekarangan rumah gadang.
            
Setiap kali datang, Farida menyambutnya di teras rumah. Melihat saudara perempuannya itu tersenyum, Sulaiman sudah merasa senang. Walau Farida hanya menyuguhkan secangkir air putih, bagi Sulaiman itu rasanya melebihi anggur merah.
            
Sekarang, tak ada yang menyambut Sulaiman di rumah gadang. Hatinya hancur. Kelakilakiannya telah dibawa lari oleh saudara perempuannya.*
Padang, Desember 2019

Komentar

Postingan Populer