Perempuan yang Membawa Pergi Kelakilakian
INI ketiga kalinya Farida
datang. Dalam sehari. Perempuan itu datang sambil menjinjing anak laki-lakinya
yang baru berusia empat tahun. Anak laki-laki itu adalah kemenakan bagi
Sulaiman.
"Uda belum pulang." Marini menyambut Farida di
teras rumah. Tadi pagi, perempuan itu menyampaikan bahwa Farida datang
terlampau pagi. Ketika Farida kembali datang siang hari, Marini menyebutnya
terlambat. Sulaiman sudah lebih dahulu keluar rumah.
"Sudah kau sampaikan pesanku itu?"
"Pesan yang mana?" Sepanjang hari, bermacam
pesan dititipkan Farida. Inti dari semua pesan itu adalah meminta uang.
"Anak bungsuku mau masuk TK. Ia butuh seragam dan
iuran."
Itu permintaan yang baru. Sebelumnya, Farida meminta uang
untuk biaya sekolah anak perempuannya yang duduk di bangku SMP. Sebelumnya
lagi, perempuan itu meminta uang pembeli beras. Marini tak memberi uang.
Perempuan itu memberikan sebagian beras tersisa di karung goni yang terletak di
dalam rumahnya.
Marini tahu, Farida itu perempuan meranda. Untuk
hidup sederhana, sudah cukup dengan apa yang dimilikinya di rumah gadang.
Sulaiman tak pernah lupa memberikan semua kewajibannya kepada perempuan itu.
Uang selalu dikirim. Anak-anak Farida dibimbing. Sulaiman tahu betul bagaimana
menjadi mamak yang baik. Namun, permintaan Farida sudah tak terkendali.
Perempuan itu ingin hidup persis seperti Marini.
"Kalau ada rezeki berlebih, aku akan mengantarkan
langsung kepada Uni." Marini berkata sekadar penjawab tanya.
"Tak usah. Nanti aku datang lagi." Farida turun
dari teras rumah. Di pekarangan, perempuan itu melihat anak perempuan Marini
yang berumur lima tahun sedang asyik mengunyah gula saka. "Beri
adikmu ini agak sebuah." Tanpa segan, Farida meminta kepada anak perempuan
Marini. Anak itu terpaksa menyerahkan gula saka yang sudah dikunyahnya
sebagian.
Marini menyaksikan pemandangan di pekarangan rumah sambil
menahan gerumuk di dalam dada. Tabiat Farida sudah keterlaluan. Perempuan itu
semacam parasit. Ia menggerogoti kehidupan Sulaiman dan keluarga kecilnya.
***
SELAMA ini, Marini memilih
bersabar. Ia tak punya hak dengan kehidupan Sulaiman dengan saudara
perempuannya. Setiap perempuan punya biliknya sendiri-sendiri. Bilik sebagai
istri bukanlah bilik yang tertinggi.
"Uang belanja habis. Aku memasak apa yang ada
saja." Marini menumpahkan keluh-kesahnya di suatu petang.
Suasana hati Sulaiman langsung berubah. Ia seperti pulang
ke neraka. "Bagaimana bisa? Padahal, aku baru saja memberimu dua hari yang
lalu." Sulaiman kesal.
"Sejak kemarin, saudara perempuan Uda itu datang
meminta sampai sembilan kali. Apa lagi yang tersisa untukku?" Marini tak
kalah kesal.
Sebaik-baik istri, menghadapi saudara perempuan yang suka
meminta, pastilah membuat gerah. Jangankan Marini, Sulaiman sendiri sudah kesal
dengan saudara perempuannya itu. Selama ini, Sulaiman selalu membela Farida.
Semua permintaannya dipenuhi. Sekarang, pikiran laki-laki itu sudah berubah.
"Aku akan datang kepadanya. Aku akan katakan agar
dia jangan datang lagi kepadaku." Sulaiman kini berada bersama Marini.
***
FARIDA datang malam-malam
sekali. Ia membawa serta kedua anaknya. Masing-masing anak memikul bundel yang
terbuat dari kain sarung.
"Uda tak ada di rumah. Ia pergi minum di lapau."
Belum sampai di teras rumah, Marini langsung mencegat Farida. Perempuan itu
kesal kepada Sulaiman. Lakinya itu sama sekali tak bisa dipegang ucapannya.
Katanya melarang Farida datang, itu omong kosong Sulaiman saja.
"Aku tak hendak bertemu Uda. Aku ingin berjumpa
denganmu."
Entah untuk apa Farida bertemu dengan Marini. Marini sama
sekali tak ada urusan dengan Farida. Urusan kedua perempuan itu hanyalah
terkait Sulaiman.
"Ada apa? Nanti akan aku sampaikan pesan Uni kepada
Uda Sulaiman."
"Pesanku untukmu." Farida menyodorkan kedua
anaknya kepada Marini. "Kutitipkan anak-anakku kepadamu." Farida juga
menitipkan sebuah kunci yang diambil dari gulungan kain sarung yang
dikenakannya. Kunci itu adalah kunci rumah gadang.
"Ayo, masuklah ke rumah." Marini menyuruh
anak-anak Farida masuk ke dalam rumah. Seharusnya Farida tak bersikap
berlebihan. Anak-anak perempuan itu sudah terbiasa bermain-main di rumah
Marini.
"Aku pergi dulu." Farida pamit.
Marini menganggukkan kepala. Ia sama sekali tak
berprasangka dengan kepergian Farida. Barangkali, perempuan itu pergi sebentar
ke kampung sebelah.
***
SUDAH dua pekan, Farida tak
datang-datang. Marini tak menyangka, Farida menghilang begitu saja. Perempuan
itu merasa sangat bersalah kepada Sulaiman.
"Kalau tahu dia akan menghilang, aku pasti
mencegahnya."
Sulaiman tak terpengaruh dengan penyesalan Marini.
Laki-laki itu menghadapi perasaan yang lebih hebat. Sulaiman benar-benar
terpukul dengan kepergian Farida.
"Salahku terpengaruh olehmu." Sulaiman mengutuk
Farida. "Kau membuat diriku tak lagi berharga sebagai laki-laki."
Laki-laki tanpa saudara perempuan itu seperti kuda yang
patah kaki. Sulaiman benar-benar lumpuh. Farida tak sekadar saudara perempuan.
Adiknya itu sekaligus mewakili ibunya yang sudah lama mati.
"Uda harus mencari, membawanya pulang ke rumah
gadang." Marini memohon kepada Sulaiman.
Sudah lelah Sulaiman mencari. Sudah lenyah tapak
kakinya. Tak mungkin Sulaiman menemukan Farida. Adiknya itu pergi mencari
Badrun. Laki-laki yang dinikahkan Sulaiman untuk saudara perempuannya itu tak
jelas kemana rimbanya.
***
TERDENGAR suara laki-laki
mendehem. Namun, tak ada yang muncul membaca tanda-tanda. "Farida,
Farida!" Sulaiman memanggil-manggil di pekarangan rumah gadang.
Setiap kali datang, Farida menyambutnya di teras rumah.
Melihat saudara perempuannya itu tersenyum, Sulaiman sudah merasa senang. Walau
Farida hanya menyuguhkan secangkir air putih, bagi Sulaiman itu rasanya
melebihi anggur merah.
Sekarang, tak ada yang menyambut Sulaiman di rumah
gadang. Hatinya hancur. Kelakilakiannya telah dibawa lari oleh saudara
perempuannya.*
Padang, Desember 2019



Komentar
Posting Komentar