Perempuan Kecubung
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
SELEPAS hujan, perempuan itu selalu muncul dari balik
semak-semak. Memakai kain sarung yang diikatkan ke pinggang, ia selalu muncul
dengan sebelah tangan menggenggam dedaunan dan sebelahnya lagi menjinjing
sandal jepit yang hampir putus. Ia membiarkan kakinya berlumur lumpur.
“Di mana kau ambil daun itu?” Tanya
Pijan mencegat ketika perempuan itu muncul di pekarangan rumahnya. Ia baru saja
menanam ubi jalar. Ubi itu takkan tumbuh sempurna kalau daunnya diambil. Perempuan
itu tersentak.
“Di, di, di semak!” Jawabnya terbata
sambil berjalan kencang meninggalkan pekarangan rumah Pijan.
Tak ada guna pertanyaan Pijan kepada
perempuan itu. Jawabannya sudah jelas. Ia hanya mengambil daun kecubung di
semak-semak. Daun itu tumbuh liar, tak ada yang tahu untuk apa kegunaannya.
Pijan hanya bertanya seperti orang-orang kampung lainnya yang selalu tak
menemukan jawaban untuk apa daun kecubung itu.
“Ah, mungkin dibuatnya sayur untuk
dimakan,” ujar Pijan dalam hati seperti hendak menertawakan nasib perempuan
itu.
Benar, daun kecubung itu dijadikan
sayur. Tina sangat pandai meracik daun kecubung menjadi masakan. Entah
bagaimana rasa masakannya, orang-orang Kampung Tanah Tepi tak pernah mencoba
masakan Tina. Perempuan itu malah disebut sebagai orang aneh yang memasak daun
kecubung. “Kau berikan rumput, pasti akan digulainya.” Begitu kelakar
orang-orang Kampung Tanah Tepi menyebut keanehan Tina.
Perempuan itu berumur 25 tahun. Tapi,
wajahnya kelihatan tua melebihi usianya. Sejak ditinggalkan suami dengan dua
anak perempuan yang masih kecil, Tina menjadi perempuan yang paling menderita
hidupnya di Kampung Tanah Tapi. Ia harus membanting tulang sendiri untuk
memberi makan dua anak perempuan dan ibunya yang sudah renta. Ia tak pernah
benar-benar bekerja. Tiap hari Tina hanya hilir mudik di semak-semak di ujung
kampung. Di sana ia mencari umbi-umbian yang bisa dimakan. Kadang ada singkong
yang tumbuh liar, tapi ia lebih sering menemukan umbi keladi. Sebagai sambal,
ia mengambil dedaunan. Kadang ia mendapatkan daun kangkung, tapi lebih banyak
daun kecubung di semak-semak itu.
Tina hanya mengambil dedaunan di
semak-semak. Orang-orang kampung akan sangat marah kepadanya kalau mengambil
daun dari pekarangan rumah mereka. Di semak-semak, Tina bisa mengambil daun
sepuas-puasnya.
“Asalkan kau mau berebutan dengan
kambing dan kerbau liar,” ujar orang-orang kampung selalu menertawakan nasib
perempuan itu.
Entah mengapa orang-orang kampung tak
senang kepada Tina. Padahal, yang berbuat kesalahan adalah ayahnya. Semasa
masih hidup, Bancah, ayah Tina mengaku sebagai pemilik semak-semak yang
terhampar luas di ujung Kampung Tanah Tepi. Orang-orang kampung tidak senang
dengan pengakuan Bancah itu.
“Berpuluh-puluh tahun, semak-semak itu
tak ada yang memiliki. Bagaimana pula lelaki miskin itu punya tanah yang luas,”
ujar Sidin, tetua kampung mementahkan pengakuan Bancah.
Orang-orang Kampung Tanah Tepi setuju
dengan pandangan Sidin. Bancah yang tinggal di gubuk reot di ujung kampung
bersama anak dan istrinya dianggap tak masuk akal sebagai pemilik semak-semak.
Bancah pun dikucilkan. Orang-orang kampung mengharamkan diri mereka berbicara,
apalagi bertemu dengan Bancah dan keluarganya. Ketika berjalan di tengah
kampung, Bancah dan keluarganya dianggap tak ada.
“Kalau kau tak sengaja melihatnya, maka
kau boleh melemparnya dengan batu seperti melempar anjing liar,” ujar Sidin
lagi menjadikan kata-katanya sebagai tuah bagi orang-orang kampung.
“Pergi kau ayam!” Teriak Uni Dahlia
sambil melempar tempurung kelapa ke pekarangan rumahnya.
“Aduh!” Tina mengerang kesakitan sambil
memegangi keningnya yang berdarah. Perempuan itu tampak jelas berjalan di
belakang pekarangan rumah Uni Dahlia. Namun, perempuan itu malah sengaja hendak
mengusir ayam yang tak ada di sana.
Tina pernah hendak melawan perlakuan
buruk orang-orang kampung kepadanya. Tapi, perlawanan itu membuatnya harus
kehilangan suaminya. Gara-gara menantang orang-orang kampung, Banar, suami Tina
dikeroyok habis-habisan. Matanya nanar, kakinya linglung, bahkan Banar tak bisa
mengeja namanya dengan sempurna ketika mulutnya dipukul tangan-tangan kasar.
“Sakitnya bukan di situ, tapi di sini,”
keluh Banar kepada Tina sambil memegang dadanya. Banar menanggung dendam di
hati. Dendam itu dibawa pergi ketika ia begitu saja meninggalkan Tina dan kedua
anak perempuannya.
Kepergian Banar tak terlalu mengibakan
bagi Tina. Sesekali, ia masih mendengar kabar tentang lelaki itu. Ia masih bisa
tersenyum, ayah dari kedua putrinya itu masih hidup. Sedih tak tertahankan bagi
Tina, ketika ia tak lagi bisa mendengar kabar dari Bancah, lelaki terakhir
dalam keluarganya. Tina menemukan Bancah terkapar di semak-semak. Wajahnya
diselimuti belukar dan tanah. Namun, Tina menemukan tak ada senyum di wajah
ayahnya itu.
“Ayah dibunuh orang!” Teriak Tina ketika
menemukan tubuh Bancah di semak-semak.
“Hati-hati dengan tuduhanmu itu!” Ancam
orang-orang Kampung Tanah Tepi marah.
Orang-orang kampung tak senang dengan
tuduhan Tina. Mereka menyebut perempuan itu hanyalah mengarang-ngarang cerita.
Di semak belukar itu, apa saja ada. Ular, kalajengking, lipan, segala yang
berbisa ada di sana.
“Mungkin ayahmu itu mati karena daun
beracun yang selalu kau masak untuknya,” ujar orang-orang kampung balik
menuduh.
Kematian Bancah berakhir dengan banyak
penyebab. Ada yang menyebut karena digigit ular, digigit kalajengking. Ada pula
yang menyebut karena keracunan dedaunan.
***
“Hei, di mana kau mengambilnya?” Tanya Pijan penuh selidik
ketika Tina lewat di depan pekarangan rumahnya.
Tina membawa dua buah kantong plastik
berukuran besar. Perempuan itu melangkah dengan wajah penuh senyuman. “Aku
tidak mengambil. Aku mendapatkannya di komplek perumahan,” balas perempuan itu
singkat.
Pijan menjulurkan kepalanya dari balik
pagar. Ia menatap dalam-dalam kantong plastik yang dibawa Tina. “Tuh, ada daun
di sana,” ujar Pijan lagi sambil menjulurkan bibirnya ke arah kantong plastik
di sebelah kiri tangan Tina.
“Aku mendapatkannya di komplek
perumahan,” balas Tina lagi. Perempuan itu berjalan bergegas meninggalkan Pijan
yang penuh prasangka.
Beberapa hari ini, Pijan selalu
menemukan Tina dengan bungkusan di tangannya. Kadang di bungkusan itu ada
kaleng dan kotak beraneka macam. Sepintas Pijan bisa menebak, kaleng dan bungkusan
itu berisi susu, mentega, atau minuman ringan. Pijan seharusnya tak berprasangka
terhadap barang-barang itu.
“Paling itu makanan dan minuman
kadaluarsa yang sudah dibuang orang-orang komplek,” ujar lelaki itu dalam hati.
Pijan sering menemukan barang-barang
dibuang oleh orang-orang komplek. Orang-orang di komplek itu memang berselera
tinggi. Mereka dari kalangan atas yang bisa membeli selera dengan uangnya.
Ketika rumah-rumah mewah dibangun di sana, Pijan juga pernah merasakan banyaknya
uang orang-orang komplek itu yang membeli tanah bekas semak-semak dengan harga
mahal. Pijan memiliki sekaveling tanah di semak-semak itu. Bagian yang lain,
dibagi sama rata kepada orang-orang kampung. Tanah itu kemudian dijual
beramai-ramai kepada orang-orang kaya yang membangun komplek perumahan di sana.
Di komplek itu, Tina memungut barang-barang. Ia senang membawa pulang
barang-barang. Namun, itu membuat orang-orang kampung tak senang.
“Kau mencurinya!” Teriak Pijan ke arah
Tina yang sudah berjalan menjauh.
“Pencuri, pencuri, pencuri!” Pijan
mengulangi teriakannya. Suara parau lelaki paruh baya itu mengundang
orang-orang kampung.
Orang-orang kampung mengerumuni Tina.
Sebagian mencegatnya agar tak melarikan diri. Sebagian lagi merampas dua
kantong plastik besar dari tangannya.
“Mana barangmu yang dicurinya, Pijan?”
Tanya seorang lelaki sambil mengusai-ngusai isi kantong plastik yang
dirampasnya dari Tina. “Apakah susu kaleng ini?” Tanya laki-laki itu lagi.
“Aku tak punya anak kecil, untuk apa
kaleng susu bagiku. Bukan itu!” Balas Pijan.
“Apa kaleng mentega ini?” Tanya
laki-laki lain yang memeriksa kantong plastik satunya lagi.
“Bukan! Istriku menggoreng dengan minyak
kelapa. Untuk apa mentega itu baginya,” balas Pijan lagi.
“Tak ada apa-apa lagi!” ujar seorang
laki-laki sambil mengeluarkan semua isi kedua kantong plastik. Lelaki itu mulai
kehilangan kesabaran karena tak juga menemukan barang milik Pijan.
“Nah, ini!” Teriak Pijan singkat sambil
memungut setangkai daun yang terserak dari kantong plastik. “Dia mengambil daun
kecubung!” ujar Pijan memandang ke arah Tina dengan amarah.
***
“Apa yang kau bawa di dalam tas itu?” Tanya Uni Dahlia
ketika menemukan Tina berjalan dekat jemuran kainnya.
“Ti, tidak ada apa-apa. Hanya kain
bekas,” jawab Tina terbata-bata.
Uni Dahlia tak percaya begitu saja.
Perempuan itu mendekat. Ia menyuruh Tina membuka resleting tas yang dibawanya.
Perempuan itu pun menyuruh Tina mengeluarkan kain dari dalam tas satu per satu.
Setiap Tina mengeluarkan sehelai kain, Uni Dahlia membelalakkan matanya.
“Itu, mirip dengan kain yang aku punya,”
ujar Uni Dahlia meninggikan nada suaranya sambil menunjuk kain berwarna ungu
bermotif itik pulang petang yang terletak di tangan Tina.
“Ada apa Dahlia?” Tanya
perempuan-perempuan tetangga Uni Dahlia yang sudah berkumpul. Suara Uni Dahlia
mereka dengar sebagai kabar tak menyenangkan. Perempuan-perempuan tetangga Uni
Dahlia datang mendekat untuk mencari tahu kejadian yang sebenarnya.
“Ini seperti selendang milikku,” ujar
Uni Pia sambil memegang sebuah selendang berwarna merah yang diambilnya dari
dalam tas yang dibawa Tina. Uni Pia memakaikan selendang itu di lehernya.
Padahal, perempuan itu tak punya sehelai pun baju kurung yang sepadan dengan
selendang itu.
“Tak salah lagi! Ini persis daster
milikku. Cuma, warnanya saja yang agak buram,” ujar Uni Zainab pula ketika
menemukan daster yang masih bertempelkan kertas merek dari dalam tas yang
dibawa Tina. Perempuan itu menjulurkan kepalanya, namun daster itu hanya masuk
sampai ke dadanya yang sebesar kuali rendang.
“Ternyata, selama ini kau penyebab
hilangnya kain-kain di jemuranku!” Teriak Uni Dahlia seraya melekatkan
telunjuknya ke jidat Tina.
“Benar, benar, benar!”
Perempuan-perempuan yang berkumpul dekat jemuran Uni Dahlia menyetujui tuduhan
perempuan itu. Satu per satu, mereka mengeluarkan kain-kain dari dalam tas yang
dibawa Tina. Masing-masing perempuan itu kemudian mengambil kain yang paling
disukai.
“Tidak, tidak! Aku hanya mendapatkannya
di komplek perumahan!” Sanggah Tina dengan wajah tersudutkan. Perempuan itu tak
bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya tak bisa membela diri di antara badan-badan
besar perempuan-perempuan kampung yang mengerumuninya. Tina bangkit, setelah
perempuan-perempuan itu meninggalkannya. Di tangannya, ada sepotong baju kemeja
yang sudah tanggal dua giwangnya.
***
SORE-sore sekali, Tina keluar dari komplek perumahan. Di
jalan kampung, ia berpapasan dengan Sidin. Lelaki yang sudah lewat 65 tahun itu
menatapnya tak biasa. Air ludahnya ditelan dalam-dalam, darah mudanya seperti
muncrat ke ubun-ubun. “Hoi, Sidin! Ingat usiamu!” Sapa Pijan datang sambil
memukul pundak Sidin.
“Kurang ajar kau, Pijan! Kau kira, aku
laki-laki yang tak bisa menahan nafsu?” Balas Sidin seraya melepaskan pegangan
tangan Pijan dari pundaknya. “Lihatlah, perempuan itu bagiku seperti pelacur,”
ujar Sidin lagi.
“Celaka! Mana, mana, pelacur yang masuk
ke kampung ini?” Pijan penasaran. Lelaki itu manatap dalam-dalam ke arah
pandangan Sidin. Dari ujung jalan, ia melihat Tina melangkah ringan. “Hei,
Tina! Dari mana kau mendapatkan itu?” Tanya Pijan sambil bergegas mendekati
perempuan itu.
Tina kelimpungan. Sejumlah lelaki sudah mencegatnya
dari segala arah. Samar-samar, ia mendengar laki-laki itu berteriak. “Dasar
perempuan jalang! Jadi pelacur kau di sana!” Teriak suara-suara itu.
“Lihat bedak dan gincu ini. Kamu pasti
mendapatkannya dari laki-laki kesepian di komplek itu,” ujar Pijan sambil
mengacak-acak wajah Tina dengan tangan kasarnya.
Laki-laki yang berkerumun heran dengan
tuduhan Pijan. Tak seorang pun laki-laki di kampung yang akan tertarik dengan
perempuan itu. “Kau tahu. Kalau laki-laki kesepian sudah di ujung nafsu, ekor
kerbau akan dilihatnya sebagai pantat perempuan!” Teriak Pijan.
“Lihat kalung dan gelang ini,” ujar
Sidin pula. Lelaki itu merampas gelang kalung dari leher dan pergelangan tangan
Tina. “Kamu pasti mendapatkannya dengan merayu anak laki-laki yang belum cukup
akal di komplek itu!” Seru Sidin lagi.
Pijan mengambil kalung dan gelang dari
tangan Sidin. “Ah, ini gelang dan kalung imitasi. Dia pasti mendapatkannya dari
sopir dan tukang kebun di komplek itu,” ujar Pijan menyela.
Habislah tubuh Tina digerayangi oleh
laki-laki Kampung Tanah Tepi yang menuduhnya sebagai pelacur. Tina meronta,
tapi selalu hilang kuasa. Ia kalah, seperti kekalahan ketika ia melawan para
pembunuh Bancah, ayahnya.
“Aku bukan pelacur! Kalian yang memperkosaku!”
Teriak Tina sejati-jadinya. Suaranya sampai ke ujung langit, namun tak ada yang
mendengarkan.
Laki-laki Kampung Tanah Tepi
meninggalkan Tina di ujung jalan dengan pakaian compang-camping.
Perempuan-perempuan kampung lainnya sudah pula berkumpul di ujung jalan itu.
Menjelang malam, tubuh Tina diseret-seret di sepanjang jalan.
“Pergi, pergi, pergi kau perempuan
jalang!” Teriak orang-orang itu. Ada yang berteriak kepada Tina dengan
membelalakkan matanya yang merah. Ada yang berteriak sambil meludah. Ada pula
yang berteriak sambil melemparkan apa saja yang bisa dilemparkan.
***
SEJAK beberapa tahun ini, Tina tak pernah tampak lagi di
Kampung Tanah Tepi. Ibu dan kedua putrinya juga sudah pergi entah ke mana.
Gubuk kayu di ujung kampung yang pernah ditempatinya kini sudah roboh dan
ditutupi semak belukar. Namun, orang-orang di komplek perumahan di dekat
Kampung Tanah Tepi selalu melihat perempuan muda itu hilir-mudik di sana.
Kadang pagi, siang, atau sore, Tina
selalu berjalan-jalan di komplek perumahan. Ia membawa kantong plastik besar
untuk menyimpan apa saja yang bisa dipungutnya. Tapi, ia selalu tak pernah lupa
mengambil daun kecubung yang ada di komplek itu. Daun kecubung tak lagi tumbuh
liar. Orang-orang komplek menanamnya di pekarangan rumah mereka. Daun itu bagus
untuk obat-obatan. Katanya, setiap orang yang memakannya akan tertidur tenang
dengan mimpi-mimpi menjulang ke awang-awang. Tina hanya memungut daun kecubung
yang tumbuh menjulur ke luar pagar. Kadang, orang-orang komplek perumahan
mengusirnya karena dikira perempuan gila. Namun, sebagian orang-orang komplek
membiarkan perempuan itu mengambil daun kecubung di pekarangan rumah mereka.
Orang-orang komplek menyebutnya, perempuan kecubung.*
Padang,
Desember 2014



Komentar
Posting Komentar