Pemotong Rumput
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
PAGI
masih malu-malu membuka mata. Darman memacu sepeda motor bututnya ke alun-alun
kota. Di persimpangan jalan besar, enam koleganya telah menunggu. Tak seperti
pegawai kota yang enggan memulai hari lebih dini, Darman memimpin rapat pagi
itu. Ada pembagian kerja. Kali ini, Darman mendapat giliran memotong rumput di
taman di depan sebuah sekolah dasar terkenal di kota.
Rumput di
taman di depan sekolah itu tak terlalu tinggi. Tapi bagaimanapun, harus ada
rumput yang dipotong setiap hari. Begitu kontrak kerja Darman, memotong segala
macam rumput, pekerjaan yang baru digelutinya usai gagal menjadi petani di
kampung.
Brak,
brak, brak! Baling-baling mesin pemotong rumput menyentuh benda keras. Ada
ranting bunga yang patah. Darman harus menghentikan sejenak pekerjaannya. Kalau
diteruskan, baling-baling mesin pemotong rumput bisa patah. Kalau sudah
demikian, ia mesti menggunakan baling-baling cadangan. Itu berarti menambah
biaya pekerjaannya.
"Sudah
selesai ya, Pak?" Sebuah suara mengejutkan Darman yang sedang sibuk
membersihkan ranting-ranting patah. Tak biasa ia disapa oleh anak-anak
berseragam sekolah. Anak-anak itu biasanya hanya memperhatikan Darman momotong
rumput dari jauh. Mereka menikmatinya sebagai tontonan. Darman pun sudah lihai
membuat tontonan yang menghibur. Kadang ia memainkan mesin pemotong rumput,
membuat gerakan seperti superhero di film-film kartun. Anak-anak sangat
menyukai aksi itu. Mereka spontan bertepuk tangan setiap kali Darman beraksi.
"Hei,
kalian tidak belajar?" Tanya Darman. Anak-anak itu pun akan lari
pontang-panting menuju kelasnya masing-masing. Entah mengapa mereka suka
melihat pemotong rumput. Padahal, itu pekerjaan orang-orang yang tak sekolah.
Kalau ditanya cita-cita, anak-anak itu pastilah tak ada yang ingin menjadi
pemotong rumput. Mereka punya cita-cita yang hebat. Darman sering membaca
cita-cita mereka dari tulisan yang ditulis di atas kertas, penggaris, hingga
sampul buku yang dibuang di taman di depan sekolah.
"Kertas
ini masih baru..." guman Darman. Ia menemukan kertas yang digulung di sela-sela
rumput yang dipotongnya. Sayang, tulisan di kertas itu sudah kabur. Tintanya
menguap karena tersapu embun tadi malam.
Trak! Mata
baling-baling mesin pemotong menyentuh benda keras. Sebuah gantungan kunci dari
tembaga. Masih bagus, Darman merasa beruntung karena bisa memungutnya sebagai
mainan untuk anaknya di rumah. Macam-macam ditemukan Darman di sela-sela rumput
yang dipotongnya. Kadang ia menemukan anting, cincin, kalau sedang mujur,
sering juga mendapatkan uang logam. Kalau memotong rumput di taman di alun-alun
kota, Darman bisa menemukan benda yang aneh-aneh. Beberapa hari lalu, ia
menemukan celana dalam, bahkan kondom! Tentu saja, Darman tak pernah memungut
benda-benda itu untuk dibawa pulang ke rumah.
***
DI
akhir pekan, Darman mendapat pekerjaan memotong rumput di rumah dinas pejabat.
Pekerjaan itu dilematis baginya. Tak enak bekerja di rumah dinas pejabat.
Sepanjang hari, ia akan diawasi. Tak boleh ada kesalahan sekecil apa pun. Si
pejabat suka memerintah. Kalau potongan rumput tak rapi, ia marah-marah. Ketika
potongan rumput jatuh di serambi rumah, giliran istri pejabat yang
marah-marah. "Cepat, bersihkan lantai serambi itu!" perintah istri
pejabat. Kalau bergegas mengerjakan perintah istri pejabat itu, si pejabat pula
yang menambah kemarahannya untuk Darman.
"Kalau
sudah selesai, kau temui ajudan!" Seorang laki-laki muda berpakaian safari
akan tergopoh-gopoh mendatangi Darman. Ia menyelipkan amplop. Darman tak pernah
langsung membuka isi amplop itu. Berapa pun jumlahnya, diterima saja. Itulah
enaknya memotong rumput di rumah dinas pejabat, Darman akan mendapatkan
penghasilan tambahan.
Seharusnya,
pekerjaan Darman memotong rumput di rumah dinas pejabat sudah selesai sejak
siang tadi. Namun, ia mendapatkan pekerjaan tambahan. Bukan memotong rumput,
tapi ia disuruh merapikan bunga di halaman belakang. "Hitung-hitung
beramal..." batin Darman.
Pekerjaan
itu belum selesai hingga sore menjelang. Darman sudah menerima amplop dari
ajudan siang tadi, berarti tak ada lagi tambahan penghasilan untuknya. Kalau
pekerjaannya belum selasai sampai malam, Darman bisa sedikit beruntung
mendapatkan sisa makanan dari juru masak di rumah dinas pejabat. Kalau si juru
masak menyuruh ke dapur, berarti ada makanan sisa. Tapi, hari itu si juru masak
pergi tanpa meninggalkan pesan. "Capek, banyak tamu Bapak hari ini,"
keluh si juru masak kepada Darman.
Selesai
merapikan bunga di halaman belakang, Darman tak bisa langsung pulang. Ia harus
mendampingi dua laki-laki berseragam dinas. Entah dari mana keduanya, mereka
banyak bertanya kepada Darman. "Pot ini impor ya?" tanya seorang
laki-laki berseragam dinas sambil menunjuk dengan pulpen di tangan.
"Ya!"
balas Darman.
"Bunga
ini, juga?" tanya laki-laki berseragam dinas yang lain.
Darman tak
tahu soal bunga. Ia hanya menjawab agar urusannya tak berpanjang lebar.
"Ya!" angguknya.
Ketika
laki-laki berseragam dinas menunjuk rumput, Darman langsung antusias dan ingin
menjelaskan panjang-lebar. "Rumput seperti ini banyak di kaki bukit. Kalau
mau, bisa diambil di lapangan bola di kaki bukit. Di sana, rumput tumbuh
liar," terang Darman bersemangat. Tapi, dua laki-laki berseragam dinas
menanggapinya dengan dingin.
Di kota,
orang-orang heboh soal rumput di rumah dinas pejabat. Anggota dewan protes,
rumput di rumah dinas itu kemahalan. Biayanya mencapai ratusan juta. Anggota
dewan yang kritis menyebutnya pemborosan anggaran. Seorang kontraktor yang
kalah tender berbicara ke media massa tentang rumput di rumah dinas pejabat
itu. Ia menuding ada mark-up. Tudingan itu langsung dibantah oleh
pejabat. Proyek rumput sudah sesuai aturan. Penyelesaian pekerjaan sesuai
dengan tenggat waktu. "Semalam-malam ini, selesai!" ujar si pejabat.
Darman memastikan menyelesaikan pekerjaan itu. Ia tak pernah tahu heboh tentang
rumput di rumah dinas pejabat itu. Bukan pekerjaannya memikirkan kehebohan. Ia
hanya seorang pemotong rumput. Besok, masih ada banyak rumput yang harus
dipotongnya.
***
TAK ada rapat. Pagi-pagi buta, Darman mendapatkan pekerjaan
yang tak biasa. Tadi malam, seorang pejabat kota menelpon untuk memotong rumput
di sebuah rumah. Entah rumah siapa, Darman baru pertama kali ditugaskan di
sana. Karena dibayar oleh pemerintah, seharusnya pekerjaan Darman memotong
rumput hanyalah di tempat-tempat yang berhubungan dengan urusan pemerintahan.
Misalnya, di fasilitas publik atau rumah-rumah dinas. Tapi kalau disuruh
pejabat, urusan publik dan dinas itu sering tak jelas.
Sudah
setengah jam Darman di rumah itu. Ia hanya bermenung, tak ada yang bisa
dikerjakannya. Tak ada rumput sepotongpun di rumah itu.
Rumah itu
terbilang mewah untuk ukuran seorang pejabat kota. Luasnya ratusan meter.
Beraksitektur minimalis modern, ada kolam renang kecil di belakangnya. Di
halaman depan terdapat banyak tanaman yang dipanjang di dalam pot. Di halaman
itu, tak ada rumput yang bisa tumbuh karena ditutupi ubin buatan Italia. Lama
bermenung, Darman jenuh juga. Beberapa saat kemudian, hatinya sedikit terhibur
ketika seorang perempuan muda keluar dari rumah itu. “Wah...!” batin Darman.
Kalau belum
di alam akhirat, Darman melihat bidadari turun ke bumi pagi itu. Sungguh cantik
perempuan di rumah itu. Memakai baju daster transparan, terliat elok lengkuk
tubuhnya. Karena Darman tak pernah melihat gitar spanyol, ia mengibaratkan
tubuh perempuan muda itu seperti baling-baling mesin pemotong rumput miliknya.
Sekali berputar, hati banyak lelaki bisa luluh dibuatnya.
“Pagi,
Buk! Saya...”
“Kamu yang
disuruh, Bapak?”
Entah apa
maksud perempuan itu memotong perkataan, Darman mengangguk saja. “Iya!”
Mujur,
perempuan itu tak bertanya lagi. Tak enak hati pula Darman kalau harus
memperkenalkan diri sebagai pemotong rumput. Perempuan itu kemudian berlalu
begitu saja ke dalam rumah. Darman hanya bisa terpana. Tak tahu juga apa
pekerjaan yang harus dilakukannya.
“Di
dalam!” seru perempuan muda itu ketika sampai di balik pintu. Ia membiarkan
pintu depan terbuka.
Darman tak
pernah mempertanyakan setiap pekerjaan yang diberikan kepadanya. Ia bergegas
memasuki rumah sambil meneteng mesing pemotong rumput di pundaknya. Ia masih
berpikir pekerjaannya pagi itu adalah memotong rumput. Mungkin di dalam rumah
itu ada taman kecil yang ditumbuhi rumput. Kalau tak ada taman, bisa jadi ia
disuruh membersihkan rumah itu. Kadang, Darman disuruh membersihkan rumah atau
taman. Pekerjaan itu tak jauh-jauh dari keahliannya.
Sesampai
di ruang depan, tak ada keriuhan di sana. Darman menemukan semua berada pada
tempatnya. Perabot di ruang tengah itu nampak mengkilap, sepertinya habis
dibersihkan. Ada dua gelas kosong di atas meja. Di sebelahnya, tak ada secuil
sampah pun berceceran. Tak ada pekerjaan untuk Darman di sana.
Sebentar
berdiri, Darman menunggu perintah dari perempuan muda yang meningglkannya
begitu saja di ruang depan. Beberapa saat kemudian, perintah yang ditunggu
datang juga. Tapi, perintah itu di luar prasangka Darman. “Jangan bergerak!”
Suara-suara berteriak muncul dari balik pintu. Darman tak melihat jelas
orang-orang yang datang tiba-tiba. Ia sudah menemukan tubuhnya tertelungkup dan
ditonton oleh mata-mata awas dari sejumlah orang-orang berseragam.
***
PAGI-pagi sekali, sisa koran yang terbit kemarin terbuang di
pinggir taman di alun-alun kota. Koran yang lusuh tersiram hujan kecil tadi
malam itu bercampur rerumputan yang habis dipotong. Salah seorang kolega Darman
mendapat giliran memotong rumput di taman di alun-alun kota. Ketika sedang
memotong rumput, ia menemukan kertas koran memukul baling-baling mesin pemotong
rumput. Kertas koran yang tersangkut di baling-baling mesin pemotong rumput
dibersihkan. Ia sempat membaca sepintas tulisan besar yang ditulis di kertas
koran itu: “Seorang pemotong rumput ditangkap. Ia ditangkap karena memotong
rumput perempuan cantik selingkuhan pejabat...”*
Gunung Medan, Mei 2015



Komentar
Posting Komentar