Pembaca Doa
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
SETAMAT kuliah, Zakir berpikir bekerja di Kantor KUA,
Pengadilan Agama, atau sepahit-pahitnya menjadi penceramah. Namun, ia malah
diterima di rumah sakit. Zakir tamatan sekolah agama. Sebuah rumah sakit kecil
di pinggir kota membutuhkan ilmunya.
Ketika kuliah dahulu, Zakir sempat
belajar psikologi agama. Namun, ia hanya belajar teori, tak pernah praktik
konseling, apalagi melakukan tes intelegensi. Ia hanya pandai menasihati.
Kepandaian itu didapat begitu saja. Mungkin kepandaian itu mengalir dari darah
ibunya yang menjadi guru di sebuah sekolah swasta. Di rumah sakit, Zakir
menjadi penasihat spiritual. Agar pekerjaannya itu tak terkesan dipolitisasi,
Zakir menyebut dirinya pembaca doa untuk para pasien.
Pekerjaan Zakir tiap hari adalah
mendatangi pasien di bangsalnya masing-masing. Ia harus rutin mengunjungi
bangsal-bangsal itu, tak boleh satu pun terlewati. Seperti biasa, ia memulai
dengan bangsal pertama. “Assalammu’alaikum! Apa kabar, Pak Sumantri? Apa
yang dirasakan kini?” Sapa Zakir sambil bertanya kepada pasien pertama yang
dikunjunginya.
Pasien itu seorang laki-laki berbadan
tegap. Kalau dilihat sepintas lalu, Sumantri tidaklah seperti orang sakit.
Tubuhnya selalu segar, makannya tak pernah berkurang, tapi wajahnya selalu
meringis kesakitan. “Aduh! Tangan ini selalu terasa kesemutan,” ujar Sumantri
sambil menggerak-gerakkan tangannya di hadapan Zakir.
Zakir tersenyum. Ia memang harus selalu
tersenyum di hadapan pasien. “Tidak apa-apa. Itu hanya efek bekas jarum infus
saja. Ya, Pak Sumantri gerak-gerakkan begitu, nanti kesemutannya akan hilang,”
balas Zakir.
“Waduh! Punggung saya juga terasa sakit.
Mungkin bantalnya kurang empuk,” keluh Sumantri lagi sambil memperbaiki posisi
tidurnya.
Zakir menelan ludah. Padahal, Sumantri
dirawat di kamar terbaik yang ada di rumah sakit kecil itu. “Yah, diperbanyak
sabar, Pak. Jangan lupa istigfar,” balas Zakir lagi.
Mendengar kata-kata terakhir Zakir,
Sumantri langsung berubah air mukanya. Lelaki itu merebahkan kepalanya ke arah
samping. Zakir terus bertanya kepadanya. “Pak Sumantri sudah sembahyang duha
tadi? Sembayang subuh tidak lupa kan?” Tanya Zakir.
“Aduh! Bagaimana bisa sembahyang, bangun
saja saya tak bisa,” jawab Sumantri sengaja mengerang kesakitan.
“Tidak apa-apa, Pak Sumantri. Kalau tak
bisa berdiri, bisa sambil duduk. Kalau tak bisa duduk, bisa sambil tidur. Kalau
tak bisa sambil tidur, ya dalam hati saja. Kalau tak bisa juga dalam hati, ya
...” Zakir tak melanjutkan nasihatnya. Dilihatnya wajah Sumantri sudah berubah
pucat pasi.
Anak perempuan Sumantri yang selalu
menjaganya mendekat dan berbisik kepada Zakir. “Pak Ustaz, Ayah kalau ditanya
soal sembahyang, tensinya langsung naik,” ujar perempuan itu pelan.
“Oh begitu ya. Baiklah, Pak Sumantri
nanti jangan lupa minum obat penurun tensinya ya,” balas Zakir sambil berlalu
pergi. Pekerjaannya untuk satu pasien sudah selesai.
***
SUBUH-subuh sekali, perawat jaga menelepon Zakir. Ia
menyampaikan kabar, ada keluarga pasien yang sangat ingin bertemu dengannya. “Ibu
Roidah meminta datang ke bangsal anaknya. Jangan lupa ya,” pesan perawat jaga
itu.
Ibu Roidah punya anak gadis yang sedang
dirawat di rumah sakit. Sudah dua bulan di sana. Ia senang kepada Zakir yang
selalu menjenguk anak gadisnya. Ibu Roidah mulai kagum kepada lelaki itu.
Agamanya kuat, masih muda, yang lebih penting lagi, masih bujang.
“Kenapa Nak Zakir tidak menjenguk kemarin?
Rita tadi bertanya-tanya,” ujar Ibu Rodiah suatu ketika. Perempuan itu
sebenarnya hendak menggoda. Ia mengira, anak gadisnya bisa berjodoh dengan
Zakir. Zakir senyum-senyum kecil saja. Ia memang harus sering menjenguk Rita.
Hasil diagnosis dokter menyebutkan, gadis itu takkan berumur panjang.
Zakir melewati bangsal kedua. Di sana
Rita tak ada. Ia dibawa ke ruang ICU. Dokter sedang berusaha keras
menanganinya. Zakir langsung saja menuju bangsal ketiga. Ia hanya sebentar di
bangsal itu. Namun, biasanya selalu tak kurang dari dua jam. Di bangsal tiga
ada pasien bernama Hafis.
Hafis baru berusia lima tahun. Zakir
senang dengan bocah itu. Sepanjang hari, ia selalu tersenyum, walaupun selang
infus, selang darah hingga selang bantu pernapasan menempel di sekujur
tubuhnya. “Hei, Hafis! Ayo, sudah berapa nambah hafalannya hari ini?” Sapa
Zakir sambil bertanya.
Kemarin, Zakir membawakan Alquran ukuran
besar. Alquran itu dari Arab, dicetak dengan kertas terbaik. Tintanya terlihat
terang, sehingga huruf-huruf yang tertulis di sana bisa dibaca dengan jelas.
Zakir menghadiahkannya itu kepada Hafis karena anak itu selalu ingin menjadi
penghafal Alquran.
“Bismillahirrahmanirahim.” Hafis
memulai bacaan hafalannya. Ia selalu bersemangat kalau Zakir datang. Suara anak
itu mengaji sangat merdu. Ia bisa berbagai irama. Yang paling disukai Zakir
ketika Hafis mengaji seperti irama imam besar di Masjid Nabawi. Ia berangan,
suatu ketika bisa mengunjungi Rasulullah di masjid itu. Tak terasa, air matanya
jatuh berlinang.
“Pak Ustaz, Pak Ustaz, Pak Ustaz!”
Sebuah suara menghentikan lamunan Zakir. Seorang lelaki muda mendatanginya
dengan tergesa-gesa. Ia dari bangsal sebelah. “Pak Ustaz, bisa ke sebelah
sebentar?” Pinta lelaki muda itu.
Zakir menuruti permintaan laki-laki muda
itu. Sebelumnya, ia menitipkan pesan agar Hafis terus bersemangat menambah
hafalannya. Bocah itu belum sempat menutup bacaannya, namun ia tetap tersenyum
ketika Zakir berlalu meninggalkannya.
Berjalan sebentar, Zakir sampai di
bangsal sebelah. Seorang lelaki terbaring, tampak sudah kepayahan. “Kenapa
tidak dipanggil dokter saja?” Zakir bertanya.
Orang-orang yang berkerumun di bangsal
itu terlihat sudah pasrah. “Sudahlah, sampai di sini saja, Ustaz. Kasihan Ayah,”
ujar lelaki muda datar.
Zakir tertegun. “Ayo, duduklah di
sebelah ayahmu. Bisikkan kepadanya kalimat syahadat,” ujar Zakir meminta kepada
lelaki muda.
Lelaki muda itu hanya berdiri di
posisinya. Orang-orang yang berkerumun di bangsal tak pula berani mendekat.
Zakir kebingungan. “Sebaiknya, pihak keluarga yang membisikkan. Itu biasanya
cepat didengarkan,” pinta Zakir lagi.
“Tidak, tidak usah. Sebaiknya Ustaz
saja,” sergah laki-laki muda.
Zakir tak ingin memperpanjang-panjang
pembicaraan. Ia takut nanti terlambat. Ia mendekat ke arah laki-laki yang
terbaring. Wajahnya didekatkan ke arah telingan sebelah kanan.
“Asyhadualla ilaaha illallah, wa asyhadu
anna muhammadar rasulullah,” ujar Zakir membisikkan. “Ayo, Pak. Sekali
lagi!”
Sebentar kemudian, Zakir menyelesaikan
pekerjaannya. “Innalillahi wa innalillahiroji’un!” Zakir berujar pelan.
Suasana di bangsal itu langsung hening. Tiba-tiba, suara tangis pecah di sana.
***
PAGI-pagi sekali, sudah ada orang yang memanggilnya
tergesa-gesa. Zakir tak senang kalau ada lagi pasiennya yang sakratul maut.
Kemarin, ia kehilangan Hafis. Sehari selumnya Rita. Dalam sehari bisa dua
sampai tiga orang. Kadang, Zakir sampai lupa nama-nama pasien yang pernah
meninggalkannya.
Contohnya pagi ini. Ia berkunjung ke
bangsal nomor empat. Ia hendak menjenguk pasien bernama Ibu Rosma. Beberapa
hari lalu, Ibu Rosma tampak kepayahan. Perempuan itu sepertinya akan dirawat
lama di rumah sakit. Namun, ketika Zakir datang, bangsal nomor empat sudah
kosong. Zakir sempat tersirap darahnya. Ia menyesal tak sempat membisikkan
syahadat di penghujung usia perempuan itu. “Ibu Rosma sudah pulang kemarin
siang,” ujar seorang perawat yang melihat Zakir kebingungan.
Zakir menggaruk-garuk kepalanya.
Padahal, kemarin siang Ibu Rosma bertemu dengannya dekat apotik rumah sakit.
Perempuan itu hendak menebus obat untuk meneruskan pengobatannya di rumah. “Alhamdulillah,
Ustaz. Sekarang rawat jalan saja,” ujar Ibu Rosma ketika itu.
Zakir sampai terlupa. Maklumlah, tiap
sebentar pasien datang dan pergi di rumah sakit. Zakir kadang-kadang bisa
mengingat mereka dengan jelas. Namun, ada pula yang benar-benar tak mengenal
pasiennya. Tadi, ada pasien yang baru datang. Zakir sungguh tak ingin mengenal
pasien yang satu ini.
“Apa, apa, siapa berani?” Teriak pasien
itu ketika perawat membawanya ke ruang bangsal. Sebuah borgol melekat di tangan
lelaki itu. Namun, ia tak henti-hentinya menantang setiap orang. Ada dua orang
berseragam mengawalnya. Salah seorang di antaranya sudah mulai geram.
Sepertinya ia sangat ingin menambah satu lagi lubang peluru di kepala lekaki
itu.
Polisi berhasil menangkap penjahat
kambuhan. Ketika ditangkap, penjahat itu melawan. Polisi menembak kakinya, ia
tetap menyerang dengan parang. Satu peluru lagi bersarang di kaki sebelah
kanan, penjahat itu terus saja melawan. Polisi tak mau ambil resiko. Kemarin,
si pejahat kambuhan itu menembak mati seorang satpam karena menghalanginya
merampok sebuah pabrik. Ia juga membunuh seorang polisi yang menyergapnya di
jalan. Dor! Peluru ketiga bersarang di perut penjahat kambuhan. Ia tumbang.
Tubuhnya lelah karena kehabisan banyak darah.
“Pegang dia, pegang dia!” Teriak dokter.
Sejumlah perawat terus mendekat. Tak cukup satu-dua perawat, lelaki itu terus
berontak. Kalau sudah demikian, dokter tak bisa memberikan pengobatan.
“Ah!” Teriak panjang si lelaki.
Kemudian, ia terdiam. Dokter berhasil menyuntikkan obat bius kadar tinggi.
Setelah itu, dokter melakukan pembedahan. Sebuah proyektil berhasil dikeluarkan
dari betis sebelah kiri. Sebuah lagi diambil dari tungkai sebelah kanan. Dokter
kesulitan mengambil proyektil di perut. Tubuh si lelaki semakin lemah, dokter
menghentikan pembedahan.
Si lelaki dibawa ke ruang bangsal. Ia
istirahat sebentar di sana. Kalau kondisinya sudah memungkingkan, dokter akan
kembali melakukan pembedahan untuk mengeluarkan proyektil terakhir. “Bagaimana
rasanya, Pak?” Zakir bertanya kepada lelaki yang mulai siuman.
Lelaki itu menatap datar. Wajahnya pucat
karena kehilangan banyak darah. Namun, tak ada ekspresi kesakitan di wajahnya. “Untuk
apa engkau datang?” Lelaki itu balas bertanya. Ia memandang dalam-dalam. Zakir
menjadi kebingungan melihat reaksi lelaki itu.
“Sudah lama aku menunggu engkau datang,”
ujar lelaki itu pelan. Senyum manis tersungging di bibirnya. Wajahnya yang
pucat pasi berubah berseri-seri. Ia melihat Zakir seperti lelaki berbadan
tinggi dengan jubah putih di atas kepalanya. Jubah putih itu bercahaya,
menyilaukan matanya.
“Sebaiknya Anda istigfar,” ujar Zakir
semakin heran.
Lelaki itu mengangkat sebuah tanggannya.
Ia seperti meminta Zakir berhenti menasihatinya. Lelaki itu sudah tahu apa yang
akan dilakukannya. Mulutnya berkomat-kamit. Setelah itu terkunci rapat.
Sayup-sayup, Zakir mendengar sebuah kalimat sempat keluar dari mulut itu. Zakir
mendengarnya sebagai kalimat syahadat. Lelaki itu membaca syahadat dengan
fasih. Sungguh indah terdengar.
***
ADA penjahat yang mati dengan tenang. Zakir sungguh
terheran-heran. Hal itu tak pernah ditemukannya dalam teori yang biasa
dipelajari waktu masih kuliah dahulu. Hanya manusia-manusia terbaik yang berakhir
husnul khatimah, begitu teorinya. Tapi, Zakir tak bisa menilai manusia itu baik
atau buruk hidupnya. Apa pula haknya menghakimi orang. Tugasnya hanyalah
sebagai pembaca doa di rumah sakit. Siapa saja yang membutuhkan jasanya, ia
pantang menolaknya. Ada pasien baik, ada pasien buruk, semua didoakannya. Zakir
hanya berpikir melaksanakan pekerjaannya sebagai pembaca doa dengan
sebaik-baiknya.
Sejak menemukan ada penjahat mati dengan
tenang, Zakir mulai khawatir dengan pekerjaannya. Penjahat itu bisa membaca
syahadat dengan baik di penghujung hayatnya. Kalau semua penjahat bisa membaca
syahadat, orang baik-baik pastilah bisa membaca doa dengan lebih baik pula.
Kalau semua orang bisa membaca doa dengan lebih baik, maka ia tak perlu lagi
didoakan.
“Lalu, pembaca doa tak dibutuhkan lagi.
Habislah! Tak ada lagi pekerjaan untukku.” Zakir berbisik dalam hati.*
Padang,
Desember 2014



Komentar
Posting Komentar