Orang-orang Banda Gadang
“Hoi, Wan! Lihatlah, kamu masuk koran!” Teriak Mardi dari
tenda besar.
Pagi-pagi sekali seorang wartawan
bertemu Mardi di tenda besar. Kepada lelaki itu, si wartawan memberikan
selembar koran yang baru terbit hari itu. “Ini, Bang! Ini gambar yang aku ambil
kemarin malam,” ujar wartawan itu sambil memperlihatkan halaman depan korannya.
Marwan bergegas ke tenda besar. Ia baru
keluar dari wc darurat di seberang jalan. Resleting celananya belum terpasang
sempurna. “Mana, mana?” Tanya lelaki itu penasaran. Laki-laki lain di sekitar
tenda besar juga ikut mendekat.
“Wah, hebat kau, Wan! Kau seperti Rambo
yang sedang menyeberang sungai sambil mengangkat senapan besar di tangannya,” celutuk
Mak Katuih.
“Iya, senapanmu dua bungkus kain besar.
Itu pasti pakaian dan celana dalam istrimu,” sindir Mansur meriuhkan suasana.
“Hahaha! Daripada kau, Sur! Pakain
sehelai saja tak terbawa olehmu. Aku berani bertaruh, kamu pasti tak memakai
celana dalam,” ujar Malin sambil menunjuk kain sarung yang dipakai Mansur.
Mansur tersipu-sipu. Wajahnya merah padam menahan malu. Malin semakin keras
tertawa. Tawanya diikuti oleh laki-laki lain di tenda besar.
“Di belakang ini kan rumah Salim,” ujar
Marwan menunjuk gambar besar di halaman depan koran.
“Wadeh, kasihan kau Salim. Hanya antene
rumahmu saja yang tak terkena air,” ujar Mardi meninggikan suaranya. Sengaja ia
berbicara keras agar ucapannya terdengar oleh Salim yang sedang duduk termenung
di luar tenda sambil menunggu giliran mandi. Lelaki itu tak merespon. Suara
orang-orang yang berlalu-lalang di luar tenda yang dekat dengan jalan besar itu
mengalahkan kerasnya ucapan Mardi.
“Ini pasti rumah Mak Katuih. Ada jimat
penangkal air di atas daun pintunya,” ujar Marwan sambil melihat lebih dalam
gambar yang ada di koran. “Kalau ini, rumah Mansur. Ada sepeda anak-anak
mengapung di sana. Celaka kau, Sur! Kamu harus menunda membeli celana dalammu.
Anakmu pasti lebih dahulu meminta dibelikan sepeda baru,” ujar Marwan lagi.
“Rumah Mardi mana?” Sergah Mak Katuih
bertanya.
“Hm, tak tampak di gambar. Mungkin
rumahmu sudah hanyut Mardi,” jawab Marwan menakut-nakuti Mardi. Mardi tak
bereaksi. Ia terdiam sambil berdiri. Padahal, rumahnya itu dibeli kredit.
Kreditnya masih jalan lima tahun lagi.
Malin tak bertanya tentang rumahnya. Ia
memang tak punya rumah di Banda Gadang. Ia hanya mengontrak di sana. Kalau rumah
kontrakan itu tergenang, ia tak rugi apa-apa. Yang dikhawatirkan Malin cuma
satu. Jangan sampai warung kecil yang dibuatnya dengan papan di depan rumah
kontrakan ikut pula dibawa banjir. “Kalau hanyut pula warung itu, habislah
sudah. Mencari pengganti pokok galeh saja susah, apalagi mengganti
warung yang hanyut,” ujar Malin membatin.
***
SUDAH dua hari Banda Gadang direndam banjir. Itu sudah
cukup bagi warga di sana untuk kembali ke rumah. Warga kembali dengan
ember-ember besar berisi air. Air itu untuk membersihkan lumpur-lumpur yang
menutupi dinding rumah-rumah mereka. Sehari penuh bersih-bersih, mobil besar
dari petugas pemadam kebakaran baru tiba ke Banda Gadang. Mobil itu
mengeluarkan selang besar. Selang besar mengeluarkan air berarus kencang untuk
membersihkan lumpur di lantai rumah hingga ke jalan dan selokan agar air tak
tersumbat di sana.
Begitulah kejadian yang berulang di
Banda Gadang. Kalau hujan sebentar, sungai besar yang membelah Banda Gadang
langsung memuntahkan air menggenangi rumah-rumah warga. Dahulu, Banda Gadang
adalah delta sungai. Setelah lumpur mengeras, orang-orang membangun perumahan
di sana. Bagi orang-orang Banda Gadang yang tahu sejarah, banjir dianggap sudah
biasa. Orang-orang Banda Gadang menyebutnya air masuk. Orang-orang yang membaca
berita koran menyebutnya banjir besar.
“Sungai di sini harus direklamasi. Kita
akan anggarkan segera di APBD. Kalau APBD kota tak cukup akan ditambah di APBD
provinsi. Tak cukup juga, kita tampung di APBN sekalian,” ujar seorang pejabat
yang pernah berkunjung ke Banda Gadang.
Banda Gadang memang kampung hebat.
Pejabat tiap sebentar berkunjung ke sana. Kadang Pak Lurah, Pak Camat, Pak
Kepala Dinas, bahkan Pak Walikota dan Pak Gubernur. Kalau anggota dewan,
seperti hilir-mudik saja di Banda Gadang. Mereka menyumbangkan sembako, mi
instan, hingga baju-baju bekas layak pakai. Orang-orang Banda Gadang tak pernah
merasa kekurangan.
“Kami minta dibuatkan tanggul, Pak!”
Pinta Sjaiful, Ketua RW di Banda Gadang.
Permintaan dikabulkan. Beberapa bulan
yang lalu, tanggul selesai dibangun di tepi sungai. Namun, dua hari lalu hujan
sebentar, Banda Gadang tetap saja tergenang. “Kami minta tanggul yang lebih
besar lagi, Pak!” Pinta Ketua RW di Banda Gadang lagi.
Permintaan itu tak langsung dikabulkan.
Seorang pejabat PU geleng-geleng kepala atas permintaan itu. “Kalau tanggul
ditinggikan lagi, sama artinya membuat benteng besar. Bisa-bisa mengalahkan
Fort de Kock di Bukittinggi,” ujar pejabat PU itu.
“Bagus itu, Pak! Orang-orang bisa
bermain-main di benteng itu. Saya bisa berjualan minuman segar di sana,” celutuk
Udin yang sehari-hari bekerja menggalas di dekat kampus yang tak beberapa jauh
dari Banda Gadang.
“Ehem, kamu pikir membangun tanggul
besar sama seperti membuat lapak minuman? Itu dananya selangit!” ujar pejabat
PU ke arah Udin. Lelaki itu pun berhenti cengengesan. Sejak saat itu, pejabat
PU tak pernah datang lagi ke Banda Gadang. Ia sibuk mengurus tanggul di tempat
lain.
***
“Hei, Buyuang Lepa! Anakmu ditemukan di tepi sungai!”
Teriak Sutan Tangguang tergesa-tegasa memberi kabar kepada Buyuang Lepa yang
sedang bekerja di bengkelnya.
“Hah, ada apa dengan anakku?” Buyuang
Lepa terkesiap. Ia berlari kencang ke belakang perumahan di Banda Gadang.
Seorang anak muda yang sedang menunggu motornya diperbaiki menatap melongo
saja.
Orang-orang sudah berkumpul di tepi
sungai di belakang perumahan di Banda Gadang. Buyuang Lepa histeris. “Upiak,
Upiak, Upiak! Di mana kau, Nak!” Teriak Buyuang Lepa mencari-cari ke segala
arah.
“Hahaha! Hoi, Buyuang Lepa, kau seperti
bintang film Korea yang sering ditonton istrimu saja,” ujar Mardi yang juga
berada dalam kerumunan. Ada pula Marwan, Mak Katuih, dan Malin. Keempat lelaki
itu tertawa terbahak-bahak.
Upiak, anak Buyuang Lepa yang baru duduk
di kelas lima SD itu tidak apa-apa. Tadi sore ia berteriak sekencang-kencangnya
dari tepi sungai membuat seisi rumah yang ada di Banda Gadang buncah.
“Ada apa, ada apa? Ada anak diculik
orang?” Teriak orang-orang Banda Gadang saling bertanya-tanya. Akhir-akhir ini
memang banyak penculikan anak. Tapi, siapa pula yang mau menculik anak-anak
Banda Gadang. Kalau mereka meminta tebusan, orang-orang Banda Gadang paling hanya
bisa memberikan sekardus mi instan atau sekeranjang baju bekas. Itu pun sisa
pemberian orang-orang ketika banjir datang.
Ternyata, Upiak berteriak karena
menemukan sesosok tubuh kecil terapung-apung di tepi sungai. Sejumlah laki-laki
Banda Gadang turun ke tepi sungai sambil menutup hidupnya dengan tangan. “Ini
mayat bayi. Masih bertali pusar!” Teriak seorang laki-laki yang turun ke tepi
sungai.
Seorang bayi yang baru lahir ditemukan
terbuang di Banda Gadang. Entah dari mana bayi itu dicampakkan. Orang-orang
Banda Gadang sudah terbiasa menemukan bayi. Mereka selalu berprasangka,
bayi-bayi itu dibuang di hulu sungai. “Setiap yang dibuang di hulu sungai,
pasti tersangkut di Banda Gadang,” ujar Angku Alim, guru mengaji di Banda
Gadang.
“Ya, itu pasti bayi orang-orang di hulu
sungai.” Begitu orang-orang Banda Gadang selalu serempak mengiyakan.
Orang-orang Banda Gadang tak pernah
berhitung tentang anak-anak yang lahir di sana. Beberapa tahun terakhir,
perempuan susah bisa hamil di sana. Tiap sebentar air tergenang, mau bagaimana
pula membuat anak. “Usai banjir kemarin, aku kedinginan. Celakanya, istriku
juga ikut-ikutan meriang,” ujar Tunuih suatu ketika kepada Tambun.
“Sesekali kau ajak istrimu jalan-jalan
keluar, Tunuih! Biar lekas kau punya anak,” balas Tambun.
Apa benar, kalau buat anak di luar bisa
langsung jadi?” Tunuih penasaran.
“Lihat saja si Teka, anak gadis Angku
Marta. Anak gadisnya itu kan sering bermain-main di luar. Sekarang sudah
berbadan dua dia. Tapi, entahlah, tak tahu siapa laki-laki yang menghamilinya,”
jawab Tambun tak berani menduga-duga.
***
TADI malam, ada lima orang polisi datang ke Banda
Gadang. Orang-orang Banda Gadang merasa heran, kemarin tak ada air tergenang.
Mengapa pula polisi itu datang menyerahkan bantuan.
“Mana Kojek, mana Kojek, mana Kojek?”
Teriak seorang polisi bertanya kepada Sjaiful, Ketua RW di Banda Gadang.
Sjaiful gerogi. “Di ... di ... di sana, di
rumahnya!” lelaki itu menunjuk ke arah
sebuah rumah di ujung sebuah gang di perumahan yang ada di Banda Gadang.
Lima polisi berpakaian preman bergegas
ke rumah yang ditunjuk Ketua RW. Dua orang berjalan dari depan, seorang dari
belakang, dua orang lagi berjaga-jaga di ujung jalan. Mereka sedang melakukan
penyergapan. Dor, dor, dor! Pistol menyalak. Namun, tak ada sasaran yang kena
peluru. Pistol hanya ditembakkan ke arah langit.
“Kejar, kejar, kejar!” Teriak polisi.
Mereka lari ke semak-semak. Suara sepatu mereka kemudian hilang di tengah
kegelapan malam. Kojek berhasil melarikan diri. Polisi hanya menemukan sebuah
bungkus plastik kecil berisi daun kering yang dihaluskan. “Ah, cuma ganja!”
Celutuk salah seorang polisi itu dengan muka masam. Mereka berharap malam itu
bisa mendapatkan kokain atau heroin sekalian.
Orang-orang Banda Gadang sudah tahu
Kojek adalah pengedar. Tapi, itu tak masalah. Selama ini, ia tak pernah menjual
kepada anak-anak muda di Banda Gadang. Dengan apa pula anak-anak muda di sana
membeli ganja. “Bagaimana kalau ditukar dengan sekardus mi instan atau
sekeranjang pakain bekas layak pakai?” Tanya Kutar, pemuda pengangguran di
Banda Gadang suatu ketika datang kepada Kojek.
“Hahaha!” Kojek tertawa lebar. “Tuh,
lihat di bawah lemari! Sisa mi instan dari pembagian tadi siang belum habis,”
ujar Kojek kepada Kutar.
***
“Keluar, keluar! Keluar kau, Sjaiful!” Teriak orang-orang
dari jalan di seberang pekarangan rumah Sjaiful. Orang-orang Banda Gadang
datang dengan wajah penuh amarah. Dalam kerumunan, sudah tampak Mardi, Malin,
Mansur, Marwan, dan Mak Katuih. Kelima laki-laki itu berteriak sambil
mengacung-acungkan parang.
Kemarin, ada rombongan yang mengirimkan
bantuan. Sjaiful, Ketua RW di Banda Gadang menerimanya di lapangan tempat
pengungsian. Bantuan yang diterima bermacam-macam. Tak seperti sembako, mi
instan, dan baju bekas yang biasa diterima orang-orang Banda Gadang. Ada buah
kurma, apel, buah kiwi, yogurt, semuanya produk impor. Ada mainan
anak-anak, susu untuk amak-amak, dan
pakain bagus-bagus, bermerek semua. Ada sepuluh keranjang besar. Sjaiful
menyimpannya di dalam tenda besar.
Buyuang Lepa tadi siang datang ke tenda
besar. Ia ingin meminta sebuah apel atau sekantong kurma. Buyuang Lepa ingin
memberikan buah itu kepada anaknya, Upiak. Seumur-umur, anaknya itu tak pernah
merasakan buah impor. “Tapi, sesampai di tenda besar, aku tak menemukan
apa-apa. Semuanya hilang,” ujar Buyuang Lepa. Kabar cepat tersebar. Orang-orang
Banda Gadang menuduh Sjaiful melarikan bantuan.
“Bapak tak ada di rumah,” ujar Lastri,
istri Sjaiful.
“Hah jangan percaya!” Teriak sebuah
suara. Laki-laki yang berkumpul merengsek masuk ke rumah Sjaiful. Seisi rumah
disiginya. Ada lelaki iseng yang membanting-banting meja. Foto Sjaiful di
dinding kamar yang sudah usang tak lepas dari amukan kemarahan. Foto itu
dibanting ke lantai. Ya, pecah!
Lastri menangis sejadi-jadinya. Kalau
tahu begini kejadiannya, ia memilih lari saja ke kampung halamannya. Di
kampungnya, di pedalaman Pesisir Selatan, semuanya baik-baik saja. Tak ada
kerusuhan, tak ada orang-orang marah, tak ada air tergenang. “Berhenti,
berhenti! Tolonglah!' Teriak Lastri memelas.
Sjaiful melarikan diri. Orang-orang
Banda Gadang tetap berjaga-jaga di ujung jalan. Mereka berharap, Sjaiful pulang
untuk menjemput anak dan istrinya. Saat itu, mereka menangkap. Kalau
tertangkap, mereka akan langsung menghajar. Kesalahan Sjaiful sungguh tak bisa
dibiarkan oleh orang-orang Banda Gadang.
“Tolong, tolong, tolong!” Teriak sebuah
suara merintih dari kegelapan malam di tepi sungai di belakang perumahan di
Banda Gadang. Suara itu milik Teka, anak gadis Angku Marta. Teka berjalan
tertatih-tatih dengan darah segar mengalir di sela-sela celana ketat yang
dipakainya.
“Ah, biarkan saja! Pasti dia sudah
membuang bayinya di tepi sungai,” ujar Mansur kepada orang-orang yang berjaga.
Orang-orang Banda Gadang memang sudah biasa melihat bayi-bayi yang dibuang dan
tersangkut di sana.
“Tolong, tolong, tolong!” Satu suara
lagi dari arah tepi sungai. Kali ini milik Upiak, anak Buyuang Lepa.
“Biarkan saja. Pasti anak Buyuang Lepa
itu menjerit sedih karena tak dapat apel dan buah kurma,” ujar Mak Katuih pula
kepada orang-orang yang berjaga di ujung jalan.
Suara Upiak semakin pelan. Sesudahnya
hilang, seperti ditelan pekatnya malam. Sebentar kemudian suara gemuruh datang
dari tepi sungai. Padahal, tadi siang tak ada guntur, apalagi hujan. Air besar
tiba-tiba menghantam Banda Gadang. Kali ini tidak sekadar air tergenang. Airnya
menjulang tinggi mencapai pohon rambutan. Apa saja yang menghalang, dihantamnya
hingga tumbang. Rumah-rumah di Banda Gadang rata dengan tanah. Sementara,
orang-orang Banda Gadang, hilang entah ke mana.*
Padang,
Desember 2014



Komentar
Posting Komentar