Nyanyian Anggau

Cerpen A.R. Rizal



ENTAH mengapa, Anita tiba-tiba membenci laut. Ia marah kepada ombak yang mendebur pasir putih di tepian pantai. Gadis itu benci kepada gelombang yang mengombang-ambing induk camar yang mencari ikan-ikan kecil untuk sarapan sang anak. Anita tak ingin melihat lautan. Namun, ia tak bisa berpaling. Di seluruh penjuru mata angin, samudera mengurungnya.

“Kamu ikut kan ke pantai?”

“Kapan?”

“Petang nanti.”

Anita menggeleng. Baru kali ini ia melewatkan pesta para bujang dan gadis. Di musim penghujan, anggau-anggau bermigrasi ke tepian pantai. Anggau jantan menjemput anggau betina. Mereka berkembang biak di musim anggau. Di musim itu pulalah gadis dan bujang mencari pendamping hidup. Mereka mencari pasangan sambil menangkap anggau.

“Usiamu sudah matang. Pergilah ke pantai.” Margaret memberi perintah kepada anak gadisnya. Mata perempuan itu terasa bermiang melihat Anita membuang-buang waktu di uma.

“Aku hendak memberi makan sako ilo’, Ina.” Anita cuma mencari-cari alasan. Hewan bertubuh tambun itu tak perlu diberi makan. Ia bisa mencari makan di mana saja, memakan apa saja.

“Sudahlah.” Margaret menyambar ember kecil dari genggaman tangan Anita. “Tak ada yang mesti kau kerjakan lagi di rumah ini.” Margaret harus menggunakan cara-cara tegas kepada anak gadisnya itu.

“Iya, iya, Ina. Aku berangkat.” Dengan berat langkah, Anita pergi meninggalkan uma.

Pantai ada di depan mata, tapi Anita mengambil arah yang lain. Ia berjalan ke arah ladang. Melewati semak-semak. Di ujung jalan tanah, terpampang halaman yang luas. Halaman sekolah yang akan ditinggalkan Anita.

Ada beberapa anak laki-laki sedang berlarian di lapangan. Mereka bermain menggunakan bola plastik. Permainan yang sederhana, tapi cukup untuk menciptakan sedikit keceriaan di wajah anak-anak itu. Kalau tak canggung bersama anak laki-laki, pastilah Anita ikut bermain bola. Namun, gadis itu memilih pergi ke pekarangan belakang. Ada taman kecil di sana. Anita hendak bermain dengan bunga-bunga.

“Arini!” Anita memanggil seorang gadis yang sedang memetik anggrek.

“Hei, kamu di sini juga?” Arini sangat senang dengan kedatangan Anita.

“Kamu lagi ngapain?”

“Tak ada. Cuma membersihkan bunga-bunga ini. Kalau tak dibersihkan, mereka tak bisa berkembang dengan baik.”

Anita membantu Arini merawat bunga-bunga. Kedua gadis itu ikut menanam bunga di pekarangan belakang sekolah. Bunga-bunga ditanam persis di dekat ruang kelas. Taman bunga yang paling bagus mendapat penghargaan dari pihak sekolah.

“Kapan kamu ke seberang?”

“Besok.”

“Cepat sekali. Rasanya baru kemarin kita jadi teman sekelas.”

“Cepat apaan. Kita kan sekelas sejak SD. Bertahun-tahun itu lamanya.” Arini menapik perkataan Anita.

“Eh, iya. Maksudku, cepat sekali waktunya kita berpisah.” Anita tampak canggung dengan perkataannya.

Arini tertawa-tawa kecil melihat Anita. Ada yang lucu di raut gadis itu. “Kamu kan lanjut ke tanah seberang. Nanti kita ketemu lagi kok. Kita kan kuliah di kampus yang sama.”

Anita teringat dengan janji pertemanannya dengan Arini. Sahabatnya itu akan kembali ke kampung halaman. Kedua orang tuanya sudah menyelesaikan masa bakti sebagai abdi negara di pulau. Anita akan menjumpai Arini di tanah seberang. Ia berjanji akan kuliah di sana. Ia pun sudah memilih kampus yang sama dengan Arini. Namun kini, Anita gamang dengan pilihannya.

Saat ini bukan waktu yang tepat untuk ke tanah seberang. Sejak pohon-pohon di pulau tak bisa lagi ditebang, perjalanan ke tanah seberang menjadi sesuatu yang sangat berat. Apalagi, untuk menetap lama dan menyambung pendidikan. Biayanya mahal. Anggau-anggau yang dipanen di musim anggau takkan sanggup untuk membiayai kuliah Anita.

“Iya. Tunggu aku di tanah seberang ya.” Anita mencoba menghibur Arini. Di dalam hati, gadis itu menyimpan kesedihannya sendiri.
***
ANAK-anak gadis di pulau tak bermimpi seperti Anita. Hidup bagi mereka sangatlah sederhana. Tamat SMA saja sudah lebih dari cukup. Yang terpenting bagi anak gadis adalah berpandai-pandai di musim anggau. Bila mendapatkan pasangan yang tepat, masa depannya selesai sudah. Anita saja yang mempersulit hidupnya. Ingin ke tanah seberang, sekolah tinggi-tinggi, impiannya melebihi mimpi anak-abak gadis di pulau.

Margaret tak melarang anak gadisnya ke tanah seberang. Segala sesuatunya diputuskan oleh Muntei. Sebagai kepala keluarga, Muntei yang bertanggung jawab membiayai kebutuhan anak gadisnya di tanah seberang. Margaret tahu, Muntei takkan sanggup menanggung beban biaya. Karena itu, Margaret takut dengan kepergian Anita.

“Kalau sampai di seberang, kau akan jadi anak hilang. Kau harus bisa hidup dengan dirimu sendiri.”

“Aku akan bekerja untuk memenuhi kebutuhanku, Ina.”

Margaret tersenyum getir. Anak gadisnya itu tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan di tanah seberang. “Apa yang bisa kau kerjakan di sana? Pekerjaan-pekerjaan di tanah seberang sama sekali tak ada di pulau.”

Margaret takut anak gadisnya menjadi gelandangan. Atau, lebih parah lagi. Ia banyak mendengar kabar burung yang sampai ke pulau dari tanah seberang. Banyak orang-orang pulau yang mengerjakan segala macam yang bisa dikerjakan di tanah seberang. Menjadi maling, menjadi rampok, jadi pembunuh, atau menjadi lonte.

“Banyak ilmu dan kepandaian yang aku dapatkan di sekolah. Ina tenang saja, aku akan baik-baik saja di tanah seberang.”

Anak gadisnya sudah besar. Margaret tak bisa melarang Anita untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Dengan berat hati, perempuan itu menyetujui keinginan Anita pergi ke tanah seberang.
***
KAPAL sudah berlabuh sejak kemarin. Orang-orang bersiap-siap di dermaga. Kapal akan membelah lautan menuju tanah seberang.

“Cepatlah! Nanti kau tertinggal.” Margaret memanggil di depan uma.

“Ya, Ina.” Anita muncul dengan wajah acak-acakan. Ia tak sempat merapikan diri.

“Setidaknya kau sisir rambutmu ini.” Margaret merapikan rambut Anita dengan belaian tangan.

“Aku tak sempat membersihkan diri Ina.”  Anita hendak kembali ke dalam uma. Setidaknya, ia bisa mencuci muka dan rambutnya yang panjang tergerai.

“Tak usah. Jangan lagi kau berbalik ke belakang. Kau kini gadis dewasa. Kau bebas menentukan nasibmu sendiri di tanah seberang.” Ada rasa kehilangan di dalam diri Margaret. Namun, dalam waktu bersamaan ada rasa lapang karena bebas dari beban.

Margaret mengantar Anita ke dermaga. Seharusnya Muntei yang melakukan. Namun, laki-laki itu sudah lepas tanggung jawabnya. Lagi pula, Muntei masih tertidur pulas. Pasti laki-laki lelah dengan beban yang dilepaskannya sepanjang malam.

Ina tak perlu mengantar.”

Margaret tak membantah perkataan Anita. Memang begitulah seharusnya. Namun, tak ada lagi arti keharusan itu bagi Margaret. “Cepat naik ke kapal!”

Anita melangkah memasuki kapal. Melewati lambung, lalu ke buritan. Anita tak berhenti di sana. Ia terus melangkah ke geladak. Di sana ia bisa melihat lautan lepas dan tanah seberang yang tampak dalam fatamorgana.

“Baru pertama kali ke tanah seberang ya?” Seorang laki-laki berumur dengan logat asing menyapa Anita.

“Iya.” Anita mencoba bersikap ramah.

Laki-laki berumur itu terdiam sejenak. Matanya memperhatikan Anita dengan awas. Setelah itu, ia membuang muka. “Berarti kamu sudah dipakai.” Laki-laki itu berkata dengan gumam. Setelah itu pergi menjauh.

Anita mendengar jelas gumam laki-laki asing itu. Ia tak marah. Tak pula merasa dilecehkan. Sebelum dewasa, anak perempuan adalah milik ayahnya. Orang-orang dari tanah seberang percaya kalau anak perempuan di pulau dipakai oleh ayahnya untuk menandai dia telah jadi gadis dewasa. Benar atau tidaknya kepercayaan itu, Anita tak peduli. Biar nyanyian anggau saja yang menyampaikan. Yang dipikirkan Anita hanyalah tanah seberang. Ia telah melakukan hal besar untuk menuju ke sana. Tak ada lagi jalannya untuk menoleh ke belakang.*

Padang, Desember 2019
             

Komentar

Postingan Populer