Menantu yang Membenci Kucing
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
SUDAH
tiga hari, Sutinah risau. Entah makan apa kucing itu. Padahal, ia membutuhkan
makanan yang banyak. Kucing itu sedang hamil tua.
“Manis, Manis, Manis!” Sutinah
memanggil-manggil.
Meong, meong, meong! Suara itu berasal
dari loteng. Ternyata, kucing betina yang dipanggil si Manis bersembunyi di
loteng kamar Sutinah.
“Ayo, ke sini Manis!” Sutinah
menjulurkan tangannya ke sebuah lubang yang ada di loteng kamarnya. Si Manis
mengusap-usapkan kepala ke tangan Sutinah. Kucing itu pun pasrah digendong dari
tempat persembunyiannya.
Si Manis dibawa ke dapur. Sutinah sudah
menyiapkan nasi yang dicampur potongan ikan. Sutinah menyuguhkannya khusus
untuk si Manis. “Makanlah!” ujar Sutinah sambil kembali mengusap-ngusap kepala
si Manis.
“Ibu nih, di luar banyak makanan sisa
yang terbuang,” ketus Wati, anak perempuan Sutinah yang tiba-tiba muncul dari ruang
tengah.
Sutinah membalas dengan tatapan masam.
Sebelumnya, ia mendengar anak perempuannya yang baru menikah itu berbisik
dengan Bani. Rumah Sutinah terlalu kecil, sehingga ia nyaris tak bisa untuk
tidak mendengar orang berbisik. Bani membisikan tentang sikap Sutinah yang
dinilai aneh. Karena bisikan itu, Wati mulai berani berbicara tentang kucing
kepada Sutinah.
“Kucing ini sudah ada sebelum kau lahir!”
Sutinah berbicara keras kepada Wati. Ucapannya itu pastilah didengar oleh Bani.
Entah apa yang akan dipikirkan menantunya itu. Sutinah menemukan Bani tak ada
lagi di ruang tengah. Mungkin ia pulang sebentar ke rumah orang tuanya. Sejak
hari pernikahan, Bani memang tak pernah keluar rumah. Sejak saat itu pula,
Sutinah tak pernah melihat si Manis, kucing betina kesayangannya.
Si Manis itu kucing penyendiri. Ia tak
suka keramaian. Sutinah hafal betul dengan tabiat kucingnya itu. Jangankan
keramaian, melihat orang bertambah saja di rumahnya, si Manis memilih untuk
menjauh. Kalau Sutinah sedang menggelar hajatan di rumah, kucing itu bisa tak
pulang berhari-hari.
“Perangaimu memang mirip si Manis,” ujar
Sutinah setiap kali berbicara dengan kucingnya itu. Maksud ucapan Sutinah
adalah perangai si Manis mirip dengan si Manis, ibunya si Manis. Sutinah
memberi nama si Manis untuk setiap kucing betinanya. Si Manis yang sekarang
adalah generasi kesepuluh. Itu waktu yang melebihi usia Wati.
“Ibu lebih sayang kucing daripada
menantu sendiri!”
Wati protes kepada Sutinah ketika Bani
keluar rumah tanpa pamit kepadanya. Sutinah membalas dengan senyum hambar. Wati
jadi uring-uringan. Jauh-jauh hari, ia sudah mengatakan kepada Sutinah kalau
Bani tidak suka kucing. Wati berharap kehadiran Bani akan mampu mengubah
perangai ibunya. Ternyata tidak! Sayangnya Sutinah kepada si Manis tak kunjung
berubah. Seperti sayang yang tak lekang karena panas dan tak lapuk karena
hujan.
***
BANI
pulang keesokan harinya. Sutinah kembali menemukan si Manis tak ada di rumah.
Ia mencari ke atas loteng. Kosong! Di ruang tengah, ruang depan, halaman
belakang, tak ada juga. Di dapur, meongan tiga ekor anak kucing membuat Sutinah
risau. Ia mendengar meongan itu seperti tangis anak yang kehilangan induknya. Si
Manis baru saja melahirkan. Ia meninggalkan anak-anaknya begitu saja. Padahal,
anak-anak itu akan tumbuh sehat dengan air susu ibunya. Sutinah bisa saja
memberikan susu kental manis. Tapi, anak-anak kucing itu mesti menunggu
beberapa hari untuk bisa meminum susu kental manis. Di hari ke-14, barulah ia
bisa membuka mata dan mengenal minuman selain air susu ibunya.
“Manis, Manis, Manis!” Teriak Sutinah
memanggil-manggil. Panggilan itu terdengar oleh Bani yang duduk berdua dengan
Wati di ruang depan. Laki-laki itu memandang sinis ke arah Sutinah yang berlalu
di hadapannya. Kesal hati Bani. Sutinah sama sekali tak bertanya perihal
kepergiannya kemarin.
“Sabar, sabar, Bang! Begitulah Ibu,”
ujar Wati sambil mengusap-usap dada Bani.
“Ke mana kucing itu?” Sutinah bertanya
sendiri sambil mengarahkan wajah ke arah Wati. Wati menggelengkan kepala.
Sementara, Bani yang duduk di sebelahnya makin tak kuasa menahan geram.
“Biar saya cari di luar!” Balas Bani
sambil mengangkat tubuhnya.
Wati memegang tangan Bani. “Abang di
rumah saja!”
Bani menatap ke arah Wati. Dengan manja,
perempuan itu mengerdipkan matanya sebanyak tiga kali. Bani tersenyum lebar.
Baru sehari ia tak pulang. Tapi, seperti telah berjalan bertahun-tahun lamanya.
“Pus, pus, pus!” Sutinah memanggil
sekeras-kerasnya. Bani dan Wati tersentak. Keduanya bergegas ke ruang tengah.
Sesampai di ruang tengah, mereka berjalan lima langkah ke arah kanan. Di sana
ada kamar yang di pintunya masih terpasang tirai transparan berwarna putih.
Disingkapnya tirai itu, dibukanya pintu kamar. Pintu ditutup. Selepas itu, Bani
dan Wati tak keluar kamar hingga pagi menjelang.
***
PAGI-pagi
sekali, Sutinah sudah memanggil-manggil si Manis. Kucing itu biasanya
menjilat-jilat kaki Sutinah untuk membangunkannya. Sutinah sudah paham saja.
Kucing kesayangannya itu hendak meminta makan.
“Ayo, ayo makan!” Teriak Sutinah.
Alangkah terkejutnya ia. Bukan meongan yang menyahut, malah gonggogan yang
datang.
Guk, guk, guk! Sutinah terperanjat. Ada
seekor anjing jantan di pekarangan belakang rumahnya. Sutinah lekas mengambil
tangkai sapu. Tangkai sapu itu akan digunakan untuk menghalau anjing jantan.
Tapi ketika pintu belakang dibukanya, Sutinah malah mendengar siulan dari
dalam. Bani muncul sambil menjentikkan jemarinya.
“Bagus! Anjing pintar.”
Anjing jantan itu lewat di kaki Sutinah.
Perempuan itu menggeliat. Ia tak ingin tersentuh tubuh anjing itu, apalagi
terkena air liurnya. Bagi Sutinah, air liur anjing adalah najis.
“Anjing siapa itu?”
“Anjing saya, Bu!”
Benar pengakuan Bani. Anjing itu begitu
mengenalnya. Ia langsung mendekati tubuh Bani. Laki-laki itu membungkukkan
tubuhnya. Kepala si anjing dielus-elus, si anjing mengerak-gerakkan ekornya.
Anjing itu menggonggong dua kali. Kakinya dinaikkan ke atas bahu Bani. Bani
tertawa-tawa kecil ketika si anjing menjilati wajahnya.
Astaga! Sutinah mengelus dada. Ia
mengira, anak perempuannya barusan tidur dengan najis.
“Saya tak suka ada anjing di rumah ini!”
Sutinah berteriak sejadi-jadinya. Teriakannya mengagetkan Wati yang tiba-tiba
muncul dari dalam kamar dengan mata yang masih merem.
“Ada apa, Bu?”
“Kan sudah saya bilang, saya tak suka
ada anjing di rumah ini.” Sutinah mengulangi teriakannya dengan suara yang
lebih rendah.
“Apa salahnya? Anjing juga binatang
peliharaan, sama dengan kucing.”
“Karena itu, saya tak suka! Anjing itu
akan menakutkan si Manis.”
Wati kehabisan kata-kata untuk berdebat
dengan Sutinah. Ia mendekat ke arah Bani untuk menenangkan hatinya. Bani tak
pernah berani berbicara dengan Sutinah. Tapi, Wati tahu persis kemarahan suaminya
itu melebihi kata-kata yang bisa diucapkannya.
“Abang, biar Wati saja yang membawa
anjing ini keluar.”
***
TENGAH malam, Sutinah dibangunkan
oleh suara ribut-ribut. Ia mengira, si Manis bertengkar dengan anjing milik
Bani, menantunya. Kalau kucing dan anjing bertengkar, suaranya memekakkan
telinga. Keduanya saling mengeong dan menggonggong. Tapi, yang terdengar oleh
Sutinah adalah suara makian. Mana mungkin kucing dan anjing bisa saling memaki.
“Ibumu memang tak pernah suka kepadaku!”
Bani berteriak. Laki-laki itu menumpahkan kemarahannya kepada Wati. Padahal,
Wati tak tahu apa-apa tentang kematian anjing kesayangan suaminya itu.
Anjing itu mati sore tadi. Bani mengira,
anjingnya mati diracun orang. Orang yang bisa melakukan itu adalah Sutinah.
Sutinah tentu saja membantah tuduhan Bani yang disampaikan melalui Wati.
Jangankan meracuni anjing, binatang yang bertubuh besar, menyakiti kucing yang
bertubuh lebih kecil saja, Sutinah tidak tega.
“Barangkali anjing itu kalah berkelahi
dengan si Manis,” ujar Sutinah kepada Wati.
Wati meraung sejadi-jadinya. Mana
mungkin ia mengulangi perkataan Sutinah kepada Bani. Suaminya itu akan terlihat
bodoh mendengar jawaban Sutinah. Wati akhirnya membuat alasan, anjing itu mati
dilempar batu oleh tetangga di belakang rumah. Bani marah besar dengan alasan
Wati. Itu sama saja dengan menyuruhnya berkelahi dengan tetangga di belakang
rumah. Padahal, Bani tahu di belakang rumah mertuanya itu tinggal seorang
tentara.
“Ditembak kepalaku ini, baru ibumu
senang. Hah!” Bani membelalakkan mata sambil meletakkan ujung jari ke
keningnya. Wati ciut. Ia hanya bisa menangis sepanjang malam, hingga pagi
menjelang.
***
SI MANIS kembali
tak ditemukan. Itu sungguh membuat Sutinah heran. Tak biasanya, kucing betina
itu pergi ketika Bani, menantunya tak ada di rumah. “Manis, Manis, Manis!” Tak
ada jawaban. Sutinah hanya mendengar ngeongan tiga anak kucing dari arah dapur.
Si Manis benar-benar hilang. Bani
membuktikan ancamannya tadi malam. Sutinah mengira, menantunya itu takkan
berani membuang si Manis, kucing betina kesayangannya. Bani memang marah atas
kematian anjingnya, tapi untuk berbicara dengan Sutinah saja, ia tak sanggup.
Laki-laki itu berbuat dalam diam.
Di tengah malam, Sutinah mendengar si
Manis mengeong. Tapi, Sutinah seperti berada dalam mimpi dan terjaga. Ia
mengira itu suara anak-anak kucing. Mereka memang selalu mengeong ketika
didatangi ataupun ditinggalkan induknya. Sutinah melanjutkan tidur lelap. Bani,
menantunya dengan leluasa melampiaskan kemarahannya.
Si Manis dimasukan ke dalam karung. Bani
membawanya pergi, entah ke mana. Setelah itu, si Manis tak pulang-pulang.
Demikianpun dengan Bani. Itulah yang dirisaukan Sutinah. Ia mengenang kejadian
yang sama beberapa tahun lalu. Ketika itu, Badrun, suaminya memasukan si Manis
ke dalam karung dan membawanya pergi. Si Manis tak pernah kembali dan
meninggalkan seekor anak kucing betina. Demikian pun dengan Badrun. Ia
meninggalkan Wati, anak perempuan Sutinah yang tak pernah mengenal wajah ayah
kandungnya.*
Padang, Februari 2015



Komentar
Posting Komentar