Matinya Jawinar
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
TITAMAR sedang menyeruput kopi
jantan di lapau Tek Sela. Lapau beratap rumbia yang terletak di dekat jembatan,
persis di pinggir jalan besar. Sambil meraba godok ubi yang tersaji di atas pinggan
kanso, Titamar memperhatikan jalan besar. Mata berkatarak laki-laki uzur
itu selalu awas.
"Bagaimana hasil
melaut Engku tadi?" Tek Sela bertanya sekadar membunuh sepi di lapaunya.
"Apa?" Titamar
tak mendengar persis perkataan Tek Sela.
Perempuan menjanda itu
memasang muka masam. Seperti penjojo yang dianggurin bertubi-tubi. "Tak
ada apa-apa." Tek Sela melempar taplak meja ke kursi panjang. Perempuan
itu sudah tersurut hatinya.
Titamar tak menghiraukan
Tek Sela. Laki-laki uzur itu terlalu sibuk dengan penglihatannya. Ia melihat
Jawinar melenggak-lenggok di jalan besar.
Laki-laki itu meneguk
kopi sekali lagi. Tiba-tiba, ia terperanjat. Ampas kopi berselemak di mulutnya.
"Hei, Sela!" Titamar memanggil Tek Sela untuk meminta dibuatkan kopi
jantan setengah lagi.
Tak ada balasan dari Tek
Sela. Perempuan itu menghilang di belakang lapaunya. Yang terdengar kemudian
adalah teriakan orang-orang di jalan besar.
"Jawinar!"
"Jawinar oh
Jawinar!"
Mendengar nama itu
diteriaki, darah Titamar langsung tersirap. Dadanya berdetak kencang. Ia
bangkit dari kursi panjang, menjulurkan kepalanya ke arah jalan besar.
Di seberang jembatan,
orang-orang berkerumun. Titamar tak bisa melihat dengan jelas, apa gerangan
yang terjadi. Laki-laki itu kemudian mendekat ke arah kerumunan.
"Menyingkir!"
Titamar berteriak di tengah kerumunan.
"Jangan
dilihat!" Sebuah suara terdengar dari kerumunan. Hanya seseorang yang
menyela.
Titamar terus berjalan di
tengah kerumunan. Seorang laki-laki bertubuh tambun menghalangi penglihatanya.
"Kalau kau tak sayang dengan lemak diperutmu itu, menyingkirlah."
Laki-laki bertubuh tambun
kecut. Dengan tergopoh-gopoh, ia menyingkir dari pandangan Titamar.
"Jawinar...! Oh
tidak." Titamar berteriak histeris melihat sesosok tubuh yang tergeletak
di atas aspal.
"Sudah kubilang,
jangan melihat." Seseorang menggerutu di tengah kerumunan.
Jawinar ditabrak oleh cigak baruak yang melaju kencang. Ia
mati di tempat. Orang-orang tak
berani mengangkat tubuhnya dari jalanan. Orang-orang itu menunggu aparat berwenang
datang dari kabupaten. Namun, orang-orang merasa berkewajiban untuk menghakimi
laki-laki muda yang membawa cigak baruak.
Pemuda kerempeng itu diseret ke balai kampung setelah sebelumnya dihadiahi
ketupat bengkulu.
"Kau tahu, tak satu
saja yang mati. Kau juga membunuh anak, cucu, cicit. Kau membunuh satu
generasi." Titamar menghakimi pemuda kerempeng dengan amarah yang tak
terbendung.
Pemuda kerempeng
menunduk. Ia menyembunyikan wajahnya yang penuh lebam.
"Oi, tengadahkan
mukamu. Kau ini laki-laki." Seorang laki-laki yang berkerumun di balai
kampung ikut menghakimi pemuda kerempeng.
"Apa dalihmu?
Bicaralah." Titamar memaksa.
Pemuda kerempeng meringis
kesakitan ketika membuka mulutnya. Mulut itu habis ditabok berkali-kali.
Barangkali, rahangnya sudah tanggal. "Bukan aku yang salah."
Titamar membelalakkan
mata. "Kau yang di belakang stir. Orang-orang melihatnya."
"Betul."
"Aku saksinya."
Laki-laki bertubuh tambun muncul dari kerumunan.
"Aku berjalan di
jalanku. Tak tampak olehku yang melintas tiba-tiba." Pemuda kerempeng
dengan sedikit tenaga tersisa mencoba membela diri.
"Hoh, kau menyalahkan Jawinar?” Titamar
membusungkan dada. “Belum terpikir oleh orang untuk membuat cigak baruak yang kau kendarai itu,
belum ada jalan beraspal itu, Jawinar sudah bernenek-moyang di tempat ini.”
Pemuda kerempeng tergigit lidah. Sia-sia
pembelaan dirinya. “Sungguh, aku tak melihatnya.” Pemuda kerempeng memelas
kepada Titamar.
“Matamu itu tak kau pakai." Titamar meletakkan
ujung jarinya di jidat pemuda kerempeng. "Jangan-jangan, kau habis minum
tuak."
Seorang laki-laki
mendekatkan hidungnya ke arah pemuda kerempeng. Ia mengendus-endus. "Hus,
seperti bau pelimbahan."
"Hukuman untukmu
bakal berlipat-lipat." Titamar kembali melontarkan ancaman.
Tubuh pemuda kerempeng tiba-tiba menggigil.
Terpanca air seni di dalam celananya.
***
HUKUMAN untuk pemuda kerempeng tak main-main. Selusin
ekor kerbau. Kalau dirupiahkan, bisa membeli sebuah peternakan. Berat atau
ringan, hukuman harus dijalankan. Pemuda kerempeng terpaksa menjual cigak baruak yang menjadi sumber mata
pencariannya selama ini. Kalau denda tak dibayar, nasib sial akan berbalas
kepada anak-keturunan. Pemuda kerempeng tak memikirkan dirinya sendiri.
Suatu
petang, pemuda kerempeng tampak hilir-mudik di jalan kampung. Ketika
duduk-duduk di lapau Tek Sela, Titamar melihat laki-laki muda itu di jalan
besar. Berjalan agak ke tengah, seperti orang bingung.
“Aku
dengar, Engku mendapat hari ini. Apa tak ada ikan agak seplastik kecil
untukku?” Tek Sela menyapa Titamar yang sedang menikmati gogok ubi.
Titamar
tak menjawab tanya. Laki-laki itu sibuk memperhatikan jalan besar. “Apa yang
kau katakan tadi?”
Tek
Sela memasang wajah menggerutu. “Aku bukan perempuan pandir. Aku takkan
mengulang-ulang ucapan.”
“Kuperhatikan
dari kemarin perasaanmu itu tak ada senangnya. Bergejolak, seperti hempasan
ombak di batu karang.”
“Aku
memang singa betina yang sedang kesepian. Seperti gunung merapi yang siap
memuntahkan lahar.” Tek Sela membelalakan kedua bola matanya ke arah Titamar.
Laki-laki itu beringsut ke belakang. Ketakutan sekali dia.
Mujur,
Tek Sela bergegas pergi ke belakang lapaunya. Meninggalkan Titamar seorang
diri. Laki-laki itu kembali bisa menikmati aktivitasnya memperhatikan
orang-orang yang berlalu-lalang di jalan besar.
“Astaga!”
“Ada
yang melompat ke muara.”
“Tolong,
tolong. Dia tak bisa berenang.”
Orang-orang
berteriak di jalan besar. Dekat jembatan. Mereka serentak melihat ke dasar
muara. Titamar mengikuti orang-orang itu, memperhatikan dari atas jembatan.
“Cepat, tolong dia.” Titamar memerintah orang-orang yang berdiri di pinggir
jembatan.
“Kenapa
tak Engku saja?” Seorang perempuan berbadan bongsor protes kepada Titamar.
“Kalau
aku mencebur ke muara, satu lagi yang akan tenggelam.”
Perempuan
berbadan bongsor menggerutu dalam hati. Bagaimana mungkin laki-laki yang
kerjanya tiap hari melaut tak bisa berenang? Perempuan berbadan bongsor tak
tahu kalau Titamar itu hanyalah nelayan penarik pukat. “Julurkan sesuatu.”
Titamar
memasang wajah memelas. “Percuma. Laki-laki itu sudah tenggelam. Memang
keinginannya mati tenggelam.”
“Setidaknya,
selamatkan jasadnya.”
“Tunggu
saja sebentar. Jasadnya akan mengapung. Air pasang akan menghempaskannya ke
tepian.”
Benar
yang dikatakan Titamar. Jasad pemuda kerempeng terdampar di tepi muara.
Beberapa laki-laki mengangkat jasad itu dari tanah berlumpur. Orang-orang
kemudian menggotong tubuh yang kaku ke balai kampung. Pemuda kerempeng
disemayamkan agak sebentar sampai ada yang menjemput jenazahnya.
“Kasihan
pemuda itu.” Seseorang berguman di balai kampung. Titamar mendengar dengan
jelas.
“Kau
menyalahkan aku?” Titamar berteriak lantang di antara orang-orang yang
berguman.
Pemuda
kerempeng itu mati bunuh diri dengan menjebur ke dalam muara. Ia putus asa
karena hukuman yang harus ditanggungnya karena menabrak Jawinar. Membayar denda
atas hukuman itu sama saja dengan bunuh diri. Orang-orang yang berkumpul di
balai kampung paham akan hal itu. Namun, tak seorang pun yang berani menantang
kemarahan Titamar.
***
SUDAH tiga hari setelah kematian Jawinar. Sekarang
sudah masuk hari keempat. Tak ada acara menjelang kematian. Titamar sama sekali
tak berencana untuk membuat pesta atas kedukaannya. Laki-laki itu sibuk di dekat
kandang yang terletak di pekarangan belakang rumahnya.
“Sophia,
Sophia. Kemarilah kau.” Titamar memanggil seekor anak sapi yang masih menyusu
dengan induknya. Titamar baru saja membeli seekor sapi betina dewasa. Sapi
betina itu rencananya akan dijadikan induk pengganti bagi Sophia. Anak sapi itu
sedang bersedih hati karena ditinggal induknya yang mati ditabrak cigak baruak di jalan besar.*
Painan, Maret 2020



Komentar
Posting Komentar