Lelaki yang Menimba Air di Tengah Malam

Cerpen A.R. Rizal



TENGAH malam, terdengar suara orang menimba air. Semula, orang-orang di rumah kos-kosan sebelah masjid itu tak terlalu menghiraukan. Kos-kosan yang semula adalah tempat anak-anak mengaji tersebut dihuni oleh laki-laki muda yang berkuliah di salah satu perguruan tinggi agama. Anak-anak muda biasa mimpi basah. Kalau sudah begitu, mereka kucing-kucingan untuk mandi wajib. Memilih mandi tengah malam, menimba air dengan gayung, bukannya mandi dari cucuran keran. Akhir-akhir ini, hampir setiap malam terdengar suara timba. Orang-orang di rumah sebelah masjid saling memandang curiga.

"Aku juga sering mendengar orang menimba air di tengah malam. Itu sangat mengganggu sekali. Aku tak bisa tidur kalau mendengar suara." Badrun, laki-laki setengah abad yang menjadi garin di masjid lebih dahulu menyampaikan keluh kesahnya kepada orang-orang di sebelah masjid.

"Kami juga heran. Biasanya cuma sekali sepekan. Ini hampir tiap malam." Randu, mewakili orang-orang di sebelah masjid menjawab keluh-kesah Badrun.

"Aku maklum dengan kalian. Anak-anak muda, gairah masih membara. Aku waktu seumur kalian saja bisa berbini dua. Cuma, aku curiga. Bukan kalian yang bertanggung jawab dengan suara air ditimba itu."

"Maksud Pak Badrun?"

Badrun menghela napas dalam-dalam. Laki-laki itu sedikit ragu untuk bercerita kepada Randu. "Sebelum bangunan di sebelah masjid itu jadi kos-kosan, ada seorang laki-laki yang menumpang tidur di sana. Sepanjang hari, laki-laki itu merasa gerah dan kepanasan. Tiap sebentar ia mandi. Tak mengenal pagi, siang atau tengah malam."

"Lalu?"

"Laki-laki itu mati dalam kesendirian. Orang-orang yakin, ia mati karena paru-paru basah. Mandi tengah malam itu caranya untuk bunuh diri."

Randu menelan air ludah. Bagaimana mungkin, Badrun mempercayai hal yang tak masuk di akal itu. Bagaimana mungkin orang menjadi hantu gentayangan karena mati penasaran. Keyakinan Badrun sungguh menyesatkan. Tapi, Randu tak berani berdebat dengan laki-laki tua itu.
***
SUATU hari, Badrun pernah bercerita, jika ajalnya tiba, ia ingin dimakamkan di tanah pekuburan yang terletak di seberang mimbar. Kuburan itu membatasi masjid dan rumah yang dijadikan kos-kosan. Keinginan Badrun dikabulkan. Laki-laki itu dimakamkan di tanah pekuburan dekat mimbar masjid. Badrun mati karena penyakit paru-paru akut.

Tak lama setelah pemakaman Badrun, Randu tak kuasa untuk tak menyampaikan cerita Badrun tentang suara air ditimba di tengah malam. "Aku pikir, laki-laki tua itu mengarang ceritanya sendiri."

Pudin mati ketakutan mendengar perkataan Randu. Antara percaya dan tidak, tapi bagaimana pun rasa-rasa di dalam dirinya ikut terpengaruh. "Ketika hidup saja, aku sudah ketakutan dengan laki-laki itu Apalagi, ketika ia hidup setelah kematiannya."

Tiba-tiba, jam duduk yang ada di ruang tengah berdetak. Jarum besar menunjukan pukul 00.00. Anak-anak muda yang berkumpul di rumah yang dijadikan kos-kosan itu serempak terdiam. Mereka saling berpandangan dalam hening.

Sebuah suara memecah kesunyian. Suara air yang ditimba. Anak-anak muda itu langsung berhamburan. Masing-masing mengurung diri di dalam kamar.

Tok, tok, tok! Ada suara mengetuk pintu. Terdengar sekali lagi. Berulang-ulang. Hal itu membuat Randu penasaran. Anak muda itu membuka pintu kamar. Di kamar sebelah, ia melihat Pudin mengintip dari sela-sela daun pintu.

"Kau melihatnya?" Randu bertanya kepada Pudin dengan cara berbisik.

Pudin menggeleng. "Tak tampak siapa-siapa."

"Barangkali, ia berwujud seperti bayangan."

Brak! Pudin langsung menutup pintunya dengan sebuah tarikan keras. Randu nyaris mati berdiri mendengar hempasan daun pintu itu.

"Hei, kenapa kalian membiarkanku terkunci di luar? Tak ada yang mau membukakan pintu." Tiba-tiba suara muncul dari muka yang dijulurkan di sela-sela jendela kaca.

Alam. Randu melihat dengan jelas wajah anak muda itu. Wajah yang memelas, menahan dingin yang mulai merayap di tengah malam. Randu melangkah ke ruang depan untuk membukakan pintu.

"Kau yang tadi menimba air?"

"Aku mengambil wudhuk. Sudah hampir habis waktu Isya."

Alam bergegas menuju kamar. Anak muda itu sama sekali tak merasa bersalah dengan ulah yang telah dibuatnya.
***
KEJADIAN itu tak hanya berlangsung tengah malam. Dini hari, menjelang Subuh, ada suara air ditimba. Bergantian, setiap setengah jam.

Randu memberanikan diri untuk mengintip ke kamar mandi yang dekat dengan pemakaman. Tak perlu melihat di sela-sela pintu, cukup memperhatikan dari jarak tak beberapa jauh.

Tak beberapa lama, sebuah bayangan keluar dari kamar mandi. Di temaram lampu pijar di sudut masjid, bayangan itu tak terlihat jelas. Ketika mendekat ke arahnya, jelaslah bayangan itu manusia sebenarnya. "Pudin?" Randu memanggil anak muda itu dengan berbisik.

Pudin membuang muka. Anak muda itu bergegas masuk ke dalam rumah. Randu paham betul, Pudin membawa malu di mukanya.

Setelah Pudin, seorang anak muda lagi muncul dari kamar mandi. Seorang berikutnya bergantian. Randu mengenal betul anak-anak muda yang serumah dengannya. Ketika Subuh mendekat, tampaklah Alam keluar dari kamar mandi. Randu memberanikan diri mencegat anak muda itu.

"Apa yang kau lakukan di sana?"

"Mandi."

"Mandi Subuh-subuh begini?"

"Kalau tak mandi, tak bisa aku Subuh."

"Kau mandi wajib?" Randu bertanya heran.

Raut muka Alam seketika memerah mendengar pertanyaan Randu. "Kau kira aku ini tak normal?" Alam bergegas meninggalkan Randu dengan membawa kesal di dada.

Wajar saja Randu ragu dengan laki-laki itu. Di antara anak-anak muda yang serumah dengannya, Alam yang paling berbeda.

Suatu ketika tidur sekamar dengannya, Alam pernah mendekatkan tubuhnya. Randu menganggap anak muda itu sedang bermimpi indah. Ketika Alam memagut dirinya, Randu bereaksi keras. Anak muda itu disepaknya hingga terjungkang ke dinding. "Awas, kau berbuat macam-macam lagi!" Randu mengancam.

Setelah kejadian itu, Randu mengira semuanya akan baik-baik saja. Ternyata, tidaklah demikian. Ia sering melihat Alam masuk ke kamar berlainan. Ketika tengah malam, anak muda itu keluar untuk menimba air di kamar mandi dekat pemakaman.

Randu sekali pernah mengingatkan Alam atas perilakunya yang tak pantas. Tapi setiap kali menimba air, anak muda itu selalu punya alasan yang membenarkan perbuatannya.

"Setelah mandi, aku merasa suci." Keyakinan yang aneh.
***
SETIAP tengah malam, terdengar suara orang menimba air. Suara itu lebih menakutkan dari cerita Badrun tentang laki-laki yang mati penasaran karena penyakit paru-paru basah.*
Padang, Maret 2020

Komentar

Postingan Populer