Langsano
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
SUTAN Pamenan hendak merobohkan langsano di belakang
rumahnya. Tanah di sana akan diratakan. Sebuah rumah kecil didirikan untuk anak
gadisnya yang kembali dari rantau. Anak gadisnya itu sudah dilamar orang. Pesta
pernikahan dalam waktu dekat segera dihelat.
Gunjing dari mulut ke mulut tersebar.
Rencana dirobohkannya langsano menjadi kabar menggemparkan di Kampung Tapian.
Entah mengapa, orang-orang kampung sibuk memperbincangkannya. Padahal, langsano
itu hanyalah sebatang pohon tua.
Dari kejauhan, batang langsano terlihat
tinggi menjulang. Akar-akarnya membentuk labirin di atas tanah. Namun,
akar-akar itu tak kuat lagi mengangkat tubuh yang sudah keropos dimakan usia.
Tak banyak lagi ranting di batang itu. Di sela-sela batang, musang bersarang.
Kadang, hewan pengerat itu mempreteli kayu langsano untuk membuat sarang,
sehingga banyak lubang-lubang besar di sekujur pohon itu. Kalau angin kencang,
dari lubang-lubang itu terdengar suara-suara menggericik. Karena suara-suara
itulah Sutan Pamenan ingin segera merobohkan batang langsano.
“Kalau tumbang, batang langsano itu bisa
menimpa rumah,” ujar Sutan Pamenan beralasan.
Malin, lelaki paling tua di Kampung
Tapian yang mempunyai sawah di seberang batang langsano tidak sependapat dengan
alasan Sutan Pamenan. Walaupun tak pernah ia sampaikan langsung, bagi Malin
suara gemericik di batang langsano seperti nyanyian seruling. Ia senang dengan
nyanyian itu.
Setiap kali pergi ke sawahnya, Malin
selalu melewati jalan kecil di belakang batang langsano. Selesai menyabit padi,
ia biasanya rehat sebentar di bawah batang langsano. Dahulu, daun pohon itu
sangat rindang. Daun-daun itu menari-nari diterpa angin sepoi-sepoi. Malin
sering tertidur pulas karena dibelai angin sepoi-sepoi. “Malin, Malin, Malin!”
Sebuah suara membangunkan Malin dari tidurnya.
“Oah!” Malin menguap panjang. Matanya
dikucek-kucek dengan tangan. Di hadapannya Pudin terlihat samar-samar. “Ondeh, sudah senja. Lama aku tertidur,
Pudin?”
“Pulas sekali tidurmu, Malin. Aku segan
membangunkanmu tadi,” balas Pudin.
“Baguslah begitu. Kamu jadinya tak
mengganggu mimpiku,” ujar Malin sambil tersenyum kecil.
Wajah Malin berubah cerah. Barusan, ia
mendapatkan mimpi indah. Ini mimpi yang sama ketika kemarin ia tertidur pula di
bawah batang langsano.
Kemarin, tengah malam sekali, Malin
pergi ke sawahnya. Ia harus mengalirkan air dari bandar kecil yang berhulu di
tepian mandi di ujung Kampung Tapian. Petani yang mengambil air di bandar kecil
itu harus berbagi. Malin kadang mendapatkan giliran mengairi sawahnya di tengah
malam. Ia akan menunggu sampai sawahnya terisi penuh. Setelahnya, petani lain
mendapatkan giliran.
“Hei, Pudin! Kau sudah datang?” Malin
menyapa bayangan di seberang sawahnya. Pudin bersiap-siap hendak mengairi
sawahnya pula. Malin dengan jelas bisa melihat sosok lelaki itu. Cahaya bulan
tengah malam itu begitu terang-benderang. Laki-laki itu merasakan sesuatu yang
berbeda.
Sambil menunggu sawahnya penuh terairi,
Malin berjalan-jalan di sepanjang pematang. Di tengah pematang, ditemukannya
air mengalir tak sempurna. Ia turun ke celah di tengah pematang, rupanya aliran
air itu tersumbat oleh rumput-rumput liar. Malin mencabut rumput-rumput liar di
aliran air. Rumput-rumput bercampur lumpur dibenamkan dengan kakinya di tepi
pematang. Rumput sudah terbenam. Malin malah menemukan kakinya ikut tertanam.
Ia berusaha keras mengangkat kakinya, namun kaki itu semakin dalam tertanam.
Lelaki itu kemudian menyeka lumpur yang menahan kakinya dengan kedua tangan.
Sekali, dua kali lumpur diangkat ke permukaan, tiba-tiba Malin mendapati
benda-benda aneh di tangannya. “Pudin, kemarilah!” Teriak Malin kepada Pudin
yang masih berada di seberang sawahnya.
Pudin mendekat sambil mengarahkan lampu
minyak yang dibawanya ke genggaman tangan Malin. Pudin mengambil sebuah benda
kecil berbentuk kepingan bulat. Kepingan yang masih berbalut lumpur itu
dibersihkan dengan air sawah. Pudin melihatnya dekat-dekat. Sebentar kemudian,
lelaki itu histeris. “Ini emas, Malin. Kau mendapatkan kepingan emas!” Teriak
Pudin.
Jantung Malin berdetak kencang. Ia
mengangkat kepingan bercampur lumpur ke atas wajahnya. “Apa, emas? Hahaha!”
Teriak lelaki itu memecah malam.
Sebuah keping jatuh dari tangan dan
menimpa wajah Malin. Malin terbangun. Ia menemukan sehelai daun langsano jatuh
ke wajahnya karena tertiup angin.
***
SEHARUSNYA, untuk merobohkan batang langsano itu sederhana
saja. Sutan Pamenan tinggal menyewa tiga laki-laki kampung untuk menebangnya.
Tak sulit menebang pohon tua itu. Batangnya sudah keropos, daunnya saja telah
lama meranggas. Namun, Sutan Pamenan mesti mempersiapkan segalanya dengan
matang. Ia tidak hanya menyiapkan orang untuk menebang, sejumlah 'orang pintar'
juga disewanya. Orang pintar itu akan melakukan ritual di bawah batang langsano.
Ritual itu dilakukan persis di lubang besar yang terdapat di sela-sela akar.
Ranting-ranting kecil dan jerami sudah ditumpuk di sana. Batang langsano
dirobohkan dengan cara dibakar. “Makhluk-makhluk di sana juga akan ikut
terbakar,” ujar Sutan Pamenan.
Entah mengapa, tiba-tiba saja
cerita-cerita keramat muncul di bawah batang langsano. Cerita itu berkembang
setelah jalan besar dibangun di sana. Jalan itu menghubungkan Kampung Tapian
dengan sebuah komplek perumahan yang baru selesai dibangun. Komplek perumahan
itu bekas persawahan. Malin, Pudin, dan petani lainnya sudah menjual sawah
mereka. Air sudah hilang di tepian mandi di ujung kampung. Orang-orang Kampung
Tapian tak bisa lagi bertanam padi.
Orang-orang komplek perumahan selalu
berlalu-lalang di jalan besar dekat batang langsano. Orang-orang kampung yang
ingin ke kampung seberang juga melewati jalan itu. Kadang, mereka singgah untuk
duduk-duduk di bawah batang langsano. Orang-orang suka duduk-duduk di sana.
Kalau siang hari, suasananya sejuk karena daun-daun langsano menghalangi
jatuhnya sinar matahari. Kalau malam hari, anak-anak remaja yang suka
duduk-duduk di sana. Cahaya bulan akan jatuh di sela-sela ranting batang
langsano. Sepasang remaja yang sedang dimabuk asmara menyebutnya cahaya romantis
jatuh dari langit.
“Pergi sana! Kalian merusak kampung
saja!” Hardik pemuda Kampung Tapian setiap kali menemukan sepasang remaja
sedang duduk berduaan di bawah batang langsano.
Pemuda Kampung Tapian memang sering
menemukan sepasang remaja yang berduaan di bawah batang langsano. Ada yang
duduk-duduk sambil berpegangan tangan. Ada pula yang berangkulan. Kalau
suasananya memungkinkan, keduanya berpelukan, bahkan berciuman. Selebihnya,
entah apa lagi yang dilakukan berpasang kekasih di sana.
Pernah di sebuah malam Minggu, Kaling
dan pemuda kampung mendapati sepasang remaja yang sedang membuka baju dan
celana di bawah batang langsano. “Kalian pikir jamban di sana?” Hardik Kaling.
Lelaki berwajah hitam mengilat itu bersama pemuda kampung menggiring sepasang
remaja yang tertangkap basah ke balai lurah. Di balai lurah, keduanya diadili.
Karena dianggap sudah mengotori Kampung Tapian, sepasang remaja itu dihukum
denda 30 sak semen. Keduanya pun diusir dan tak boleh lagi menampakkan batang
hidungnya di Kampung Tapian.
Kaling dan pemuda kampung pernah juga
menemukan sepasang remaja di dalam sehelai kain sarung. Ketika akan ditangkap,
keduanya lari terbirit-birit. Mereka meninggalkan sepasang celana dalam di
bawah batang langsano.
Macam-macam saja yang tertinggal di bawah
pohon itu. Kadang ada yang meninggalkan gelang, ikat pinggang, bahkan kutang.
Kaling dan pemuda kampung terkejut setengah mati karena suatu ketika menemukan
jabang bayi terbungkus plastik hitam. “Celaka! Ini tak bisa dibiarkan lagi,”
ujar Kaling kepada pemuda-pemuda kampung. Ia mengabarkan temuan jabang bayi itu
kepada orang-orang kampung. Orang-orang kampung kemudian bermufakat untuk
mendukung Sutan Pamenan merobohkan batang langsano.
***
SUTAN Pamenan sudah mematik korek api dan menjatuhkannya
ke atas tumpukan jerami dan ranting kering di bawah batang langsano. Sore tadi
ritual kecil sudah dilakukan. Batang langsano dirobohkan, dimulai dengan
membakar akarnya. Api merambat kecil. Ketika malam menjelang, api semakin
membesar. Setelah akar dilahapnya, kemudian batang, ranting hingga pucuk daun
batang langsano dimamah si jago merah. Orang-orang kampung ramai berkumpul,
melihat batang langsano yang terbakar seperti kembang api besar di malam hari.
Malam semakin larut, batang langsano
baru terbakar setengahnya. Tiba-tiba, Leni, anak gadis Sutan Pamenan yang akan
menikah mengalami kejang-kejang. Ia kesurupan. Sutan Pamenan sudah
memperkirakan kejadian itu. Ia sudah menyiapkan 'orang pintar' untuk
mengatasinya. Seorang laki-laki berjubah hitam menghampiri Leni yang terbaring
di tanah sambil berbicara tak keruan.
Bla, bla, bla, bla! Mulut lelaki
berjubah hitam komat-kamit. Ia membacakan mantra-mantra. Sebentar kemudian,
tangannya diletakkan ke atas jidat Leni yang terbaring dengan mata terbelalak. “Keluarlah!
Kamu siapa?” ujar lelaki berjubah hitam dengan suara keras. Orang-orang kampung
yang berkumpul di sekitar tanah lapang dekat batang langsano yang terbakar
memandang dengan penuh heran.
“Ayo, sebutkan diri kamu! Kalau tidak,
kamu akan saya bakar!” Ancam lelaki berjubah hitam lagi.
“Jangan-jangan!” Leni tiba-tiba
menyeringai. “Aku, aku, Sophia,” ujar gadis itu tanpa tahu apa yang
diucapkannya.
Lelaki berjubah hitam tampak
kebingungan. Orang-orang kampung saling berpandangan. “Hoh, Sophia,” ujar
orang-orang kampung saling berbicara. Orang-orang kampung tak banyak yang
mengenal Sophia, namun kabar tentang perempuan itu sudah jadi legenda.
Menurut kabar, Sophia adalah gadis
remaja yang ditemukan mati gantung diri di bawah batang langsano. Ia mengakhiri
hidupnya di sana karena tak kuat menanggung derita ditinggalkan kekasih
hatinya. “Gadis patah hati yang gantung diri di bawah batang langsano, aku tak
pernah mengetahuinya,” ujar Kaling berbisik di tengah kerumunan orang di
sekitar batang langsano yang terbakar. Bisikan Kaling terdengar oleh Malin yang
berdiri di sebelahnya.
“Tentu saja kau tak tahu, Kaling. Kau
kan belum lahir ketika kejadian itu,” balas Malin.
Ah, Kaling tak begitu saja percaya
dengan perkataan Malin. Selama ini, ketika sering mendatangi batang langsano
bersama pemuda kampung, Malin tak pernah menemukan hal-hal aneh di sana.
Menurutnya, yang aneh itu, perilaku berpasang-pasang remaja di sana. “Paling
itu hanya cerita pertakut agar tak ada lagi perilaku aneh-aneh remaja tanggung
di bawah batang langsano,” celutuk Kaling.
Malin membalas Kaling dengan senyum
dingin. Lelaki itu kemudian mengalihkan perhatian kepada aksi lelaki berjubah hitam
yang berjibaku melawan makhluk halus yang merasuki tubuh Leni. Tubuh perempuan
itu tampak kelelahan. Malin berpikir, anak gadis Sutan Pamenan itu harus
istrirahat panjang sebelum hari pernikahannya. “Huah, huah, huah!” Malin
terkejut. Tiba-tiba, suara teriakan muncul dari ujung kerumunan.
Ada lagi orang yang kesurupan. Setelah
Leni berhasil ditenangkan, kejang-kejangnya menjalar ke orang lain. Kali ini,
Laras yang terkena. Laras adalah anak gadis Malin satu-satunya. “Darahnya
memang lemah. Aku sudah melarang, jangan melihat batang langsano dirobohkan,”
ujar Malin kepada orang-orang sambil merangkul anak gadisnya itu.
Lelaki berjubah hitam kini beralih
mendekati Laras. Ia kembali membaca mantra-mantra. Wajah Laras disemburnya
dengan air yang dikeluarkan dari mulutnya. “Siapa, kamu siapa?” Tanya lelaki
berjubah hitam sambil berteriak.
“Ah! Panas, panas, panas!” Teriak Laras
menirukan suara laki-laki yang bersarang di dalam tubuhnya.
“Mengakulah. Kalau tidak, ini akan
semakin panas!” ujar lelaki berjubah hitam lagi.
“Ampun, ampun, ampun! Aku mengaku. Aku Kasan!”
Teriak Laras lagi.
“Hah, Kasan?” Orang-orang yang berkumpul
saling bertanya sambil menatap ke arah Malin yang terus merangkul anak
gadisnya. Malin pun tampak kebingungan. Seumur-umur, ia tak pernah mendengar
kabar ada laki-laki bernama Kasan yang bunuh diri di bawah batang langsano.
***
BATANG langsano terbakar sepanjang malam. Menjelang pagi,
pohon itu sudah roboh menjadi abu. Sutan Pamenan bergegas ke belakang rumahnya.
Ia tak sabar untuk segera meratakan tanah di bekas batang langsano itu. “Bak,
Abak!” Sebuah teriakan tiba-tiba menghentikan langkah Sutan Pamenan. Ia
langsung berbalik arah. Leni, anak gadisnya mengabarkan ada keponakannya yang
kejang-kejang.
Tina, keponakan perempuan Sutan Pamenan
yang tinggal bersamanya tiba-tiba kesurupan. Rupanya, api belum sempurna
membakar batang langsano.
“Ngowek, ngowek, ngowek!” Teriak Tina
sambil membelakkan matanya. Keponakan Sutan Pamenan yang masih gadis itu
berteriak seperti bayi menangis. Sutan Pamenan sungguh terheran-heran. Ia
bergegas menemui lelaki berjubah hitam di ujung kampung, tetapi lelaki itu tak
ditemukannya. Lelaki berjubah hitam sudah lebih dahulu datang ke rumah Pudin.
Di rumahnya, Pudin tampak kebingungan.
Anak gadisnya juga kesurupan. Padahal tadi malam, anak gadisnya itu sama sekali
tak menyaksikan batang langsano dibakar. “Dia berteriak seperti bayi yang baru
dilahirkan,” ujar Pudin makin kebingungan.
Kebingungan Pudin sampai pada puncaknya
ketika saudara perempuannya menelepon dari rantau yang mengabarkan pula anak
gadisnya berteriak-teriak seperti orang kehilangan akal sehat.
Di balik telepon, saudara perempuan
Pudin mengatakan kalau anak gadisnya berteriak memanggil-manggil nama Kaling. “Mungkin
Kaling itu makhluk halus yang merasukinya,” ujar Pudin menirukan ucapan saudara
perempuannya.
Pudin geleng-geleng kepala. Ia akan
membuat perhitungan dengan pemuda kampung yang pernah menggerebek keponakan
perempuannya itu ketika duduk-duduk di bawah batang langsano.*
Padang,
Desember 2014



Komentar
Posting Komentar