Laki-laki Penjaga Pintu Perlintasan Kereta
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
PAGI
baru menyingsing. Roda-roda karet saling menyalip. Mereka berpacu mengejar
matahari yang pelahan terbit dari ufuk barat. Tepat pukul tujuh, kereta pertama
akan lewat. Kereta itu mengangkut batu bara untuk dibawa ke stasiun pusat. Batu
bara digunakan sebagai bahan bakar untuk kereta uap yang akan membawa gerbong
penumpang.
Sudah
waktunya. Sayup-sayup terdengar bunyi terompet. Lelaki berseragam putih itu
duduk tenang di kursi kerjanya. Di depan kursi itu ada beberapa tuas. Salah
satu tuas diangkatnya. Pelahan-lahan, plang pintu perlintasan diturunkan untuk
menghentikan setiap kendaraan yang akan melintasi rel.
Selalu ada yang mencuri-curi kesempatan. Seorang
pengendara motor menyumbulkan kepala dari balik plang perlintasan yang sudah
turun sempurna. Kepada lelaki berseragam, ia tersenyum lebar. Lelaki berseragam
membalas dengan lambaian tangan. Ia sudah hafal betul dengan gelagat si
pengendara motor. Laki-laki yang selalu tergesa-gesa, begitu lelaki berseragam
menjulukkinya. Pengendara motor dengan santai melajukan kendarannya melintasi
rel. Sesampai di tengah rel, brak! "Ada yang tertabrak kereta, ada yang
menabrak kereta!" teriak orang-orang. Si pengendara motor terjungkal.
Tubuhnya terlindas kereta, terpotong tiga. Laki-laki berseragam tidak terkejut
melihat kejadian itu.
***
SORE
terlihat sepi di pintu perlintasan kereta. Saat itu, akhir pekan. Orang-orang
sengaja menunda kepulangannya. Mereka ada yang menyerumput kopi di cafe,
berbelanja pakaian di distro atau sekadar cuci mata dengan jalan-jalan ke mall.
Hanya lelaki berseragam putih yang selalu berada di pintu perlintasan kereta.
Ia terlihat sibuk menghitung berapa banyak orang bersepeda yang melintas di
pintu perlintasan itu.
Sudah
duapuluh tahun ia berjaga di pintu perlintasan. Namanya, Ramadi. Belum genap 45
tahun, tapi raut wajahnya terlihat terlalu tua dari usianya. Orang-orang melihat biasa saja dengan pekerjaannya.
Padahal, ia seorang insinyur.
Di usia
muda, Ramadi langsung diterima sebagai pegawai di perusahaan kereta api.
Seharusnya ia menjadi mekanik. Kalau karirnya mengkilat, ia bisa memegang
jabatan tinggi. Jadi kepala stasiun, bahkan jadi direktur. Tapi, ia meminta
sendiri untuk menjadi penjaga pintu perlintasan saja. "Aku suka mendengar
suara kereta..." Begitu Ramadi beralasan.
Dengan
meletakkan telinganya ke rel, Ramadi sudah tahu kalau kereta mau lewat. Ia tak
perlu mendengar sayup-sayup suara terompet kereta. Orang-orang menyebut itu
bakat ajaibnya. Bagi Ramadi, tak ada yang luar biasa. Itu hanyalah kepandaian
yang bisa didapatkan oleh seorang anak kecil. Anak-anak kecil suka meletakkan
telinga ke rel kereta api. Ramadi sering melihat anak-anak melakukan itu di
pintu perlintasan yang dijaganya. Tapi, sore itu ada seorang laki-laki dewasa
yang melakukannya. Sungguh tak biasa.
Lelaki itu
datang dengan kereta angin. Ramadi suka dengan sepeda. Ketika pertama kali
menjaga pintu perlintasan, ia sering melihat banyak sepeda melintas di sana. Ia
tak kan sanggup menghitung sepeda yang lewat. Sekarang, ia bisa dengan gampang
menghitung. Setiap hitungannya akan dituliskan di atas kalender yang tergantung
dekat kursi kerjanya. Ada satu sepeda bertambah. Dan itu milik si lelaki dewasa
yang selalu melintas di setiap sore.
Ketika
sampai di perlintasan kereta, lelaki dewasa akan turun dari sepedanya. Ia
berhenti sejenak. Tatapannya diarahkan kepada Ramadi. Ramadi memberikan aba-aba
dengan anggukkan kepala. Selepas itu, barulah si lelaki dewasa melintas dengan
sangat hati-hati. Sampai di tengah rel, lelaki dewasa berhenti lagi. Ia
menambatkan sepeda di samping rel. Ia kemudian menjatuhkan tubuhnya ke arah
rel. Kedua tangannya memegang rel, sementara salah satu daun telinganya
diletakkan di atas besi baja itu. Ramadi tersenyum melihat laku laki-laki
bersepeda itu. Ia teringat apa yang sering dilakukan ketika masih kecil.
Tepat pukul empat sore, kereta pembawa gerbong penumpang
lewat. Masinis di gerbong itu membunyikan terompet berkali-kali. Ia
berteriak-teriak, tapi suaranya kalah oleh deru roda baja yang saling
bertumbukkan. Tak terdengar apa-apa di pintu perlintasan, orang-orang tiba-tiba
saling memandang histeris. Ada kepala terputus dari leher jatuh ke jalan aspal.
Tak beberapa jauh dari pintu perlintasan kereta, tempat Ramadi sedang berjaga.
Ramadi hanya memelas melihat kejadian itu. Tadi pagi, ia baru saja menutupi
ceceran darah dengan pasir. Ceceran darah itu belumlah kering.
***
ENTAH
sudah beberapa banyak orang yang mati di pintu perlintasan itu. Ramadi tak
pernah menghitung orang yang mati. Ia hanya suka menghitung kereta angin yang
melintas. Kemarin, sepeda yang melintas berkurang satu. Sepeda itu masih
tertambat di sebelah rel. Tak ada yang berani mengambilnya. Bagi Ramadi, sepeda
itu sudah tak ada. "Tadi, sepeda itu dipakai pemiliknya," ujar Ramadi
kepada Damhar di suatu malam. Laki-laki itu langsung kecut mendengar perkataan
Ramadi. Bulu kuduknya berdiri. Kalau sudah begitu, Damhar tak kan berani
menemani Ramadi sampai larut malam.
Damhar itu
pengangguran. Setiap malam ia mengunjungi Ramadi di pintu perlintasan tempatnya
berjaga. Lelaki itu seolah-olah hendak menemani Ramadi berbincang-bincang untuk
membunuh rasa suntuk. Padahal, akal bulusnya hanyalah ingin mendapatkan
secangkir kopi panas dan beberapa batang rokok, gratis. Karena iba dengan
nasibnya, Ramadi memberi ide kepada Damhar untuk menjadi pengatur lalu lintas
di pintu perlintasan. Ia bisa mendapatkan uang sumbangan dari pengendara yang
lewat. Damhar semula menolak ide itu. Ia merasa segan, tak ingin dikira
mengambil rezeki Ramadi pula. "Kenapa tidak kau saja yang melakukannya?"
"Aku
ini penjaga pintu perlintasan, bukan pengatur lalu lintas," balas Ramadi
tersenyum hambar.
Pertama
kali menjadi pengatur lalu lintas di pintu perlintasan, Damhar langsung datang
kepada Ramadi dengan wajah pucat pasi. Ada orang mati tergilas kereta api. "Tubuhnya
terburai ke mana-mana. Alamak!" ujar Damhar ketakutan.
Ramadi
membalasnya dengan tatapan datar. "Hidup bagi sebagian orang sangatlah
membosankan. Rel kereta adalah tempat yang pas untuk mengakhirinya," balas
Ramadi tanpa ekpresi.
Damhar
terbelalak mendengar perkataan Ramadi. Laki-laki itu sungguh telah kehilangan
rasa. Terlalu banyak ia melihat kematian di pintu perlintasan. "Itu orang,
orang yang mati tergilas kereta!" Damhar meninggikan suaranya berharap
sedikit empati dari Ramadi.
Ramadi malah
tertawa-tawa kecil. "Jangankan orang, mayat saja mati digilas kereta
api."
Pernah
sebuah mobil membawa jenazah melintas di pintu perlintasan. Sangat
tergesa-gesa. Entah mengapa, orang mati itu perlu juga mengejar waktu agar
tidak terlambat. Sirine mobil jenazah meraung-raung. Persis di pintu
perlintasan, mobil itu mati tegak. Sopir mati ketakutan dan menghambur diri
keluar mobil jenazah. Tepat tengah hari, kereta pembawa gerbong kosong lewat.
Mobil dihantam. Jenazah di dalamnya tergilas, tercabik-cabik menjadi sepuluh
bagian.
"Tragis..."
Damhar berguman dalam hati. Mendengar cerita Ramadi, Damhar menyampaikan
niatnya untuk tak melanjutkan pekerjaan mengatur lalu lintas di pintu
perlintasan.
"Kenapa,
takut kau dengan orang mati?" Ramadi berkata sambil tertawa kecil kepada
Damhar.
Merasa
dirinya dicemooh, Damhar mengurungkan niatnya. "Aku masih punya rasa, rasa
kemanusiaan," celutuk Damhar sambil menipuk dadanya. Saat itu, Damhar
merasa menjadi pemenang di hadapan Ramadi dengan pekerjaannya mengatur lalu
lintas di pintu perlintasan.
***
SUDAH
dua hari, Ramadi termenung risih di pintu perlintasan, tempat ia biasa berjaga.
Ia tak lagi mendengar suara deru kereta api datang. Dengan bertopang dagu,
lalu-lalang kendaraan menyemak penglihatannya. Di tengah rel, Damhar sibuk
dengan pekerjaannya mengatur setiap kendaraan yang melintas. Ketika orang
bersepeda melintas, Damhar bergegas memegangi sisi belakang sepeda dan
menuntunnya sampai ke seberang rel. Pandai sekali laki-laki itu bermanis laku.
"Dapat banyak!" teriak Damhar sayup-sayup kepada Ramadi sambil
memperlihatkan isi saku baju kaos lusuh yang dipakainya. Ramadi membalas dengan
senyum datar. Sepeda yang baru saja dituntun Damhar itu tak masuk hitungannya.
Laki-laki itu tak lagi menghitung berapa banyak sepeda yang lewat.
Sudah
lewat senja, matahari pun jelang beranjak ke peraduan. Ramadi semakin gelisah.
Tak ada juga tanda-tanda kereta akan datang. Lelaki itu beranjak dari tempatnya
berjaga. Ia berjalan ke arah rel di tengah perlintasan. Tubuhnya dijatuhkan ke
atas rel. Telinga diletakkan dekat-dekat ke besi baja itu. Lama ia meletakkan
telinga, tapi tanda-tanda kereta datang tak juga ada. Ramadi menghela nafas
dalam-dalam. Keajaibannya sudah hilang. Dengan meletakkan telinga ke rel,
Ramadi bisa tahu kereta akan tiba. Tapi laki-laki itu lupa, suara terompet kereta
sudah bersahut-sahut mendekat ke arahnya. Sekejap kemudian, tak terdengar lagi
apa-apa, selain deru roda besi saling bertubrukkan di atas baja. "Ada yang
tertabrak kereta, ada yang menabrak kereta!" teriak orang-orang.*
Padang, September 2015



Komentar
Posting Komentar