Laki-laki Batu
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
BEBERAPA hari ini, Sudin nampak seperti orang bingung. Otaknya
bekerja keras. Padahal, tak ada hal penting yang harus dipikirkannya. Hidupnya
terlalu sederhana untuk dipikirkan.
Setiap
pagi, Sudin tinggal bergegas dengan pacul dan topi daun pandan. Sebentar
membersihkan aliran air di pematang yang tersumbat, dari siang hingga sore
menjelang, Sudin bisa berleha-leha di pondoknya di tengah sawah. Ketika panen
tiba, berkarung-karung beras tersedia di rumah. Setiap pulang dari sawah, Sudin
membawa pucuk ubi, daun kangkung atau keladi yang tumbuh liar. Ditambah puyu
dan belut yang berhasil ditangkapnya, urusan lauk-pauk selesai sudah. Elinar,
istri Sudin tak pernah mempermasalahkan apa yang akan dijadikan sambal. Apa
saja yang dimasaknya akan menjadi enak sebagai pendamping nasi.
"Uda,
beras di karung sudah menipis!"
Tak ada
balasan. Sudin sibuk menerawang di ruang depan.
"Hoi,
Uda!" Elinar meletakkan mulutnya di telinga Sudin. Sudin terperanjat.
Telinganya berdenyut-denyut seperti habis diseruduk kerbau betina.
"Ada
apa kau ini, Linar?"
"Sepanjang
hari Uda melamun saja. Aku yang pusing memikirkan apa yang akan dimakan."
"Makan
apa pula yang kau pikirkan. Biasanya kau hanya makan nasi."
"Beras
kita tak ada lagi, Uda!"
"Tenang
saja, nanti aku ambil beras di sawah."
Elinar
menatap geram. "Sudah tiga bulan Uda tidak bertanam. Ambil saja rumput di
sawah itu."
"Nanti
aku belikan kau beras berkarung-karung. Sebentar lagi, aku akan mendapatkan
uang banyak."
"Uang,
uang di awang-awang Uda..."
"Hah,
banyak cincong kau, Linar!"
Sudin
beranjak meninggalkan Elinar begitu saja. Perempuan itu baru saja mengusik
lamunan Sudin. Padahal sedikit lagi, Sudin akan menemukan jawaban atas
pertanyaan yang bergayut-gayut di kepalanya. Sudin menuju ke pondok di tengah
sawah. Di sana, tempat yang paling tenang untuk menemukan jawaban.
***
"Dimana,
dimana?"
Sudin
terbangun dari tidur singkatnya di pondok di tengah sawah. Ah, celaka! Teriakan
kucing yang berkelahi di pinggir sawah menghentikan mimpinya. Mimpi yang sama
sejak beberapa hari ini.
Seorang
laki-laki berjubah putih datang dalam mimpinya. Lelaki itu sangat kasihan
melihat nasib Sudin yang tak kunjung berubah. "Aku akan menjadikanmu orang
kaya. Carilah batu sebesar tinju di perkarangan rumahmu. Batu itu sangat
berharga. Kamu akan mendapatkan banyak uang dengan menjualnya."
Ada
banyak batu di perkarangan rumah Sudin. Ratusan, eh bahkan ribuan. Bagaimana ia
bisa menemukan batu sebesar tinju itu. Sudin tak pernah menemukan jawaban
tentang dimana persisnya batu itu berada. Setiap hari ia bermimpi, selalu sama.
Bahkan, Sudin menambah tidurnya di waktu pagi, siang dan sore hari. Elinar,
istrinya sampai menyebutnya si tukang tidur. Perempuan itu akhirnya tak tahan.
Ia pulang ke rumah orang tuanya, membawa dua anaknya yang masih kecil. Sudin
kini tinggal seorang diri. Dalam kesendirian itu akhirnya ia memutuskan mencari
batu sebesar tinju di perkarangan rumah. Untuk menghindari kecurigaan
orang-orang yang lewat di sekitar rumahnya, Sudin memulai pencarian selepas
magrib.
Jelang
tengah malam, Sudin sudah mengumpulkan batu-batu yang berserakkan di
perkarangan. Diperiksa satu per satu, namun tak ada yang berukuran sebesar
tinju. Sudin berprasangka, batu itu tertanam di dalam tanah. Berbekal pacul dan
lampu minyak ia pun memulai menggali.
Sudah
seluruh perkarangan dicangkul. Sudin menemukan ada limapuluh batu sebesar
tinju. Ia bingung menentukan mana batu yang berharga seperti di dalam mimpinya.
Ia memutuskan, ada sebuah batu yang besarnya persis seukuran tinjunya.
"Ini batu berharga itu..." ujar Sudin membathin.
***
"Hei,
Sudin! Mana batu punyamu itu?"
"Untuk
apa kau bertanya seperti itu, Rul?
"Aku
penarasan. Aku ingin melihatnya."
"Ada,
aku membawanya."
Sudin
mengeluarkan sebuah benda dari kantong celananya. Benda sebesar kepalan tangan
itu terbungkus kain putih. Sudin selalu
membawa bungkusan itu kemana-mana. Ia membawanya ke lapau agar bisa
berutang kepada Mak Katik.
"Oi,
Sudin! Utangmu sudah menumpuk."
"Tenang,
Mak Katik. Aku pasti melunasinya. Nanti aku tambahkan membayarnya."
"Halah....
Sudah berulang kali kau mengatakan itu."
"Lihat,
Mak Katik! Batu ini akan membuatku kaya. Orang akan membayar mahal untuk
memilikinya." Sudin memperlihatkan benda berbungkus kain putih kepada Mak
Katik. Lelaki itu hanya menghela nafas panjang.
Orang-orang
kampung sudah mendengar kabar Sudin mendapatkan batu berharga. Para pecinta
batu kini mencari-cari Sudin. Mereka penasaran dengan batu berharga itu.
"Apa
batumu itu seperti cincinku ini, Sudin?"
Sudin
mendekatkan matanya ke jari Tiram. Ia memperhatikan dengan seksama. Sebentar
kemudian, Sudin mengerenyutkan keningnya.
"Ini
batu kecubung yang paling langka!" seru Tiram meyakinkan.
Sudin
tak pernah tahu tentang jenis batu. Ia menggelengkan kepala untuk menapik
keyakinan Tiram. "Batuku ini kalau diasah, dia akan berkilau. Kilauan
batumu itu tak seberapa."
Tiram
terperanjat. Lelaki penggemar batu itu sangat penasaran. Ia akan rela membeli
berapa pun harga batu yang diinginkannya. "Berapa yang kamu minta?"
Sudin
tersenyum hambar. "Sudahlah, Tiram. Aku tak akan menjualnya
kepadamu."
Sudin
berlalu. Ia tak akan menjual batunya kepada orang-orang di lapau. Ia
tahu persis bagaimana kehidupan orang-orang itu. Mereka tak akan mampu membeli
batu berharga miliknya.
***
ORANG-orang kota mencari Sudin. Kabar batu berharga miliknya
sampai juga ke telinga orang kaya. Seorang laki-laki mengendarai Mercy
mendatangi Sudin untuk menawar batu berharganya. Tiram mempertemukan laki-laki
itu dengan Sudin di lapau Mak Katik.
"Boleh
aku melihat batu itu?"
Sudin
mengeluarkan benda berbungkus kain putih dari saku celana. Bungkusan itu
diletakkan hati-hati di atas meja. Laki-laki dari kota memperhatikan dengan
seksama. Ia mengeluarkan sarung tangan karet dari tas kecil yang dibawanya.
Setelah sarung karet itu terpasang utuh di tangan, laki-laki dari kota pelahan
membuka benda yang terbungkus di hadapannya.
Laki-laki
dari kota mengangkat batu dari bungkusan kain putih ke atas wajahnya. Batu itu
diletakkan di tangan kiri. Sementara, tangan kanannya memegang senter yang
becahaya putih terang. Cahaya putih dari senter menerpa batu. Tapi, cahaya itu
langsung dipantulkan. "Hm..." laki-laki dari kota menyeka keringat.
"Aku
kasih limapuluh juta!"
Sudin
tidak merespon. Ia diam dengan senyum hambar.
Laki-laki
dari kota menggaruk-garuk kepala. "Seratus juta!"
Sudin
mengerenyutkan dahinya. Kedua bahunya diangkat tinggi-tinggi.
"Baiklah,
seratuslimapuluh juta! Itu harga terakhir dariku."
Laki-laki
dari kota menjulurkan tangan. Sudin malah menyembunyikan tangannya ke dalam
saku celana. Tiram yang memperhatikan dari tadi membelalakkan mata. Baru
pertama kali ia mendengar uang ratusan juta diucapkan.
"Begini
saja. Kamu bisa mendapatkan limaratus juta. Batu ini akan aku lelang di Medan.
Banyak orang-orang dari China yang bisa menawar mahal. Nanti kita bagi saja.
Tujuhpuluh untukmu, sisanya untukku."
Sudin
menggelengkan kepala. "Batu ini kusimpan saja dulu."
Laki-laki
dari kota pergi dengan tangan hampa. Ia sangat kecewa. Kekayaannya ternyata tak
mampu membeli batu berharga milik Sudin.
***
"Batu
Sudin berharga satu miliar!"
"Hah....!"
Tiram
membelalakkan matanya tak percaya. Mendegar uang satu miliar diucapkan, ia
bisa-bisa mati berdiri.
"Bagaimaa
bisa?" tanya Tiram kepada Mak Katik yang selalu berbagi kabar yang beredar
di lapau-nya.
"Tak
tahu. Aku hanya tahu membuat kopi dan teh manis," balas Mak Katik.
"Mungkin
itu berlian paling langka!" seru Rul ikut menyela. Pemuda itu tak tahu
apa-apa tentang batu. Ia hanya menyebut asal-asalan saja.
Tiram
menggeleng-gelengkan kepala. Ia tahu persis tentang berbagai batu. Berlian
pernah dilihatnya langsung. Zamrud, pernah dipegangnya. Giok pernah
dimilikinya, tapi kemudian dijual kepada pedagang onderdil di Kampung Pondok
yang menjadikannya batu keberuntungan. Kalau batu-batu lokal, seperti Lumuik
Sungai Dareh, Khatulistiwa, bacan, ia langsung tahu dengan hanya melihatnya
dari jauh. "Batu Sudin itu biasa saja," ujar Tiram kepada Rul.
Tiram
melihat langsung batu milik Sudin ketika laki-laki dari kota datang kepadanya.
Batu itu seperti kerikil yang banyak dijumpai Tiram di jalan tanah menuju
rumahnya. Menurut Sudin kepada laki-laki dari kota, batu itu ia temukan di
dalam mimpinya. Sudin meletakkan mimpi-mimpi di dalam batu itu.
"Ah,
siapa pula yang mau membeli mimpi-mimpi Sudin..." ujar Tiram, kali ini dalam
hati.*
Padang, Februari 2015



Komentar
Posting Komentar