Kampung Pemimpi
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
SEJUMLAH
laki-laki sudah berkumpul di lapau
Etek Sona. Seperti biasa, sebelum mereka suntuk dengan kesibukan masing-masing,
setiap laki-laki harus menceritakan mimpinya.
“Kaliang bermimpi menikah dengan anak
bupati,” ujar Kutar memulai cerita.
Ketika itu, giliran Kaliang yang
bercerita. Tapi, bujang lapuk itu ada urusan ke kampung sebelah. Menjelang
malam, ia belum pulang. Kaliang menitip mimpinya kepada Kutar.
“Ayo, ceritakan dari awal. Jangan sampai
ada yang terlewatkan!” Darman menyela karena penasaran. Mimpi Kaliang bukanlah
mimpi biasa. Jarang-jarang lelaki itu bisa bermimpi indah.
Kutar memasang kuda-kuda untuk
melanjutkan cerita. Seperti kisah Siti Nurbaya dan Sjamsul Bahri, ia mencari
kata-kata seromantis mungkin. Lama mencari-cari, Kutar akhirnya memilih cara
legenda bermula. “Alkisah, sore itu Kaliang sedang duduk-duduk di ujung jalan.
Sebuah mobil sedan tiba-tiba lewat. Di ujung jalan tanah, sedan itu berhenti.
Ban belakang terperosok lumpur, sedan itu tak bisa lagi melanjutkan perjalanan.
Seorang perempuan muda keluar dari pintu belakang, ia hendak mendorong mobil
sedan. Kaliang kasihan melihat perempuan muda itu. Secepat kilat, ia
menyingsingkan lengan baju. Sekali dorongan, mobil sedan itu pun selamat dari
lumpur jalan.”
Kutar berhenti sejenak. Napasnya
terengah-engah. Ia begitu larut dengan cerita. “Pertemuan itu awal yang manis
bagi Kaliang. Si perempuan muda menitipkan alamat rumahnya. Kaliang diminta
datang agar ia bisa membalas semua kebaikannya. Singkat cerita, hati Kaliang
dan si perempuan muda terpaut. Kaliang merasa senang alang-kepalang.
Penantiannya selama ini tak sia-sia. Ia bisa meminang perempuan cantik, anak
bupati pula.”
“Hahaha!” Darman tertawa lebar. Padahal,
laki-laki di lapau hanya
tersenyum-senyum simpul mendengar Kutar mengakhiri ceritanya. Kutar paham,
Darman sedang menyindirnya. Laki-laki itu tahu, ia menyembunyikan sebagian
cerita Kaliang. Tapi, Darman tak akan menanyakan bagian yang disembunyikan itu.
Isi kepala Kaliang sudah bisa ditebak saja. Cerita anak bupati itu hanya
pengantar tidurnya. Mimpi Kaliang sebenarnya adalah mimpi basah. Tentu saja
mimpi yang sebenarnya itu tak bisa diceritakan.
“Sekarang kau, Mun! Apa mimpimu?”
Mun terkejut. Ia memerhatikan Darman.
Laki-laki itu berharap-harap sangat. “Ehem!” Giliran Kutar mendehem.
Mun masih terdiam. Laki-laki di lapau sudah memerhatikannya dengan
tatapan tajam, sementara Mun tak punya kata-kata untuk memulai ceritanya. “Aku
tak punya mimpi!”
Hm ... Laki-laki di lapau menarik napas dalam-dalam. Untuk kesekian kali, Mun tak bisa
menceritakan mimpinya.
“Hah, payah! Apa susahnya bermimpi. Aku,
sambil terjaga saja bisa bermimpi,” celutuk Darman.
Mun menelan ludah. Wajahnya kecut. Ia
seperti berada dalam sebuah sidang pengadilan. Ia sebagai terdakwa dan
laki-laki di lapau siap menghakiminya.
Ini menjadi pengadilan yang tak seimbang. Mun tak bisa menghadirkan barang
bukti. Barang bukti itu adalah mimpi. Ia tak punya mimpi!
***
DI KAMPUNG
Kamanjadi, orang-orang saling menceritakan mimpi. Ketika berbelanja di pasar,
ibu-ibu menceritakan mimpi-mimpinya. Macam-macam mimpi mereka. Kesemuanya, tak
jauh-jauh dari urusan suami-suami mereka.
Husna bermimpi kehilangan sebelah sandal
jepitnya. Ia khawatir dengan mimpi tersebut. Kata orang-orang, mimpi itu
berarti ia akan kehilangan salah satu orang yang dicintainya. Husna tak punya
anak. Ayah dan ibunya sudah lama meninggal. Satu-satunya orang yang dicintai
adalah Regek, suaminya.
“Kalau aku jadi janda karena ditinggal
mati, itu tak masalah. Takutku kalau Regek beralih hati kepada janda muda,”
ujar Husna mengungkapkan kekhawatirannya ketika menceritakan mimpinya kepada
ibu-ibu di pasar.
Lain lagi dengan mimpi Etek Salimah. Ia
bermimpi dipinang bidadara. Menurut Etek Salimah, bidadara itu sangat tampan
dan rupawan. Etek Salimah sangat bahagia dengan pinangan itu. Belum pernah ia
tersenyum selebar senyuman ketika menceritakan mimpinya. “Hebatnya lagi,
bidadara itu mirip Salim ketika muda.”
Mendengar mimpi Etek Salimah, ibu-ibu di
pasar memasang wajah muram untuknya. Husna mendekati perempuan tua itu. Ia
merangkul untuk menenangkan hatinya. Etek Salimah baru saja ditinggal mati oleh
Salim, suaminya. “Sabarlah, Etek! Pak Salim pasti sudah tenang di sana.”
Etek Salimah merebahkan wajahnya ke
pangkuan Husna. Air mata menetes dari mata tuanya. Duka Etek Salimah menjalar
ke ibu-ibu di pasar. Hari itu, cerita tentang mimpi hanya sampai pada Etek
Salimah. Mereka tak ingin duka berlarut-larut. Cerita pun dialihkan kepada
harga-harga di pasar.
“Beras naik, cabai naik, sampai ruku-ruku pun mahal. Alamak, bagaimana
bisa memasak gulai.”
“Tak usah memasak gulai, Ros! Nanti naik
pula tensi darahmu itu. Ingat, di usiamu sekarang sudah banyak pantang yang tak
boleh dimakan.”
“Masak pakai air saja, Ros!”
“Seperti kembali ke zaman bergolak saja.”
“Hahaha!” Ibu-ibu di pasar tertawa
lebar. Ros membiarkan dirinya jadi bahan lelucon. Usahanya untuk menghibur Etek
Salimah berhasil. Husna melihat Etek Salimah tersenyum dalam pangkuannya.
Itulah cara ibu-ibu Kampung Kamanjadi
menceritakan mimpi-mimpi mereka. Anak-anak muda di sana, lain pula. Mereka
menceritakan mimpi ketika berada di gelanggang. Setiap petang, gelanggang ramai
dikunjungi anak-anak muda. Mereka duduk berpasangan sambil melihat anak-anak
bermain di lapangan. Di antara anak-anak muda Kampung Kamanjadi, Tenggen yang
paling suka menceritakan mimpinya kepada gadis-gadis.
“Aku bermimpi punya kereta kencana. Aku
akan mengajakmu jalan-jalan mengelilingi kampung. Orang-orang akan melihat kita
seperti pasangan pangeran dan pemaisuri.”
“Dasar gombal!” Ipat membanting tas
kecilnya ke arah Tenggen. Tas itu persis menipuk jidat Tenggen. Pemuda
pengangguran itu tak patah arang. Ia terus mendekat, mengeluarkan jurus-jurus
rayuannya.
“Serius! Aku bermimpi memiliki sebuah
rumah mewah. Aku akan membawa kamu menjadi bidadari di sana.”
“Teruslah kau bermimpi. Aku akan menikah
dengan laki-laki dari kota. Ia bekerja kantoran.”
Tenggen mengurut dada. Untuk kesekian
kali Ipat menolak dirinya. Salah Tenggen sendiri. Ia menjadikan mimpinya
sebagai rayuan gombal. “Bagaimanapun, kau tetap di hatiku, Pat.”
Ipat menatap Tenggen dengan senyum
hambar. Tenggen mengalihkan pandangannya ke arah anak-anak yang bermain di
tengah lapangan. Sambil bermain, anak-anak itu juga menceritakan mimpi-mimpi
mereka.
Mimpi anak-anak itu sederhana saja.
Seperti mimpi Kinoi. Ia bermimpi, ayahnya pulang dari rantau. Sudah setahun
lebih, ayahnya tak pulang-pulang. “Kalau Ayah pulang, aku minta dibelikan layang-layang.”
Kinoi sangat menyukai layang-layang.
Tapi, ia tak pernah memilikinya. Ibunya tak punya uang untuk membelikan
layang-layang. Karena keinginannya yang besar, Kinoi selalu mengejar setiap ada
layang-layang yang putus. Larinya sangat kencang. Setiap layang-layang yang
putus pasti bisa dikejarnya. Namun sayang, setiap kali mendapatkan
layang-layang putus, pemiliknya selalu memintanya kembali.
Mimpi Kinoi mirip dengan mimpi anak-anak
Kampung Kamanjadi lainnya. Ada yang mimpi memiliki sepeda, sepatu sepakbola,
hingga mimpi memiliki boneka. Begitulah mimpi anak-anak, tak ada yang hebat.
Yang hebat itu mimpi laki-laki dewasa Kampung Kamanjadi. Di antara mimpi-mimpi
yang hebat itu, yang paling hebat adalah mimpi kepala kampung.
Jalius adalah Kepala Kampung Kamanjadi.
Ia bermimpi jalan-jalan ke Singapura. “Aku akan menjadikan kampung ini seperti
Singapura,” ujar Jalius ketika menceritakan mimpinya.
Orang-orang kampung terkesima mendengar
mimpi Jalius. Mereka tak tahu apa itu Singapura. Ada yang menyangka itu nama
buah-buahan. Ada pula yang mengira, Singapura itu nama kebun binatang. “Singapura
itu negeri yang hebat!” Seru Jalius melanjutkan ceritanya.
Ooo! Orang-orang kampung
mengangguk-angguk. Mereka ingin Jalius terus melanjutkan cerita tentang
Singapura.
“Aku akan membangun gedung-gedung bertingkat,
jembatan layang, mal, bahkan ada kolam renang di atas awan!”
Hah! Orang-orang kampung semakin
terkesima. Sementara Mun, yang ikut mendengar cerita Jalius
menggeleng-gelengkan kepala. Ia melihat laki-laki itu seperti sedang
berkampanye untuk menjadi kepala kampung lagi.
“Omong kosong!” Mun berteriak dalam
hati. Tapi, teriakannya itu terdengar samar-samar oleh Jalius.
“Hei, Mun! Kamu punya mimpi apa?”
Mun terkejut mendengar pertanyaan
Jalius. Mulut laki-laki itu terbata-bata. “Oh, aku tak punya mimpi.”
Huuu! Orang-orang kampung meneriaki Mun.
Laki-laki itu pun berlalu sambil menyembunyikan wajahnya.
***
DI ANTARA
orang-orang Kampung Kamanjadi, hanya Mun yang tak punya mimpi. Orang-orang
heran, bagaimana laki-laki itu tak punya mimpi. Keheranan orang-orang kampung
akhirnya terjawab, Mun tak punya mimpi karena ia tak pernah tidur. “Sepanjang
hari ia terjaga!” ujar Kutar ketika menceritakan kabar tentang Mun.
“Bagaimana ia bisa tetap terjaga?” Tanya
Darman penasaran.
“Ceritanya panjang.” Tapi, Mun hanya
menitipkan sepenggal cerita kepada Kutar. “Mun tak bisa tidur karena banyak
mimpi yang bergelantungan di kepalanya.”
“Hoh
Mun punya banyak mimpi?”
“Tidak, itu bukan mimpi Mun. Itu mimpi
orang-orang kampung.”
Mun menyimpan mimpi orang-orang di
kepalanya. Hingga, di kepalanya itu tak ada secuil ruang pun untuk menyimpan
mimpinya sendiri. Sekarang, Mun pergi meninggalkan kampung. Menurut cerita
orang-orang, Mun pergi ke puncak gunung di belakang kampung. Di sana ia akan
membuang mimpi orang-orang dari kepalanya. Ia ingin memiliki mimpinya sendiri.
Suatu saat Mun pasti akan menceritakan mimpinya itu. Tapi, entah kapan. Sudah
bertahun-tahun, Mun tak pernah kembali dari puncak gunung.*
Padang, Maret 2015



Komentar
Posting Komentar