Kampung Kandang Pedati
“Mak Dang, Mak Dang, hoi Mak Dang!”
Suara Kampai menggedor-gedor dari balik pintu. Lelaki itu terlihat sangat
bersemangat untuk segera bertemu dengan si empunya rumah.
Sebuah cahaya dari lampu minyak muncul
di ruang tengah. Sesosok bayangan tampak dari daun jendela. Bayangan itu menuju
pintu. Pintu terbuka, ternyata seorang lelaki paruh baya menyambut seraya
mengucek kedua belah matanya. Sambil merapikan kain sarung yang melilit di
lehernya, lelaki itu menatap awas kepada tamu yang datang. “Kau Kampai?” Tanya
lelaki itu hendak memastikan penglihatannya.
“Betul, Mak Dang. Ini, Bapak yang pernah
saya ceritakan,” jawab Kampai memperkenalkan seorang lelaki muda yang berdiri di
sebelahnya.
“Hoh masuklah!” Balas lelaki paruh baya
yang dipanggil Mak Dang mencoba bersikap ramah.
Kampai berbisik kepada lelaki muda di
sebelahnya. Lelaki yang memakai baju safari hitam itu menggelengkan kepala.
Kampai tiba-tiba menjadi kikuk. Ia pun mendekat ke arah Mak Dang dengan penuh
segan. “Begini, Mak Dang. Bapak ini sibuk sekali, banyak urusan yang mesti
dikerjakannya,” ujar Kampai lagi sambil mencari kata-kata yang tepat.
“Pokoknya, buatkan yang terbagus. Berapa
pun biayanya akan aku bayar,” ujar lelaki bersafari menyela. Suaranya terdengar
sangat berwibawa. Mak Dang akhirnya menyadari kalau ia sedang berhadapan dengan
bukan sembarangan orang.
Mak Dang berdiri termangu ketika Kampai
meninggalkannya begitu saja. Kampai berjalan tergesa-gesa ke arah laki-laki
bersafari yang memanggilnya dengan lambaian tangan. “Ya, ya, pasti akan aku
selesaikan dengan hasil terbaik!” Mak Dang terbata-bata. Ia melihat Kampai dan
laki-laki bersafari berlalu tanpa meninggalkan kata-kata. Keduanya menuju
pedati yang tertambat di seberang jalan. Mak Dang melihat ada perempuan di
dalam pedati itu. Wajahnya cantik, setidaknya itu yang bisa dilihat Mak Dang
ketika sisa cahaya rembulan menerpa parasnya.
Pagi-pagi buta, Kampai sudah datang
kepadanya. Lelaki yang bekerja sebagai kusir pedati itu seharusnya berada di
pasar. Setiap hari, Kampai mengantarkan orang-orang kampung di atas bukit untuk
menjual hasil sawah dan ladang di pasar. Pedati Kampai yang ditarik dua ekor
kerbau besar itu biasanya penuh dengan sisa daun dan akar yang bercampur tanah
liat. Kadang, ada sisa kotoran ayam. Berarti Kampai selesai mengantarkan toke
ayam ke pasar. Namun kali ini, isi pedati Kampai jauh berbeda. Ia membawa
seorang pemuda dan wanita cantik dari kota.
“Dia anak pejabat. Dia mau Mak Dang membuatkan
tapak untuk kerbau putih miliknya. Kerbau itu akan dipertontonkan dalam parade
di alun-alun kota,” ujar Kampai memberi kabar kepada Mak Dang tadi siang.
Entah untuk apa kerbau putih itu
dipertontonkan. Seumur-umur, Mak Dang belum pernah melihat kerbau putih diarak
di alun-alun kota. Kampai tak mampu menjelaskan pertanyaan yang tersirat di
kepala Mak Dang. Menurut Kampai, anak pejabat itu hanya ingin tampil beda saja.
Rencananya, kerbau putih itu akan menarik sebuah pedati berukir emas. Anak pejabat duduk di dalam pedati sambil
melambai-lambaikan tangan kepada orang-orang yang berkumpul di alun-alun. “Ah,
politik! Yang penting, bayarannya besar,” ujar Kampai meyakinkan Mak Dang.
Mak Dang terkenal sebagai tukang tempa
di Kampung Kandang Pedati. Ia pandai membuat parang, kapak, pisau, sabit, dan
segala perkakas untuk ke sawah. Namun, keahliannya yang tak tertandingi adalah
membuat tapak kerbau. Sebenarnya tapak kerbau terbuat dari karet. Mak Dang
mengaitkan tapak itu dengan besi dan menambahkan lempeng besi di pijakkannya,
sehingga tapak kerbau buatan Mak Dang terkenal akan kekuatannya. Di Kampung
Kandang Pedati, banyak laki-lakinya yang bekerja sebagai kusir pedati, sehingga
Mak Dang lebih sering membuat tapak kerbau ketimbang perkakas lainnya.
“Ini bayarannya.” Kampai menyerahkan
sejumlah uang yang diambilnya dari sebuah amplop besar. Laki-laki itu tak
menghitung terlebih dahulu.
“Hah, ini banyak sekali. Padahal, aku
belum memulai mengerjakan tapak kerbau putih itu,” balas Mak Dang sambil
membelalakkan matanya melihat setumpuk uang di tangannya.
“Sudahlah! Aku percaya, hasilnya pasti
bagus. Ini baru uang pangkal, nanti ada tambahannya.” Kampai menjawab keheranan
Mak Dang. “Aku pergi dulu! Tampuih pasti sudah menunggu,” ujar Kampai lagi
sambil meninggalkan Mak Dang di pondok kecil di sebelah rumahnya. Pondok kecil
beratapkan rumbia itu merupakan tempat Mak Dang menempa.
***
SEPANJANG hari, Tampuih tak pernah beranjak dari
kandangnya. Lelaki itu selalu memerhatikan seekor kerbau putih yang tertambat
di sana. Setiap jengkal tubuh kerbau itu terus diperiksanya. Ujung kaki, ujung
kepala, ujung lidah, ujung telinga, hingga ujung ekor tak luput dari siginya.
Sesekali, Tampuih meletakkan rumput ke dalam wadah kayu, tempat makan. Ia tak
ingin kerbau itu sedikit pun merasa kelaparan. Kalau kekurangan rumput, Tampuih
langsung memanggil Kutar. “Kau carikan rumput terbaik. Ingat, rumput yang
paling bagus!” Perintah Tampuih.
Kutar tergopoh-gopoh mencarikan rumput.
Memang itulah pekerjaan laki-laki yang tak pernah bersekolah itu. Kutar
mencarikan rumput untuk Tampuih dan peternak kerbau lainnya. Di Kampung Kandang
Pedati, banyak peternak kerbau. Setiap rumah pasti ada kandang kerbau. Namun,
Tampuihlah yang memiliki kandang paling besar. Lelaki itu mendapatkan pekerjaan
dari Kampai untuk merawat kerbau putih milik anak pejabat dari kota. Ia
mendapatkan bayaran yang besar atas pekerjaan itu. Tampuih membayar Kutar untuk
mencarikan rumput terbaik sebagai makanan kerbau putih itu. Kutar juga yang
mengantarkan kerbau putih kepada Dulah. Lelaki itu pandai menghias kerbau
hingga terlihat menawan.
Dulah sudah bersiap dengan segala
perkakas untuk menghias kerbau. Ketika Kutar datang, ia menyuruh laki-laki itu
untuk menambatkan kerbau putih di dekat sumur di belakang rumahnya. Kerbau
putih lalu dimandikan. Dulah mengeringkan tubuh kerbau dengan handuk bersih
berwarna putih. Sekujur tubuh kerbau itu juga dilumuri wewangian, sehingga
baunya mengalahkan harumnya gadis-gadis perawan di Kampung Kandang Padati.
Dulah memulai pekerjaannya yang
sebenarnya. Ia memasangkan perhiasan untuk kerbau putih. Anting sudah
dibuatkan, ada pula kalung, gelang, bahkan kerbau itu juga dipasangkan sunting.
“Selesai! Kau bantu aku membawanya
kepada Burhan,” ujar Dulah kepada Kutar. Kedua lelaki itu kemudian menggiring
kerbau putih ke rumah Burhan. Di jalan, tubuh kerbau bergemerincing karena
hiasan yang terpasang bergerak tersapu angin.
“Tepat sekali kau datang! Lihat, aku
sudah menyelesaikan pedati untuk kerbau putih itu,” ujar Burhan menyambut Dulah
di rumahnya.
Dulah terpana melihat hasil pekerjaan
Burhan. Lelaki itu membuktikan kemampuannya sebagai pembuat pedati yang hebat. “Wah!
Benar pedati ini berlapiskan emas?” Tanya Dulah sambil mendekatkan matanya ke
roda pedati.
“Aha, itu hanya cat berwarna emas!”
Balas Burhan tersenyum lebar.
Dulah tak menghentikan pandangan
kekagumannya. Baginya, Burhan telah membuat pedati yang pantas ditumpangi
raja-raja di Pagaruyung. “Mungkin, anak pejabat yang memesan pedati ini calon
raja?” Tanya Dulah setengah berbisik kepada Burhan.
“Terserahlah apa prasangkamu. Yang
penting, aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Kini, kau bantu aku membawa
kerbau dan pedati ini ke tempat Mak Dang,” balas Burhan datar.
Burhan dan Dulah menggiring kerbau putih
dan pedati ke rumah Mak Dang. Lelaki itu akan menyelesaikan bagian terakhir
pekerjaan yang dipesan oleh anak pejabat dari kota. “Cepat, cepatlah kalian!
Aku tak sabar memasangkan tapak ini. Kalian tahu, ini tapak kerbau terbaik yang
pernah aku buat,” ujar Mak Dang yang sudah bersiap-siap menyambut Burhan dan
Dulah.
Mak Dang membuktikan ucapannya. Tapak
kerbau yang dibuatnya seperti tak biasa. Burhan sampai ternganga mulutnya
ketika melihat Mak Dang memasangkan tapak itu. “Kalau otakku tak lagi waras, bisa-bisa
aku melihat kerbau putih itu seperti gadis manis memakai sepatu kaca,” ujar
Burhan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Hahaha! Kau bersihkan dulu isi kepalamu
itu, hei Burhan!” Celutuk Mak Dang ke arah Burhan. Lelaki itu membalas dengan
senyum lebar. Dulah yang berdiri di sebelahnya ikut tertawa lebar.
Selesai memasangkan tapak kerbau, Mak
Datang tinggal menunggu Kampai datang. Lelaki itu menjadi kusir yang akan
membawa kerbau putih berparade di alun-alun kota.
***
PAGI-pagi sekali, Kampai sudah tiba di rumah Mak Dang.
Lelaki itu tak perlu mengantar orang-orang kampung di atas bukit membawa hasil
pertaniannya ke pasar. Hari itu, Kampai punya pekerjaan besar. Ia akan membawa
anak pejabat berparade di alun-alun kota dengan kerbau putih dan pedati berwarna
emas. Mak Dang sudah bersiap-siap menunggu Kampai.
“Sekarang, pekerjaanmu!” Seru Mak Dang
kepada Kampai.
Kampai tersenyum lebar. Jadi kusir
pedati memang keahliannya. Ia terkenal mumpuni menaklukkan kerbau-kerbau,
sehingga kerbau-kerbau itu bisa berjalan terarah menarik pedati.
“Hus!” Teriak Kampai sambil melecutkan
rotan kecil ke tubuh kerbau putih. Kerbau itu sama sekali tak bereaksi. “Hus,
hus, hus!” Teriak Kampai lagi sambil memukul lebih keras. Kerbau putih
terperanjat. Kedua kaki belakangnya terangkat. Kampai yang duduk di dekat
pelana terjungkal. Wajahnya jatuh ke tanah seperti mendapatkan tamparan dua
ekor kuda jantan.
“Kau baik-baik saja, Kampai?” Tanya Mak
Dang yang lekas mendekati Kampai.
Kampai mencoba bangkit dari tanah.
Matanya berkunang-kunang menatap ke arah Mak Dang. “Kurang ajar! Itu kerbau
gila!” Teriak Kampai memaki-maki. Lelaki itu melemparkan rotan ke arah kerbau
putih yang berjingkrak-jingkrak di dekat pedati. Kerbau putih itu membalas
dengan mengeluarkan suara keras. Napasnya terengah-engah. Dari hidungnya keluar
cairan lendir berwarna putih. Sebentar kemudian, tubuh kerbau putih jatuh ke
tanah.
Kampai ketakutan setengah mati. Ia berlari
kencang ke ujung kampung sambil memanggil-manggil Pandia. Sebentar kemudian,
Kampai kembali dengan membawa Pandia yang masih memakai kain sarung. Lelaki itu
terkenal pandai memijat kerbau. Kampai menyuruh Pandia mengurut kerbau putih
yang terjerembab ke tanah. “Mungkin kakinya terkilir,” ujar Kampai kepada
Pandia.
Pandia mendekat ke arah kerbau putih
yang jatuh tengkurap. Perlahan-lahan, lelaki itu memijat kaki kerbau putih dari
ujung hingga ke pangkal paha. “Sudah,” ujar Pandia singkat. Namun, kerbau putih
tak jua bereaksi untuk bangkit dari tanah.
Pandia kembali memijat. Kali ini, ia
menggunakan seluruh tenaganya. Sudah tiga kali pijatan, Pandia tampak
kelelahan. Keringat deras mengucur di jidatnya. Pandia sesekali menyeka
keringat itu dengan kain sarungnya. Lelaki itu pun akhirnya menghela napas
panjang-panjang. “Aku menyerah,” ujarnya.
Pandia meninggalkan kerbau putih yang
terus terjerembab di tanah. Lelaki itu bahkan enggan menerima sejumlah uang
yang diberikan Kampai. Pandia berlalu dengan wajah penuh kekalahan.
Kampai mulai kehilangan akal. Ia
kemudian rela membayar Kamran dengan mahal agar bisa menyembuhkan kerbau putih.
Kamran terkenal sebagai mantri hewan. Walaupun ia tak pernah belajar tentang
cara menyembuhkan hewan, tapi Kamran sangat ahli mengobati kerbau.
Kerbau-kerbau yang sakit di Kampung Kandang Pedati selalu sembuh di tangannya.
Kamran memulai pekerjaannya. Ia memegang
sebilah bambu runcing. Di dalam bambu itu dimasukkannya kuning telur ayam
kampung. Kuning telur dicampur dengan sejumlah ramuan. Ramuan itu kemudian
disuapkan ke mulut kerbau putih yang terjerembab lemas. Selesai meneguk ramuan
yang disuapkan Kamran, kerbau putih tetap tak bereaksi. Sebentar kemudian,
kepalanya jatuh ke tanah. Mulutnya menganga, mengeluarkan kembali ramuan yang
belum sempat tertelan. Kamran tertegun. Semua kepandaiannya sudah dikerahkan.
***
KEESOKAN hari, orang-orang Kampung Kandang Pedati saling
menyalahkan. Kampai menyalahkan Mak Dang yang tak becus membuat tapak, sehingga
kerbau putih kesakitan hingga kakinya menendang Kampai sampai terjungkal. Mak
Dang tak mau disalahkan. Ia menimpakan kesalahan kepada Tampuih yang tak bisa
merawat dengan benar, sehingga kerbau putih berontak karena perutnya kesakitan.
Tampuih membantah. Ia menyalahkan Kutar yang tak becus mencari rumput-rumput
terbaik, sehingga kerbau putih itu tak bisa makan dengan sempurna. Kutar tak
mau pula jadi sasaran kesalahan. Ia pun menuduh Dulah yang tak becus memandikan
dan salah menghias, sehingga kuda putih itu merasa kesakitan. Dulah tentu saja
tak mau disalahkan oleh Kutar yang tak pernah bersekolah. Menurut lelaki itu,
yang bersalah adalah Burhan. Lelaki itu tak pandai membuat pedati, sehingga
kerbau putih kesakitan ketika menarik pedati. Burhan tak mau pula menanggung
rasa bersalah. Ia menyalahkan Pandia dan Kamran. Kedua lelaki itu seharusnya
bisa menyembuhkan kuda putih. Pandia dan Kamran yang tak tahu apa-apa
menimpakan kesalahan kepada Kampai. Dari Kampai-lah, semua kesalahan bermula.
“Ini pasti kesalahan Kampai.
Kepandaianku tiba-tiba hilang, pasti disebabkan Kampai telah melanggar
pantangan,” ujar Kamran menuduh Kampai.
“Benar! Keahlianku juga hilang. Padahal,
aku tak pernah melanggar semua pantangan,” sela Pandia meyakinkan tuduhan Kamran.
Kampai menggeleng-geleng kepala. Ia
merasa tak pernah melanggar pantangan. “Tidak, tidak, tidak ada yang aku
langgar,” ujar Kampai membela diri.
“Kamu pasti membayar kami dari uang
hasil korupsi anak pejabat itu! Kalau, tidak, bagaimana ia bisa memberikan uang
sebanyak itu,” ujar Mak Dang ikut menuduh Kampai.
“Aku tidak menerima uang dari anak
pejabat itu,” balas Kampai.
“Lalu, dari mana uang sebanyak itu?”
Tanya Mak Dang lagi.
“Uang itu dari perempuan cantik yang aku
bawa bersama anak pejabat.”
“Siapa perempuan cantik itu?”
“Entahlah. Aku hanya melihat anak
pejabat memeluk perempuan itu di dalam pedatiku. Yang pasti dia bukan istrinya.”
“Celaka kau Kampai! Kau melanggar
pantangan!” Teriak Mak Dang seraya membelalakkan matanya.
***
HARI tak lagi berdenyut di Kampung Kandang Padati. Kampung
di kaki bukit itu hidup karena pedati. Orang-orang di sana mendapatkan
penghasilan dari kepandaian yang berhubungan dengan pedati. Mak Dang punya
kepandaian membuat tapak kerbau yang akan menarik pedati. Kampai punya keahlian
sebagai kusir pedati. Tampuih punya keahlian merawat kerbau yang akan menarik
pedati. Kutar punya kepandaian mencari rumput untuk makan kerbau yang dirawat
Tampuih. Dulah punya keahlian menghias kerbau. Kerbau itu untuk menarik pedati
yang pandai dibuat oleh Burhan. Pandia punya kepandaian memijat kerbau yang
kelelahan setelah menarik pedati. Kamran, ia ahlinya mengobati kerbau yang
sakit karena menarik pedati. Konon, semua kepandaian itu didapat oleh
orang-orang Kampung Kandang Pedati setelah menimba ‘ilmu’ di puncak bukit.
Sejak Kampai membagikan segepok uang
dari seorang perempuan cantik yang dibawanya bersama seorang lelaki bersafari
di dalam pedatinya, tiba-tiba saja ‘ilmu’ itu dicabut dari orang-orang Kampung
Kandang Padati.
Rumput-rumput mengering. Kerbau-kerbau
mati tak terobati. Tak ada lagi yang memesan tapak kerbau, tak ada lagi yang
membuat pedati. Kini, di Kampung Kandang Padati hanya ada kandang-kandang
pedati yang kosong tak berpenghuni.*
Padang,
Desember 2014



Komentar
Posting Komentar