Jembatan Kecil di Tepi Banda Bakali

Cerpen A.R. Rizal



HARI sudah pukul satu siang. Kata Nenek, jadi juga pergi ke Kampung Paraksalai selepas zuhur nanti. Ia sudah bersiap-siap dengan tas anyaman daun pandan di bahunya. Kami berjalan kaki dari Kampung Saranggagak, melewati Kampung Terandam. Sesampai di Kampung Parakkopi, tinggal menyeberang di Banda Bakali. Maka, sampailah di Kampung Paraksalai. Di kampung itu, Titamar, anak laki-laki nomor dua Nenek tinggal bersama istrinya.

Setiap akhir pekan, Nenek selalu mengajak Maran, cucunya untuk berkunjung ke rumah Titamar. Maran memanggil mamaknya itu, Angah. Angah berarti, ia mamak yang di tengah-tengah. Nenek punya tiga anak laki-laki. Anak tertua nenek dipanggil Tuo oleh Maran. Anak bungsunya dipanggil Uncu. Di antara anak-anaknya itu, Titamar-lah yang paling berada hidupnya. Kepada anaknya itulah, Nenek selalu mengadukan segala kebutuhannya. Kalau kurang uang dapur, ia meminta ke sana. Kalau kurang beras, maka Nenek akan mengambilnya kepada Titamar. Sedangkan Maran, sangat senang bertemu mamaknya itu. Setiap datang, ia akan mendapatkan uang yang bisa membuatnya jajan sepuas-puasnya selama sepekan. “Hari masih terang, percepatlah langkahmu, Maran!” Seru nenek.

Ya, kalau langit mendung, mereka harus berkejar-kejaran dengan hujan. Kalaulah hujan sempat turun sebentar, maka mereka tak bisa menyeberang. Terpaksa harus memutar ke arah jembatan besar. Dari sana, harus berjalan tiga kilometer. Jauh sangat, untuk ukuran Maran yang baru berumur tiga tahun dan untuk Nenek yang sudah berumur 60 tahun.

“Nek, sudah sampai kita di rumah Angah,” ujar Maran sambil menunjuk ke arah seberang Banda Bakali.

Rumah mamaknya itu tampak jelas dari seberang. Namun, di luar terlihat lengang. Jangan-jangan, Titamar sedang keluar. Kalau sudah demikian, Nenek akan menunggu sebentar di balik pekarangan. Kalau anaknya, Titamar menampakkan batang hidungnya di halaman depan, barulah Nenek mendekat. Nenek hanya mau disambut oleh anaknya itu. Haram baginya bertemu langsung dengan istri Titamar. Entah apa salah perempuan itu. “Istrinya itu, setiap aku membawa beras dari Titamar selalu memasang muka masam,” ujar Nenek suatu ketika kepada ibu si Maran, menyebutkan alasannya enggan berjumpa dengan istri Titamar, menantunya itu.

“Aha, sudah sampai Amak?” Sapa Titamar menyambut nenek. Ia akan menyuruh Mariana untuk memenuhi segala keperluan Nenek. Pokoknya, ibunya itu harus diperlakukan seperti seorang pembesar. Kalau sempat Nenek tak senang hati, maka Titamar akan marah besar kepada istrinya itu.

“Hei Maran, ke sinilah!” Sapa Titamar pula kepada Maran. Ia akan mengelus-elus kepala Maran, kemudian mengeluarkan uang seribu dari saku bajunya. “Kamu bermalam di sini saja. Besok kau bermain-main dengan si Aan. Tapi, jangan kau ke seberang melintasi tabek di Banda Bakali. Ingat itu!” ujar Titamar. Sudah berbilang kali, Titamar selalu mengulangi larangan yang sama.

Titamar bukannya khawatir Maran akan tergelincir. Yang sebenarnya ditakutkannya adalah, kalau melintasi tabek, pastilah terlebih dahulu menyeberangi jembatan kecil di tepi Banda Bakali. Sebelum ke jembatan kecil itu, ada tanah lapang yang banyak ditumbuhi ilalang. “Tanah lapang itu tak boleh diinjak sembarangan,” ujar Titamar.

Maran memang tak pernah berani pergi ke seberang ke jembatan kecil di tepi Banda Bakali. Kalau sedang bermain-main dengan Aan, anak bungsu Titamar yang seumuran dengannya, ia paling merendam-rendam kaki di pinggir Banda Bakali. Walau sungai itu airnya dangkal, tapi Maran belum pandai berenang. Apalagi, air Banda Bakali susah ditebak. Tiba-tiba saja, air bah bisa datang. Kalau hanyut dibawa air bah, Maran bisa pulang tinggal nama saja. Sudah banyak yang celaka di Banda Bakali. Maran bahkan pernah mendengar kejadian menyeramkan. Mamaknya, Titamar yang menceritakan.
***
TITAMAR mendengar cerita dari ayahnya, Burhan. Burhan adalah kakeknya Maran. Maran tak bisa mendengar cerita langsung dari Burhan karena lelaki itu keburu meninggal ketika Maran belum lahir. “Kakekmu itu orang hebat. Ia pejuang,” ujar Titamar setiap kali memulai ceritanya.

Burhan memang pejuang, walau namanya tak banyak dikenang orang. Ia berperang di zaman Jepang. Dengan bedil, ia membunuh tentara Jepang dari seberang Banda Bakali. Sungai itu menjadi saksi bisu kehebatan Burhan dan kawan-kawannya.

Banda Bakali adalah sungai buatan yang dibangun di zaman Belanda. Sungai itu berguna sebagai kanal untuk mengalirkan limpahan Batang Arau. Batang Arau bermuara di Sebarang Padang. Sebelum sampai ke muara, alirannya meliuk-liuk panjang seperti ular. Kalau hujan sebentar, maka tanah-tanah di sekitarnya akan terendam. Dibuatlah Banda Bakali, sehingga air Batang Arau terbagi ke arah Pantai Ulakkarang. Ayahnya Burhan, Samar yang menjadi buyutnya si Maran pernah menggali Banda Bakali. Ia dikerja paksa di sana. Banyak pekerja paksa yang mati di Banda Bakali. Mayatnya dihanyutkan begitu saja. Entah benar kejadiannya seperti itu, Maran belum tahu betul tentang pelajaran sejarah. Ia hanya mendengar Angahnya berkisah.

“Di Banda Bakali ini peluru berseliweran. Tentara Jepang menembak dari arah Kampung Paraksalai, kakekmu Burhan menembak bersama kawan-kawannya dari Kampung Parakkopi.”  Titamar menyambung ceritanya.

Perang hebat pernah terjadi di Banda Bakali. Lokasinya persis dekat kali di tepi sungai yang kini ada jembatan kecil di sana. Tentara Jepang sudah merasa menang. Mereka terus maju ke arah seberang. Burhan dan kawan-kawannya melakukan serangan balik. Tentara Jepang lari terbirit-birit. Di antaranya ada yang hanyut di Banda Bakali, sebagian lagi mati terkena bedil pejuang. Tentara Jepang yang mati itu dibuang di tanah lapang dekat jembatan kecil di tepi Banda Bakali.

“Banyak tentara Jepang yang mati penasaran di sana. Nanti kamu bisa celaka,” ujar Titamar berwanti-wanti kepada Maran.
***
KINI, jalan beraspal sudah dibangun di atas jembatan kecil di seberang Banda Bakali. Di pinggir-pinggirnya ditanam orang pohon pinang. Maran sering lari-lari pagi di sana kalau sedang berkunjung ke rumah mamaknya. Kadang ia datang bersama Nenek, kadang ia datang sendirian. Kalau melewati jembatan kecil itu, Maran tak lagi ketakutan, walaupun mamaknya masih sering mengulang-ulang cerita tentang jembatan itu. Bahkan, Maran sering berhenti sebentar untuk mengambil napas di dekat tanah lapang di seberang jembatan kecil, selesai ia berlari pagi. Tak ada apa-apa di sana. Hanya ada hamparan tanah kosong yang ditumbuhi ilalang.

Kalau malam tiba, malah makin banyak orang lewat di jembatan kecil itu. Di sana ada tiang listrik berdekatan. Di atas tiang itu ada lampu jalan yang terang-benderang. Muda-mudi yang sedang kasmaran akan berhenti sebentar di sana. Mereka duduk mesra di atas sepeda motor yang diparkir di pinggir jembatan. Kadang, ada pula yang berhenti membawa mobil. “Kamu jangan pernah duduk berdua-dua di sana. Bisa celaka!” Seru Titamar selalu mengingatkan si Maran.

Mana mengerti Maran tentang duduk berdua-duaan. Mamaknya hanya pandai menakut-nakuti saja. Ia akan menambah larangannya dengan cerita-cerita lebih menyeramkan. “Kamu tahu, tadi malam ada lelaki bujang yang mati gantung diri di bawah jembatan karena habis diputus gadis pujaannya. Kemarin malam, ada pula anak gadis yang membuang bayi yang baru dilahirkannya ke bawah jembatan. Anak gadis itu kini hilang akal sehatnya,” ujar Titamar lagi kepada Maran.

“Mungkin tentara Jepang yang mati terbuang di sana tak senang ada orang-orang yang mengotori tanah tempatnya ditanam, Angah.” Maran menyela perkataan Titamar. Entah Maran mengerti dengan apa yang baru saja diucapkannya. Titamar tersenyum puas dengan tingkah kemenakannya itu. Ia akan merogoh isi saku bajunya, mengeluarkan uang seribu. Eh tidak, sekarang Maran sudah tahu dengan uang dua ribu.*
Padang, Desember 2014

Komentar

Postingan Populer