Igau

Cerpen A.R. Rizal



UNCU Elen hanya sebentar di lapau Mak Kanduik. Ia sedang patah semangat. Sudah tiga putaran, nasibnya tak pernah menang. Yang terakhir ini kekalahan telak baginya. Si Kundur sudah habis buahnya, sementara Uncu Elen masih memegang dua balak di tangannya. “Sudahlah, aku selesai!” Uncu Elen menggerutu. Ia beranjak dari meja. Duduk sebentar di depan tivi yang sedang menayangkan pertandingan bola.

“Goool!” Orang-orang di lapau berteriak. Uncu Elen malah menutup kedua telinganya. Wajah lelaki yang biasa tersapu matahari setiap kali mengayuh becak itu semakin kusam. Sebentar kemudian, ia berlalu dari lapau Mak Kanduik.

“Ke mana Uncu?” Tanya si Kundur. Pemuda pengangguran itu mengira Uncu Elen hendak buang air di parak di belakang lapau Mak Kanduik. Eh ternyata Uncu Elen menuju jalan besar.

“Pulang!” Balas Uncu Elen singkat.

Si Kundur tersenyum kecil melihat ulah Uncu Elen. Puas benar hatinya malam itu. Sekian lama, baru kali ini ia berhasil mengalahkan Uncu Elen. “Uncu Elen kehilangan mandan-nya,” celutuk Kundur.

Uncu Elen selalu bermain domino dengan si Kandia di lapau Mak Kanduik. Keduanya menjadi kawan bermain yang serasi. Kalau keduanya sudah duduk di meja, maka tak ada yang bisa mengalahkannya. Namun, sudah tiga hari ini si Kandia tak pernah muncul. “Ke mana si Kandia, Mak Kanduik?” Kundur bertanya kepada Mak Kanduik yang sedang membuat teh talua.

“Entahlah Kundur. Beberapa hari ini saya tak pernah melihatnya hilir-mudik di sini,” balas Mak Kanduik.

Kundur merasa kehilangan pula malam itu. Tak ada lawan bermain yang setara lagi di lapau. Kalau sudah begitu, tak betah ia berlama-lama. Baru pukul setengah satu, lapau Mak Kanduik sudah lengang. Kundur menguap panjang, ia bersiap-siap untuk pulang. Padahal, kalau sedang bermain dengan Kandia dan Uncu Elen, ia akan kuat bergadang sampai subuh menjelang.
***
TAK banyak yang bertanya-tanya tentang raibnya si Kandia. Orang-orang di Kampung Tangah bahkan lebih senang menganggap lelaki 40 tahun yang betah membujang itu tak pernah ada. Setiap orangtua yang punya anak gadis di sana akan menyuruh anaknya menjauhi si Kandia. “Jangan dekat-dekat, nanti kau terbawa nasib buruknya,” ujar orang-orang tua di Kampung Tangah.

Kandia bukanlah tipe lelaki penggoda wanita. Bahkan, ia takut bergaul dengan perempuan. Karena itulah, sampai umurnya sudah kepala empat, tak ada perempuan yang mau menjadi istrinya. Ketakutan orang-orang kampung karena nasib si Kandia yang tak menikah-nikah itu, jangan sampai menjalar ke anak-anak gadis mereka. Kalau anak lelaki lama membujang, itu biasa. Tapi, kalau anak gadis lama melajang, ia akan disebut perawan tua. Sepanjang jalan ia dipergunjingan. Ayah dan mamak-mamaknya pun akan tertimpa kesalahan, disebut tak mampu mencarikan jodoh untuk kemenakannya. Masih panjang lagi urusannya. Kalau mamak tak mampu mencarikan jodoh untuk kemenakannya, ia akan disebut mamak kikir yang tak mau menyediakan uang jemputan. Di Kampung Tangah, anak gadis yang akan menikah harus menjemput si pujaan hatinya dengan uang yang sudah ditentukan jumlahnya.

“Kalau bertemu Kandia, kau suruh dia mampir ke rumahku,” ujar Buyung Lepai ketika bertemu Uncu Elen yang sedang mengayuh becaknya di ujuang balai.

“Baiklah Buyung Lepai, nanti akan aku sampaikan,” balas Uncu Elen sambil terengah-engah karena becaknya penuh dengan belanjaan amak-amak yang menyewanya.

Selesai mengantarkan belanjaan, Uncu Elen menyempatkan diri mendatangi rumah Kandia. Di teras rumah panggung itu, ia hanya bertemu Etek Gadih, orang tua perempuan si Kandia. Perempuan itu hanya duduk termenung, tak memedulikan kedatangan Uncu Elen. Matanya menerawang ke depan, tapi kosong. Usianya renta, Etek Gadih sudah pikun. “Uda tidak pulang ke rumah, Uncu,” ujar Ida, adik perempuan Kandia yang tiba-tiba menghampiri Uncu Elen. Ia sudah berumur 38 tahun. Nasibnya sama dengan Kandia, belum menikah juga.

“Ke mana udamu itu? Ada yang menanyakan dirinya. Mungkin ada pekerjaan membersihkan parak.”

“Tak tahulah!” Balas Ida ketus. Perempuan itu seperti tak peduli. Di rumahnya sendiri, Kandia memang tak pula dianggap. Bagi Ida, si Kandia pulang atau tidak, itu tak masalah. Tak ada yang akan merasa kehilangan. Bahkan, Kandia memang lebih sering tak ada di rumah. Sepanjang hari, ia membersihkan parak orang, itulah pekerjaannya. Kalau malam, ia pasti di lapau Mak Kanduik. Di lapau itu, ia akan betah bergadang sepanjang malam. Karena tabiat buruknya itu, orang-orang kampung mengutuk si Kadia. Perihal kutukan itu, Ida mendengar sendiri kabar angin sampai ke telinganya.

“Sudahlah, Ida. Aku akan mencarinya di parak,” balas Uncu Elen pula. Uncu Elen mungkin orang satu-satunya yang peduli dengan Kandia. Maklumlah, keduanya konco palangkin.

Uncu Elen mencari Kandia di seluruh parak yang ada di Kampung Tangah. Sudah tujuh parak didatangi, namun Kandia tak kunjung ditemukannya. Jangankan melihat batang hidungnya, bau Kandia saja tak tercium. Uncu Elen akhirnya menghentikan pencariannya. Kakinya sudah lelah mengayuh becak. Laki-laki itu mengayuh becak, pulang. Di jalan, ia melewati parak di belakang rumah Kandia. Di sana, ia melihat Kandia berjalan sempoyongan tak tentu arah. “Hoi, Kandia!” Teriak Uncu Elen girang.

Kandia membalikkan wajah, menemukan suara yang memanggilnya. Ia masih kebingungan. Diusap-usap matanya, barulah Kandia tahu siapa yang memanggilnya. “Eh, Uncu Elen,” sapa Kandia lemah.

“Dari mana saja kau Kandia? Kau seperti bangun tidur saja.”

“Aku tak ke mana-mana. Kemarin aku membersihkan parak di belakang rumah. Tiba-tiba saja aku terbangun di bawah pohon betung.”

“Hah, itu bukan kemarin Kandia. Kau sudah tertidur tiga hari,” ujar Uncu Elen terheran-heran.

Kandia malah lebih heran lagi. Ia menyeringai sambil memegangi perutnya. “Pantaslah, perutku keroncongan sekali.” Kandia memelas.

Uncu Elen geleng-geleng kepala. Si Kandia memang suka tidur sembarangan. Sepanjang malam ia selalu bergadang. Dan ia akan tertidur di mana saja kalau kepalanya sudah direbahkan. Uncu Elen sering melihat Kandia tertidur pulas sambil duduk di lapau Mak Kanduik. Kandia lebih sering lagi tertidur di parak ketika ia bekerja membersihkannya. Biasanya laki-laki itu hanya tertidur sebentar. Kalau kali ini ia tertidur sampai tiga hari, itu sungguh membuat Uncu Elen heran.

“Begini sajalah, aku temani kau makan di lapau Mak Kanduik,” ajak Uncu Elen sambil membawa Kandia berboncengan di becaknya.
***
PRAK, prak, prak! Uncu Elen melemparkan buah dominonya dengan keras. Kali ini ia menang. Lelaki itu kembali tersenyum lebar di lapau Mak Kanduik. Ia sudah kembali bersama mandan bermainnya, si Kandia. Uncu Elen semakin bergairah main domino, walaupun si Kandia tak begitu bersemangat. Lelaki yang baru terbangun dari tidur tiga harinya itu bermain antara iya dan tidak. Bagi Uncu Elen, itu tak masalah. Asalkan ada si Kandia, ia pasti menang.

Sudah masuk putaran kedua, Kandia belum menemukan tempo permainannya. Dari tadi, Uncu Elen melihat Kandia tak memerhatikan buah dominonya. Lelaki itu lebih sering menguap panjang. Sesekali matanya redup. Sebentar kemudian, kepalanya jatuh ke sandaran bangku-bangku di lapau Mak Kanduik. Ia mencoba menahan kantuk. “Menang lagi!” Teriak Uncu Elen.

Kandia terperanjat. Ia seperti mendengar suara pesawat terbang menghunjam telinganya. “Tiga kosong!” Kandia menyeru tiba-tiba.

“Apa yang tiga kosong, Kandia? Mengigau kau rupanya,” sergah Kundur yang tak menerima kesalahannya.

Kandia tidak merespon perkataan Kundur. Ia seperti berada antara tidur dan terjaga. Ia terus saja memungut buah domino yang baru saja dikocok Uncu Elen. “Kalah kau Kundur! Hahaha!” Uncu Elen tertawa lebar. Malam itu, Kundur kalah tiga kosong.
***
MALAM berikutnya, si Kundur menyerah di tengah permainan. Ia sudah kalah dua kali. Seleranya hilang untuk meneruskan permainan. Uncu Elen mengisi malam dengan mengisap sebatang rokok ditemani secangkir teh talua buatan Mak Kanduik. Sementara, Kandia merintang-rintang malam dengan menonton tivi. Malam itu ada pertandingan bola yang seru. “Tiga satu!” Teriak Kandia tiba-tiba. Ia kembali mengigau.

Orang-orang di lapau tak pedulikan teriakan Kandia. Di lapau itu sudah biasa orang berteriak. Apalagi ada yang menang judi bola. Teriakannya bisa memecahkan loteng lapau Mak Kanduik. “Waduh, kalah lagi!” ujar Kusuik sambil memegangi kepalanya. Ia memang penggemar judi bola. Malam itu, ia memasang angka dua untuk kemenangan tim jagoannya. Namun, skor berakhir tiga satu. Kusuik memandang tajam ke arah Kandia yang telah berhasil menebak angka dalam igauannya.
***
KUSUIK belum memasang taruhannya. Padahal, pertandingan bola di tivi sudah masuk ke babak kedua. Ia masih menunggu Kandia mengigau. Benar saja. Lima menit babak kedua berjalan, Kandia mengigau dalam tidur singkatnya. Namun, yang keluar dari igauannya bukan angka-angka. Kusuik kecewa berat.

“Api, api, api!” Teriak Kandia. Ia mengigau tentang rumah yang terbakar. Orang-orang di lapau heran. Mereka bertanya-tanya, rumah siapa yang terbakar, kapan kebakaran itu, dan banyak pertanyaan lainnya. Uncu Elen mulai gusar. Ia khawatir, rumahnya yang terbakar seperti igauan Kandia. Ia langsung mengayuh becaknya kencang-kencang menuju pulang. Di tengah jalan, Uncu Elen melihat api dari kejauhan.

“Rumah kau terbakar, hoi Kusuik!” Uncu Elen berteriak ke arah lapau. Kusuik terperanjat. Ia berlari secepat kilat menuju rumahnya. Tubuhnya yang kurus membuatnya seperti diayun-ayunkan angin di sepanjang jalan. Habis sudah hasil judi bolanya yang sudah lama dikumpulkan untuk membangun rumah di ujung kampung itu.
***
PERIHAL igauan Kandia yang bertuah itu akhirnya tersebar ke seisi Kampung Tangah. Menurut orang-orang, Kandia mendapat tuah ketika tertidur tiga hari di bawah pohon betung di belakang rumahnya. Pohon betung itu sudah tua. Batangnya seukuran tiga kepal tangan orang dewasa. Daunnya menjulang tinggi melebihi atap rumah. Akar serabut pohon betung itu membentuk tanggul setinggi tiga meter. Di tanggul itu ada rongga, orang-orang menyebutnya tempat keramat. Orang pun beramai-ramai mendengarkan igauan Kandia, berharap menemukan jawaban atas setiap pertanyaan yang bergelut-gelut di benak mereka.

Macam-macam saja jawaban yang diharapkan oleh orang-orang Kampung Tangah. Upiak Baniah misalnya, berharap mendapatkan jawaban atas jodoh anak gadisnya. “Apakah ia akan berjodoh dengan lelaki kaya?” Tanya Upiak Baniah kepada Kandia yang sedang terlelap dalam tidurnya.

Kandia mengangguk-angguk karena tertidur sambil duduk. Upiak Baniah senang alang-kepalang. Beberapa hari kemudian, anak gadisnya dilamar oleh lelaki kaya yang bekerja di bank.

Tidak semua igauan Kandia yang membuat orang kampung senang. Angku Tengkak tak sadar rugi besar akan mendatangi dirinya ketika mendengar Kandia mengigau tentang meja di rumahnya yang patah kakinya. Sehari setelah igauan itu, rumah Angku Tengkak didatangi garong. Semua harta yang dikumpulkan dari hasil berjualan pecah-belah hilang seketika. Angku Tengkak tak senang dengan Kandia. Namun Uncu Elen, kawan karib Kandia buru-buru memarahinya. “Salah kau sendiri, Tengkak! Dasar kau kikir, makanya hartamu dijarah orang.” Uncu Elen berang.
***
MAKIN hari, makin banyak saja orang kampung yang datang mendengarkan igauan si Kandia. Bahkan, kabar sudah terlanjur tersebar ke kampung tetangga. Si Kandia pun kini dicari-cari orang.

Setiap kali duduk termenung, orang-orang akan mendekat ke arah si Kandia. Orang-orang berharap Kandia bisa tertidur pulas dan mengeluarkan igauannya yang bertuah. Sejak saat itu, Kandia lebih banyak mengisi hari-harinya dengan tidur. Uncu Elen semakin jarang melihat Kandia terjaga di lapau Mak Kanduik. Ia kasihan, Kandia tak bisa lagi bergadang. Karena itu, suatu sore, Uncu Elen berbisik kepada Kandia yang sedang duduk-duduk di teras rumah panggungnya.

“Hei, Kandia. Dahulu, engkau tak dipandang orang. Mereka lengah, menganggap kau tak ada. Tapi sekarang, setelah mereka melihat kepandaianmu, mereka memanfaatkanmu. Engkau dapat apa?” Uncu Elen berbisik.

Ya, Kandia memang tak dapat apa-apa. Orang berduyun-duyun mendengarkan igauannya, itu untuk kepentingan mereka sendiri. Jangankan meninggalkan uang sebagai tanda terima kasih, berbasa-basi saja tidak. Kandia sibuk mengigaukan kepentingan orang-orang. “Sudah saatnya kau mengigaukan urusanmu sendiri. Cobalah kamu mengigau tentang jodohmu mungkin,” bisik Uncu Elen lagi.

“Baiklah. Aku akan mengigaukan diriku sendiri,” balas Kandia datar.
***
KEESOKAN harinya, Uncu Elen mencari-cari di lapau Mak Kanduik. Namun, ia menemukan Kandia sedang duduk termenung di bawah pohon betung di belakang rumahnya. “Jadi, apa igauanmu?” Tanya Uncu Elen.

Kandia bingung dengan pertanyaan Uncu Elen. “Bagaimana pula aku tahu dengan igauanku sendiri,” balas Kandia sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Oh iya, Aku akan menunggumu tertidur. Nanti akan aku ceritakan apa igauanmu tentang dirimu sendiri.”

Sebentar kemudian, angin sepoi-sepoi yang menerpa ranting pohon betung membuat mata Kandia terasa berat. Ia terlelap. “Cicak, cicak!” Teriak Kandia tiba-tiba mengigau.

Uncu Elen terperanjat. Wajahnya memucat, seperti darah turun tiba-tiba ke ujung kakinya. Kandia yang melihat Uncu Elen tampak kebingungan bertanya kepadanya. “Jadi, apa igauanku?”

“Ah, eh oh.” Uncu Elen terbata-bata. Mulutnya tertahan. Beberapa waktu yang lalu, Uni Bani, perempuan di sebelah rumahnya menemukan cicak hinggap sambil berteriak-teriak di teras rumahnya. Besok hari, perempuan itu mati sambil terduduk, persis di teras rumahnya.*

Padang, Desember 2014

Komentar

Postingan Populer