Etek Rao Dibawa Rau-rau

Cerpen A.R. Rizal


KAMPUNG Ujung Sawah geger. Seorang warganya menghilang. Sudah dua hari ini, Etek Rao tak tampak batang hidungnya. Padahal, janda berusia setengah abad itu selalu hilir-mudik mengunjungi warga kampung. Kalau tak sedang mendatangi warga yang berurusan dengannya, maka orang-orang kampunglah yang mencari-cari Etek Rao.

Etek Rao bukanlah orang terpandang. Bahkan, perempuan itu nyaris tak diperhitungkan. Di Kampung Ujung Sawah, ia hanyalah seorang pendatang. Ketika masih muda, ia dibawa Katuih, suaminya yang menjadi buruh tani di sawah Datuak Malingka. Karena iba dengan nasib Katuih yang serba berkekurangan, Datuak Malingka yang punya sawah berhektar-hektar membolehkannya mendirikan rumah di atas tanahnya yang terletak di pinggir Batang Kuranji. Katuih membangunkan gubuk beratapkan rumbia untuk Etek Rao. Di sana  mereka beranak-pinak, hingga sekarang kepala waris Datuak Malingka tetap membiarkan Etek Rao membangun rumah berdinding batu kali setelah suaminya meninggal lima tahun lalu.

Orang-orang kampung mengenal Etek Rao sebagai perempuan yang cepat kaki, ringan tangan. Ia dijulukki perempuan paamuah, apa saja yang dimintatolongkan kepadanya tak pernah ditolaknya. Perempuan-perempuan muda yang baru melahirkan di kampung biasanya meminta Etek Rao merawat anaknya yang baru lahir. Maklum, anak-anak gadis sekarang tak pernah punya kepandaian mengurus anak, mereka sibuk bersolek dan menggoda lelaki bujang saja. Amai-amai yang bekerja menjual hasil ladang ke balai akan meminta Etek Rao mengurus rumah mereka: menyapu, mencuci dan memasakkan sambal. Etek Rao terkenal pintar memasak lado tanak. Lado tanak buatan Etek Rao membuat laki-laki di Kampung Ujung Sawah makan berkeringat. Namun, itu menyulut istri-istri di Kampung Ujung Sawah cemburu membabi-buta. Mereka takut suaminya berpaling ke Etek Rao. Padahal, Etek Rao adalah tipe perempuan yang setia, tak sedikit pun ia akan tergoda.

Atas saran Katuih, suaminya, Etek Rao tak mau lagi dimintakan tolong mengurusi rumah tangga orang. Ketika suatu hari orang dari kantor kelurahan mendatangi rumahnya untuk melakukan pendataan, Etek Rao ditawari membantu-bantu urusan administrasi warga di sana. “Ada uangnya. Lumayan, bisa untuk tambah-tambah belanja dapur,” ujar orang kantor kelurahan meyakinkan.

Etek Rao tak bisa membaca. Ia tak pernah mengenyam bangku sekolah. Pusing tujuh keliling ia dengan tawaran mengurus administrasi itu. Bagaimana pula ia mengurus administrasi, seumur hidup kata itu baru saja ia dengar. Bahkan, mengejanya saja ia tak bisa. Namun, orang kelurahan memberikan gambaran, pekerjaan Etek Rao sederhana saja. Ia cuma mengambil berkas-berkas dari warga dan menyerahkannya ke kantor kelurahan. Setiap orang yang menyerahkan berkas kepadanya akan menyelipkan uang tanda terima kasih. Etek Rao tak pernah meminta, apalagi menakar jumlahnya. Orang-orang yang berurusan sudah paham saja. Ada yang mengurus KTP, maka Etek Rao mendapatkan uang 5 ribu rupiah. Ada yang mengurus kartu keluarga, ia mendapatkan 10 ribu rupiah. Yang enak itu kalau ada yang meminta menguruskan surat keterangan pernikahan. Biasanya, pasangan muda yang baru menikah itu pemurah dan tak hitung-hitungan. Ia bisa dikasih 50 ribu, bahkan ada yang memberikan 100 ribu.

“Dari Uni Salimah dan keluarga,” ujar Reni, anak Etek Rao yang duduk di bangku kelas lima SD suatu ketika membacakan sebaris tulisan di amplop yang diterima Etek Rao sebagai tanda terima kasih dari pasangan pengantin baru yang ditolongnya. Etek Rao sangat bersyukur, berarti pasangan pegantin itu mendapatkan ketiding baralek yang terisi penuh.

Sejak saat itu, orang-orang Kampung Ujung Sawah meminta Etek Rao mengurusi segala keperluan mereka di kantor kelurahan. Bahkan, sejak suaminya meninggal, Etek Rao sudah bisa menguruskan keperluan warga di kantor kecamatan. Orang-orang di kantor kecamatan sudah kenal betul dengan Etek Rao, sehingga segala urusan perempuan itu tak pernah dipersulit. “Dia itu janda, harus memberi makan 12 orang anak. Jangan persulit dia,” tegas Pak Camat suatu ketika.

Maka, orang-orang di kantor kecamatan akan bergegas menyelesaikan urusan Etek Rao. Bahkan, pegawai kantor kecamatan yang masih lajang dengan sigap sedia akan menawarkan kendaraannya untuk mengatar Etek Rao menyelesaikan urusannya. Kalau sudah demikian, pegawai kantor kecamatan yang sudah beranak-istri akan tahu diri, tak mungkin pula bersaing mendapatkan anak gadis Etek Rao yang konon cantiknya bak bidadari.

Tiba-tiba saja, Etek Rao menjadi orang penting di Kampung Ujung Sawah. Dua hari kehilangan Etek Rao, orang-orang kampung bingung bagaimana harus mengurus keperluannya di kantor kelurahan. Memang kantor kelurahan dekat dari Kampung Ujung Sawah, namun orang-orang enggan berurusan di sana. Soalnya, segala urusan bisa rumit kalau diurus langsung ke kantor kelurahan. Bermacam-macam saja syarat yang harus dipenuhi. Selain itu, prosesnya berbelit-belit dan lamanya minta ampun. Yang lebih penting lagi, isi saku bisa terkuras olehnya.

Si Jamal, pemuda yang baru datang dari rantau pernah berurusan di kantor kelurahan bercerita betapa rumitnya mengurus surat kepindahannya. Banyak saja syarat yang diminta orang-orang di kelurahan. Padahal, sudah jelas-jelas ia lahir dan dibesarkan di Kampung Ujung Sawah. “Celaka, untuk mendapatkan selembar kertas saja harus menunggu tiga bulan!” Jamal kesal.

Lain lagi ceritanya Uni Ramilah. Perempuan itu pernah mengurus sendiri surat keterangan miskinnya. Maklum, ketika itu kepala daerah yang baru punya program bagi-bagi uang santunan kematian. Kebetulan, suami Uni Ramilah baru saja meninggal. “Ternyata, urusannya sepanjang tali baruak. Setiap meja, saya harus memberikan uang 10 ribu. Habis uang saya 900 ribu, padahal santunan itu cuma sejuta,” ujar Uni Ramilah mengurut dada.

Begitulah, kehilangan Etek Rao menjadi sesuatu yang berat bagi orang-orang Kampung Ujung Sawah. Orang-orang pun berurut mufakat untuk mencari Etek Rao sampai ketemu.
***
HARI ketiga hilangnya Etek Rao. Orang-orang Kampung Ujung Sawah berkumpul di lapau Uni Saidah. Rapat kecil digelar di sana. Agendanya, mengendus jejak-jejak Etek Rao.

Tumbuang, preman insaf di Kampung Ujung Sawah menyampaikan hasil investigasi kecilnya. “Saya dan kawan-kawan sudah mengusai seisi kampung. Rumah gadang yang tak berhuni kami datangi, tapian mandi kami sigi, sawah-pematang kami rancah, bahkan sudah pula kami menyusuri hutan di tepian Batang Kuranji. Tapi, Etek Rao tak kami temui,” ujar Tumbuang.

Beda pula laporan Angku Pai. Lelaki yang bekerja sebagai kusir bendi itu mengaku tak lagi melihat Etek Rao sejak Senin lalu. Angku Pai yang selalu mengantar pelanggannya ke kantor kelurahan dan kecamatan menyebutkan biasa melihat Etek Rao di dua tempat itu. “Senin lalu saya masih melihat Etek Rao di kantor kecamatan. Ia memakai selendang panjang. Saya sempat menyapanya, namun setelah itu tak tahu ia pergi ke mana,” ujar Angku Pai.

Buntulah pencarian orang-orang Kampung Ujung Sawah. Ketua kampung bahkan sudah bertanya kepada anak-anak Etek Rao, baik anak-anaknya yang di rumah maupun yang menetap di kampung sebelah. Anak-anak Etek Rao tak tahu pula di mana keberadaan ibunya. “Apa sudah dicari di kuburan Jambak?” ujar Sutan Samak tiba-tiba menyela.

Orang-orang di lapau Uni Saidah terheran-heran. Mereka saling berpandangan, mencoba mencerna dengan keras perkataan Sutan Samak. “Mengapa pula mencari ke kuburan hei, Sutan! Apa Etek Rao sudah mati?” Tumbuang ikut menyela.

“Hus, hati-hati dengan ucapanmu Tumbuang!” Sergah Angku Pai.

“Bukan itu maksudku, Tumbuang,” balas Sutan Samak sambil menghela napasnya. “Kalau Etek Rao sudah mati, pastilah kita orang kampung tahu. Mana ada warga kampung kita yang mati tidak kita selamatkan.” Sutan Samak melanjutkan.

“Jadi, apa sebenarnya maksud pertanyaan Sutan?” Tanya Angku Pai.

Sutan Samak memperbaiki duduknya. Lelaki yang dikenal sebagai ‘orang pintar’ itu menerawang ke langit-langit lapau Uni Saidah. “Mungkin Etek Rao dibawa rau-rau. Sudah lama warga kampung kita tak ada yang hilang. Rau-rau itu kini meminta tumbal,” ujar Sutan Samak Serius.

“Hahaha! Ada-ada saja Sutan ini. Mana pula rau-rau membawa Etek Rao. Etek Rao itu sudah kepala lima. Anaknya selusin, cucunya saja sudah tiga. Rau-rau hanya membawa lari anak-anak,” sergah Angku Pai sambil tertawa kecil.

“Tak ada yang tak mungkin di zaman sekarang Angku! Kini orang sudah bisa pergi ke bulan. Anak saya yang masih SMP saja bisa berbicara langsung dengan orang-orang berambut pirang, entah di mana mereka berada. Itu tuh, namanya twit, twit apalah,” balas Sutan Samak sedikit kesal.

Angku Pai merasa tersudut dengan perkataan Sutan Samak. Lelaki itu pun beringsut ke belakang. Tumbuang, si preman tanggung mencoba mendinginkan suasana yang mulai panas. “Sutan Samak ada benarnya juga. Zaman sekarang sudah canggih, rau-rau tentu tak mau ketinggalan pula. Begini saja, nanti saya dan kawan-kawan akan mencari ke kuburan. Kalau perlu, kami akan mencari ke tempat paling angker di tengah hutan,” ujar Tumbuang serius.
*** 
HARI keempat, belum ada kabar tentang Etek Rao. Orang-orang Kampung Ujung Sawah mulai dihinggapi ketakutan. Orang-orang yang biasa ke surau mulai kehilangan iman. Di antaranya ikut pula membenarkan firasat Sutan Samak yang menyebutkan Etek Rao dibawa rau-rau.

“Selesailah sudah! Ini sudah lewat tiga hari, Etek Rao tak akan kembali,” ujar Tumbuang pasrah setelah beberapa hari ini bersusah-payah mencari Etek Rao.

“Ada apa pula kau ini Tumbuang. Mengapa kau frustasi seperti itu?” Tanya Angku Pai sambil mengernyitkan dahinya.

“Ini sudah pasti Angku Pai. Menurut cerita, rau-rau itu paling lama menahan orang hanya tiga hari. Kalau lewat tiga hari, maka dipastikan tak akan kembali,” balas Tumbuang.

“Benar demikian Sutan?” Tanya Angku Pai ke arah Sutan Samak.

“Benar, Angku! Rau-rau itu paling lama bermain-main dengan tumbalnya itu selama tiga hari. Kalau sudah bosan, ia akan meninggalkan tumbalnya begitu saja. Tapi, kalau mereka kerasan, maka tumbalnya akan dibawa tinggal di alam mereka,” ujar Sutan Samak.

“Kasihan Etek Rao. Apa tak ada yang bisa dilakukan untuk mengembalikannya Sutan?”

“Dunia mereka berbeda dengan dunia kita, Angku. Kita hanya bisa berharap mereka akan mengembalikan Etek Rao begitu saja, sama ketika mereka memilih siapa yang menjadi tumbalnya. Rau-rau memilih tumbalnya begitu saja,” ujar Sutan Samak menjelaskan agak panjang.

“Kira-kira, kenapa rau-rau memilih Etek Rao, Sutan?” Tumbuang ikut menyela.

“Pasti ada alasannya. Rau-rau biasanya memilih tumbal yang paling lemah agar mereka dengan gampang bisa menguasainya,” jelas Sutan Samak.

“Setahu saya, Etek Rao itu perempuan yang tegar. Sudah lama ia dan keluarganya hidup serba berkekurangan, namun mereka tetap bertahan. Bahkan, sejak kematian Katuih, Etek Rao yang banting-tulang mencari uang,” ujar Tumbuang.

“Bisa jadi, ketegaran Etek Rao itu disengaja untuk menutupi kelemahannya, Tumbuang. Mana ada perempuan yang sanggup menanggung beban hidup seperti itu.” Sutan Samak berhenti sejenak. Seperti biasa, ia tiba-tiba menerawang ke langit-langit. “Bisa jadi, Etek Rao mengalami peristiwa tragis yang membuatnya tiba-tiba jatuh lemah,” lanjut Sutan Samak berprasangka.

Angku Pai menyimak dengan saksama perkataan Sutan Samak. Ia pun mencoba mengingat-ingat kejadian beberapa waktu lalu. “Aku ingat! Beberapa hari lalu aku melihat si Banun marah-marah kepada Etek Rao di kantor kelurahan. Ia marah karena belum mendapatkan kartu untuk mengambil uang bantuan kompensasi kenaikan harga minyak. Si Banun memaki-maki Etek Rao. Semua orang di keluruhan melihat kejadian itu. Etek Rao pasti sangat terpukul,” ujar Angku Pai bercerita.

“Benar itu, Angku? Kalau Etek Rao benar-benar terpukul, ia tumbal yang sepadan dibawa rau-rau,” ujar Sutan Samak serius.

“Hm, kurang ajar si Banun! Beraninya dia memaki-maki Etek Rao. Padahal, kalau mau berurusan di kelurahan, dia hanya berani memberi Etek Rao uang seribuan rupiah. Aku juga mengurus kartu bantuan kompensasi kenaikan harga minyak ke Etek Rao. Aku bahkan telah memberinya 20 ribu rupiah. Walau kartu itu belum selesai, aku tak marah,” balas Tumbuang.

“Sabar Tumbuang. Tak usah pakai emosi. Aku juga mengurus kartu itu ke Etek Rao. Memang tak biasa kartu itu belum selesai. Dahulu, kalau diurus Etek Rao, sehari-dua pasti selesai,” ujar Angku Pai.

“Benar Angku, ini tak biasanya.” Sutan Samak menimpali.
***
HARI kelima, orang-orang Kampung Ujung Sawah menyalahkan si Banun atas hilangnya Etek Rao. Lelaki yang sudah lama menduda itu memilih berdiam diri di rumahnya. Ia takut dengan orang-orang kampung yang memandangnya dengan sinis. “Dasar kau Banun!” Teriak orang-orang kampung dalam hati.

Orang-orang Kampung Ujung Sawah akhirnya memutuskan Etek Rao dibawa rau-rau. Ia bisa jadi masih di Kampung Ujung Sawah, namun alamnya sudah berbeda. “Kemarin saya melihat wanita mirip Etek Rao di Kantor Pos kecamatan. Saya menyapanya, namun ia tak mengenali siapa dirinya. Orang di Kantor Pos kecamatan memanggilnya Satun,” cerita Angku Pai.

“Benarkah begitu Angku Pai? Mana pula Etek Rao menjadi Satun. Si Satun kan sudah pergi dari kampung ini sepuluh tahun yang lalu. Ia menjadi TKI di tanah seberang,” sela Tumbuang terheran-heran.

“Tidak, Tumbuang! Kemarin saya juga mendengar cerita dari Kutar. Ketika berada di Kantor Pos, ia juga bertemu dengan perempuan yang mirip Etek Rao. Si Kutar menyapanya, namun perempuan itu tak mengenal dirinya. Orang di Kantor Pos memanggilnya, Sutiah.” Sutan Samak menambahkan.

“Hah! Si Sutiah? Perempuan itu kan sudah meninggal dua tahun lalu!”

Tumbuang membelalakkan matanya. Tumbuang yang mantan preman itu merasakan kedua kakinya kedinginan dan buluk kuduknya berdiri.*

Padang, Desember 2014

Komentar

Postingan Populer