Buyung Lebai Dipanggil Buya

Cerpen A.R. Rizal



KALAU Anda datang ke kotaku, di ujung jalan dekat perbatasan, ada sebuah surau. Bila waktu sudah tiba, singgahlah sebentar di sana. Jika terus saja, maka Anda akan kehilangan waktu. Di sepanjang jalan di dalam kota, Anda hanya akan menemukan masjid-masjid dan musala terkunci rapat. Sementara, di surau itu pintu selalu terbuka. Anda tinggal masuk saja. Berdehem tiga kali, maka seorang lelaki akan datang menyapa. Kadang ia memberikan sajadah. Yang pasti, ia selalu merapikan tikar untuk setiap orang. Lelaki itu, Buyung Lebai. Ia bukan labai, bukan guru di surau. Ia hanya selalu berada di sana.

Surau itu milik kaum Datuk Panjang. Namun, kaumnya itu sudah punah. Jejak anak-kemenakan Datuk Panjang tak berbekas lagi di sana. Sepuluh tahun, surau itu ditinggal begitu saja. Lihat saja, mimbarnya sudah condong ke arah tali bandar di sebelahnya. Kalau tidak disangga dengan batu besar, mungkin mimbar itu sudah roboh. Buyung Lebai yang mencarikan batu besar di kaki bukit. Ia memasangnya setengah mati. Sejak itu, Buyung Lebai selalu berada di surau. Sudah enam bulan, sejak ia pulang dari rantau.

"Alif lam mim!” Itu suara Buyung Lebai mengaji. Ia selalu mengaji di surau. Ia memulai dari surat apa saja yang ingin dibacanya. Kalau sedang bersemangat, Buyung Lebai akan membaca keras-keras. Suaranya bisa terdengar sampai ke seberang jalan. Orang-orang yang berlalu-lalang akan terkejut dibuatnya. Ada yang terkesima, ada yang terhenyak, kemudian memutuskan singgah di surau.

“Waktu sudah masuk, Pak!” ujar seorang anak muda yang singgah ke surau dengan sepeda motornya.

Hayya'alasshalaah, hayya'alalfalaah!” Buyung Lebai langsung iqamat. Ia belum bisa azan. Iqamat saja baru dihafal-hafalnya dua-tiga hari ini. Selesai iqamat, Buyung Lebai langsung berdiri di barisan belakang. Anak muda itu kebingungan. Buyung Lebai lebih bingung lagi kalau harus menjadi imam. Sedang bacaan salat saja baru dihafalnya sepekan-dua pekan ini.

Selesai salat, Buyung Lebai langsung mengaji. Anak muda di depannya duduk sebentar untuk berdoa. Panjang sekali doanya. Tangannya menengadah tinggi ke langit-langit surau. Mulutnya berkomat-kamit. Air ludahnya sampai muncrat ke tikar. Tigapuluh menit kemudian, ia berhenti berdoa. Anak muda itu beringsut ke arah Buyung Lebai. Ia mengeluarkan selembar uang kertas dari saku celananya. Dilihat kiri-kanan, tak ada kotak celengan. Anak muda itu menyerahkan uang kepada Buyung Lebai. “Titip ya, Pak! Untuk infak,” ujar anak muda itu dengan muka sembab.

“Ya, ya, ya,” balas Buyung Lebai menerima uang itu dengan khusyuk. Mulutnya bersuara sebentar, entah apa yang diucapkannya. Anak muda mengira Buyung Lebai sedang membacakan doa-doa untuknya.

Amin, amin ya robbal'aalamin,”  ujar anak muda itu pula sambil mengusapkan kedua tangan ke wajahnya.

Sudah dua orang yang datang ke surau menitipkan uang kepada Buyung Lebai. Orang yang datang biasanya sendiri-sendiri. Itu karena tak ada yang bisa menjadi imam di sana. Buyung Lebai berpikir untuk membuat orang lebih banyak lagi datang. Sepanjang hari tadi, ia berhenti mengaji. Ia memaksakan diri untuk menghafal ayat-ayat pendek. Hatinya senang, ia sudah bisa menghafal An-Nas dan Al-Ikhlas.

Allahuakbar, allahuakbar!” Suara Buyung Lebai menggelegar ke seberang jalan. Ia sudah bisa azan, walaupun tak pandai berirama. Azannya datar-datar saja. Namun demikian, orang-orang yang berlalu-lalang makin tersentak mendengarnya. Mereka semakin banyak yang singgah ke surau. Bahkan, orang-orang di sekitar yang menganggap surau itu sudah hilang, sesekali meluangkan pandang untuk melihat ke sana. Di antaranya melihat-lihat dinding surau, menyigi lantainya, menerawang atapnya.

“Mungkin aku bisa menyumbangkan beberapa lembar seng. Atapnya sudah banyak yang bocor,” ujar Angku Balai, pedagang di kota yang punya rumah besar di seberang jalan dekat surau.
***
Assalammu'alaikum warahmatullah.” Buyung Lebai selesai menjadi imam. Ia mengubah sesikut posisi duduknya ke arah kanan. Ia bersiap-siap untuk membaca zikir. Sesudah itu, Buyung Lebai memperbaiki kembali posisi duduknya ke arah depan. Ia menengadahkan tangan. Buyung Lebai sudah pandai memimpin doa.

Ada dua saf ketika itu. Barisan depan terisi penuh. Barisan belakang, ada kurang dua sampai tiga orang perempuan. Buyung Lebai menyalami orang-orang di barisan itu satu per satu. “Berceramahlah sekali, Buya!” pinta seseorang dari barisan.

“Ya, ya, ya. Bagus itu!” sela orang-orang di barisan lainnya.

Buyung Lebai tertegun. Seumur-umur ia tak pernah berbicara di atas mimbar. Masalahnya lagi, ia belum punya bahan apa yang akan diceramahkan. Tapi, bukan itu yang dirisaukannya. Panggilan sebentar yang membuatnya merasa sangat bersalah. Ia dipanggil buya. Apa jadinya kalau buya tak bisa berceramah. Akhirnya, Buyung Lebai memberanikan diri berbicara di atas mimbar hari itu. Hanya tujuh menit, orang-orang mendengar ceramahnya terasa panjang.

“Hebat, Buya! Isi ceramah tadi sangat mengena,” ujar seorang lelaki menghampiri Buyung Lebai sambil membawa ketiding berisi uang. Ternyata, ketika Buyung Lebai berceramah tadi, orang-orang menjalankan ketiding. Entah dari mana ketiding itu didapat. Mungkin diambil dari bawah rak-rak Alquran. Selama ini, Buyung Lebai tak pernah mengetahui ketiding tersimpan di sana. Untuk apa pula baginya mencari-cari ketiding.

“Alhamdulillah,” ujar Buyung Lebai kepada lelaki itu. Buyung Lebai menerima ketiding dari laki-laki itu. Dihitungnya selembar demi selembar, lelaki yang berumur sekitar 30-an itu membantu Buyung Lebai. Ia belum mau beranjak. Sepertinya, ia sengaja menunggu Buyung Lebai sendirian untuk menyampaikan isi hatinya yang tertahan.

“Begini, Buya. Saya ingin mendapatkan firasat agama dari Buya,” ujar lelaki itu serius. Raut wajahnya kusam, seperti terhalang berjuta masalah. Buyung Lebai belum bereaksi. Baru kali ini ada orang yang meminta firasat agama kepadanya. “Saya lari dari kota, Buya!” ujar laki-laki itu menyambung perkataannya.”Saya lari, lari dari anak dan istri!” Laki-laki itu berujar dengan mulut bergetar. “Saya laki-laki yang bertanggung jawab. Pagi sampai malam, saya membanting tulang. Hasilnya, semua saya berikan untuk anak dan istri. Tak ada berfoya-foya, apalagi bermain perempuan. Tapi ...” Suara laki-laki itu tersekat lagi. “Tapi, istri, istri saya, ia berkhianat!” Lelaki itu meraung-raung sejadi-jadinya.

Lama laki-laki itu menangis. Air matanya hampir habis. Buyung Lebai hanya terdiam. Sesekali ia memegang pundak laki-laki itu.

“Sekarang, saya akan lari. Saya yakin, di suatu tempat akan menemukan jalan hidup yang lebih baik lagi.” Lelaki muda itu menutup keluh-kesahnya kepada Buyung Lebai.

“Bagus, bagus, bagus.” Buyung Lebai membalas pelan sambil terus memegang pundak laki-laki bimbang itu.

“Terima kasih, terima kasih, Buya. Sekarang, saya merasa lega.” Lelaki itu sudah mendapatkan firasatnya. Padahal, Buyung Lebai merasa tak melakukan apa-apa.
***
TADI siang, ada perempuan datang. Buyung Lebai sedang di belakang, dekat bandar di ujung surau. Buyung Lebai hanya memakai kain sarung. Di hadapannya, seorang perempuan cantik baru saja turun dari mobil mewah yang parkir di pekarangan surau. Buyung Lebai menelan air ludahnya dalam-dalam.

“Buya, saya mau meminta firasat,” ujar perempuan itu tanpa berbasa-basi.

“Ada masalah apa?” tanya Buyung Lebai. Sejak lelaki bimbang datang kepadanya meminta firasat, Buyung Lebai mulai mempersiapkan bahan-bahannya. Sepanjang hari, ia membaca kitab kuning yang ada beberapa buah terletak di dekat rak-rak Alquran. Buyung Lebai juga membuka lemari kecil dekat mimbar surau. Di sana, ditemukannya dua buah lagi kitab kuning. Di dalam kitab itu banyak terdapat firasat.

“Suami saya lari. Saya akan menggugat cerai,” ujar perempuan cantik menyambung keluhannya. “Kalau saya menggugat cerai, apakah nanti mendapatkan harta gono-gini?” Perempuan itu lagi bertanya.

“Itu pasti!” jawab Buyung Lebai percaya diri.

“Berapa bagian yang saya dapat, Buya?” tanya perempuan itu lagi.

Kali ini, Buyung Lebai tertegun lagi. Ia berpikir keras, namun jawaban tak pernah mampir di benaknya. “Entahlah. Kamu ambil saja sebanyak-banyaknya,” balas Buyung Lebai meyakinkan.

“Hebat, hebat! Itu yang saya inginkan, Buya!” teriak perempuan itu kegirangan. Ia nyaris merangkul Buyung Lebai. Mujur, Buyung Lebai masih kuat imannya.

Perempuan cantik itu kembali ke kota dengan memacu kencang mobil mewahnya. Buyung Lebai melihat sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ia ingin membaca lagi kitab kuning. Kalau sudah habis kitab kuning itu dibacanya, Buyung Lebai akan membaca apa saja yang bisa dibaca. Ia akan membaca bandar, ia akan membaca semak, ia akan membaca tanah lapang, ia akan membaca kuburan, ia akan membaca alam yang luas terbentang. Dari sana, ia menemukan jawaban-jawaban atas setiap pertanyaan orang-orang yang datang kepadanya.
***
TADI siang, ada tiga laki-laki datang bergantian ke surau. Masing-masing punya cara untuk menyampaikan pertanyaannya. “Saya tak terima! Dia hanya anak buah, berani-beraninya akan menangkap saya. Kalau saya korupsi, dia mau apa?” tanya seorang laki-laki berdasi sambil marah-marah kepada Buyung Lebai.

Buyung Lebai teringat tentang dua ekor biawak yang ditemukannya di semak-semak. Seekor biawak besar menangkap seekor tupai yang terluka. Biawak besar itu hendak menjadikan si tupai makan siangnya. Namun, tiba-tiba seekor biawak kecil merebut tupai. “Biawak besar marah. Biawak kecil diserangnya. Kepala biawak kecil diterkam. Putus!” cerita Buyung Lebai kepada lelaki berdasi.

“Hebat! Buya memang tahu apa yang ada di pikiran saya. Saya memang ingin menghantam kepala si Irman. Sampai pecah!” teriak lelaki berdasi menahan geram. Wajahnya berubah cerah setelah menumpahkan unek-unek yang tersimpan di dadanya.

Setelah lelaki berdasi, datang pula remaja tanggung kepada Buyung Lebai. Remaja tanggung itu datang sambil mengiba-iba. “Pacar saya hamil muda. Dia minta saya menikahinya. Bagaimana mungkin, Buya. Saya saja belum diwisuda. Dengan apa saya akan memberi dia dan anaknya makan?” Remaja tanggung itu gelisah seakan-akan Gunung Padang hendak meletus di kepalanya.

Hm, Buyung Lebai menatap remaja tanggung itu dalam-dalam. Ia teringat tadi malam, tidurnya diganggu oleh suara-suara dari loteng surau. Sepasang kucing liar sedang berada di loteng. “Sepasang kucing itu bersuara sangat pekak. Mereka sedang kawin di loteng. Besok pagi, saya melihat kucing itu bertengkar di belakang surau. Keduanya berebut sisa tulang ikan,” ujar Buyung Lebai kepada remaja tanggung itu.

“Buya memang selalu tahu. Seperti itu pula yang saya pikirkan. Saya sebenarnya tak cinta dengan Rina. Wajahnya seperti emak-emak. Dia pun gatal, tak hanya saya saja yang jadi pacarnya,” ujar remaja tanggung itu bersemangat.

Lelaki ketiga datang kepada Buyung Lebai, ia diam-diam saja. Buyung Lebai heran. Lelaki itu tak bersuara sedikit pun. Bahkan, untuk sekadar memanggil dirinya, Buya. Buyung Lebai teringat, lelaki itu sama seperti dirinya ketika pertama kali tiba di surau.
***
ENAM bulan lalu kurang sehari, Buyung Lebai masih menjadi orang hebat di Jakarta. Ia punya rumah makan di Tanah Abang. Rumah makannya hanya buka dari pagi hingga petang. Maklum, yang makan di sana biasanya orang-orang yang berdagang kaki lima di Tanah Abang. Kadang, ada juga orang-orang yang selesai belanja makan di sana. “Baru jam lima, kenapa sudah tutup, Buyung?” ujar Etek Sona, perempuan yang berdagang mukena di sebelah rumah makan Bunyung Lebai.

Buyung Lebai biasanya menutup rumah makan sekitar pukul enam. Selesai menutup rumah makannya itu, ia biasanya pulang sebentar ke rumahnya di kawasan Senen. Di sana ia sudah membeli rumah bertingkat, tipe 90. “Aku pulang malam. Tak usah kau tunggu,” pesan Buyung Lebai kepada Lastri, istrinya yang merupakan gadis Sunda.  Lastri menurut saja. Ia hanya sibuk mengurus anaknya yang sudah dua orang.

Selepas Magrib, Buyung Lebai keluar dari rumah. Ia singgah sebentar di Jalan Jaksa. Di sana ia mencicipi makanan kaki lima yang bermacam-macam jenisnya. Yang paling disukainya, soto manado. Rasanya pedas-pedas manis. Buyung Lebai makan berkeringat. Kalau keringat sudah penuh di sekujur tubuhnya, ia akan mendinginkan badan ke Mangga Besar. Di Mangga Besar tak ada kolam renang. Namun, di sana banyak ruko yang memiliki AC super kencang. Buyung Lebai senang duduk-duduk di sebuah ruko sambil mendengarkan karaoke. Ruko itu panti pijat. Tapi, kalau terus ke dalam, banyak wanita cantik yang menjadi pelayan laki-laki di sana. Buyung Lebai selalu ditemani Nengsi, wanita dari Indramayu yang cantiknya membuat setiap laki-laki lupa umur. “Ayo, Nengsi! Temani aku di sini,” ajak Buyung Lebai setiap kali tak tahan untuk merangkul tubuh binal perempuan itu.

Kalau sudah duduk-duduk di Mangga Besar, Buyung Lebai akan terlupa waktu. Ia keluar ketika ayam jantan sudah berkokok. Wajahnya sayu, tubuhnya layu, semua gairahnya hilang di Mangga Besar. Bersamaan dengan itu, isi dompetnya yang tebal, ikut-ikutan hilang.

Begitulah jalan hidup Buyung Lebai di ibukota Jakarta. Sepuluh tahun ia di sana. Hari pertama di tahun kesebelas, rumah makannya bangkrut. Gubernur Jakarta mengusir pedagang kaki lima di Tanah Abang. Tak ada lagi yang makan di rumah makan Buyung Lebai. Lambat laun, modalnya habis. Utangnya tak terbayar. Buyung Lebai jadi gelandangan. Istri dan kedua anaknya memilih pulang ke tanah Sunda. “Daripada kau berjalan tak tentu arah di Jakarta, lebih baik kau pulang ke kampung halaman. Jadilah orang surau,” ujar Sutan Gadang, sahabat Buyung Lebai yang mulai bosan memberikan tempat menumpang di Jakarta.

Saran Sutan Gadang termakan oleh Buyung Lebai. Berbekal uang sejuta, ia naik Lorena dari Rawamangun. Enam jam menyeberang dengan kapal ferry dari Merak ke Bakauheni. Lewat Lampung, singgah sebentar di Palembang, sampai di Muaro Jambi. Lorena berhenti di Terminal Bareh Solok. Buyung Lebai melanjutkan perjalanan dengan mobil travel ke perbatasan kota. Di perbatasan kota itu ada surau yang tak berpenghuni. Di surau itu Buyung Lebai menetap kini. Orang-orang yang singgah di sana memanggil Buyung Lebai, Buya.
***
DI KOTA, terbetik berita, ada seorang lelaki berdasi yang membunuh anak buahnya. Pembunuhan itu tercatat sebagai pembunuhan paling sadis yang pernah terjadi di kota. “Kepala pecah, isi benaknya menyembur ke mana-mana. Hih, serem!” teriak seorang istri sambil menyembunyikan sebuah koran berwarna merah yang baru dibawa suaminya dari tempat kerja. Koran itu jangan sampai terbaca oleh anaknya yang baru duduk di kelas satu TK.

Berita lain, sebuah kampus swasta memecat dua mahasiswanya karena telah terbukti mencoreng nama baik kampus. Kedua mahasiswa yang merupakan sepasang kekasih itu tertangkap Satpol PP ketika mencoba membuang bayi yang baru lahir hasil hubungan gelap keduanya. Berita dari kota itu terbaca oleh orang-orang di sekitar surau di perbatasan. Angku Balai akhirnya mengurungkan niat menyumbangkan seng untuk menutup atap surau yang tiris. “Buya itu sudah gila!” Maki orang-orang sekitar surau kepada Buyung Lebai.

Buyung Lebai tertawa-tawa kecil saja dengan makian orang-orang kepadanya. Seperti tak terjadi apa-apa baginya ketika orang-orang tak ada lagi yang singgah di surau. Ia malah senang. Sendiri lagi di surau, seperti biasa-biasanya. Buyung Lebai akan kembali dengan kegiatannya sehari-hari di surau. Selesai sembahyang, ia akan mengaji. Surat apa saja dibacanya. “Al-fa-ti-hah!” ujar Buyung Lebai mengeja. Ia melanjutkan membaca. Alif dibacanya ba, ba dibacanya ta, dan ta dibacanya jim.*

Padang, Desember 2014

Komentar

Postingan Populer