Bun dan Nian

Cerpen A.R. Rizal



 “Kalau pulang nanti, kamu jalan memutar saja. Jangan lewat dekat gerbong tua di belakang stasiun,” pesan Nenek dari balik daun pintu. Ia menemukan kami duduk berdua di ruang tamu. Ia sudah tahu, kami akan pergi berdua malam itu.

Baru jam tujuh. Etek Dan menyuruh Tanun membawa anak gadisnya jalan-jalan, mencari udara segar. “Bawalah si Teti nonton ke bioskop. Tapi, jangan pulang terlalu malam,” pinta Etek Dan kepada Tanun.

Tanun adalah anak laki-laki Tacin, saudara laki-laki Etek Dan. Teti, anak gadisnya baru saja diwisuda. Orang-orang di rumah sudah berembuk, Teti dan Tanun dijodohkan. Daripada lari ke orang, lebih baik pulang ke bako saja. Tanun pun tak menolak. Umurnya sudah lewat sedikit untuk berkeluarga.

Walaupun itu perjodohan, Tanun ingin semuanya berjalan seperti kebiasaan orang-orang. Bagaimanapun, ia orang terpelajar. Sama dengan Teti, ia anak kuliahan. Bahkan, sambil bekerja Tanun kini sedang mengambil S2. Jadi, mereka diberi kesempatan melakukan pendekatan. Yah, pacaran, kata anak-anak muda sekarang. Bagi Tanun, itu sebenarnya tak terlalu penting. Ia sudah kenal Teti luar dan dalam. Mereka sudah bergaul sejak kecil ketika Tanun sering dibawa ayahnya, Tacin untuk bermain di rumah bako-nya. Kalau Tanun datang, yang paling senang neneknya. Perempuan tua itu sangat merindukan cucu lelakinya. Maklum, di rumah itu hanya ada Teti sebagai cucu perempuan satu-satunya. Sementara, cucu laki-laki dari anak-anaknya yang lain tinggal jauh di rantau. “Kenapa harus jalan memutar, Nek? Kan jauh jadinya?” tanya Tanun sambil mendatangi neneknya yang duduk sambil melipat kain di atas dipan.

“Panjang ceritanya,” balas Nenek.

Tanun malah semakin mendekat. Ia selalu siap untuk mendengarkan cerita. Seperti masa kanak-kanak dahulu, Nenek sering mendengarkan cerita kepadanya. Sebelum tidur, ia akan merebahkan kepala Tanun di atas pangkuannya. Perempuan itu pun memulai ceritanya.
***
DAHULU, lama sekali, Nenek sudah lupa berapa tahunnya. Namun, tahun itu tak pernah hilang dari ingatannya. Rumah Nenek dekat dengan stasiun kereta. Di zaman bergolak, rumah itu dijadikan lumbung padi. “Dulu, Nenek dan ayahmu makan di atas jerami,” ujar Nenek kepada Tanun sambil mengenang masa lalu.

Susah nian hidup di zaman itu. Makan hanya pakai beras, tak ada lauknya. Jangankan membeli ikan, sekadar membeli garam saja tak bisa. Nenek mengatakan, nasibnya masih mujur, karena masih bisa memberi makan sebelas orang anaknya. Namun, ia sedikit menyesal karena tak bisa membawa anak bungsunya ke dokter. Padahal, kalau cepat dibawa, anak bungsunya itu tak akan menderita lumpuh layu hingga ia cacat sampai sekarang.

“Bakar, bakar, bakar!” teriak seorang lelaki tegap memakai seragam. Rumah Nenek dibakar. Tentara itu kesal karena tak menemukan buronan yang dicari. “Mana itu si Kasim? Kurang ajar!” Umpat tentara itu tak tahu memberikan umpatannya kepada siapa.

Nenek dan sebelas anaknya sudah lari meninggalkan rumah. Sejak kabar tentara datang, Nenek sudah menduga mereka akan mencari suaminya. Ya, Kasim adalah kakeknya Tanun. Tapi, Tanun tak pernah melihat langsung wajah kakeknya itu. Kata Nenek, Kasim hilang di hutan ketika ia sama-sama berjuang dengan kawan-kawannya. “Di gerbong belakang stasiun, di sana kami lari.” Nenek meneruskan cerita.

Sungguh aneh, Nenek memilih lari ke gerbong di belakang stasiun itu. Padahal, stasiun itu merupakan tempat kedatangan tentara berseragam. Menurut cerita Nenek, di zaman susah itu, ribuan tentara datang dari Jawa. Mereka mencari kakek Tanun dan kawan-kawannya yang disebut sebagai pemberontak. Tentara itu tiba dengan kapal-kapal besar. Kapal melempar jangkar di tengah laut. Tentara memakai perahu menuju pantai. Sesampai di pantai, mereka meletuskan senapan. Orang-orang ketakutan. Jalan bagi tentara menjadi lapang. Mereka terus berjalan sampai ke stasiun. Dari stasiun, tentara menyebar ke luar kota, ada yang ke Padangpanjang, Bukittinggi, Pariaman hingga ke Sawahlunto. “Belakang stasiun itu tempat pembuangan gerbong tua. Tentara tak akan mengira kita lari ke sana,” ujar Nenek menyebutkan alasannya.

Berbulan-bulan Nenek menjadikan gerbong tua belakang stasiun sebagai tempat pelarian. Untuk bertahan hidup, ia memakan ubi kayu yang ditanam liar di belakang stasiun. Hingga suatu hari, seorang tentara muda menemukan persembunyian mereka. “Kalian sudah makan?” tanya tentara muda itu mendekat.

Nenek saat itu sudah mati ketakutan. Terbayang butiran peluru menembus kepalanya dari senapan besar yang dibawa tentara muda itu. Tapi, cara tentara muda itu menyapa sungguh di luar perkiraan. “Jangan takut, saya orang awak juga,” ujar tentara itu lagi.

Pengakuan yang membuat Nenek terheran-heran. Ia ingin bertanya, namun ditahannya. Sudah mujur, tentara muda itu tak menangkapnya sebagai keluarga pemberontak. Namun, Nenek akhirnya tak kuat menyimpan tanya yang mendidih di benak kepalanya. Ucapannya terlontar juga ketika ia melihat tentara muda itu sudah semakin baik kepada anak-anaknya. “Kamu sudah menembak orang?” Tanya nenek suatu ketika.

“Ya!” jawab si tentara muda singkat.

“Kurang ajar! Kau mengaku orang awak, tapi saudara sendiri kau bunuh juga!” Suara Nenek meninggi. Ia tak sanggup membendung emosinya.

Si tentara muda kelimpungan. Ada berjuta rasa bersalah bergayut di batinnya. Ia hanya seorang tentara, tugasnya melaksanakan perintah. “Saya tidak tahu, apakah ia PRRI atau penjahat biasa. Dia menembak, saya membalas menembak. Itu saja!” ujar tentara muda itu seperti membela diri.

Nenek marah besar dengan tentara muda itu. Sekian lama mereka tak bertegur sapa. Nenek selalu membuang piring yang dibawa tentara muda untuk anak-anaknya. “Sampai hari ini, saya tak pernah bertanya siapa namanya.” Nenek menghentikan sejenak ceritanya.

Tanun sangat senang dengan cerita Nenek itu. Namun, ia terlanjur terlelap ketika nenek meneruskan ceritanya.
***
KETIKA bermain-main dengan Teti, Tanun pernah mendengar cerita yang berbeda tentang si tentara muda. Menurut orang-orang di belakang stasiun, dahulu banyak orang lari ke gerbong tua setelah rumah-rumah mereka dibakar tentara. Di sana, ada tentara muda yang baik hati. Ia selalu membawakan nasi untuk orang-orang di gerbong tua. Bahkan, si tentara muda menjaga orang-orang di gerbong tua agar tak diketahui tentara dari Jawa.

“Ia orang Jawa, namanya, Bun. Bun, Bun, Bun saja! Entah, Buntoro mungkin nama panjangnya,” ujar Uncu Rajik, lelaki belakang stasiun suatu ketika bercerita.

Uncu Rajik masih remaja ketika zaman bergolak tiba. Karena itu, ia membumbui cerita tentang si tentara muda dengan kisah asmara. Sebenarnya, Uncu Rajik ingin menggoda Tanun dan Teti. Ia merasa Tanun dan Teti yang berinduk bako akan berjodoh nantinya.

Bun yang berwajah tampan, gagah perkasa dengan seragam tentaranya berjumpa dengan Nian, gadis manis yang lari ke gerbong tua. Nian sebatang kara ketika itu. Ayahnya mati karena sakit malaria. Sementara, ibunya lari dengan laki-laki lain meninggalkannya bersama neneknya. Ketika tentara dari Jawa membakar rumah orang-orang di belakang stasiun, nenek Nian yang sudah renta tak kuat menyelamatkan diri. Ia mati dalam kobaran api. “Bun Bun jatuh hati kepada Nian. Nian pun membalas cintanya.” Uncu Rajik melanjutkan ceritanya.

Namun, tentu saja cerita cinta Bun dan Nian berakhir sebagai kisah kasih tak sampai. Sebaik apa pun Bun Bun, orang-orang belakang stasiun tak suka dengan tentara Jawa. Mereka marah, mereka tak merestui tali kasih keduanya.

Pernah Bun membawa lari Nian. Menurut Uncu Rajik, Bun berencana membawa Nian ke Pulau Jawa. Namun, pelarian mereka berakhir di ujung Muaro dekat Gunung Padang. Mereka rencananya hendak menyeberang ke Bengkulu dengan kapal kecil. Tapi, tentara dari Jawa menyergapnya. Bun ditangkap sebagai tentara yang membelot. “Kabarnya, Bun ditahan di penjara bekas Belanda di Muaro. Sementara, si Nian dilepaskan begitu saja,” cerita Uncu Rajik lagi.

Orang-orang belakang stasiun pernah sekali melihat Nian datang ke rumah neneknya yang habis terbakar. Ada pula yang melihat, Nian sering berada di gerbong tua di belakang stasiun ketika orang-orang tak lagi lari ke sana. Nian berharap, Bun, kekasih hatinya akan menemui dirinya di gerbong tua di belakang stasiun.

Uncu Rajik juga menceritakan kelanjutan nasib Bun, tentara dari Jawa. “Ada yang bilang, Bun berhasil lari dari penjara dan menemui Nian di gerbong tua. Tapi, ada pula yang mengatakan ia mati di penjara ketika tentara pergi begitu saja untuk kembali ke Pulau Jawa. Bun ditinggalkan membusuk di penjara. Siapa yang peduli dengan tentara Jawa,” sambung Uncu Rajik.

Tanun tak suka dengan cara Uncu Rajik mengakhiri ceritanya. Ia mengarang akhir ceritanya sendiri. “Ketika zaman bergolak sudah usai, Bun dan Nian akhirnya berjumpa di Taman Siti Nurbaya. Mereka kembali merajut cinta yang sempat tertunda. Keduanya kemudian menikah dan hidup bahagia.” Begitulah Tanun menambahkan ceritanya.

“Mana ada seperti itu, Tanun! Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri tak pernah bersama. Hanya kuburannya saja yang ada di Gunung Padang,” balas Uncu Rajik yang tak ingin Tanun merusak jalan ceritanya. “Sudahlah! Akhirnya, cerita sampai di Dodik.” Berarti Uncu Rajik sudah menutup ceritanya.
***
MALAM itu, Tanun akan membawa Teti ke Dodik. Dodik itu nama bioskop. Entah kenapa pula diberi nama Dodik. Kata orang-orang, Dodik itu nama Belanda. Ya, di sana dahulunya tempat menonton tuan dan none-none Belanda. “Kau pegang erat tangan adikmu itu, jangan sampai lepas,” ujar Etek Dan kepada Tanun.

Dada Tanun berdetak kencang. Teti tersenyum malu-malu. Keduanya berjalan seiringan membelah malam. Dodik itu dekat dengan stasiun. Tanun dan Teti cukup berjalan kaki saja. Itu lebih baik, keduanya jadi memiliki waktu untuk bersama lebih lama. “Hei, jangan pacaran di sana!” teriak sebuah suara.

Tanun hendak mengajak Teti berhenti sejenak di dekat gerbong tua di belakang stasiun. Muda-mudi yang sedang dimabuk hati sering melakukan hal yang sama. Katanya, untuk mengenang kisah kasih Bun dan Nian yang pernah terukir di sana.

“Ada apa?” tanya Tanun kepada suara.

“Jangan pacaran di sana, nanti kau bisa celaka,” balas suara itu.

“Celaka bagaimana? Tak ada siapa-siapa di sini,” ujar Tanun kebingungan.

“Di sana ada bun, bun, bun, bunian!” teriak suara itu tiba-tiba menghilang di kegelapan.

Ternyata, ada versi lain tentang akhir cerita si tentara muda dari Jawa dan gadis manis belakang stasiun yang belum didengar Tanun. Menurut cerita, Bun dan Nian bertemu juga di gerbong tua di belakang stasiun. Di sana mereka bertekad mengikat kasih sehidup-semati. Jangankan ditentang orang-orang belakang stasiun, ataupun ditangkap dan disiksa tentara dari Jawa, keduanya sudah bertekad untuk berkorban sampai bertaruh nyawa. Bun dan Nian mengakhiri hidupnya di gerbong tua di belakang stasiun. Orang-orang sempat mendengar dua letusan senjata. Suara itu tiba-tiba hilang di kegelapan malam. Begitulah akhir ceritanya.
***
SEKARANG, kalau Anda berkenan datang ke kampung di belakang stasiun dan mendengar suara letusan senjata di dekat gerbong tua, dua kali. Berarti Bun dan Nian berada di sana.*

Padang, Desember 2014

Komentar

Postingan Populer