Bujang Lepai

Cerpen A.R. Rizal



“Jangan, jangan, jangan! Nanti bisa heboh orang sekampung!”

“Justru yang heboh itu dicari-cari orang!”

“Pokoknya, jangan! Awas ya, kalau ditulis!” Bujang Lepai mengancam dengan telunjuknya yang lentik. Kalau sudah demikian, laki-laki itu makin terlihat keunikannya.

Butar, warga kampung sebelah yang bekerja sebagai wartawan lepas ingin menulis tentang Bujang Lepai yang unik. Namun sayang, ia melarangnya. Padahal, di acara alek malam di kampung sebelah, ia bercerita panjang lebar kepada Butar tentang dirinya. Orang-orang senang mendengar ceritanya. Hitung-hitung sebagai penghilang bosan karena tukang saluang tak jadi datang karena hujan lebat.

“Ehei, saya pernah loh dikasih hadiah sama Ibu Bupati,” ujar Bujang Lepai membanggakan diri dalam ceritanya.

Entah apa prestasi laki-laki yang sudah berusia kepala tiga itu. Sepanjang hari, ia hanya hilir-mudik di kampung. Di ujung pekan, ia akan tampak di alek orang. “Saya dapat penghargaan karena satu-satunya kader Posyandu laki-laki di kampung ini.” Bujang Lepai menambahkan.

Pantaslah laki-laki yang mendengar cerita Buyung Lepai di alek malam itu tidak tahu. Posyandu kan urusan ibu-ibu. Buyung Lepai sehari-hari memang lebih banyak bergaul dengan perempuan-perempuan di kampung. “Hebat juga kau, Bujang Lepai,” celutuk  Samsul sambil mengangkat jempolnya. Padahal, lelaki itu bukan hendak memuji. Sebaliknya, malah memandang sebelah mata.

Bujang Lepai sudah terbiasa dengan orang-orang yang memandangnya rendah. Bahkan, ia bisa merasakan nikmat ketika jadi bahan cemoohan orang-orang. “Hoi mau ke mana Buyung Lepai? Hati-hati, nanti dilarikan orang.” Laki-laki di ujung jalan mengolok-olok Bujang Lepai.

Bujang Lepai akan menjawab lurus-lurus saja. “Ke warung, beli obat nyamuk,” balasnya singkat.

“Ahai, kasihan Bujang Lepai dicolek-colek nyamuk,” ujar laki-laki di ujung jalan lagi. Sebentar kemudian, laki-laki itu akan tertawa terbahak-bahak.

Tak hanya laki-laki yang mengolok-olok Bujang Lepai. Perempuan-perempuan kampung pun kadang menjadikan Bujang Lepai bahan kelakar. Terutama, kalau perempuan-perempuan kampung sedang berkumpul dan Bujang Lepai ada di sana. “Bujang Lepai, aduk yang kencang!” Celetuk Uni Tina kepada Bujang Lepai yang membantu memasak rendang di sebuah alek orang kampung.

“Sudah, ini sudah kencang! Pakai digoyang-goyang lagi,” balas Buyung Lepai sambil mengoyang-goyangkan pinggulnya seirama adukan rendang.

Perempuan-perempuan yang memasak rendang tertawa terbahak-bahak. Uni Tina kembali menyela. “Tak usah pakai goyang, nanti tak keruan rasa rendangnya.”

Raut muka Bujang Lepai berubah. Ia bertanya-tanya. “Hm, kenapa bisa tak keruan pula rasa rendangnya?”

“Rasa rendang itu tergantung adukannya. Kalau adukan perempuan, rendangnya terasa manis-manis asam. Kalau adukan laki-laki, rendangnya terasa pedas-pedas asin,” ujar Uni Tina sengaja memotong jawabannya.

“Lalu?” Bujang Lepai penasaran.

“Lah! Kalau kamu, Bujang Lepai, kan tidak jelas rasanya. Rasa laki-laki atau rasa perempuan,” sambung Uni Tina sambil tertawa sejadi-jadinya.

“Idih! Kita laki-laki loh,” balas Bujang Lepai menyeringai.

“Oh iya. Bujang Lepai yang paling ganteng di sini.” Uni Tina menghibur. Jangan sampai Bujang Lepai merajuk hatinya. Ia selalu penting di setiap pekerjaan perempuan-perempuan di kampung, apalagi di setiap alek.

Bujang Lepai akan membantu-bantu memasak di dapur. Padahal, ia sama sekali tak pandai memasak. Kadang ia membantu-bantu menghias pelaminan. Padahal, Buyung Lepai sama sekali tak bisa memasang peniti. Satu-satunya keahlian laki-laki itu hanyalah mencuci piring. Tapi, kehadiran Buyung Lepai selalu dibutuhkan. Suasana menjadi lengang kalau ia tak datang. Buyung Lepai selalu datang di setiap ada alek di kampung, walaupun kadang tak diundang.
***
ALEK besar dihelat di Kampung Duku. Ada anak Kampung Duku yang sukses di rantau diangkat jadi penghulu. Semua orang kampung dilibatkan, karena pesta bisa berlangsung tujuh hari tujuh malam. Bujang Lepai dapat tugas di bagian dapur umum. Sebenarnya, Inang yang bertanggung jawab, Bujang Lepai hanya membantu-bantu.

“Oi Inang! Kunyit dan sipedas kurang!” teriak Uni Dahlia dari tempat pencucian bahan-bahan makanan.

Inang yang sedang berada di dapur umum yang didirikan di tepi lapangan kampung berjalan keluar. “Bujang Lepai, ke sini! Kau temani aku belanja ke pasar,” ujar Inang kepada Bujang Lepai yang sedang mengaduk-ngaduk gulai. Bujang Lepai bergegas. Ia seperti anak buah saja bagi Inang, padahal mereka seumuran.

Inang memacu sepeda motornya menuju pasar. Bujang Lepai duduk berboncengan di belakang. Bagi orang-orang kampung, tingkah laku Bujang Lepai itu sudah dianggap biasa. Mana mungkin ia berbuat gata kepada perempuan-perempuan Kampung Duku. Namun, aksi Bujang Lepai itu dilihat Badrun, suami Inang. Ia tak senang. Badrun mengira Bujang Lepai telah merangkul istrinya dari belakang.

Suasana di dapur umum buncah. Badrun yang dibakar api cemburu menyerang Bujang Lepai dengan kata-kata pedas. “Kurang ajar kau Bujang Lepai! Beraninya kau memegang istri orang!” teriak Badrun sambil mengangkat dagu Bujang Lepai hendak memukul. Bujang Lepai terkejut. Nyaris ia terjatuh ke kuali besar karena keseimbangannya goyang akibat dorongan tangan Badrun.

“Aih, aih, ada apa dengan kau, Badrun?” tanya Bujang Lepai ketakutan.

“Diam, mulut perempuanmu itu!” teriak Badrun. Tangan laki-laki yang bekerja sebagai tukang itu masih memegang dagu Bujang Lepai. “Pandai pula kamu menggoda-goda istri orang. Kau pikir, masih punya kejantanan ha?” Badrun membelalakkan biji matanya.

Bujang Lepai membalas amarah Badrun dengan diam. Wajah Bujang Lepai mendidih seperti minyak di kuali. Hatinya teriris-iris seperti bawang putih yang dipotong Uni Tina tipis-tipis. Namun, semua itu ditahannya dengan air mata. Perempuan-perempuan di dapur umum ikut bersedih untuk laki-laki itu. Bujang Lepai keluar dari dapur umum dan berlari-lari kecil di tengah lapang. Badrun mengejarnya. Laki-laki di tengah lapang bertepuk tangan untuk Badrun. “Sudah, sudah, Abang! Malu dilihat orang!” sergah Inang sambil memegang tangan Badrun.

Sudah lama Badrun menyimpan prasangka kepada Bujang Lepai. Padahal, ia sangat mengenal lelaki itu dari istrinya sendiri, Inang. Inang dan Bujang Lepai sudah berkawan sejak lama. Sejak kecil, Bujang Lepai tak banyak bergaul dengan laki-laki. Ia selalu bermain-main dengan anak perempuan. Inang, kawannya yang paling akrab.

“Lepai, ayo main kajai! Kamu yang jadi tonggaknya,” ujar Inang setiap kali mengajak Bujang Lepai bermain. Laki-laki itu menurut saja. Kalau mereka sedang bermain masak-memasak, Bujang Lepai rela saja tangannya dijadikan kuali tempat memasak. Kalau sedang bermain cuci-cucian, Bujang Lepai akan membiarkan punggungnya dijadikan papan penggilas. Selesai bermain cuci-cucian, biasanya mereka langsung berenang di sungai.

Sampai Inang menikah, Bujang Lepai tetap berkawan dengannya. Keduanya selalu menjadi tim yang solid untuk mengurus dapur di setiap alek yang dilaksanakan orang-orang kampung. Karena keakraban itu, Bujang Lepai pun dekat dengan Badrun. Kalau tak sedang bersama Inang, Bujang Lepai pastilah berjalan dengan Badrun. Begitulah keduanya dekat, hingga lelaki-lelaki kampung pun sempat mengolok-olok Badrun. “Sudah tertular penyakit Bujang Lepai ke kau, Badrun!” sindir laki-laki Kampung Duku.

Badrun marah dengan olok-olok laki-laki di Kampung Duku. Ia membuktikan kelelakiannya dengan memberi Inang anak pertama. Namun, laki-laki Kampung Duku terus mengolok-oloknya karena tak kunjung memiliki anak kedua. “Kenapa kau tidak minta tolong kepada Bujang Lepai saja Badrun?” cemooh laki-laki kampung lagi.

Badrun hilang kesabarannya. Ia mengira Inang tak bisa lagi memberikannya anak. Namun, kesalahan akhirnya ditimpakan kepada Bujang Lepai yang dianggap menularkan penyakit kepadanya. Hubungan Badrun dan Bujang Lepai renggang. Puncaknya, Badrun memaki-maki laki-laki itu di dapur umum saat alek kampung.
***
SEJAK dipermalukan Badrun, Bujang Lepai tak tampak lagi di Kampung Duku. Orang-orang kampung menyebut Bujang lepai pergi ke kota. Sebagian lagi menyebutkan lelaki itu lari ke tengah hutan. “Mungkin ia sudah dimakan harimau atau jadi mainan siamang jantan,” ujar laki-laki kampung mengolok-olok.

Laki-laki Kampung Duku lebih senang kalau Bujang Lepai pergi. Kepergian lelaki itu dianggap sebagai terangkatnya satu penyakit dari Kampung Duku. “Lelaki setengah jadi itu akan menjadi laknat bagi Kampung Duku,” ujar Pakih Bengkok kepada orang-orang sepulang dari musala.

Lain pula kata Buyung Manan kepada orang-orang di lapau. “Lama-lama, Bujang Lepai itu bisa merusak laki-laki di Kampung Duku.” Entah apa maksud perkataan pemuda pengangguran itu.

Mak Adang malah menyanggah Buyung Manan. “Salah kau, Buyung! Bujang Lepai justru merusak perempuan-perempuan di Kampung Duku,” ujar Mak Adang tak kalah sengit.

“Hahaha! Bagaimana pula Mak Adang ini. Mana mungkin Bujang Lepai merusak perempuan-perempuan Kampung Duku, dia saja setengah perempuan,” sela Tambun ikut menyanggah pula.

“Sudahlah! Laki-laki dan perempuan sama-sama dirusaknya,” ujar Tapai menengahi perdebatan yang semakin memanas di lapau.
***
SUDAH sembilan bulan Bujang Lepai pergi dari Kampung Duku. Namun, penyakit yang ditakutkan laki-laki di sana ternyata tak kunjung hilang. Mereka tak mampu lagi memberikan anak untuk istri-istrinya. Bahkan, sebagian dari mereka tak lagi suka kepada istri-istrinya.

“Ngowak, ngowak, ngowak!” Tiba-tiba suara tangis bayi mengejutkan seisi Kampung Duku. Badrun, mendapatkan anak keduanya, seorang laki-laki. Ia terheran-heran. Padahal, ia yakin telah bermimpi memiliki anak perempuan. Di ujung Kampung Duku, Kutar juga kehilangan akal. Anak perempuannya baru lahir. Kutar tak menyangsikan keyakinannya kepada dukun beranak bahwa anaknya laki-laki.*
Padang, Desember 2014

Komentar

Postingan Populer