Belahan Jiwa
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
ADA keramaian kecil di
depan rumah Lena. Bu Surti menggelar pesta. Sejumlah tetangga diundang. Tak
ketinggalan garin masjid yang akan memanjatkan do’a untuk pasangan sakinah mawaddah wa rahmah. Bu Surti
dipinang Tuan Satria. Keduanya kembali dipertemukan setelah 30 tahun berpisah.
“Hanya acara syukuran saja. Biar orang-orang sekitar tahu. Kan ndak enak, nanti
dikira pasangan ilegal,” ujar Bu Sutri ketika menyampaikan undangan kepada para
tetangga.
Bu Sutri sudah lama menjanda. Suaminya
seorang pelaut. Ketika enam bulan lebih tak bertemu, ia mendapat kabar suaminya
digulung ombak besar. Sampai sekarang, tidak jelas apakah sudah meninggal. Bu
Sutri tak pernah mendapatkan jenazahnya. Ketika itu, ia hanya menerima Tantri
lahir ke dunia. Anak bungsunya yang kini menjadi perawat di rumah sakit.
“Tantri, ke sinilah!” panggil Bu
Sutri. Ia sedang duduk-duduk di ruang tengah. Bersamanya ada Lena dan ibu-ibu
tetangga lainnya. “Nah, Tantri ini yang paling tahu awal mulanya,” sambung Bu
Sutri sambil memegang bahu putrinya.
“Yah, ceritalah Tantri. Bagaimana Bu
Sutri bisa bertemu lagi dengan Tuan Satria,” celutuk Zainun penasaran.
Perempuan yang terlambat menikah itu sangat antusias dengan kisah kasih Bu
Sutri dan Tuan Satria. Ia menyebut, kisah yang mengalahkan sinetron yang selalu
ditonton di layar televisi.
Tantri memperbaiki posisi duduknya.
Sambil memeluk Bu Sutri, ia berbicara dengan mata berkaca-kaca. “Tantri kan
lagi merawat pasien. Pasiennya ibu-ibu, seumuran mama. Ibu itu menderita kanker
stadium akhir. Tak ada harapan lagi. Kasihan bapak-bapak yang selalu
menjaganya...”
Zainun terbengong-bengong. Lena malah
mengerenyitkan dahinya. “Seharusnya perempuan sekarat itu yang dikasihani...”
batin Lena.
“Bapak itu sangat terpukul sekali. Ia
cerita ke Tantri, ia sangat mencintai istrinya, ” ujar Tantri melanjutkan
ceritanya. “Sejak saat itu, Tantri dekat dengan Bapak itu. Ia seperti ayah
Tantri sendiri...”
“Wah...!” Zainun yang ternganga tak
sengaja mengeluarkan suara.
“Apa yang wah, hei!” teriak Lena
mengejutkan Zainun.
“He he he..! Ceritanya belum sampai,”
tukuk Bu Sutri. “Suatu ketika, Tantri lupa membawa HP-nya. HP itu berdering
sepanjang hari. Ketika saya angkat, terdengar suara laki-laki. Saya pikir, itu
teman laki-lakinya Tantri. Eh, tahunya...”
“Masa pacar Tantri om-om sih, Ma!”
potong Tantri sambil tersenyum lebar.
“Pertama kali, sebenarnya mama sudah feeling, itu suara Tuan Satria. Logatnya
sama, tapi agak berat,” ujar Bu Sutri sambil menyembunyikan wajahnya yang
tiba-tiba berwarna kemerah-merahan.
“Idih... yang suka suara berat...”
Tantri terus menggoda Bu Sutri. “Sejak saat itu, Tantri ditelpon tiap sebentar.
Katanya, mau nanya kabar Tantri. Eh, ujung-ujungnya ingin bicara sama mama...”
Tantri senang dengan Tuan Satria.
Anak-anak Bu Sutri lainnya tak keberatan dengan kedekatan keduanya. Hingga,
suatu ketika Tuan Satria datang ke rumah. Ia membawa setangkai bunga. Sambil
bersimpuh, ia melamar Bu Sutri. “Tuan Satria juga memasangkan cincin emas
bermatakan berlian. Ini...” ujar Bu Sutri sambil memperlihatkan jari manis di
tangan kanannya.
“Waw...! Indah sekali....” ujar Zainun
membelalakkan matanya ke arah jari manis Bu Sutri.
“Pasti mahal harganya,” ujar Lena pula
terheran-heran.
“Bukan itu intinya, Lena. Cincin ini
seperti mengikat kembali cinta kami yang pernah hilang,” balas Bu Sutri.
Ibu-ibu terkagum-kagum mendengar
cerita Bu Sutri. Zainun tak henti-hentinya terkesima. Sementara, Lena merasakan
sesak di dadanya. “Kabarnya Bu Sutri akan bulan madu ke luar negeri. Mereka
ingin mengukir kembali jejak-jejak masa lalu yang terkikis angin waktu. Wuih, romantisnya...”
ujar Zainun kepada Lena ketika acara syukuran di rumah Bu Sutri usai. Lena
menatap geli kepada Zainun yang berbicara sambil merapatkan dua genggaman
tangan ke dadanya. Perempuan itu mengambil langkah bergegas menuju rumah.
***
“Halo!”
“Hai, Raf! Aku, Lena. Senang sekali, mendengar
suaramu...”
Rafi menelpon beberapa kali ke rumah. Lena enggan
mengangkatnya. Telpon itu selalu dibalas oleh mesin penjawab. Ada rasa yang
tersekat di dadanya ketika mendengar kembali suara lelaki itu, setelah sekian
lama.
Rafi teman kuliahnya Lena. Namun, laki-laki itu mengangap
dirinya berbeda di hadapan Lena. Kalau berdekatan, ia sering salah tingkah.
Kalau berjauhan, ia selalu mencuri-curi pandang. Kalau tak bertemu muka, Rafi
selalu menelponnya ke rumah. “Halo, apa kabar. Apa Lena sudah makan?” ujar
lelaki itu setiap kali menelpon. Tak banyak yang diucapkannya. Suaranya selalu
berhenti di beberapa kata saja.
Rafi pernah menyukai Lena. “Mungkin dia cinta sejati
itu...” bisik Lena dalam hati sebelum ia memutuskan untuk menelpon Rafi
kembali.
“Ya, Lena mana ya?” balas suara di balik ganggang telpon.
“Aku, teman kuliahmu dahulu,” ujar Lena.
“Oho, aku ingat!”
“Apa yang kamu ingat?”
“Hm...kamu tahu lah! Mana mungkin aku melupakan tentang
hal itu.”
“Tentang perasaanmu?”
“Wow..!”
“Apakah perasaan itu masih ada?”
“Ya, ya...mana mungkin hilang begitu saja!”
“Menurutmu, apakah kita bisa mengulangnya kembali?”
“Maksudmu?”
“Well...apakah
kamu sudah menikah?”
“Belum!”
Lena terdiam. Ia mendengar nafas laki-laki itu terasa
berat dari balik ganggang telpon.
“Hei, hei, hei..! Kamu tidak berpikir kita akan
berhubungan kembali kan?” ujar Rafi dengan nada bertanya.
“Yah, aku memikirkan itu...”
“Oh, tidak! Aku tidak sedang berpikir untuk menjalin
hubungan dengan seseorang. Apalagi untuk menikah.”
“Apakah kamu tidak pernah mencintaiku?”
“Ehem, yah..! Tapi, tidak mungkin aku menikah...” Rafi
terdiam sejenak. Kata-katanya hilang untuk diucapkan.
“Kenapa?”
“Hm... Setamat kuliah, aku jadi orang yang gagal.
Lihatlah aku sekarang.” Rafi kembali terdiam. “Aku bekerja di perusahaan leasing. Maafkan. Aku menelponmu secara
acak saja...”
Lena tertegun di balik ganggang telpon. Keringat dingin
menetes di sela-sela dahi perempuan itu. Tut, tut, tut....! Lena meletakkan
ganggang telpon di tempatnya. Di balik ganggang itu, Rafi masih sempat
berbicara. “Oya, mungkin kamu berminat membeli perabotan? Bisa kredit, bisa
tanpa DP...”
***
BANGKU kecil di ujung
taman itu masih seperti beberapa tahun lalu. Kalau ada yang berbeda, hanya
warung di seberang jalan. Kini, sebuah cafe berdiri di sana. Lena mengenang, ia
pernah duduk berdua dengan Saukar. Lelaki itu membelikannya sepotong es lilin.
Mereka menikmatinya di bangku kecil di ujung taman.
“Hai...cantik! Sudah lama nunggu ya!”
seorang lelaki menyapa Lena. Ia menggenggam kedua tangan Lena, kemudian
wajahnya ditempelkan ke pipi. Satu di pipi kiri, satu di pipi kanan. Lelaki itu
menatap kegirangan.
“Aku memakai gaun yang kamu berikan
kemarin,” balas Lena.
“Oya..! Coba lihat sini!” Lelaki itu
menyigi setiap tubuh Lena. Beberapa bagian di gaun Lena dipegangnya. Setelah
merasa semuanya pas, lelaki itu pun bertepuk kecil. “Hebat! Aku sempat
khawatir. Eh, ternyata kamu pandai menjaga tubuhmu tetap porposional,” ujar
lelaki itu lagi seperti hendak memuji hasil karyanya sendiri.
Lena menatap lelaki itu dengan dalam.
Ia masih seperti yang dikenalnya ketika di masa SMA dahulu. Saukar tetap
menjadi lelaki lembut yang selalu memberikan hadiah kepadanya. Kadang ia
memberikan kue. “Itu aku yang masak lho,” ujar Saukar ketika memberikan Lena
sekantong kue. “Ini, aku sendiri yang buat,” ujar Saukar lagi ketika ia
memberikan Lena sepasang anting dan gelang dari manik-manik.
Beberapa tahun kemudian, Saukar masih
memberikan hadiah. Lena tak tahu ia berada di mana. Hadiah-hadiah itu datang
melalui kurir ke rumah. Kadang, ada gadis muda yang langsung mengantarkan. Lena
ingin menolak. Hingga, hadiah-hadiah itu berakhir di gudang di belakang rumah.
Tadi siang, Lena mengambil sebuah kotak dari gudang itu. Di dalamnya terdapat
gaun berwarna ungu. Lena memakai gaun itu untuk bertemu dengan Saukar. Ia
berpikir, lelaki itu mungkin cinta sejatinya. “Aku suka dengan gaun ini,” ujar
Lena kepada Saukar.
“Siip..! Aku juga suka kamu
memakainya,” balas Saukar.
“Aku lebih menyukai orang yang
memberikannya.”
“Oho...tentu saja. Sejak dahulu aku
selalu menyukaimu. Kamu itu inspirasi bagiku. Kamu tahu, setiap ingin membuat
sesuatu, aku selalu membayangkan itu akan cocok untukmu.”
“Kenapa kamu tidak menjadikan aku
milikmu saja.”
“Hm...” Saukar menatap sekujur tubuh
Lena dalam-dalam. “Boleh juga. Kamu punya potensi jadi model...”
“Bukan itu! Kamu bisa memilikku
sebagai kekasih.”
“What!”
Saukar terkejut. Tapi, ia tak benar-benar kaget. “Oh...cantik. Aku menyukaimu.
Tapi, bukan sebagai kekasih.”
“Trus?”
Saukar terdiam. Ia mencari kata-kata
yang tepat. “Aku sudah punya kekasih.” Ia berhenti sejenak. “Namanya, Bram!”
“Hoh....” Lena menarik nafas
dalam-dalam. Ia mengira, Saukar memberikannya gaun dari perancang terkenal. Ternyata,
gaun itu rancangan Saukar sendiri. Namun, Lena tak menemukan nama Saukar di sana.
Di gaun itu tertulis “Selly”.
***
SUDAH lima tahun Lena
menikah dengan Mujani. Beberapa hari ini, Lena merasa tak yakin lelaki itu
adalah cinta sejatinya. Pernikahan mereka melalui perjodohan. Bahkan, Lena
menerima pinangan dengan sedikit keterpaksaan.
Sekian lama menikah, Lena merasa
Mujani tak pernah memperlihatkan perilaku kalau ia benar-benar mencintainya.
Lelaki itu tak pernah menelpon kalau sedang berada di luar. Bahkan, ketika
Mujani pulang malam, Lena tak pernah tahu apakah suaminya itu ada lembur kerja.
Ada lembur atau tidak, sama saja. Selain mas kawin seperangkat alat salat,
Mujani tak pernah memberikan hadiah. Namun, mungkin Lena bisa membuktikan cinta
laki-laki itu dengan meminta bulan madu. “Bang, aku ingin pergi ke Bandung,”
pinta Lena suatu ketika kepada Mujani.
Mujani yang baru keluar dari kamar
mandi sibuk menyega rambutnya dengan handuk. “Bandung? Jauh sekali kamu
jalan-jalan, Lena,” balas Mujani sekadarnya.
“Bukan jalan-jalan, Abang. Tapi, bulan
madu. Sejak menikah, kita tak pernah bulan madu.”
“Bulan madu? Ha ha ha ha...!” Mujani
memotong ucapannya. Tenggorokkannya terasa tercekik karena tawa lebar yang tak
bisa ditahannya. “Oi, Lena! Anakmu sudah mau tiga,” ujar Mujani menyambung
ucapannya, masih dengan nada sekadarnya.
***
SELEPAS Isya, Mujani
datang membawa sebungkus plastik. Tak biasanya, lelaki itu selalu pulang di
atas jam sembilan malam. Mujani memberikan bungkus plastik itu kepada Lena yang
sedang duduk-duduk di ruang depan. Lena membuka bungkus plastik itu. Di
dalamnya ada kotak dari kertas karton. “Aku belikan kamu martabak manis,” ujar
Mujani.
Lena tersenyum manis, semanis martabak
manis. Martabak itu langsung dicicipnya sepotong. “Nyam...” bisik Lena
mengambil sepotong lagi. Entah mengapa, di kehamilannya memasuki bulan ketujuh
ini ia sangat ingin memakan martabak manis. Ia bisa membeli sendiri martabak
manis yang banyak dijual di dekat rumahnya. Namun, kali ini Mujani yang
membawakan untuknya. Ia mungkin membelinya di bofet di ujung jalan. Di sana,
martabak manis diberi nama martabak bandung.*
Padang, Januari 2015



Komentar
Posting Komentar