Anak Bako
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
"Oi, Upik! Buatkanlah abangmu ini teh manis!" Etek Piah
memanggil Kamila dari ruang depan. Sebentar, anak perempuannya itu sudah muncul
membawa baki dengan secangkir teh di atasnya. Belum sempat Kamila
menyuguhkan, Etek Piah langsung menyergahnya. "Eh, kue singgang di
lemari itu jangan lupa. Segan kita, masak air teh saja," celutuk Etek Piah
lagi.
Kamila sudah dari tadi bersiap-siap di
ruang belakang. Air teh sudah diracik dan dituangkan di dalam gelas. Agar
kelihatan segar, Kamila sesekali menambahkannya dengan air panas. Kue
singgang yang sudah dibuatnya tadi malam juga telah tersusun rapi di atas
meja belakang, tinggal menyuguhkan ke ruang depan. Namun entah mengapa, kali
ini Kamila merasa gamang.
Tiga hari lalu, Etek Piah menyuruhnya
pulang. Padahal, belum akhir pekan. Di kampus Kamila sedang sibuk-sibuknya pula
ujian semester. Tak kuasa ia menolak permintaan mandeh-nya itu. Kalau
ada panggilan mendadak, pastilah itu urusan yang sangat penting. Untung Kamila
bisa meyakinkan dosennya untuk ujian susulan, sehingga ia bisa pulang di
pertengahan pekan.
Sehari di rumah, tak ada peristiwa
luar biasa. Kamila hanya mengisi hari dengan melakukan pekerjaan rumah.
Memasak, mencuci, membersihkan perkarangan, kadang pergi ke ladang memetik
cabai dan pucuk kangkung untuk dibuatkan sayur. Hari kedua, barulah Etek Piah
berbicara kepadanya. "Besok abangmu si Agus datang berkunjung.
Siap-siaplah kamu," ujar Etek Piah.
Agus adalah anak laki-laki Kutar,
saudara lelaki Etek Piah. Kamila kenal betul dengan Agus. Waktu kecil, ia
selalu dibawa oleh ayahnya ke rumah. Bahkan, ia bisa tinggal berbulan-bulan.
Namun, berbilang tahun, sampai beranjak dewasa, Agus tak pernah lagi datang.
Kata Etek Piah, Agus kini bekerja di bank, jadi pemuda sukses dia. Bagi Kamila,
kabar kesuksesan Agus itu biasa saja. Tapi entah mengapa, Etek Piah menyuruhnya
menyambut dengan luar biasa.
"Daripada jatuh ke orang, kan
lebih baik pulang ke bako saja," ujar Etek Piah di ruang depan. Suara mandeh-nya
itu terdengar jelas oleh Kamila di ruang belakang. Kamila tersentak, hitung
sudah diputuskan. Di hadapan mandeh, abak, dan mamak-mamaknya, ia
dijodohkan dengan Agus. Alek secepatnya dilaksanakan.
***
UNTUK ukuran orang-orang di kampung, usia Kamila memang sudah
matang. Gadis seusianya saja bahkan sudah beranak lima. Ada juga yang sudah
menjadi janda kembang, ditinggal suaminya yang pergi merantau.
Perempuan-perempuan di kampung Kamila menjadi pengasuh anak tanpa kepastian.
Dicerai tidak, bagi yang berjodoh setelah bertahun-tahun ditinggalkan akan
kembali menikah begitu saja. Kamila tidak menolak menikah muda, tapi ia ingin
menamatkan kuliahnya.
"Sekarang, tak penting kamu jadi
sarjana. Banyak sarjana, pekerjaannya tak jelas. Bersama si Agus, masa depan
kamu sudah pasti," ujar Etek Piah meyakinkan.
Bukan masa depan yang membuat hati
Kamila gusar. Ia sudah banyak diajarkan untuk menjadi perempuan yang tak silau
dengan harta dan kesuksesan. Ia pun sudah mencoba menjadi perempuan yang tak
bergantung pada orang lain. Sambil kuliah, Kamila ikut banyak kegiatan dan
pandai pula mencari penghasilan dengan mengajar anak-anak orang. Pekerjaan
mengajar itu bahkan bisa menutupi biaya kuliah dan hariannya yang jauh dari
rumah. Yang membuat Kamila gusar: Agus itu anak mamaknya!
"Ada apa dengan anak mamakmu
itu?" Etek Piah bertanya.
"Apa kata orang, seperti tak ada
yang lain. Anak mamak sendiri diambil juga," ujar Kamila menyanggah
sekadarnya.
Etek Piah punya alasan lain. Anak
saudara lelakinya itu jodoh yang tepat buat Kamila. Si Agus sudah menjadi
lelaki yang sukses, ia bisa mewariskan keturunan yang hebat-hebat pula. Buah
tak jatuh jauh dari pohonnya. Etek Piah sudah membayangkan memiliki cucu-cicit
yang hebat-hebat di masa tuanya.
***
PERNIKAHAN itu tak terhindarkan.
Berselang tiga pekan, alek digelar. Seluruh anggota keluarga besar Etek
Piah datang. Masing-masing mendapatkan peran untuk menyukseskan pesta besar
itu. Kamaruzzaman, adik lelaki Etek Piah datang bergerombolan dari rantau.
Namun, ia tak bisa membawa serta istrinya. Sang istri tak bisa meninggalkan
anak bungsu Kamaruzzaman. Anaknya itu berpenyakit lumpuh layu, tak bisa dibawa
ke mana-mana.
Adik perempuan Etek Piah, Siti
mendapat peran di bagian dapur. Ia memang pandai memasak. Namun, perempuan itu
tak suka bertemu dengan orang banyak. Di tengah keramaian, ia suka panik
sendiri. Kata mantari kampung, Siti mengalami gangguan jiwa, tapi Etek Piah
lebih percaya kepada orang-orang pintar yang menyebut Siti telah diguna-guna.
Anak-anak mamaknya Etek Piah juga ikut
memberikan bantuan. Keluarga mereka memang memiliki sawah-ladang yang luas.
Anak-anak mamak Etek Piah ganti-berganti membawakan hasil sawah-ladangnya.
Kalau beras kurang, tinggal bilang saja. Sayur, kelapa, hingga ikan mujair
untuk dipanggang tinggal diambil di kolam. Anak-anak mamak Etek Piah memang
yang dipercaya keluarga besar untuk mengolah sawah-ladang. Anak-anak mamaknya
itu tak seperti Kamila yang bisa kuliah, bukan karena tak ada biaya, tapi
menurut Etek Piah nasibnya saja yang tak bisa menjadi orang pintar. Anak-anak
mamak Etek Piah tak kuat otaknya, bahkan di antaranya ada yang mengalami
keterbelakangan mental. Bagi Etek Piah, anak-anak mamaknya itu tetap besar
gunanya untuk pernikahan anak perempuannya.
***
BULAN kesembilan, Kamila dekat dengan pesalinan. Etek Piah
meminta ia melahirkan di kampung saja. Perempuan itu ingin melihat langsung
cucu pertamanya. Bagi Kamila, itu tak masalah. Di kampungnya sudah ada dokter
beranak yang hebat. Lagi pula, ia bisa menghabiskan waktu lama untuk melahirkan
karena kuliahnya tak lagi menjadi penghalang. Agus memang suami yang tepat
untuknya. Ia tak menghendaki Kamila menjadi perempuan rumahan saja. Disokongnya
penuh Kamila agar cepat menyelesaikan kuliah, sehingga gelar sarjana pun
disandangnya.
Tepat tengah malam, suara tangis bayi
pecah di rumah Etek Piah. Dokter beranak menyebutkan persalinan berjalan
lancar. Dokter membersihkan bayi Kamila yang masih berlumuran darah segar. Tali
pusar dipotongnya, si bayi menangis hebat. Dokter justru tersenyum lebar, si
bayi digendongnya menuju sang ayah. Agus menerima sang bayi dengan suka cita.
Lafaz azan dikumandangkannya dari telinga kanan si bayi. Si anak digendong
menuju sang ibu yang masih terbaring lemah di dipan. Kamila memeluk bayinya. Si
anak disusukan di sampingnya. Kamila memeluk anaknya lebih dekat. Di dalam
pelukan, ia melihat tubuh merah yang masih telanjang. "Ciluk ba...ciluk
ba...!" ujar Kamila. Namun, si anak tak memberikan wajahnya. Mata kecil
itu memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Kamila kemudian meraba
tubuh anaknya agar si anak merespon panggilannya. Alangkah terkejutnya Kamila,
ia merasakan kaki anaknya lebih kecil sebelah. Apa yang ditakutkan Kamila
dahulu, akhirnya terjadi juga.*
Padang, Februari 2014



Komentar
Posting Komentar