Surau Babi

Cerpen A.R. Rizal.



ORANG bertanya-tanya, kenapa Sulaiman membangun surau di tepi hutan. Siapa yang akan beribadah ke tempat itu. Sedangkan di tengah pemukiman saja, surau yang ada di kampung jarang didatangi. Hanya ada satu sampai dua laki-laki uzur yang singgah ke surau. Itu pun cuma laki-laki tua yang hendak mengunjurkan kaki karena sudah letih membuang-buang waktu mengelilingi kampung.

Sulaiman mempunyai firasat yang kuat. Penerawangannya jauh ke depan. Sejak dilantik menjadi kepala kampung lewat sebuah pemilihan yang dramatis, laki-laki itu menunjukan kelasnya sebagai pemimpin. Persoalan mendasar di kampung adalah ekonomi yang tak berdenyut. Pangkal balanya karena panen yang tak menjadi. Sawah dan ladang terserang hama. Sulaiman sudah memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah itu.

"Besok kumpulkan semua laki-laki, besar dan kecil. Bawa apa saja yang bisa dijadikan senjata. Kita memulai perburuan." Sulaiman memberikan perintah kepada orang suruhannya yang bekerja di balai kampung.

Pagi-pagi buta, bergeraklah ratusan laki-laki ke tepi hutan. Sebagian membawa anjing peliharaan. Sebagian lagi membawa senjata tajam. Tombak, panah, parang, sampai ada yang membawa sulo. Benda itu hanya bisa mengupas kelapa tua. Takkan bisa membunuh babi. Bahkan, melukai saja tak bisa.

Tak apalah. Sekarang apa yang ada saja. Laki-laki yang pergi ke tepi hutan tak seorang pun tahu hendak berburu apa. Sulaiman tak bisa mengatakan dengan jelas perintahnya. Hama apa yang memakan tanaman, laki-laki itu tak tahu persis.

"Babi, babi, babi!" Seorang laki-laki berteriak. Laki-laki yang lain mengangkat senjata dan melepas tali pengikat anjing peliharaan. Mengertilah laki-laki yang pergi ke tepi hutan. Mereka hendak berburu babi.
***
PERBURUAN pertama berlangsung sesuai rencana. Laki-laki yang berburu membawa tangkapan. Jerihnya terbayar sudah. Babi yang ditangkap dibawa ke Kampung Pondok. Di sana, orang-orang keturunan membeli babi untuk dimakan dagingnya. Senanglah hati laki-laki yang berburu. Pulang-pulang membawa uang.

"Besok perburuan besar. Persiapkan orang-orang." Sulaiman kembali memberikan perintah kepada orang suruhannya yang bekerja di balai kampung.

Ramailah laki-laki berkumpul di tanah sawah yang selesai disabit. Tak hanya laki-laki kampung, laki-laki dari kampung sebelah juga turut serta. Bahkan, ada sejumlah laki-laki dari kota.

Sulaiman menjadikan perburuan itu sebagai sebuah perlombaan. Bagi yang berhasil menangkap babi paling banyak, maka hadiah seekor kerbau berhak didapatkannya. Ada juga hadiah bagi penangkap babi paling gemuk. Tak lupa, hadiah hiburan bagi penangkap babi betina. Babi betina selalu menjadi sumber masalah.

Perburuan berlangsung sehari penuh. Bahkan, ketika petang sudah tiba, sejumlah laki-laki masih sibuk di dalam hutan. Yang pasrah dengan kekalahan memilih lebih dahulu keluar hutan. Di tepi hutan, laki-laki yang lelah berhenti di surau. Ada yang sekadar duduk-duduk, ada pula yang merendam kepalanya yang panas di bak kecil penampung air hujan yang ada di dekat surau. Ramailah surau di tepi hutan itu. Orang-orang mengakui kehebatan Sulaiman. Apa yang dibangun laki-laki itu tak sia-sia.
***
SETIAP perburuan, orang-orang singgah di surau. Mereka beristirahat. Anjing dipautkan di ranting-ranting pohon dekat surau. Babi-babi yang berhasil ditangkap diikat dekat tiang surau. Pemandangan itu membuat Budiman marah. Laki-laki yang fanatik dengan agama itu mengutuk orang-orang yang singgah ke surau. "Kalian menjadikan rumah suci ini seperti kandang babi!"

Umpatan Budiman terdengar oleh Sulaiman. Namun, laki-laki itu segan menyanggah perkataan orang siak itu. "Jadilah garin di surau itu. Kau imami laki-laki yang berburu di tempat itu." Sulaiman punya cara jitu menyelesaikan masalah dengan Budiman. Ia membuat penawaran yang tak bisa ditolak.

Budiman setuju dengan tawaran Sulaiman. Surau seharusnya menjadi tempat sembahyang, bukan sekadar persinggahan laki-laki yang berburu. Budiman menjadi garin di surau tepi hutan. Laki-laki itu memimpin salat berjamaah untuk pertama di surau.

Salat Ashar. Ada dua laki-laki yang menjadi makmum. Keduanya bukan pemburu. Mereka adalah laki-laki kampung yang kembali dari mengambil kayu bakar di hutan. Kenyataan itu membuat Budiman tak senang. "Terkutuklah orang-orang yang berburu itu!" Budiman mengumpat di hadapan laki-laki pencari kayu bakar. Umpatannya sampai kepada Sulaiman.

Sulaiman memerintahkan beberapa laki-laki yang berburu untuk sembahyang berjamaah di surau. Senanglah hati Budiman. Ada dua shaf yang menjadi makmumnya. Laki-laki itu melantunkan ayat-ayat dengan irama yang indah.

Waktu itu salat magrib. Penerangan tak terlalu jelas di surau. Dalam remang-remang, seekor babi jantan menyeruduk ke dalam surau. Hewan itu berlari kencang tak tentu arah. Moncongnya yang bertaring tak sengaja menubruk tubuh Budiman. Laki-laki itu terpental. Dalam hitungan detik, orang alim itu pun dijemput ajal.
***
SEJAK kematian Budiman, orang-orang enggan singgah ke surau di tepi hutan. Laki-laki yang berburu takut melewati surau itu. Ada semacam trauma yang berat.

"Babi, babi, babi!"

"Kejar, kejar, kejar!"

"Di sana, di sana, di sana!"

"Sudah, biarkan saja."

Sejumlah laki-laki yang berburu membiarkan babi buruannya menghilang di balik surau. Kalau babi bersembunyi di tempat itu, tak ada harapan lagi. Surau itu menjadi semacam tempat keramat yang ditakuti. Bahkan, oleh pemburu sekalipun.

Sudah sekian lama surau di tepi hutan dibiarkan begitu saja. Kabarnya, tempat itu dijadikan sarang oleh babi-babi liar. Mereka beranak-pinak di sana.

Sulaiman yang membangunnya tak menghiraukan lagi surau di tepi hutan itu. Bagi laki-laki itu, sudah selesai kewajibannya membangunkan sebuah surau. Mau dijadikan tempat beribadah, atau menjadi kandang babi, bagi Sulaiman, surau itu akan tetap menjadi amal jariah. Barangkali saja, babi-babi juga beribadah di tempat itu.*
Padang, November 2019

Komentar

Postingan Populer