Sumur di Pantai Sunur

Cerpen A.R. Rizal



SUBUH-subuh buta, Sunur bergegas pergi ke pantai. Beberapa hari belakangan, laki-laki setengah abad itu selalu melakukannya. Kebiasaan baru, sesuatu yang dipandang tak biasa oleh orang-orang kampung pinggir laut.

"Hendak berladang apa kau di pantai?"

"Ubi kayu bisa menjadi di pasir itu. Tinggal kau pancangkan saja rantingnya." Orang-orang kampung sering mengolok-olok Sunur. Mereka kini punya hiburan baru, menertawakan kegilaan Sunur.

Sejak perahunya tersambar ombak besar, Sunur tiba-tiba menjadi orang linglung. Tak ada lagi pekerjaan di kampung, selain pergi melaut. Bagaimana pula Sunur bisa menangkap ikan tanpa perahu. Berenang ia ke tengah laut? Bukannya ikan yang dapat tapi celaka yang dibawa pulang. Jika tak luka tersambar hiu, pastilah ia membawa badan yang mati rasa karena tersengat ubur-ubur.

Ketika senja, Sunur suka berdiri di tepi pantai. Menatap matahari tenggelam di ujung samudra. Entah mengapa laki-laki itu suka melihat senja. Padahal, dahulu ia tak tertarik sama sekali dengan siluet. Warna jingga ketika matahari tenggelam bagi orang-orang adalah keajaiban. Bagi Sunur, itu pemandangan yang membosankan.

Selepas matahari tenggelam, Sunur kembali ke rumah dengan raut gundah. Dahulu, malam selalu membuatnya bahagia. Ia mulai bersiap-siap dengan alat pancing dan jaring. Pergi ke dermaga sambil bersiul. Dengan perahu kecilnya, Sunur selalu bisa membawa tangkapan yang banyak. Tapi sejak perahunya hancur, Sunur selalu pulang dengan tangan hampa. Hal itu yang membuat orang-orang kampung pinggir laut berprasangka, Sunur sudah gila.

"Sudahlah, Uda. Hentikan kegilaan ini." Sunatri, istri Sunur akhirnya tak kuat mendengar gunjing orang-orang kampung.

Beberapa hari yang lalu, Sunatri menyembunyikan pacul. Maksudnya untuk mencegah Sunur pergi ke tepi pantai. Tapi, laki-laki itu tak kehilangan akal. Tak menemukan pacul, ia membawa sekop. Sekop dipatahkan Sunatri menjadi dua bagian. Sunur mengganti dengan linggis. Hingga tak ada lagi perkakas yang ditemukannya di rumah, Sunur membawa telapak tangannya sendiri. Dengan tangan, ia menggais-ngais pasir.

Sunatri menyerah. Ia memilih pasrah saja dengan apa yang dikerjakan Sunur. "Kalau gila, gilalah sendiri. Aku tak ikut," ujar Sunatri menyerah.

"Aku tidak gila, Natri. Orang-orang yang berpikir aku berladang di atas pasir itulah yang gila. Aku tak ingin mengerjakan kegilaan-kegilaan mereka itu."

"Lalu, apa yang Uda kerjakan di sana?"

"Aku membuat sumur."

Sunatri membelalakkan mata. Ternyata, kegilaan Sunur lebih parah dari perkiraannya.
***
SUNUR sudah berhasil membuat lubang sedalam tiga meter. Orang-orang kampung pinggir laut bertaruh, laki-laki itu takkan menemukan mata air.

"Aku bertaruh sekeranjang ikan tongkol." Dasrul yang punya bagan berkata sesumbar.

"Aku dengan sekeranjang ikan maco saja." Asril yang hanya memiliki sebuah sampan menjawab tantangan.

"Kalau laki-laki itu menemukan mata air, aku berikan sebuah kapal milikku." Ramli yang dikenal sebagai juragan kapal mendapatkan kemenangan dengan taruhannya.

Kabar Ramli mempertaruhkan salah satu kapalnya sampai ke telinga Nasrun. Laki-laki itu sehari-hari menjadi imam di masjid. "Hentikanlah pekerjaanmu itu. Kamu telah merusak iman orang-orang di kampung ini." Nasrun mencoba menasehati Sunur.

"Apa yang salah dengan yang aku kerjakan? Aku tak merusak siapa-siapa."

"Orang-orang bertaruh atas apa yang kamu kerjakan. Mereka telah mengingkari Tuhan!"

"Biarkan saja urusan mereka dengan Tuhannya."

"Tuhan mereka juga Tuhanmu juga."

"Tidak, tidak. Tuhan mereka, ya Tuhan mereka. Sedangkan aku, aku melakukan pekerjaan Tuhanku."

"Astaga! Kau tak hanya gila, tapi juga tersesat." Nasrun mengutuk.
***
SUNUR sudah menyelesaikan sumur sedalam empat meter. Kini, ia memasang cincin. Lima cincin. Empat di bawah pasir, satu di atas permukaannya. Sunur kemudian memasang semen di pinggir-pinggir cincin.

"Aku menang! Kau tak menemukan mata air. Kalaupun ada air di sana, itu air payau. Tak bisa diminum." Ramli tersenyum puas melihat Sunur menyelesaikan pekerjaaan menyemen cincin sumur. Laki-laki itu sangat khawatir sekali jika kehilangan sebuah kapalnya.

"Aku tak mencari mata air. Kalau sudah sampai di batu besar, aku berhenti menggali."

Ramli tertawa lebar mendengar perkataan Sunur. "Di mana-mana, orang menggali sumur itu untuk mendapatkan air bukan untuk mencari batu besar. Pikiranmu memang tak lagi waras."
***
SUNUR sudah selesai membuat sumur. Laki-laki itu menambahkan tiang besi di tengah-tengahnya. Tiang besi itu untuk meletakkan roda. Roda akan diikatkan dengan tali yang terbuat dari serpihan ban bekas yang disambungkan dengan kawat. Dengan begitu, Sunur bisa menimba air dengan gampang.

"Gantunglah istrimu seperti Siti Hajar di sana, mungkin kau akan mendapatkan air." Selepas melihat kapalnya bersandar di dermaga, Ramli tak bisa menyembunyikan hasrat untuk kembali mengolok-olok Sunur.

Seperti biasa, Sunur hanya menanggapi dengan raut datar. Laki-laki itu menengadahkan tangan ke langit. Ia tak meminta mata air muncul dari perut bumi. Sunur hanya meminta hujan.

Sudah sepekan hujan tak turun. Kalau pun sempat turun, hanya gerimis. Tak cukup untuk membuat basah pasir yang gersang. Sunur tak perlu meminta hujan. Memang sudah musimnya air jatuh dari langit. Tak perlu ada mendung, hujan datang tiba-tiba di tengah panas garang.

"Hujan sialan!" Ramli mengumpat sambil berlalu mencari tempat untuk berteduh. Tentulah laki-laki itu kesal dengan hujan. Kalau cuaca tak bagus, tak ada yang berani melaut. Ramli takkan mendapatkan serupiah pun dari kapal-kapalnya.

Sunur membiarkan tubuhnya basah diguyur hujan. Semakin deras, malah membuatnya semakin bersemangat. Melihat Sunur bermain-main dengan hujan, Ramli menyilangkan telunjuk di keningnya ke arah laki-laki setengah abad.

Tak beberapa lama hujan reda. Berapa pun debit air jatuh di langit, jika sampai di permukaan pasir, tak ada artinya. Jangankan menciptakan genangan, membuat basah saja cuma sebentar. Ketika tersapu terik, pasir itu kembali kering-kerontang. Tapi, tidak di sumur Sunur. Air hujan mengumpul sampai meluap di permukaannya.
***
BEBERAPA hari kemudian, orang-orang kampung pinggir laut heboh di dermaga. Air terlambat datang di tangki penampungan. Biasanya, sekali tiga hari mobil tangki PDAM mengantarkan air. Orang-orang kampung pinggir laut mengambil air di sana. Tanpa air, tak bisa mereka pergi melaut.

"Aku terpaksa membeli air beberapa botol." Asril yang memiliki sampan kecil mengeluh.

"Aku membeli beberapa jerigen." Dasrul yang memiliki bagan menimpali.

"Kalau aku, membeli beberapa drum." Giliran Ramli. Laki-laki yang memiliki beberapa kapal itu tak jelas sedang mengeluh atau sedang menyombongkan diri.

Orang-orang kampung pinggir laut sangat bergantung kepada tangki air di dekat dermaga. Di sana mereka mengambil air. Untuk melaut atau untuk kebutuhan sehari-hari. Anak-anak kecil mandi-mandi dengan bertelanjang bulat di dekat tangki air. Perempuan-perempuan kampung mencuci pakaian di sana. Dengan sebuah selang kecil, air dari tangki dialirkan ke masjid. Nasrun yang menjadi imam di masjid selalu mengeluh. Setiap waktu salat masuk, air di tangki selalu habis. Karena tak ada air untuk berwuduk, orang-orang malas sembahyang ke masjid.

Orang-orang kampung pinggir laut berharap pipa PDAM masuk ke kampung mereka. Permintaan sudah disampaikan ke pemerintah daerah, permohonan juga diteruskan kepada anggota dewan yang terhormat. Aspirasi diterima. Tapi, sudah berganti bulan, berbilang tahun, pipa PDAM tak masuk-masuk juga. Pihak PDAM mengaku kewalahan. Mereka tak punya anggaran untuk menambah jaringan. Untuk mengantarkan air ke tangki di tepi dermaga saja mereka kepayahan. Tak ada uang pembeli bensin untuk truk tangki. Sampai saat ini, orang-orang kampung pinggir laut terus bermimpi bisa menikmati air PDAM di rumah-rumah mereka. Tapi, tidak bagi Sunur.

Sumur yang dibuat Sunur di tepi pantai penuh dengan air. Ia bisa minum, mandi, mencuci sepuas-puasnya di sana. Sunur punya rencana lain. Laki-laki itu mengumpulkan tanah di dalam plastik besar berwarna hitam. Plastik-plastik itu diletakkan di atas pasir. Di sana, Sunur bertanam segala macam. Ia menanam bawang, ubi, bayam, hingga menanam pohon mangga. Setiap hari tanaman dipupuk dan disiram, sehingga tumbuh dengan subur. Ketika Sunur memanen hasil yang ia tanam, orang-orang kampung pinggir laut tak habis pikir bagaimana laki-laki itu bisa berladang di atas pasir.*
Pariaman, Oktober 2017

Komentar

Postingan Populer