Mulut Rasiman

Cerpen A.R. Rizal



MISNA melenggak-lenggok seperti itik bertelur ke lapau Upik Sela. Gadis yang baru memutik itu hendak membeli kopi, gula, dan sebungkus rokok kretek. Upik Sela curiga dengan pembelian gadis itu. “Belajar merokok pula kau?” Upik Sela meneror dengan kata-kata menelisik.

Misna menjawab dengan lugu. “Tidak, Etek. Abak yang menyuruhku. Ada tamu berkunjung ke rumah.”
            
“Banyak tamu abakmu yang datang? Sepertinya mau membuat hajatan kau ini.”
            
Misna tersipu malu. Ia bisa menebak maksud perkataan Etek Sela. Kabar baik berimbauan. Orang-orang kampung sudah tahu Misna dipinang orang. Kerabat kedua belah pihak sedang menentukan hari baik. “Etek doakan saja semuanya berjalan lancar.”
           
“Ya, ya.” Etek Sela membalas dengan muka masam. Di dalam hati, perempuan itu hanya berdoa agar ramai orang datang ke lapau. Banyak pula yang menyicil utang. Modalnya sudah menipis. Kini, datang seorang lagi yang mengutang. “Aku doakan abak dan amakmu banyak rezekinya.”
            
“Amiin.” Misna tak tahu kalau Etek Sela sedang menyindirnya.
            
Bergegaslah gadis itu membawa pulang kantong plastik hitam. Di tengah jalan, Misna berjumpa dengan Rasiman. Seharusnya, Misna tak menyapa laki-laki itu. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Gadis itu terlanjur menyunggingkan senyum malu-malu.
            
“Lain kulihat senyummu itu.” Rasiman menyeringai.
            
“Tidak ada apa-apa, Angku.” Misna menyembunyikan rasa bersalah. Sambil menundukan kepala, gadis itu berlalu dari hadapan Rasiman.
            
Mata laki-laki itu tak lepas menatap Misna. Rasiman melihat ada yang salah dengan cara gadis itu berjalan. “Hei, ada yang tak benar tampak olehku dengan kakimu.” Rasiman kembali memanggil Misna. Gadis itu berhenti, kemudian membalikan tubuh ke arah Rasiman.
            
“Kakiku baik-baik saja, Angku.”
            
Rasiman memperhatikan lebih teliti. Bukan kaki Misna yang salah. Pinggul gadis itu yang tak beres. Rasiman tak merasa canggung untuk mengomentari pinggul perempuan. “Tempus saja pantatmu itu kulihat.”
            
Misna terkejut mendengar perkataan Rasiman. Kata-kata yang terucap dari mulut laki-laki itu seperti peluru yang dilesatkan ke hulu hatinya. Hancur hati gadis itu berkeping-keping. Hilang harkat keperempuannya. Pantas tempus itu kata-kata bersayap. Artinya, Rasiman mengira Misna tak lagi perawan. “Abaak..!” Misna berlari sambil meraung-raung.
            
Di sepanjang jalan, orang-orang memperhatikan Misna. Mereka berbisik tentang Rasiman. Tak ada yang berani menyalahkan laki-laki itu.

“Si Misna itu kan gadis jolong gadang.” Seorang perempuan paruh baya berkata kepada perempuan yang lebih muda di sebelahnya.
            
“Selesai dipakai, pasti tampak bodinya.” Perempuan muda mengamini perkataan perempuan paruh baya.
***
PERNIKAHAN Misna nyaris hancur berantakan. Keluarga calon mempelai laki-laki tak terima dengan gadis yang sudah dipakai. Abak dan amak Mirna mununtut pertanggungjawaban. Habis manis, sempah dibuang. Abak dan amak Mirna membela harga diri keluarga miskinnya.
            
Munir, kepala kampung harus turun tangan mendamaikan dua keluarga yang bertikai. Laki-laki itu sudah tahu sebab-musabab pertikaian. Semuanya bermula dari mulut Rasiman. “Salah kalian. Omongan laki-laki itu kalian dengarkan.”
            
Mulut Rasiman seperti mulut perempuan, berbisa. Ada tahi lalat di bibir laki-laki itu. Karenanya, Rasiman tak bisa mengontrol ucapannya. Seperti murai batu, orang yang tersinggung tak terpedulikan olehnya.
            
Bukan sekali ini saja Rasiman membuat ulah. Beberapa waktu sebelumnya, mulut laki-laki itu mengadu-domba anak-anak muda kampung bertetangga. Ratusan anak muda sudah berhadap-hadapan di perbatasan kampung. Mereka membawa senjata tajam, balok kayu, dan batu-batu sebesar genggaman. Perang kampung seperti tak bisa tercegahkan. Mujur, Munir menjadikan dirinya tameng hidup di tengah jembatan. Ia menyalahkan anak-anak muda yang terpengaruh dengan mulut Rasiman.
            
Sebagian orang kampung sudah paham dengan mulut Rasiman. Kalau berbincang-bincang dengan laki-laki itu mestilah bermuka tebal. Telinga tak boleh bercirit. Dengan begitu, omongan Rasiman masuk di kuping kanan, keluar di kuping kiri. Jangan masukan ke hati.
            
“Aku hampir mau bunuh diri mendengar ucapannya. Untunglah aku teringat dengan istri mudaku.” Tunuih sedang berkelakar dengan Burhan di lapau Etek Sela.
            
“Aku ingin menampar mulutnya. Tapi, takut aku nanti disebut banci. Mana ada laki-laki menampar.” Burhan tak mau kalah membalas kelakar Tunuih. Kedua laki-laki itu tahu betul bagaimana memanfaatkan mulut Rasiman. Satu-satunya kegunaan mulut Rasiman adalah dijadikan bahan olok-olok. Laki-laki itu pun tak pernah marah bila diolok-olok. Ia lebih paham dengan mulutnya sendiri.
***
ADA pendatang baru di kampung. Mereka sekeluarga, datang dari arah utara. Orang-orang dari utara terkenal temperamental. Bicaranya keras. Hendak dimakan saja semua orang oleh mulutnya. Rasiman memilih lawan beradu mulut yang salah.
            
“Orang baru kalian?” Rasiman menyapa seorang laki-laki berbadan tegap yang sedang mengangkat tas besar dari mobil box terbuka.
            
“Kau pun orang baru buatku. Tapi, aku tak bertanya.” Laki-laki berbadan tegap menjawab ketus sambil membelalakan mata.
            
“Sangar sekali mukamu melihatku. Seperti orang-orang dari utara.”
            
“Sudah tahu kau. Mau cari gara-gara juga denganku, hah?”
            
Kena gertak, Rasiman tersurut lidah. Ia beranjak meninggalkan laki-laki berbadan tegap yang sedang berperas peluh mengangkat barang-barang ke dalam rumah. “Makanya, jangan terlalu banyak makan daging anjing. Menggugu saja mulutmu itu.” Sambil berlalu, tak lupa Rasiman membalas kata-kata ketus laki-laki berbadan tegap.
            
Naik darah laki-laki berbadan tegap. Ia melompat pagar, mencoba menangkap Rasiman. “Kau pun bisa kumakan!” Laki-laki berbadan tegap menahan geram.
            
“Gadang serawamu. Bersunat saja kau tidak.” Rasiman menantang. Namun, setelah itu ia mengambil langkah seribu.
            
Pertikaian Rasiman dengan laki-laki berbadan tegap membuat buncah seisi kampung. Orang-orang melihat laki-laki bertubuh kekar hilir-mudik di jalanan kampung sambil membawa parang. Parang diayun-ayunkan kepada siapa saja yang ditemukannya di pinggir jalan.
            
“Mana laki-laki yang menantangku itu?” Laki-laki bertubuh kekar berteriak kepada semua orang.
            
Orang-orang hanya memandang dalam diam. Mereka bukannya tak berani, tapi segan saja menyampuri urusan orang. Apalagi urusan pendatang. Bisa-bisa dicap tak toleran.
            
Munir muncul di tengah orang-orang yang bergerombol di pinggir jalan. “Hoi, kenapa kalian berbisik-bisik?”
            
Seseorang dalam gerombolan menunjuk ke arah seberang jalan. Tampak seorang laki-laki bertubuh kekar sedang mengayun-ayunkan parang. Ada yang tak beres dengan laki-laki itu. Munir mencoba menenangkannya dari jarak jauh.
            
“Jangan mendekat!” Seseorang dari gerombolan di pinggir jalan mengingatkan Munir. Seseorang itu tampak was-was sekali.
            
“Dia harus tahu kalau aku kepala kampung.” Munir mendekat. Laki-laki sangat percaya diri sekali.
            
“Mata parang tak melihat kepala kampung.” Seseorang menyela entah dari mana.
            
Sudah kepalang basah, Munir berpantang tersurut langkah. Didekatinya laki-laki bertubuh kekar. Sambil melangkah ke seberang jalan, Munir memperkenalkan dirinya sebagai kepala kampung. Perkenalan itu manjur. Laki-laki bertubuh kekar mendinginkan kepala. Sedikit demi sedikit, amarah hilang dari mukanya.
            
“Aku mencari laki-laki yang telah menghinaku.”
           
“Siapa yang menghinamu?”
            
Laki-laki bertubuh kekar mencoba mengingat-ingat. “Tak kenal aku dengannya. Aku baru datang ke kampung ini. Yang jelas, ia laki-laki. Mulutnya seperti perempuan.”
            
Rasiman berbuat ulah lagi. Sudah paham Munir bagaimana membereskan masalah yang dibuat laki-laki itu. “Tenang saja. Urusanmu dengan laki-laki itu akan aku selesaikan. Sebagai pendatang, kau mendapat jaminan perlindungan dariku.”
            
Laki-laki bertubuh kekar melihat kerendahan hati di balik kata-kata Munir. Ia mempercayai kepala kampung itu. Dengan kesadaran sendiri, laki-laki bertubuh kekar kembali ke rumah barunya. Ada pekerjaan tertunda yang mesti dituntaskan.
***
MULUT Rasiman sudah keterlaluan. Tak pantas ia menyinggung apa yang dimakan orang. Apalagi menyebut orang tak bersunat. Itu penghinaan besar. Beruntung Munir bisa meredam amarah laki-laki berbadan kekar.
            
“Kalau tak ada aku, sudah hancur-lebur kampung ini. Pasti terjadi perang saudara.” Munir memuji dirinya di hadapan orang-orang yang sedang singgah di lapau Etek Sela.
            
Etek Sela memberi dua jempol. Perempuan itu mewakili orang-orang di lapau yang tahu betul kehebatan Munir.
            
Rasiman yang muncul tiba-tiba di lapau Etek Sela juga mengakui kehebatan Munir. Sambil mengambil tempat duduk bersebelahan dengan Munir, laki-laki itu menyanjung-puja setinggi langit. “Bermacam-macam orang di kampung ini, banyak kurenah dan perangainya. Beruntunglah kita, kampung ini baik-baik saja.”
            
Tak sengaja, Munir tercekik ketika meminum kopi hitam. Tak disangkanya, Rasiman mengucapkan kata-kata hebat untuknya. Laki-laki itu memuji dirinya kata-kata bersayap. “Sebab itulah aku tak bisa marah dengan mulut busukmu itu.” Tanpa disadari, mulut Rasiman yang berbisa telah mengajarkan Munir menjadi pemimpin yang hebat.
            
Rasiman senang dengan cara Munir memuji. Laki-laki itu jadi tambah bersemangat berucap.  “Kalau kampung ini tak bercerai-berai, tak perang lading, pastilah karena rahmat Tuhan Yang Maha Esa.”

Seumur-umur, baru kali ini mulut Rasiman benar dengan ucapannya. Namun, kebenaran itu membuat Munir tersiksa.*
Padang, November 2019

Komentar

Postingan Populer