Gadis Tepian Mandi

Cerpen A.R. Rizal



ADA mayat ditemukan di tepian mandi. Kampung Tanah Gelombang buncah. Orang-orang bertanya-tanya, siapa gerangan yang terbunuh. Sebagian lagi mengira-ngira siapa yang membunuh. "Perempuan!" teriak Kutar.
          
Laki-laki yang berkumpul di perkarangan surau tak beberapa jauh dari tepian mandi saling menatap. Mereka ingin memastikan mayat perempuan yang dimaksud Kutar. Tapi, tak seorang pun bisa mendekat. Tepian mandi dijaga ketat oleh puluhan polisi yang melakukan identifikasi. "Kau kenal dengan perempuan itu, Kutar?" Burhan bertanya.
          
Kutar menggeleng. Ia tak banyak mengenal perempuan di Kampung Tanah Gelombang. Sehari-hari, laki-laki itu menghabiskan waktu di sawahnya yang tak beberapa luas dekat tepian mandi. Ia tak suka berjumpa dengan orang-orang, apalagi dengan perempuan. Orang-orang kampung menyebutnya laki-laki yang sedikit kurang waras. Boco aluih, begitu orang-orang kampung menamainya. Laki-laki kampung yang suka mengolok-ngolok Kutar menyebutnya laki-laki antara iya dan tidak. "Potong saja punyamu itu Kutar. Untuk apa, tak ada gunanya..." Begitu laki-laki di kampung mengata-ngatai Kutar.
          
"Aku melihat wajahnya. Masih muda, dan cantik!"
          
Laki-laki yang berkumpul di perkarangan surau menelan air ludah. Burhan malah mengerenyitkan dahi menatap Kutar. Bagaimana pula laki-laki itu tahu dengan perempuan cantik. Kalau bertemu dengan nenek-nenek atau perempuan jongos, pasti cantik pula disebutnya. "Seperti apa wajahnya?" tanya Burhan.
          
"Hm..." Kutar tak langsung menjawab. Ia menggaruk-garuk kepalanya. Laki-laki itu kelihatan kepayahan menerjamahkan maksud pertanyaan Burhan. "Aku tak pernah melihat wajah itu."
          
Burhan menghela napas dalam-dalam. Diikuti oleh laki-laki lain yang berkumpul di perkarangan surau. "Kau memang tak bisa diandalkan, Kutar.."
          
Kutar merasa mendapat pengabaian dari laki-laki yang berkumpul di perkarangan surau. Cepat-cepat, ia menambahkan kabar yang didapatkannya. "Aku melihat tubuh perempuan itu diangkat!"
          
"Ya?" Laki-laki yang berkumpul di perkarangan surau bertanya serempak. Mata mereka melihat Kutar terbelalak.
          
"Tubuhnya langsing seperti gitar spanyol. Ia memakai sehelai kain yang dibalutkan di dada. Kain itu tersingkap, ketika tubuhnya diangkat."
          
"Lalu?"
          
"Aku melihat betisnya."
          
"Terus?"
          
"Putih bersih!"
          
"Lagi?"
          
"Cuma itu!"
          
Laki-laki yang berkumpul di perkarangan surau merasa kurang puas dengan penjelasan Kutar. Tentang betis yang putih bersih sudah ada dalam benak mereka. Mereka membayangkan sesuatu yang lebih. Tapi sayang, bayangan itu tak sampai ke benak Kutar. "Betisnya seperti rebung muda..."
          
"Sudahlah, Kutar. Tak perlu kau ulang-ulang perkara itu."
          
Kutar tersudut dengan perkataan Burhan. Ia langsung kecut melihat air muka laki-laki itu mulai berubah. Burhan terlihat menahan amarah. Kemarahannya karena perkataan Kutar yang berulang-ulang, seolah-olah menganggapnya bodoh. Di antara laki-laki yang berkumpul di perkarangan surau, Kutar lah yang paling bodoh.
          
"Mayat perempuan itu, Pintil! Aku tahu."
          
Laki-laki yang berkumpul di perkarangan surau saling berpandangan. Mereka bungkam. Hanya Burhan yang berani menduga-duga tentang mayat perempuan di tepian mandi itu. Di antara laki-laki di Kampung Tanah Gelombang, hanya Burhan yang tak senang dengan Pintil.
         
***

ORANG-orang kecamatan sudah datang. Pertemuan dilaksanakan di surau dekat tepian mandi. Ada empat orang dari kecamatan. Di antara mereka, ada Burhan yang duduk di barisan depan. Di Kampung Tanah Gelombang akan dibangun ratusan MCK. Di setiap rumah mesti ada MCK. Itu program kecamatan yang meneruskan rencana kabupaten. Burhan yang dekat dengan orang-orang kecamatan harus memastikan orang-orang Kampung Tanah Gelombang menerima rencana tersebut.
          
"MCK itu penting untuk kesehatan dan kebersihan lingkungan. Kita tak perlu lagi buang hajat di sembarangan tempat, bisa mandi di rumah," ujar Burhan meyakinkan orang-orang yang berkumpul di surau.
          
Orang-orang saling berbisik. Bisikan mereka terdengar sebagai suara gaduh di surau. "Tenang, tenang..! Semuanya dibiayai pemerintah. Bapak-ibu tak perlu keluar uang sepersenpun." Seorang dari orang-orang kecamatan menambah penjelasan Burhan.
          
Ibu-ibu yang hadir di surau bertepuk tangan. Bapak-bapaknya malah bermuka muram. Mereka serempak memandang Burhan dengan awas. "Halah, semua ini hanya akal-akalanmu saja, Burhan!" celetuk seorang laki-laki dari kerumunan.
          
"Ya, kau akan mengambil untung besar. Itu proyekmu!" timpal laki-laki lainnya.
          
"Kamu memang tak pernah senang dengan kami!"
          
"Ya! Kau membenci kami!" Laki-laki di surau berteriak. Suasana menjadi gaduh. Orang-orang dari kecamatan mati ketakutan. Mereka merasa seperti hendak didemo puluhan laki-laki berbadan besar. Orang-orang dari kecamatan beranjak dari pertemuan di surau. Mereka lari terbirit-birit, meninggalkan Burhan sendiri yang hendak dihakimi oleh laki-laki Tanah Gelombang.
          
"Kalian bodoh!" hardik Burhan kepada laki-laki yang mengerumuninya.
          
"Kau yang bodoh!" balas laki-laki yang berkerumun.
          
"Tidak, tidak, tidak..!" teriak ibu-ibu yang tak kalah keras dari laki-laki yang berkerumun. Ibu-ibu itu berjingkrak-jingkrak. Ada yang memanjat-manjat dinding surau, ada merebahkan tubuh di lantai sambil meraung-raung. Laki-laki di surau jadi terheran-heran. Kalau aksi ibu-ibu tak dilerai, bisa-bisa mereka makin nekad menanggalkan baju di badannya. Burhan selamat dari penghakiman. Laki-laki di surau sibuk melerai ibu-ibu yang histeris.

***

TEPIAN mandi itu sebuah lubuk yang cukup luas. Letaknya di tengah sawah. Dikelilingi pohon beringin dan semak belukar. Di lubuk itu, orang-orang Kampung Tanah Gelombang biasa mandi. Di sebelah utara, tempat mandi laki-laki. Di sebelah selatan, tempat mandi perempuan. Tapi kadang-kadang, sejumlah laki-laki sengaja tak tahu mana arah utara dan selatan. Terutama, ketika Pintil sedang mandi-mandi di sana.
          
"Hei, Ramdan! Sebelah utara di sana!" teriak Tidar sambil menunjuk sebatang pohon beringin besar.
          
Ramdan tergagap. "Aku tahu, Tidar! Aku hanya mengambil air yang bersih. Aku hendak sembahyang di surau," balas Ramdan sengaja menutupi kesalahannya.
          
Tidar tersenyum hambar. Ia paham betul isi kepala laki-laki itu. Magrib masih lama. Sore itu, biasanya Pintil mandi-mandi di lubuk. "Kecewalah kau Ramdan, Pintil tak mandi-mandi sore ini. Ia tak enak badan." Tidar tertawa-tawa kecil ke arah Ramdan. Namun, sebentar kemudian, ia menelan kembali air ludahnya.
          
Tidar hanya menduga-duga tentang Pintil. Sebenarnya, laki-laki yang sudah lama menduda itu memang sengaja menanti Pintil datang ke lubuk. Tidar memang sangat berhasrat kepada perempuan itu. Hasratnya tak salah. Sama dengan laki-laki lainnya di Kampung Tanah Gelombang. Semua laki-laki di kampung, kecuali Kutar yang tak normal, pastilah berhasrat kepada Pintil. Cantiknya aduhai. Entahlah, seperti tak ada kata-kata yang layak untuk menjelaskan paras perempuan itu. Sudah habis buah pinang di Kampung Tanah Gelombang untuk mengambarkan gerai rambutnya, sudah hilang semua semut untuk memuji alis matanya, tak sebuah saluang tersisa untuk membandingkan merdu suaranya. Sementara, di Kampung Tanah Gelombang, orang tak bertanam delima, sehingga tak ada yang bisa mengungkapkan indah bola matanya. Laki-laki Tanah Gelombang tergila-gila kepada Pintil. Hal itu membuat istri-istri di sana menjadi gila.
          
"Perempuan itu merusak kampung!" maki Sutinah.
          
"Siapa yang dirusak?"
          
"Suamimu, Ida!"
          
Ida tersenyum hambar. Ia tak menyalahkan perkataan Sutinah. "Dari dahulu, Kudur itu memang sudah rusak. Jangankan perempuan cantik, perempuan tempang pun diinginkannya. Sudah hobinya beristri banyak."
          
"Tak takut kau, Ida? Nanti suamimu itu tergoda."
          
"Malah bagus, Tinah. Kalau Kudur itu berhasil mempersunting perempuan cantik, naik pula gengsiku sedikit. Lihat saja, selain aku, istri-istri Kudur itu tak ada yang berbentuk."
          
Sutinah geleng-geleng kepala. Heran dia dengan cara berpikir Ida. "Aneh kau, Ida..."
          
"Tak ada yang aneh, Tinah. Apa pula yang aku takutkan. Selama ini, aku tak lagi dipakai. Kau yang seharusnya takut. Kau terus dipakai, sementara lakimu membayangkan perempuan lain."
          
Perkataan Ida menohok dada Sutinah. Dada perempuan itu tercabik-cabik. Luka yang sangat perih berdenyut-denyut di sana.

***

SUDAH berbilang hari sejak ditemukannya mayat Pintil di tepian mandi. Orang-orang Kampung Tanah Gelombang tak lagi membicarakannya. Jangankan sekadar menduga-duga sebab-musabab kematian Pintil, menyebut nama perempuan itu saja mereka tak berani.
          
"Mungkin Burhan yang membunuhnya. Laki-laki itu memang tak senang dengan Pintil," begitu laki-laki Tanah Gelombang berbisik tanpa diketahui siapa yang memulainya.
          
Sejak disebut-sebut dalam bisik-bisik laki-laki kampung, Burhan sangat menyesal telah menyebut nama Pintil.  Kalau tak takut dengan peniti, ia akan menjahit mulutnya sendiri, sehingga tak kan sempat nama Pintil terucap olehnya. Tapi, nasi sudah jadi bubur. Burhan memilih menghilang dari kampung. Perihal lenyapnya laki-laki itu diketahui orang-orang Kampung Tanah Gelombang setelah polisi berulang kali mencarinya.
          
Tak menemukan Burhan di kampung, polisi mengalihkan penyelidikan kepada Sutinah. Perempuan itu pun menyesal sangat karena telah memaki-maki Pintil di hadapan Ida. Kepada polisi, Sutinah mengaku sebenarnya ia mengagumi kecantikan Pintil. "Kalau suamiku punya banyak uang, bersolek saja kerjaanku. Ke salon tiap sebentar. Kalau perlu, operasi hidung, muka, alis, betis, semuanya aku operasi," ujar Sutinah bersemangat.
          
Polisi tak mencatat keterangan Sutinah. Perempuan itu membuat polisi bingung. Lain yang ditanya, lain pula yang dijawabnya. "Dimana ibu saat kejadian?" seorang polisi bertanya kepada Sutinah.
          
"Aku bersama Ida. Ya, bersama Ida!" Sutinah tergagap. Wajahnya kecut melihat polisi memandangnya dekat raut sedikit tak percaya. "Benar, aku bersama Ida! Dia menakut-nakutiku. Katanya, suamiku membayangkan perempuan lain ketika memakaiku. Aku tak marah dengan perkataan Ida. Marahku kepada Ramdan."
          
Penjelasan Sutinah terlalu panjang. Padahal, polisi hanya membutuhkan sedikit keterangan. Sedikit keterangan itu sudah cukup sebagai alasan untuk menanyai Ramdan. Ketika polisi datang kepada Ramdan, laki-laki teramat berang kepada Sutinah.  "Awas kau, Tinah! Kuceraikan kau sekarang!"
          
Polisi yang datang terheran-heran melihat kemarahan Ramdan. Hasrat hati hendak menelusuri sebab-musabab kasus pembunuhan, malah pertengkaran suami-istri yang ditemui. Untunglah polisi cepat melerai Ramdan dan Sutinah. Kalau tak lekas dilerai, bisa-bisa terjadi lagi satu pembunuhan di Kampung Tanah Gelombang. "Satu kasus saja sudah bikin susah, apalagi satu bertambah..." guman seorang anggota polisi kepada rekannya.
          
Perihal pertengkaran Ramdan dan Sutinah karena didatangi polisi sampai ke telinga Tidar. Laki-laki yang sudah lama menduda itu merasa menyesal telah menyentil kebiasaan Ramdan mencuri-curi pandang kepada Pintil yang mandi-mandi di tepian. Untung Ramdan tak menyebut-nyebut namanya, sehingga ia tak dicari-cari polisi pula. "Kalau kau ditanya-tanya, sebut saja nama Kutar," ujar Tidar sebelumnya berpesan kepada Ramdan.
          
Penyelidikan diarahkan kepada Kutar. Laki-laki itu teramat senang memberikan keterangan kepada polisi. "Aku tak mengenal perempuan itu. Tapi, tadi sore menjelang magrib, aku melihatnya mandi-mandi di lubuk."
          
"Sungguh, kau melihatnya?"
          
"Ya, penglihatanku tak salah!" Kutar merasa kecewa ketika polisi menatapnya dengan wajah tak percaya. Laki-laki itu menambahkan keterangannya agar meyakinkan. "Perempuan itu mandi dengan sehelai kain yang dibalutkan di tubuhnya. Kain itu basah tersapu air. Wuih, terlihat jelas lengkuk-lengkuknya. Seperti..."
          
"Sudah, sudah!" Suara seorang polisi meninggi. Polisi laki-laki itu tak kuasa menahan air ludahnya yang menjulur keluar.
          
Kutar begitu yakin dengan penglihatannya. Tapi, entah mengapa, polisi sama sekali tak mempercayainya. Ketika penglihatannya itu sampai kepada orang-orang Kampung Tanah Gelombang, mereka marah kepada Kutar. "Sumpah, aku melihat perempuan itu mandi-mandi di tepian!" ujar Kutar kepada orang-orang kampung yang tak percaya kepadanya.

***

SENJA menjelang larut di Kampung Tanah Gelombang. Di tepian mandi, Kutar terlihat sedang membersihkan diri setelah memacul di sawahnya yang terletak di sebelah lubuk. Hanya laki-laki itu yang berani mandi-mandi di tepian. Kutar tak habis pikir, mengapa orang-orang kampung takut mandi-mandi di tepian. Tak hanya perempuan, laki-laki di kampung rela tak mandi berhari-hari karena ketakutannya yang amat sangat. "Bodoh, apa yang mereka takutkan. Di sini, pemandangannya sungguh indah. Sayang beribu sayang..."
           
Seorang perempuan muda membasuh tubuhnya dengan air di lubuk sebelah selatan. Air yang bening menetes di ujung-ujung rambut panjangnya yang ikal tergerai. Kutar menikmati saja pemandangan itu dari lubuk sebelah utara. Ia tak keberatan menceritakannya kepada laki-laki di Kampung Tanah Gelombang. Tapi, buat apa. Mereka tak percaya.
Padang, Agustus 2015

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer