Kepulangan
![]() |
| Cerpen A.R. Rizal |
LEBARAN ini aku akan pulang. Begitu tulis
Suman dalam sepucuk suratnya. Surat itu datang sebulan lalu. Jauh dari sebelum
Ramadhan. Orang pos mengantarkannya. Tak ada yang menerima. Surat Suman tetap
berada di teras rumah gadang.
"Apakah
kamu akan pulang?"
"Aku
sibuk, banyak pekerjaan."
Mandeh
tak tahu apa pekerjaan Suman di kota. Ia tak punya pendidikan tinggi, apalah
pekerjaan yang bisa dilakukan oleh seorang yang tak sekolah. Apa pun pekerjaan
anak laki-lakinya itu, pastilah tak terlalu penting daripada kepulangan di hari
Lebaran nanti. Tapi, selalu Suman tak pulang-pulang.
"Tahun
ini?"
"Bisnisku
sedang tak baik. Aku tak punya banyak uang."
"Aku
akan mengirimkan kamu uang."
"Tak
usah! Kalau nasibku baik beberapa hari nanti, pasti aku pulang."
Suman
selalu punya alasan. Hingga, Mandeh pun tak pernah lagi bertanya tentang
kepulangannya. "Anakku sakit, istriku sedang hamil besar..." Tapi,
Suman selalu mengabarkan alasan-alasan kepada Mandeh.
***
SUDAH tigapuluh tahun. Kali ini,
Mandeh yang meminta Suman pulang. Tak ada urusannya dengan Lebaran. Perempuan
itu ingin berembuk dengan anaknya soal harta kaum. Usianya kini sudah lanjut.
Kepada siapa lagi ia akan mengadukan soal harta kaum, kalau bukan kepada anak
tertuanya. "Kalau kau tak pulang, bisa berperang saudara sekaummu,"
ujar Mandeh dalam permintaannya.
Harta
kaumnya hanya sedikit. Tapi, saudara-saudara yang ingin menguasainya teramat
banyak. Mandeh tak punya saudara perempuan. Tapi, saudara laki-lakinya ada
sembilan. Semua mamak-mamaknya Suman. Setiap mereka merasa pantas mendapatkan
harta kaumnya.
"Tak
malu kalian berebut harta kaum. Pantang bagi laki-laki mengambil harta
kaumnya," ujar Mandeh kepada saudara laki-lakinya. Tapi, perkataan itu tak
digubris.
"Uni
sudah banyak mengambil dari harta kaum. Mengapa aku tak bisa mendapatkannya
sedikit," balas Maran, adik laki-laki Mandeh.
Mandeh
tahu, Maran mengerti dengan aturan adat soal harta kaum. Pusako tinggi turun ke
perempuan, limpapeh rumah nan gadang. Tapi, harta itu tak sebenar-benarnya
untuk dimiliki. Mandeh hanya sebagai kuasa, tapi ia tak bisa menggunakannya
begitu saja. Pusako tinggi hanya bisa digadai apabila rumah gadang ketirisan,
anak gadis ke pelaminan dan mayit terbujur hendak dikuburkan.
"Kau
pikir, apa yang aku ambil dari tanah yang tak seberapa besar itu. Hanya
sebutir-dua buah kelapa yang tumbuh di sana. Istrimu juga sering meminta buah
kelapa kepadaku," balas Mandeh kepada Maran.
"Anak-istriku
juga butuh penghidupan. Apa salahnya, aku mengambil dari sebagian harta kaum
itu."
"Tak
ada hakmu!"
"Itu
hanya akal-akalan Uni untuk menguasai sepenuhnya." Maran marah. Ia
membelalakkan mata kepada Mandeh. Mandeh tak melawan. Ia membiarkan amarah
saudara laki-lakinya itu mereda sebentar kemudian.
"Kamu
hanya terhasut istrimu, Maran. Tapi, jangan hasutan malah menghancurkan
saudaramu sendiri."
***
SUMAN tak pulang. Ia tak menyampaikan
alasan apa-apa kepada Mandeh. Sekian tahun, Mandeh tak pernah mendengar kabar
dari anak laki-lakinya. Entah, apakah ia masih hidup atau sudah mati karena
penyakit. "Aku membuatkanmu rendang. Apakah sudah sampai ke rumahmu?"
Mandeh
mengirim surat terakhir kepada Suman. Dalam surat itu ia bertanya tentang
rendang yang sudah dikirimkan beberapa hari lalu. Rendang dikirim ke alamat di
kota yang pernah tertulis di surat Suman. Lama mandeh menanti balasan. Namun,
yang datang ke rumah gadang adalah seorang tukang pos. Ia membawa bingkisan
untuk Mandeh.
"Ah,
ternyata anak itu masih ingat kepadaku," ujar Mandeh dalam hati.
Paket
diambil dari tangan tukang pos. Mandeh menyiginya dengan hati berbunga-bunga.
Setelah plastik pembungkus dibuka, Mandeh teramat kecewa. Ternyata, rendang
yang dikirimkannya ke Suman kembali kepadanya. Tak ada lagi alamat Suman di
kota. Pos mengembalikan paket yang tak ada tempat tujuannya.
***
AKU akan pulang, pasti! Surat dari
Suman datang lagi. Ini tak biasa. Surat itu datang berselang hanya beberapa
hari dari surat pertama. Isinya tetap sama, memberikan kabar atas
kepulangannya. Ketika, puasa memasuki pekan kedua, datang lagi surat Suman yang
ketiga. Kemudian, diteruskan oleh surat yang keempat, kelima dan keenam.
Suman
benar-benar pulang. Di Lebaran kedua ia datang. Sudah empatpuluh tahun, ia tak
hafal lagi jalan ke kampung. Sebuah mobil tiba di ujung jalan kampung. Mobil
itu sebelumnya sudah terlanjur ke kampung sebelah. "Tadi kami sudah lewat
di sini. Tapi, tak ada tanda-tanda kampung, makanya kami terus ke kampung
sebelah," ujar sopir mobil bertanya kepada seseorang yang ditemukannya di
jalan di ujung kampung.
"Sudah
lama sekali, kampung ini memang tak lagi seperti kampung," balas seseorang
di ujung jalan kampung.
"Apakah
kami bisa masuk ke dalam?"
"Hm...entahlah.
Coba saja! Tapi, kalian tak akan menemukan siapa-siapa di sana."
Si
sopir tidak senang dengan raut dingin seseorang di ujuang jalan kampung itu. Tapi,
ia sudah cukup lega, kali ini ia tak kan salah lagi. Alamat yang dituju sudah yang
sebenarnya.
Ia
memacu mobil dengan pelan. Jalan di sana tak lagi rata. Banyak lobang. Aspal
sudah mengelupas. Bahkan, tinggal jalan tanah yang bergelombang. Brak! Roda
mobil tersangkut genangan. Si sopir turun. Dilihatnya, roda itu tak bisa keluar
dari genangan. Laki-laki yang ikut bersamanya disuruh untuk mendorong dari
belakang. Satu, dua dorongan, mobil tak juga keluar dari genangan.
"Sudahlah!
Kita gunakan cara lain saja!" teriak si sopir kepada laki-laki yang bersamanya.
Langit
mulai gelap. Mereka sudah sangat terlambat. Kalau diteruskan mengeluarkan roda
mobil dari genangan, bisa-bisa mereka tak menyelesaikan pekerjaannya hari itu.
Si
sopir berjalan ke belakang mobil. Ia membuka pintu belakang mobil itu. Dari
sana, ia mengeluarkan sebuah keranda. Si sopir meminta laki-laki yang
bersamanya untuk memegang keranda di bagian lain. "Ayo, angkat!"
serunya.
Si
sopir dan laki-laki yang bersamanya membawa keranda ke dalam kampung. Yang
dituju, sebuah rumah gadang. Rumah gadang milik Mandeh. Suman sudah pulang. Ia
ingin dikuburkan di sebelah rumah gadang, di atas tanah kaumnya.
"Hei,
apa yang kalian bawa?" Seorang laki-laki yang pulang menyabit rumput
bertanya kepada si sopir dan laki-laki yang bersamanya.
"Ini
mayat! Kami hanya bertugas mengantarkannya."
"Untuk
siapa mayat itu? Tak ada seorang pun di sana."
Si
sopir melihat sekelilingnya. Di hadapannya seharusnya ada sebuah rumah gadang.
Tapi, yang dilihatnya hanyalah puing kayu yang termakan usia. "Sudahlah!
Letakkan saja keranda ini. Tugas kita selesai," ujar si sopir kepada
laki-laki yang bersamanya.
"Kalian
tak bisa menguburkan mayat di sana! Tanah itu sudah tak ada pemiliknya,"
ujar laki-laki pencari rumput.
"Ah,
tidak! Kami tak hendak menguburkannya. Tugas kami hanya mengantar." Si
sopir berlalu bersama laki-laki yang bersamanya.
Laki-laki penyabit rumput hanya terpana. Sebentar ia terpaku di depan keranda yang diletakkan di dekat puing-puing rumah gadang. Namun, sesudah itu, bulu kuduknya berdiri. Laki-laki itu bergegas mengambil langkah seribu.*
Laki-laki penyabit rumput hanya terpana. Sebentar ia terpaku di depan keranda yang diletakkan di dekat puing-puing rumah gadang. Namun, sesudah itu, bulu kuduknya berdiri. Laki-laki itu bergegas mengambil langkah seribu.*
Padang,
Juli 2015



Keren bng, tapi blognya kok ngak ada bottom follownya bng?
BalasHapusbiar bisa follow blog ini dan tau update ceritanya